Status Tersangka Bupati Taufiqurrahman Dicabut

Pilkada Nganjuk 2018 Diprediksi Sengit

2
4528

Nusantara.news, Nganjuk – Dengan lepasnya status tersangka Taufiqurrahman dari Komisi Pemerantasan Korupsi (KPK), setelah gugatan praperadilannya diterima oleh Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan 6 Maret 2017, diprediksi Pilkada Ngajuk 2018 akan berlangsung sengit. Sekalipun PDI-P sebagai partai dengan suara terbanyak yakni 11 kursi dan satu-satunya partai yang bisa mengusung calonnya.

Seperti diketahui, Senin (06/03/2017), Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan mengabulkan sebagian  permohonan praperadilan yang diajukan oleh Bupati Nganjuk Taufigurrahman. Mencermati isi putusan ini bukan meniadakan masalah hukum yang dihadapi oleh Bupati Nganjuk Taufiqurrahman, tapi mengembalikan ke keadaan sebelum tanggal 6 desember 2016, ketika KPK menetapkannya sebagai tersangka.

Pengadilan Negeri (PN) Jakarta selatan, membenarkan jika telah ada putusan atas praperadilan yang diajukan Bupati Nganjuk. “Betul, ada putusan kabul praperadilan atas nama Bupati Nganjuk. Baru saja dibacakan oleh hakim I Wayan Karya,” ujar pejabat humas PN Jaksel Made Sutrisna kepada media Senin (6/3/2017).

Made menjelaskan putusan yang dikabulkan yaitu tentang penanganan kasus yang menjerat Bupati Taufiqurrahman. Menurutnya, penyelidikan awal kasus itu berada di tangan kejaksaan.

“Yang dikabulkan sebetulnya mengalihkan kembali penanganan penyelidikan dan penyidikan kasus ini, karena sejak awal perkara ini kan ditangani kejaksaan. Belakangan, masuk diambil alih KPK, jadi ditetapkan tersangka. Lalu disebut tidak sah penetapan tersangka itu,” ucapnya.

Kasus akhirnya dilimpahkan ke Kejari Nganjuk. Sejak awal, kasus ini lebih dulu diusut oleh Kejari Nganjuk. “Dikembalikan ke penyelidikan awal. Kan ada SKB bahwa apabila dua instansi menangani perkara, dikembalikan ke penyelidikan awal. Itu poinnya,” sebut Made.

Taufiqurrahman ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK pada 6 Desember tahun lalu. Dia adalah Bupati Nganjuk dua periode yang menjabat pada 2008-2013 dan 2013-2018. Ia terjerat kasus di lima proyek yang terjadi pada 2009.

Seperti kebanyakan Bupati daerah lain yang sudah menjabat dua periode, ada hasrat untuk melanggengkan kekuasaan, terlebih senior Taufiqurrahman di PDIP, yaitu mantan Bupati Kediri Mashud, bisa terpilih dua kali, dan kekuasaannya dilanjutkan oleh Istrinya yang  juga mampu terpilih dua kali.

Sebelum penetapan Taufiqurrahman sebagai tersangka, istrinya,  Ita Triwibawati, disebut-sebut akan maju dalam Pilkada 2018. Tapi kabar tersebut sempat meredup ketika Taufiqurrahman ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Lantas apakah Taufiqurrahman akan ngotot membentuk dinasti di Nganjuk?

Dengan dibebastugaskannya Taufiqurrahman sebagai Ketua DPC PDIP Nganjuk untuk waktu yang tidak terbatas oleh DPP PDIP, memang memperkecil peluangnya membangun dinasti. Apalagi, status hukum kasusnya dikembalikan ke Kejaksaan Negeri Nganjuk, setelah dilepas oleh KPK. Sekalipun sampai saat ini Kejari Nganjuk belum menetapkannya sebagai tersangka, status ini akan menjadi amunisi bagi rival-rival politiknya.

Hal ini yang dimanfaatkan  partai lain. PAN misalnya, meski hanya memiliki satu kursi saja di DPRD, berani mengusung calon di Pemilihan Kepala Daerah Nganjuk 2018, yakni  Eko Hendro Purnomo atau Eko Patrio, selebritis papan atas Ibukota. “Benar, kami saat ini sedang menyiapkan nama Eko Patrio,” ujar Bendahara DPW PAN Jatim Agus Maimun, minggu lalu.

Menurutnya nama Eko Patrio menjadi salah satu figur yang mencuat sebagai calon orang nomor satu di Pemkab Nganjuk periode 2019-2024 karena dianggap memiliki kualitas dan dicintai masyarakat setempat.

Selain itu, ada nama Siti Nurhayati atau yang kerap disapa Bu Hanung, mantan Bupati Nganjuk periode 2002-2007, yang  pernah menantang Taufiqurrahman pada Pilkada 2012. Tokoh lain, Syaiful Anam, juga akan mencoba peruntungannya.

Lalu Ulum Basthomi, Wakil Ketua DPRD Nganjuk dan politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Ketua DPW PKB Jawa Timur Halim Iskandar sendiri setiap ada kesempatan selalu menyampaikan permohonan restu kiai agar Ulum Basthomi didukung untuk menjadi Bupati Nganjuk

Tidak ketinggalan pula mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Nganjuk,  Budiono, yang  beberapa bulan terakhir aktif mendatangi warga. Budiono yang sekarang menjadi Anggota DPD RI, kabarnya  lebih sreg maju lewat  jalur Independen. Juga ada Sutikno, seorang pengusaha dan politisi Partai Demokrat Nganjuk. Ada lagi Bimantoro Wiyono, putra anggota DPR-RI dari Partai Gerindra, Sareh Wiyono.

Jika Taufiqurrahman kembali maju, istrinya, Ita Triwibawati tentunya tidak akan ikut bertarung. Namun, ada kabar  Ita  akan maju dalam Pilkada Jombang. Sebab, dia sekarang  menjabat Sekda Jombang. Beberapa kalangan mendorongnya untuk maju sebagai calon Bupati Jombang. Tapi peluang Ita di Jombang tak sebesar di Nganjuk. PDIP, partai yang mungkin mengusung Ita, hanya punya 9 kursi di DPR Jombang. “Berat kalau Bu Ita maju di sini, sebab di semua partai sudah ada orangnya pak Nyono (Nyono Suharli Wihandoko, Bupati Jombang saat ini.red),” ujar salah seorang kader DPC PDIP Jombang. Nyono  diperkirakan akan melenggang menuju jabatan kedua, jika tidak maju dalam Pilgub Jatim.

Jadi, pertarungan memang akan sengit di tahun depan. []

2 KOMENTAR

  1. Blum bisa dikomentari, dan dari yg dulu bupati nganjuk blum dan tidak pernah dari putra yg dilahirkan di nganjuk.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here