Pilpres 2019, Akankah Prabowo-Sandi Menang?

0
274
Capres 02 Prabowo Subianto diangkat para pendukungnya saat berkampanye

Nusantara.news, Jakarta – Prabowo-Sandi dan lautan massa. Pemandangan tersebut kerap menjadi hal utama yang dapat dilihat dari roadshow dan kampanye terbuka kandidat presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto ke berbagai daerah. Hampir setiap kampanye Prabowo selalu menampilkan visual sang jenderal melambaikan tangan dari atap mobil kepada hamparan massa yang menyambutnya di jalanan, juga orasi yang menggelora kepada lautan pendukungnya di pangung-pangung kampanye.

Meskipun menurut beberapa survei pasangan o1 Joko Widodo (Jokowi)-Maruf Amin lebih unggul dari Prabowo-Sandianga, namun pasangan 02 diprediksi bisa membalikkan keadaan. Pasalnya, selain pengalaman beberapa lembaga survei tersebut pernah meleset menampilkan angka elektabiltas kandidat di Pilkada Jabar dan Jateng 2018 dan DKI Jakarta pada Pilgub 2017, juga tampaknya angin perubahan  (wind of change) sedang berpihak pada paslon 02.

Lantas, faktor apa yang menyebabkan hal itu? Perlu pengamatan yang cukup mendalam untuk menjawab pertanyaan tersebut. Namun secara umum, bisa dikatakan, ada "ledakan kekecewaan" aterhadap kondisi sosial-ekonomi yang melahirkan "ledakan harapan" akan munculnya perubahan. Di titik ini, ada semacam deep feeling masyarakat untuk menjadikan Prabowo-Sandi sebagai sandaran baru bagi perbaikan keadaan.

Peluang Menang Prabowo-Sandi 

Ada sejumlah indikator bahwa Pilpres 2019 ini bisa dimenangkan oleh kubu penantang. Pertama, para pengambil keputusan di dunia bisnis dan politik, disuguhi angka tren hasil survei, yang mengabarkan posisi petahana dalam bahaya karena angkanya ternyata di bawah 50 persen, dan penantang yang terus melejit. Mengacu pada Litbang Kompas yang dilakukan 22 Februari – 6 Maret 2019, misalnya, elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Amin berada di posisi 49,2 persen dan Prabowo-Sandiaga 37,4 persen.

Selisih keduanya semakin menipis di angka 11,8 persen. Pada survei Oktober 2018, selisih 01-02 masih 19,9 persen. Stagnasi bahkan penurunan elektabilitas ini terjadi terjadi sejak tahun 2017 lalu. Jika trend penurunan ini terus membesar dan terjadi crossing sebelum pencoblosan, bukan tidak mungkin akan banyak melihat 'tikus geladak yang melompat ke laut karena tahu perahu berlobang dan siap tenggelam (rats fleeing the sinking ship)'.

Kedua, paslon 02 berhasil membangun kerelawanan dan militansi. Bambang Setiawan, peneliti Litbang Kompas, menjelaskan, militansi yang cukup tinggi pada pendukung Prabowo-Sandi ini berpengaruh secara geografis pada melebarnya dukungan bagi pasangan itu. Sebaliknya, di wilayah yang semula menjadi lumbung suara Jokowi-Amin, kini selisih keunggulan kian sempit. Pasangan Jokowi-Amin menghadapi persoalan militansi pendukung yang sejauh ini lebih lemah dibandingkan dengan pendukung Prabowo-Sandi.

Bermunculannya spanduk rakyat, sumbangan uang receh yang dibungkus kantong plastik, orang-orang nekad yang mengacungkan dua jari di berbagai acara petahana (bahkan sambil memakai kaos petahana dan memamerkan bingkisan yang dibagi-bagikan tim petahan), serta aksi unik “para ASN” dengan penutup kepala dari panci, plastik, dan kain ala ninja dengan unjuk 2 jari sebagai dukungan pada Palon 02, adalah sebagian contohnya. Militan dan kreatif.

Di darat, militanasi tergambar dari kehadiran massa yang membludak di acara kunjungan dan kampanye terbuka Prabowo-Sandi. Mereka menyambut di jalan-jalan, mengelu-elukan, dan membanjiri panggung-panggung kampanye. Mulai dari daerah-daerah yang diidentifikasi bukan basis pendukung Prabowo, sampai daerah yang menjadi basis pendukungnya, suasananya sama. Hal yang tidak terjadi dalam kampanye Prabowo di Pilpres 2014.

Di Sidoarjo Jatim, Banyumas Jateng, Manado, Makassar, sampai Merauke di Papua, Prabowo disambut dengan gegap gempita. Begitu pula dengan Sandiaga yang berkampanye di Sorong, Papua Barat. Pada Pilpres 2014 daerah ini adalah lumbung suara Jokowi-Jusuf Kalla. Lautan massa lebih-lebih terlihat di daerah kantong Prabowo di Pilpres 2014, yaitu di Bandung dan Bogor (Jabar), serta Lombok (NTB).

