Pilpres yang Sesat

0
92

MUNGKIN kita tersesat dengan  penyebutan selama ini, bahwa kontestasi pemilihan presiden dipersepsikan sebagai “pertarungan”.

Mengapa? Sebab, dengan penyebutan itu, aromanya menjadi sangat konfliktual. Pemilu Presiden seperti identik dengan berhadap-hadapan, perang tanding, kalah-mengalahkan, atau bahkan bunuh membunuh.

Tapi apa boleh buat, kesesatan itulah yang terjadi. Pertarungan Pilpres di negara ini bahkan lebih mengerikan dari pertarungan bebas seperti yang banyak kita lihat di ajang Ultimate Fighting Championship (UFC), ONE Championship atau sejenisnya. Pertarungan di ajang beladiri campuran itu sangat brutal dan mematikan. Tapi regulasinya luar biasa ketat. Ada batasan boleh dan tidak boleh yang amat jelas. Siapa pun yang melanggar akan terkena hukuman atau bahkan diskualifikasi. Wasitnya pun sangat berkuasa dan adil.

Satu hal yang menarik adalah sebrutal apa pun mereka berusaha menciderai lawan, begitu pertandingan berakhir kedua petarung saling berpelukan dengan raut muka penuh persahabatan –bahkan ketika juri belum menentukan siapa yang menang. Kalau ada yang menolak berjabat tangan, pasti akan dikecam orang sedunia.

Ini bukan untuk menyamakan pertarungan di Pilpres dengan di arena tarung bebas itu. Tapi setidaknya ada momen-momen tertentu yang bisa dijadikan pelajaran, misalnya adegan berpelukan seusai baku hantam tersebut. Jika di arena sekeras dan sebrutal itu, pelukan persahabatan adalah bagian dari ritual wajib, mengapa prosesi yang sama gagal kita wujudkan dalam Pilpres?

Padahal sejatinya Pilpres itu hanyalah kontestasi belaka. Tak lebih dari itu. Para kontestannya saling berlomba untuk mendapatkan simpati dan suara pemilih, sehingga yang memperoleh suara terbanyak akan didapuk sebagai pemenang.

Untuk siapa kemenangan itu? Kalau kita bicara dari sisi yang paling esensial, jelas kemenangan itu bukan untuk sang pemenang. Karena Pilpres bukan lomba menyanyi, atau keberuntungan mendapat lotere, yang kemenangan pasti mendapatkan hadiah materi.

Pemenang Pilpres tidak mendapatkan imbalan materi. Bahkan gaji atau tunjangannya pun, tak seberapa. Penghasilan lain nyaris tak ada, kecuali dia mencuri uang negara dengan cara korupsi. Jadi, pemenang Pilpres sejatinya mendapatkan beban yang sangat berat. Dalam konteks Indonesia, yang memenangkan Pilpres itu harus bisa menjamin tercapainya tujuan dan cita-cita nasional kemerdekaan negara ini. Kalau dia gagal mencapai tujuan itu, atau justru makin menjauhkan perjalanan bangsa ini ke titik tujuan, dia akan dicatat oleh sejarah sebagai penjahat yang merusak negara.

Seusai keputusan KPU yang menetapkan Presiden dan Wakil Presiden Terpilih, perhatian publik tersedot oleh apakah akan ada ucapan selamat dari kubu yang kalah kepada yang menang. Prabowo, sampai tulisan ini dibuat, belum menyatakan soal itu. Dia dan Sandiaga bahkan memutuskan tak menghadiri pengumuman KPU tersebut – konon karena ada acara lain yang sudah terjadwal sebelumnya.

Sandiaga Uno, sempat menyatakan ucapan selamat di sosial media. Tapi, dia justru mengungkapkan kebingungannya tentang ucapan selamat apa yang harus disampaikan kepada Jokowi. Menurutnya, budaya mengucapkan selamat bukan budaya Indonesia. “Budaya we concede defeat and we offer congratulations (kami mengakui kekalahan dan kami mengucapkan selamat) itu, hanya ada di pilpres di demokrasi Barat,  terutama di Amerika," kata Sandiaga.

Tidak sepenuhnya betul. Dalam Pemilu di India kemarin, yang waktunya hampir berbarengan dengan pemilu kita, Rahul Gandhi dari Partai Kongres India juga mengucapkan kalimat seperti itu kepada Perdana Menteri Narendra Modi dan Partai Bharatiya Janata yang meraih kemenangan. Padahal waktu itu KPU India, The Election Commission of India, belum mengumumkan hasil pemilu.

Tapi, kalau pun itu budaya Barat, apa salahnya meniru yang baik? Kalau seperti dikatakan Sandiaga, bahwa dulu Presiden Megawati pun tak memberi selamat kepada Susilo Bambang Yudhoyono yang terpilih di Pemilu Presiden 2004, apa pula salahnya membuang kebiasaan yang kurang baik?

Okelah, kita berbaik sangka saja, bahwa belum adanya ucapan selamat dari Prabowo-Sandiaga itu hanyalah soal waktu. Di saat yang tepat nanti, itu akan tersampaikan juga. Namun, dalam kaitan ini, istilah lebih cepat lebih baik, sangat relevan.

Sebab Pilpres sebenarnya adalah perlombaan berbuat kebaikan –atau dalam terminologi agama Islam disebut fastabiqul khairaat. Berlomba untuk menghasilkan kebaikan untuk bangsa dan negara. Si pemenang harus berbuat terbaik dalam posisinya sebagai pemimpin, dan yang tidak menang mesti berbuat terbaik pula dalam posisinya sebagai yang dipimpin. Saluran berbuat kebaikan untuk bangsa dan negara itu tersedia di banyak tempat. Yang menang mesti menunjukkan bagaimana caranya bersyukur dan memelihara amanat. Sedang yang kalau harus memberi teladan pula tentang bagaimana bersikap ikhlas. Selanjutnya adalah proses ingat-mengingatkan dalam “kebenaran” dan “kesabaran”. Dimensi keteladanan politik dari Pemilu terletak di situ.

Masalahnya, hanya orang dengan kelebihan tertentu yang punya kemampuan untuk memberikan teladan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here