Pilwali Kediri 2018, Pertarungan Lama Bersemi Kembali

0
204

Nusantara.news, Kota Kediri – Tiga pasangan bakal pasangan calon wali kota dipastikan akan meramaikan Pemilihan Wali Kota (Pilwali) Kediri. Mereka telah lolos tes kesehatan dilakukan tim medis RSUD dr. Soetomo Surabaya.

Tahapan pendaftaran Pilwali Kota Kediri telah berakhir. Sebanyak tiga calon wali kota siap bertarung memperebutkan orang nomor satu di Kota Kediri. Masing-masing Abdullah Abu Bakar-Lilik Muhibbah, Aizzudin-Sudjono Teguh Wijaya dan Samsul Ashar-Teguh Junaidi.

Pertarungan Pilwali Kediri 2018 dipastikan bakal seru. Yang menarik, di sini akan kembali mempertemukan Abu Bakar dan Samsul Ashar. Ini ibarat pertarungan lama bersemi kembali.

Seperti diketahui, Samsul Ashar merupakan seorang dokter berstatus PNS pada tahun 1989. Ia mengawali karier sebagai kepala puskesmas di Jantho dan Seulimeum, Aceh Besar. Ia pernah menjabat Direktur Utama RSUD Gambiran Kediri. Dan dalam organisasi ia menjabat sebagai Ketua Ikatan Dokter Indonesia Kediri dari tahun 2004 hingga 2010.

Pada Pilwali 2008, Samsul Ashar pernah mencalonkan wali kota bersanding dengan Abu Bakar. Perolehan suara mereka sangat signifikan, yakni memperoleh 56.079 suara atau 41,15 persen. Mereka mengalahkan 7 kandidat wali kota lainnya.

Pada Pilwali 2013, Samsul Ashar dan  Abu Bakar pecah kongsi.  Sebanyak tujuh pasangan calon wali kota dan wakil wali kota Kediri bertarung saat itu. Ada dua calon yang berangkat dari jalur perseorangan, yaitu Kasiyadi-Budirahardjo dan Imam Subawi-Suparlan. Pasangan dari jalur ini telah memenuhi syarat dukungan minimal sebanyak 13.074 dukungan dari total jumlah penduduk kota Kediri sebanyak 261.479, sebagaimana syarat undang-undang.

Sementara lima pasangan lainnya berasal dari latar belakang partai politik, yaitu pasangan Samsul Ashar-Sunardi yang diusung oleh partai Demokrat, PKS, PKNU, PDS, PKB. Samsul Ashar adalah Wali Kota Kediri yang saat ini masih aktif menjabat. Lalu ada pasangan Abdullah Abu Bakar-Lilik Muchibbah yang didukung oleh partai PAN, Gerindra, serta PPNUI. Abdullah Abu Bakar adalah Wakil Wali Kota Kediri petahana.

Kemudian ada pasangan G.E Harry Muller-Ali Imron yang diusung oleh Aliansi Lintas Parpol, pasangan Bambang Harianto-Hartono yang diusung oleh partai PDIP, serta pasangan Arifudinsyah-Jatmiko yang diusung oleh koalisi antara Partai Golkar dan Partai Hanura.

Namun pertarungan sesungguhnya justru terjadi pada dua petahana. Pasalnya, selisih perolehan suara antara paslon Abu-Lilik dan Samsul-Sunardi hanya terpaut 0,17 persen untuk kemenangan paslon Abu-Lilik.

Bahkan saking ketatnya persaingan, hitung cepat (quick count) versi Lingkaran Survei Lingkaran Indonesia (LSI)  tidak berani menetapkan pemenang Pemilukada Kota Kediri. Sebab selisih tipis rawan terjadi kericuhan. Dengan selisih di bawah sampling error, secara ilmiah LSI tidak berani menentukan pemenang Pilwali Kota Kediri.

