Pilpres 2019, Pertarungan Terakhir Sang Jenderal?

0
325

Nusantara.news, Jakarta – Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah dipastikan akan maju lagi di pemilihan presiden atau Pilpres 2019 setelah PDIP mengumumkan secara resmi dukungannya pada Jumat, 23 Februari 2018. Beberapa partai politik pun berlomba memberikan dukungan sekaligus berharap dipilih menjadi cawapres Jokowi. Sedangkan partai-partai di luar koalisi pemerintah, saat ini seperti tengah melancarkan jurus-jurus pernyataan cinta mendekati Jokowi. Lepas apakah dukungan partai-partai itu hanya “menumpang” popularitas Jokowi untuk mendongkrak suara partai masing-masing atau tidak, yang jelas jalan Jokowi kembali maju sebagai RI-1 kian jembar.

Salah satu nama yang menjadi pesaing kuat Jokowi dalam pencapresan adalah Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai Gerindra. Berbagai survei yang digelar belakangan ini selalu menempatkan Prabowo sebagai lawan berat Jokowi dengan elektabilitas yang masih jauh di atas nama-nama baru yang mencoba muncul sebagai capres.

Wacana pun berkembang. Ada upaya dari internal PDIP untuk mengajak Gerindra dan PKS bergabung dengan blok mereka bersama Jokowi. Wakil Sekjen PDIP Ahmad Basarah membuka wacana berbagi kekuasaan (power sahring) pada pilpres mendatang. Dengan demikian, kemungkinan terjadinya satu pasangan calon (capres) masih sangat bisa terjadi. Sebab, isunya Prabowo ditawari sebagai cawapres oleh kubu Jokowi.

Namun, hingga kini mantan Danjen Kopassus ini masih belum memberikan respons atas perkembangan politik selama beberapa hari terakhir ini. Ia belum menjawab pertanyaan publik apakah tetap ingin maju sebagai capres atau bergabung dengan koalisi PDIP mengusung Jokowi. Atau, Prabowo berperan sebagai king maker seperti yang dilakukan Megawati Soekarnoputri kepada Jokowi.

Prabowo sendiri sebelumnya hanya mengatakan pendaftaran calon presiden masih cukup lama, yaitu Agustus 2018. “Dari dulu, dari kecil, saya ingin mengabdi kepada negara dan bangsa,” katanya seusai perayaan HUT ke-10 Gerindra di Ragunan, Sabtu, 10 Februari 2018. Prabowo juga mengisyaratkan, jika dia sudah tak kuat lagi, dia akan mencari penggantinya. “Kalau saya tidak kuat, saya akan lapor, turun cari pengganti saya,” ujarnya.

Jokowi-Prabowo, Duet atau Duel?

Di tengah sikap bungkam Prabowo soal pencapresannya di 2019, muncul dua kutub isu yang berkembang di publik: Prabowo berduet atau sebaliknya berduel dengan Jokowi. Kedua pilihan itu, mengundang pro-kontra.

Jokowi dan Prabowo saat Debat Capres 2014 di salah satu stasiun televisi

Wacana menduetkan Jokowi-Prabowo tentu saja bukan kemungkinan pepesan kosong. Mengingat saat ini, keduanya memang menjadi dua sosok dengan elektabilitas paling tinggi sebagai capres Indonesia. Banyak pihak yang setuju jika pasangan ini benar-benar maju. PPP, Golkar, dan sebagian elite PDIP sebagai partai penyokong Jokowi bahkan dengan mantap menyetujui jika Jokowi berpasangan dengan Prabowo.

Perihal ini, lembaga riset politik Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pun menguji penerimaan publik terhadap kemungkinan bersandingnya Jokowi-Prabowo. Sebanyak 66,9 persen responden penelitian memberikan tanggapan positif. Hanya 28,4 persen yang menyatakan ketidaksetujuan.

Memang tak ada yang tak mungkin dalam politik. Jika Prabowo berduet dengan Jokowi, sebagian kalangan berharap bisa meminimalisir gesekan antarkontestan maupun antarkader, pengikut maupun simpatisan, mengurangi kemungkinan adanya penebaran kebencian dan keterbelahan antaranak bangsa, serta Pilpres 2019 berjalan dengan lebih sejuk.

Di luar itu, Prabowo dan sekutunya bisa menyusun kekuatan dari dalam pemerintahan, sambil mengisi kanal-kanal kuasa guna merebut tampuk kepresidenan pada 2024. Untuk taktik ini, tampaknya telah dibaca Ketua Umum PDIP Megawati, sehingga ia cenderung tak ingin melepaskan kursi RI-2 kepada pihak seteru politiknya. Sebab itu, Puan Maharani dan Budi Gunawan dari internal PDIP disiapkan Megawati sebagai cawapres Jokowi yang dinilai paling aman, meski nilai jualnya masih anjlok.