Lautan massa saat kampanye terbuka Prabowo-Sandi di Sidoarjo pada Minggu (31/3)

Ketika orang-orang berdatangan dari segala arah, ke tempat kampanye kendati tanpa disewakan bus, tanpa kaos, tanpa nasi kotak, tanpa uang saku, bahkan sempat dihalang-halangi. Perbandingan kontrasnya adalah apel 18 miliar di semarang. Ini apel sudah pakai dana besar, di pusat kota, pesertanya dimobilisasi dengan bus, aparat sipil negara (ASN) dikerahkan, menghadirkan band dan komedian top, mendatangkan ulama kharismatik, tapi terlihat biasa saja. Alih-alih show of force, kegiatan itu justru memperlihatkan betapa kandang banteng ternyata bermasalah cukup serius.

Di udara, situasi pun sudah berubah berbilang bulan. Media sosial seperti Twitterdan Facebook, sudah didominasi the so called 'akal sehat'. Buzzer-buzzer pejawat yang terorganisir makin keteteran. Karena, yang bangkit melawan mereka justru kelas menengah terpelajar bahkan intelektual kelas wahid. Selain Rocky Gerung yang setiap saat mendungu-dungukan cara berpikir pendukung kekuasaan, para tokoh yang kebetulan kalem kini bahkan ikut menyerang Denny Siregar dan Abu Janda, dan menyuruhnya ikut Paket C. Hari-hari ini, para buzzer itu pun seperti sudah semakin tidak berdaya untuk sekadar menaikkan tagarnya menjadi trending topic.

Di Google Trends pun begitu, Prabowo merajai sejak beberapa bulan terakhir. Direktur Konten Komunikonten M. Samsul Arifin mengatakan di media sosial periode 30 Maret 2019, Prabowo lebih banyak dibicarakan dibanding Jokowi. "Untuk Prabowo, sentimen positif sebesar 41,82 persen, sentimen negatif 15,53 persen, dan 42,65 persen netral. Sedangkan untuk Jokowi, sentimen positif 48,34 persen, sentimen negatif 16,2 persen, dan 35,46 persen netral," kata Samsul Arifin.

Kemudian, hasil penelusuran Komunikonten di Google Trends periode 30 Maret 2019 untuk 4 jam terakhir, yang dilihat sekitar pukul 23.00 WIB, Prabowo Subianto lebih populer dibanding Joko Widodo. Popularitas Prabowo memuncak pada pukul 20.44 WIB. Belum lagi polling-polling elektabilitas yang digelar sejumlah media online, talkshow televisi (misalnya Mata Najwa dan ILC), hingga pesohor di akun twitter, menempatkan Prabowo leih unggul dari Jokowi.

Ketiga, penangkapan orang-orang di lingkaran petahana di detik-detik pencoblosan oleh KPK seperti Romahurmuzy dalam korupsi jual beli jabatan, dan OTT petinggi Golkar yang juga ketua pemenangan pemilu di Jateng dengan dugaan hendak melakukan ‘serangan fajar’, serta beberapa anggota kabinet yang disebut-sebut dalam perkara korupsi, dinilai turut menggerus citra dan elektabilitas Jokowi. Belum lagi beragai blunder pejabat pemerintah dan indikasi pengerahan apratur negara dalam mesin pemenangan politik, turut menjadi angin puting beliung yang menghancurkan. 

Kampanye terbuka Prabowo

Keempat, Sandiaga effect. Saat ini, Sandiaga boleh jadi menjadi buah bibir utama dalam pesta demokrasi 2019. Nyaris setiap hari namanya disebut dalam peliputan media terkait dengan gelaran tersebut. Ada saja cara dari mantan Ketua Umum HIPMI ini untuk mendapatkan sorotan dari khalayak luas. Mulai dari istilah yang akrab dengan generasi millenial, gaya angsa terbang, hingga daya tarik interpersonal skill-nya.

Peneliti politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro, bahkan menyebut Sandiaga Effect telah menenggelamkan Jokowi Effect di Pilpres kali ini. Sementara, hasil survei yang digelar Alvara Research Center beberapa waktu lalu, menempatkan Sandiaga Uno unggul dari Jokoiw secara kreatifitas dengan perolehan 62 persen dan Jokowi 59,8 persen. Kreativitas yang dimaksud dalam survei ini adalah menggunakan cara-cara kreatif dalam berkomunikasi dengan pemilih.

Memang, dipilihnya Sandiaga menurut peneliti LSI Adji Alfarabi, membuat elektabilitas Prabowo melonjak di beberapa segmen pemilih: perempuan, pemilih pemula, dan kaum terpelajar. Sandiaga juga disebut punya gaya komunikasi politik dumbing down, yakni istilah yang tren di Eropa dalam 10 tahun ini untuk menyederhanakan kalimat politik yang sangat serius sehingga mudah dipahami rakyat kebanyakan. Di luar itu, agresivitas Sandi mendatangi pemilih ke beragai daerah punya dampak elektoral yang besar. Tercatat, Sandiaga telah berkeliling ke sejumlah daerah lebih dari 1.000 titik.