Setelah ditunggu hasil perhitungan real count, pasangan Samsul Ashar-Sunardi memperoleh 63.784 suara atau 42,34 persen. Dan pasangan Abdullah Abu Bakar-Lilik Muhibbah memperoleh 67.915 atau 45,09 persen. Berdasarkan perhitungan itu pasangan Abu Bakar-Lilik akhirnya dipastikan menang satu putaran.

Kini, kedua pasangan yang pecah kongsi tersebut akan kembali bertemu. Saat ini pasangan Samsul Ashar-Teguh Junaidi diusung PDIP dan Hanura. Pasangan petahana Abu Bakar-Lilik diusung PAN, Nasdem, PKS dan Demokrat. Sedangkan pasangan Abdurrahman-Sudjono diusung PKB, PPP, Golkar dan Gerindra.

Selalu Membakar Semangat Anak Muda

Abdullah Abu Bakar adalah petahana. Dia muda dan bersemangat. Begitulah yang terlihat pada diri Wali Kota Kediri. Wajar saja ketika menjadi wali kota, dia selalu membikin program-program yang seiring dengan jiwa anak muda.

Usai menuntaskan kuliah di Yogyakarta, Abu kembali ke kota lahirannya: Kediri. Di kota dengan luas wilayah hanya 64 kilometer persegi dan penduduk 280 ribu jiwa ini, dia menapaki karier pejabat. Tahun 2008 menjadi wakil wali kota mendampingi Samsul Ashar. Tahun 2014 menjadi wali kota berpasangan dengan Lilik Muhibah.

Abu dan Lilik Muhibah yang diusung PAN dan Gerindra ini memimpin Kediri sejak April 2014 lalu. Selama 1,5 tahun terakhir, dia mulai memompa mentalitas birokrasi hingga menata kota.

“Alhamdulillah sudah dapat WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) tahun ini. Padahal targetnya 2 tahun setelah saya menjabat atau tahun 2016 mendatang,” kata Abu.

Bakal calon Wali Kota Kediri pasangan Abdullah Abu Bakar (kiri)-Lilik Muhibbah.

Abu menjelaskan, sejak menjabat, dirinya berusaha menekan inflasi. Berbagai hal dilakukan. Hasilnya, harga-harga di Kediri sangat terkendali hingga saat ini.

“Mungkin inflasi terendah se-Indonesia, sampai-sampai Pak Jokowi meminta daerah lain belajar ke Kediri,” jelas bapak dua anak ini.

Hal-hal mendasar lain yang diselesaikan Abu adalah penataan kota. Program itu diawali dari RT. Jika RT sudah tertata, selanjutnya adalah ruang publik. Dalam terobosannya sebagai pemimpin Kota Kediri, Abu menggelontorkan dana Rp 50 juta di setiap RT. Jumlah RT di tiga kecamatan di kota itu mencapai 1.436 RT.

Terobosan tersebut terangkum dalam program pemberdayaan masyarakat yang disingkat prodamas. Dana Rp 50 juta diberikan kepada RT untuk pemberdayaan masyarakat. Perinciannya, 60 persen berupa fisik, 20 persen sosial, dan 20 persen ekonomi. “Realisasinya kami serahkan kepada RT masing-masing,” ujar Abu.

Pria yang memiliki latar belakang pengusaha itu mencontohkan Kelurahan Kampung Dalem, Kecamatan Kota. Di kampung tersebut sedang dibangun selokan dan taman di tepi jalan sepanjang 100 meter. Selokan itu dianggap paling penting jika dibandingkan dengan kebutuhan lainnya. Sebab, kawasan tersebut rawan tergenang air.

Pelaksanaan program itu diawasi tim internal dan pejabat pelaksana teknis kegiatan (PPTK). Tim internal berperan untuk memadukan rencana kegiatan antar-RT. Misalnya, jalan sepanjang 100 meter itu melewati tiga RT. Nah, tim internal mengoordinasi tiga RT tersebut agar visi dan misinya sama. Koordinasi itu menghasilkan kesepakatan selokan menjadi program fisik yang harus diwujudkan. Dengan begitu, pelaksanaan di lapangan tidak menimbulkan kontroversi.

