Pilpres Prancis, Email Diretas Akankah Macron Mengulang Nasib Hillary?

0
122
Kertas suara bertuliskan nama dua Capres Perancis 2017 masing-masing Emmanuel Macron (kiri) and Marine Le Pen (kanan) nampak di dekat kotak suara / Foto REUTERS/Regis Duvignau

Nusantara.news, Paris – Dua hari menjelang pemungutan suara, atau beberapa jam sebelum masa kampanye berakhir, email milik Calon Presiden Prancis Emmanuel Macron tiba-tiba diretas. Kejadian ini mengingatkan publik saat berlangsungnya Pemilu Presiden Amerika 2016 lalu ketika email milik Capres Hillary Clinton diretas dan dibocorkan ke publik.

Akibat peretasan itu, rahasia Hillary yang antara lain “mendukung” meluasnya konflik Timur Tengah terbongkar. Hillary yang dalam jajak pendapat terakhir unggul tipis atas Donald Trump akhirnya kalah. Akankah kejadian itu menimpa Macron?

Namun sejumlah kalangan tetap optimistis, Macron yang berhalauan tengah tetap akan memenangkan Pemilu Presiden di Prancis. Pertama, selisih suara antara Macron dan Capres Sayap Kanan Marine Le Pen yang muncul sebagai penantangnya di putaran terakhir terlalu jauh. Jajak pendapat terakhir menyebutkan elektabilitas Macron mencapai 62%.

Kedua, sistem Pemilu Presiden di AS dan Prancis berbeda. AS tidak menganut popular-vote (suara terbanyak) melainkan electoral territory (ET) yang masing-masing ET dihitung sesuai porsi jumlah penduduknya dengan ketentuan winner take all yang memungkinkan Capres yang kalah dalam hitungan suara terbanyak memenangkan Pemilu Presiden.

Dan ketiga, sebagaimana negara-negara di Eropa Daratan lainnya, pengaruh warga negara keturunan migran di Prancis cukup kuat. Kelompok-kelompok sayap kanan ekstrim akan selalu menjadi kelompok sempalan yang sulit memenangkan Pemilu. Munculnya Marine Le Pen hingga putaran terakhir memang dianggap anomaly tapi tidak akan cukup untuk mengalahkan Macron.

Toh demikian, peretasan yang dilakukan orang tak dikenal telah merisaukan Tim Kampanye Macron yang bernama Gerakan En Marche! (Maju). Sebanyak 9 gigabyte data, ungkap En Marche!, telah diposting oleh sebuah profil EMLEAKS kepada Pastebin, sebuah situs yang membolehkan dokumen-dokumen anonim disebarluaskan.

“Gerakan En Marche! menjadi korban peretasan besar-besaran dan terkoordinasi malam ini sehingga telah disebarluaskan ke media sosial berbagai informasi internal,” keluh En Marche! kepada Reuters.

Kementerian Dalam Negeri Prancis bungkam atas keluhan ini, sebab mereka dibatasi oleh konstitusi untuk tidak membuat pernyataan apa pun yang dinilai mempengaruhi hasil pemilihan.

Namun keluhan ini ditindak-lanjuti komisi pemilihan umum setempat yang akan menggelar rapat. Dalam pernyataannya komisi pemilihan umum  mengingatkan media massa di Prancis agar tidak menyebar-luaskan bocoran email yang membuatnya bisa dituntut dengan sangkaan kriminal.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Minggu (7/5) ini rakyat Prancis memilih satu diantara dua Capres yang lolos ke putaran terakhir, masing-masing Emmanuel Macron dari Sayap Tengah dan Marine Le Pen dari Sayap Kanan. Hasil pemilihan umum diperkirakan akan menentukan nasib masa depan Uni Eropa yang sudah ditinggalkan Inggris.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here