Namun yang menarik, dari sekadar Sandiaga effect, yakni sikap politiknya yang terpuji. Sebagai pendatang baru di jagat politik dan usianya yang paling muda dibanding ketiga kontestan pilpres lainnya (Prabowo, Jokowi, Ma’ruf Amin), justru tingkat kematangan politiknya dipandang lebih baik. Tak sekalipun Sandi mengeluarkan diksi-diksi negatif dan kontroversial seperti yang ducapkan Jokowi: Sontoloyo, Genderewo; Prabowo: Tampang Boyolali, antek asing; Ma’ruf Amin: budek dan buta. Ia tak ingin meniru gaya menyerang Prabowo, sindiran memukul ala Jokowi, ataupun komentar ‘sekenanya’ khas Maruf Amin.

Sandiga tampil dengan energi positif. Sebut saja ketika cawapres 02 ini mengimbau para pendukungnya agar tak perlu nyinyir atau meremehkan program Kartu Pra Kerja yang digaungkan oleh calon presiden nomor urut 01, Joko Widodo (Jokowi). Menurut Sandiaga, ide tersebut merupakan respons dalam menjawab persoalan lapangan kerja yang sulit. Ia menegaskan, ide itu juga patut diapresiasi oleh berbagai pihak.

Sandiaga juga kerap memberi imbauan untuk tidak melakukan serangan berlebihan pada pemerintah petahana saat ini. Jelang Asian Games2018 lalu misalnya, ia melarang lingkaran pendukungnya untuk berkomentar negatif terkait gelaran tersebut. Hal serupa juga ia lakukan pada kasus gejolak dolar AS terhadap rupiah beberapa waktu lalu. Kala itu, ia meminta politisi untuk shut up atau berdiam diri dan tidak melontarkan kritik berlebihan. Alih-alih melakukan kritik, ia justru mengajak masyarakat membantu pemerintah untuk melepaskan dolar AS yang ada di simpanan mereka.

Tidak sampai di situ, narasi positif Sandi juga ditunjukkan lewat sikapnya yang tenang dan easy going meski di beberapa tempat yang ia kunjungi mendapat ‘penolakan’ dari kelompok Pro-Jokowi. Penolakan itu ditunjukkan dengan menggunakan beberapa baliho kertas yang berisi pesan-pesan yang tidak menginginkan keberadaan Sandiaga di sana. Sebagian besar penolakan terjadi di Jatim, Jateng, dan terakhir di Bali yang jika mengacu pada Pemilu sebelumnya (2014), Jokowi memang unggul dari Prabowo di tiga provinsi itu. 

Kehadiran Sandi seolah menjadi antitesis di antara perilaku para elite politik belakangan yang kerap ‘berkawan’ dengan amarah dan dendam. Sebaliknya, Sandi hendak membangun tradisi kesantunan dan kesejukan dalam berpolitik. Lebih dari itu, efek energi positif yang terpancar dari pengusaha tampan yang digemari emak-emak dan kaum milenial ini menjadi penguat bagi kemenangan Prabowo di Pilpres mendatang.

Di luar itu, tentu saja kinerja ekonomi pemerintah yang dianggap masih buruk sehingga membuat efek Jokowi memudar jika dibanding Pemilu 2014. Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS) Philips Jusario Vermonte mengatakan mayoritas masyarakat belum puas dengan kinerja ekonomi pemerintah. Hal itu dinyatakan Philips dalam pemaparannya di acara Bisnis Indonesia Economic Challenges 2018, beberapa waktu lalu. Dari hasil riset CSIS, 42,2 persen responden menyatakan kondisi perekonomian keluarga saat ini tidak ada perubahan dibandingkan dengan lima tahun lalu. Bahkan, 20,3 persen responden menyatakan lebih buruk, sedangkan hanya 37,5 persen yang menyebut baik.

Buruknya kinerja ekonomi Jokowi misalnya ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang cenderung stagnan di level 5%, sekaligus meleset dari janji kampanye Jokowi 2014 yang menjanjikan pertumbuhan sebesar 7% per tahun. Di samping itu, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada Januari 2019 tercatat sudah tembus Rp45 triliun atau 0,28 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka itu lebih besar Rp8,1 triliun dibandingkan defisit pada Januari 2018, yang hanya Rp37,7 triliun

Utang luar negeri di masa Jokowi juga kian membengkak. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) juga merilis data realisasi APBN 2019 dalam publikasi yang berjudul "APBN Kita edisi Februari 2019". Total utang pemerintah pusat hingga Januari 2019 mencapai Rp4.498,56 triliun. Jumlah ini naik sebesar Rp80,26 triliun dari posisi Desember 2018 yang masih sebesar Rp4.418,3 triliun atau naik Rp 539,9 triliun dibandingkan posisi Januari 2018. Bila dihitung sejak bulan pertama Presiden Jokowi menduduki tahta RI 1 (Oktober 2014), maka utang pemerintah hingga saat ini sudah bertambah Rp1.897,4 triliun.

Dengan kondisi-kondisi tersebut di atas, tidak menutup kemungkinan jalan kemenangan Prabowo-Sandi di Pilpres 2019 ini akan terbuka lebar.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here