Abu mengaku sudah mempunyai angan-angan menata Brantas, sungai selebar 100 meter yang membelah kota. “Saya cuma ingin membuat hal yang berguna untuk masyarakat. Tak perlu yang monumental, yang penting bisa dinikmati bersama,” kata suami Silviana Veronica ini.

Seusai mendaftar di KPU sebagai bakal calon Wali Kota Kediri 2018, Abu mengatakan akan berorientasi program ke depan dengan menyasar pada pengembangan Kota Kediri yang lebih bermartabat, lebih sejahtera, serta lebih agamis.

Pak Dokter yang Unik dan Kreatif

Bagi masyarakat Kediri, sosok Samsul Ashar tidak asing. Dia adalah seorang dokter yang unik. Selama menjabat sebagai Wali Kota Kediri periode 2009-2014, Samsul Ashar berbeda dengan pejabat-pejabat lain yang jor-joran menggunakan uang negara atau Pemkot untuk pencitraan. Lebih Rp 1 miliar anggaran Humas Kota Kediri terkait aktivitas wali kota tidak digunakan sama sekali. Katanya, dia sungkan menggunakannya.

Setelah tidak lagi menjabat wali kota, Samsul Ashar sempat bersinggungan dengan PSSI. Dia pernah mengusulkan kepada PSSI untuk mencari bibit-bibit atlet sepakbola dengan metode tes medis.

Kepada Nusantara.News, Samsul menceritakan bahwa sepakbola di Eropa kini telah menggunakan metode tes tulang belakang. Menurutnya, tes ini untuk mengetahui apa orang tersebut memiliki bakat atlet atau tidak.

“Setiap pemain sepakbola yang mengikuti bursa transfer pasti akan menjalani tes ini. Untuk mengetahui apakah orang tersebut memiliki bakat atlet sejak lahir. Pesepakbola seperti Ronaldo dan Messi memiliki bakat atlet sehingga ketika dilatih, keduanya pasti akan mudah menjadi pemain sepakbola. Tapi jika sejak lahir tulang belakang bukan kategori atlet, sampai kapanpun dilatih olahraga tetap tidak bisa,” tuturnya.

Bakal calon Wali Kota Kediri pasangan Samsul Ashar (baju putih)-Teguh Junaidi.

Dari 250 juta penduduk Indonesia, kata Samsul, sangat disayangkan jika tidak bisa mencari 11 pemain sepakbola handal. “Di luar sana pasti banyak pemain berbakat. Tapi sayangnya kita tidak serius mencari bibit atlet sejak dini,” singgungnya.

Selain sering dipanggil sebagai Pak Dokter, Samsul Ashar juga disapa dengan Pak Koperasi. Jenis Penghargaan yang paling dominan yang diraihnya adalah bidang Koperasi dan UMKM. Sehingga Samsul Ashar dijuluki Bapak Koperasi.

Banyak lagi penghargaan yang diberikan kepada Samsul Ashar selama menjabat sebagai wali kota. Dia terbilang sangat kreatif. Atas kinerjanya tersebut, dia mendapat penghargaan sebagai pemenang terbaik kategori promosi investasi tahun 2010 dari Gubernur Jatim. Penghargaan Anubhawa Sasana kelurahan atas pembinaan dan pengembangan Kelurahan sebagai kelurahan sadar hukum dari Men Hukum dan HAM RI. Peraih otonomi award 2010 “distinguished category” tahun 2010 dari “The Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi”. Penghargaan produksi beras di atas 5 persen tahun 2011 dari Presiden RI. Penghargaan Swasti Saba Wistara untuk kota sehat tahun 2011 dari Menteri Kesehatan RI dan masih banyak lainnya.

