Pilkada Sampang, di Antara Pusaran Ulama, ‘Klebun’ dan Tokoh Masyarakat

0
274
Prinsip kebebasan dalam demokrasi ternyata tidak seluruhnya benar. Agenda politik seperti Pilkada 2018 di Sampang masih terpengaruh dengan politik patron yang jadi kultur umum di suku Madura kendati KPU sudah gencar menggelar sosialisasi.

Nusantara.news, Sampang – Tiga di antara empat kabupaten di Pulau Madura bersiap-siap menghadapi pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 2018. Ketiga Kabupaten itu masing-masing meliputi Bangkalan, Sampang dan Pamekasan. Suhu politik di ketiga kabupaten itu mulai dihangatkan munculnya nama-nama yang mencoba peruntungan di pesta demokrasi lima tahunan itu.

Tidak seperti daerah lain, kultur suku Madura punya ciri khas tersendiri. Mereka seolah sudah punya patron tetap dalam menentukan pilihan hidupnya. Termasuk dalam urusan politik. Pertama, ulama yang dianggap sebagai wakil Tuhan dalam urusan duniawi. Selanjutnya secara berturut-turut, ditempati kepala desa atau bahasa setempat disebut klebun dan tokoh masyarakat.

Patron ini yang bakal menentukan siapa pemenang dalam pilkada nanti. Apalagi setelah salah satu orang kuat di Madura yang pernah menjabat bupati 2 periode Bangkalan, Fuad Amin kehilangan hak politik setelah meringkuk dalam tahanan KPK. Imbas menghilangnya Ra Fuad bahkan sudah terendus dari turunnya pamor anaknya, Makmun Ibnu Fuad untuk meneruskan periode keduanya di Bangkalan.

Survei yang dilakukan Visi Data Prima Consulting juga memperkuat patron politik itu. Terutama peran ulama yang sangat dominan dalam ikut menentukan pilihan masyarakat. “Hasil survei yang kami lakukan selama seminggu pada Agustus 2017 menunjukkan jika politik patron masih mendominasi agenda demokrasi di Madura. Termasuk di Sampang,” kata koordinator peneliti Visi Data Prima Consulting Romadhoni kepada media, Selasa (26/9/2017).

Dalam survei yang dilakukan di Sampang, sejak 26-23 Agustus 2017, ulama menjadi faktor tertinggi dalam menentukan pilihan politik warga (39,9 persen). Sedangkan pengaruh klebun dan tokoh masyarakat berturut-turut sebesar 36,9 persen dan 23,2 persen. ” Tiga elemen ini yang memang sangat mempengaruhi pilihan politik masyarakat di Madura,” ujarnya.

Romadhoni menyebutkan, survei memang hanya mengambil sampel di Kabupaten Sampang dengan menyebar kuesioner ke 186 desa/kelurahan yang meliputi 14 kecamatan. Jumlah responden yang dilibatkan dalam survei ini sebanyak 440 orang, dengan “margin error” 4,7 persen.

Menurut Romadhoni pola pengambilan data dilakukan dengan bertatap muka langsung, menggunakan kuesioner dengan responden, random wilayah responden proporsional berdasarkan data BPS Potensi Desa (Podes). “Respondennya telah menikah minimal usia 17 tahun ke atas,” bebernya.

Berbarengan dengan survei tentang elemen masyarakat yang berpengaruh, lembaga ini juga melakukan survei tentang popularitas dan elektabilitas bakal calon bupati dan wakil bupati yang akan maju pada Pilkada Sampang. Hasilnya juga nyaris menggambarkan sebaran patron masyarakat.

Ulama yang diwakili KH Muhammad bin Muafi diketahui paling populer, yakni hingga 55,4 persen. Selanjutnya diikuti mantan Sekda Pemkab Sampang Hermanto Subaidi (41,4 persen), Haji Hisan (29,3 persen), dan Haryono Abdul Bari (19,9 persen). Tiga nama terakhir bisa disebut merupakan representasi dari elemen kepala desa dan tokoh masyarakat. []

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here