Di sisi yang lain, meski penerimaan publik tinggi, realitas politik tampaknya menutup kemungkinan Jokowi-Prabowo berpasangan di Pilpres 2019. Kedua figur punya kelompok pendukung fanatik. Basis-basis suara ini akan menunjukan resistensi jika mereka bergabung. Pendukung Jokowi yang tak suka Prabowo atau sebaliknya, tentu akan merasa kecewa, bahkan bisa jadi melarikan dukungan pada calon di luar keduanya (jika muncul poros ketiga dalam pencapresan).

Di samping itu, sulit menyandingkan Jokowi dengan Prabowo karena keduanya punya ideologi dan garis pemikiran yang berbeda. Mereka bukan barang, tetapi nilai hidup dari dua kutub bertolak belakang yang sulit disatukan.

Gerindra juga tak ingin dengan masuknya Prabowo ke lingkaran Jokowi, akan membuat soliditas dan mesin partai jadi melempem. Contoh ini dialami partai Hanura. Saat Wiranto maju sebagai cawapres 2009 mendampingi Jusuf Kalla, mesin politik dan soliditas kader Hanura amat militan menyukseskan pasangan yang diusung Golkar-Hanura itu. Namun pasca kekalahan di pilpres 2009 hingga Wiranto bergabung di pemerintahan Jokowi pada 2014, pamor Hanura semakin memudar. Mesin politiknya cenderung dingin, dan “pemiliknya” berpindah tangan: dari Wiranto ke Oesman Sapta. Belajar dari Hanura, maka Gerinda barangkali memilih bertempur sembari “menggeber” mesin politik dan soliditas kader.

Penolakan duet Jokowi-Prabowo juga ditegaskan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon. Fadli menegaskan, seluruh kader dan simpatisan Gerindra sepenuhnya mendukung Ketua Umum Prabowo Subianto sebagai capres pada 2019. “Kalau capres sudah pasti Pak Prabowo itu 100 persen, tidak bisa ditawar lagi,” kata Fadli Zon, Ahad (25/2).

Sementara itu, desakan akar rumput dan kader partai masih mantap mendorong ketum mereka menjadi capres. Dorongan itu dilakukan dengan menggelar deklarasi dukungan untuk Prabowo di tiap daerah. Teranyar, deklarasi dilakukan Dewan Pimpinan Daerah Gerindra Banten. Deklarasi serupa bakal digelar bergantian di daerah lain.

The Last Battle?

Memasangkan Jokowi dengan Prabowo memang oleh banyak pihak dinilai sebagai langkah ideal untuk mengurangi gesekan sosial di Pilpres 2019 mendatang. Tentu enteng saja bagi Prabowo untuk menerima opsi ini seandainya ia ditembung untuk mendampingi Jokowi. Sebab, jika memang itu adalah opsi yang bisa bikin Indonesia ayem, untuk kepentingan rakyat, Prabowo agaknya cukup bijak dalam hal ini. Dia dikenal sebagai politisi yang lapang dada dan punya rasa nasionalisme tinggi.

Sebaliknya, menduetkan Jokowi dengan Prabowo, sebagian kalangan menganggapnya hanya akan meninggalkan noktah dalam berdemokrasi. Sebab, berpeluang memunculkan calon tunggal dan menihilkan kader-kader terbaik bangsa untuk maju.

Karena itu, duel Prabowo vs Jokowi adalah pilihan terbaik dan perlu didorong. Optimisime dan bahan bakar perjuangan yang telah lama disiapkan Prabowo dan sekutunya tak boleh disia-siakan. Biarkan rakyat yang memilih.

Pilpres 2019 mendatang, adalah pertarungan ke-3 bagi Prabowo. Sebelumnya, ia menjadi cawapres mendampingi Megawati pada Pemilu 2009, serta capres bersama Hatta Radjassa pada Pemilu 2014. Kedua masa kontestasi itu, Prabowo menelan kekelahan. Kini, jika kembali bertarung pada Pilpres 2019,  tentu beban moral yang cukup besar bagi Prabowo.

Terlebih, lawan Prabowo saat ini bukanlah Jokowi yang dahulu, Jokowi sekarang adalah capres petahana. Yang memiliki modal politik yang jauh lebih cukup dibandingkan ketika bertarung dengannya pada Pilpres 2014. Sekutu Jokowi yang di pemilu 2014 hanya disokong dua partai baru (Nasdem, Hanura) dengan PDIP, kini didukung partai-partai kelas kakap yang bahkan dulu berada di barisan Prabowo, seperti Golkar dan PPP.  Karena itu, Prabowo memerlukan strategi khusus dan baru dalam menghadapi Jokowi yang telah menjelma menjadi politisi kelas atas dengan dukungan mayoritas di parlemen.

Hal lain, usia Prabowo yang sudah tak muda lagi. Di tahun 2019, usia Prabowo 68 tahun (lahir 17 Oktober 1951) sehingga boleh jadi Pilpres 2019 adalah pertarungan terkahir bagi Sang Jenderal: entah sebagai capres, cawapres, atau king maker. Itu terserah Prabowo.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here