Di mata anak buahnya, Samsul adalah orang baik. Selama memimpin Kediri, jiwa dokternya selalu melekat. Karena itu pada Pilwali 2018 ini, Samsul Ashar bertekad untuk memimpin kembali Kota Kediri.

Samsul mengaku sudah tidak was-was ketika diusung PDIP dan Hanura. Terlebih dari para elit partai ini di Kota Kediri telah mendukungnya untuk maju kembali. Modal lainnya adalah dukungan dari keluarganya. Dia berharap banyak partai politik yang mendukung pencalonannya.

“Saya ingin bangun Kota Kediri. Indek pembangunannya kita tingkatkan bersama partai koalisi. Saya melihat bahwa indek pembangunan di Kota Kediri arus mempunyai mimpi di atas 80. Karena sekarang ini masih 76 sampai 78. Bagaimana itu, kita sudah punya strateginya. Teman-teman sudah memberikan masukan yang konstruktif,” terangnya.

Dia mencontohkan beberapa programnya yaitu, pembangunan di bidang pendidikan. Dirinya akan meluncurkan program pohon cita-cita. Yakni, membangun indeks pendidikan dimulai dari anak-anak. Lalu program pembangunan indeks kesehatan. Semua program ini dikemas dalam program utama adalah pembangunan manusia.

Cucu Hasyim Asyari Diperintah Kiai

Mungkin saja pertarungan Pilwali Kediri akan menampilkan keseruan Abu Bakar dan Samsul Ashar. Namun bukan berarti kandidat lain juga tidak diperhitungkan. Adalah Aizuddin Abdurrahman yang biasa dipanggil Gus Aiz, dia merupakan cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asyari. Majunya Gus Aiz dipastikan bakal membuat Pilkada Kota Kediri 2018 semakin seru. Pasalnya, Gus Aiz merupakan wajah baru yang akan mendongkel popularitas kandidat berwajah lama.

Nama mantan Ketua Umum Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa ini sebelumnya muncul mendekati pendaftaran pasangan calon Wali Kota Kediri periode 2019-2023 dari jalur partai politik (parpol).

Gus Aiz mengaku maju dalam bursa pencalonan atas perintah dari para kiai-kiai sepuh NU di Kota Kediri. “Saya selaku santri yang ketepatan juga berkhitmad kepada para masayyih, diperintah apapun, kondisi apapun, nderek dawuh, termasuk diperintah untuk menjadi calon Wali Kota Kediri,” kata Gus Aiz saat itu.

Bakal calon Wali kota Kediri pasangan Aizudin (Gus Aiz) dan Sujono Teguh Wijaya.

Menantu KH Anwar Iskandar Pengasuh Ponpes Al Amien Kediri ini meyakini perintah para kiai adalah tanggung jawab yang harus diemban dan dihargai bersama. Sebab, perintah kiai baginya merupakan tugas untuk kemaslahatan masyarakat Kota Kediri yang tidak bisa dikesampingkan.

“Saat ini sedang melakukan komunikasi baik di level tataran komunikasi politik, maupun dengan tokoh masyarakat. Tentunya dengan membangun politik yang berkebangsaan. Sebagaimana NU yang berprinsip politik kemaslahatan, bukan politik yang saling menikam,” ungkapnya.

Bersama Sujono Teguh Wijaya, anggota DPRD Kota Kediri, Gus Aiz menyebut bahwa formasi tersebut juga merupakan perintah dari para kiai-kiai NU. Dan nama keduanya masuk dalam satu paket pasangan calon yang diusulkan ke DPP PKB.

“Ada beberapa kalkulasi politik yang tidak bisa dipahami banyak orang. Tetapi sejauh ini Pak Jono adalah salah satu yang akseptabel. Kedua pak Jono tidak mungkin berangkat sendiri. Ini juga bagian dari yang kita komunikasikan,” terusnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here