Pilwali Kediri, Samsul Ashar Siap Lawan Petahana

0
724
Pasangan dr. Samsul dan Adi Suwono didukung partai raksasa siap melawan petahana dalam Pilwali Kota Kediri 2018.

Nusantara.news, Kota Kediri – Calon Walikota dan Wakil Walikota Kediri dr. H. Samsul Ashar dan Adi Suwono mulai beraksi. Pada pertengahan bulan November ini, kedua pasangan sudah menyiapkan diri dalam agenda politik Kota Kediri Tahun 2018. Mereka siap melawan petahana.

Bagi masyarakat Kediri dan sekitarnya kedua sosok ini tidak asing. Samsul Ashar adalah seorang dokter yang juga mantan Wali Kota Kediri periode 2009-2014. Sementara Adi Suwono adalah pengusaha sekaligus pemilik hotel Bukit Daun Kediri.

Samsul Ashar sendiri mengaku, tekadnya sudah bulat untuk kembali maju dalam perhelatan Pilwali Kediri. Selain mendaftar ke PDIP, ia juga intensif menjalin komunikasi dengan partai politik lain. Sebab, hal itu merupakan tugas yang diberikan PDIP. Mengingat di Kota Kediri, partai moncong putih ini baru memiliki empat kursi, sedangkan untuk mengusung calon dibutuhkan enam kursi.

“Kita silaturahim dengan beliaunya sudah lama. Dan persiapan lain, adalah tugas yang dibebankan kepada saya yaitu adalah silaturahim ke partai lain. Karena PDIP empat tidak bisa memberangkatkan sendiri, oleh karena itu, kita harus bangun komunikasi,” ungkapnya.

Samsul mengaku sudah tidak was-was ketika positif diusung PDIP. Terlebih dari para elit partai ini di Kota Kediri telah mendukungnya untuk maju kembali. Modal lainnya adalah dukungan dari keluarganya. Dia berharap banyak partai politik yang mendukung pencalonannya.

“Saya ingin bangun Kota Kediri. Indek pembangunannya kita tingkatkan bersama partai koalisi. Saya melihat bahwa indek pembangunan di Kota Kediri arus mempunyai mimpi di atas 80. Karena sekarang ini masih 76 sampai 78. Bagaimana itu, kita sudah punya strateginya. Teman-teman sudah memberikan masukan yang konstruktif,” terangnya.

Dia mencontohkan beberapa programnya yaitu, pembangunan di bidang pendidikan. Dirinya akan meluncurkan program pohon cita-cita. Yakni, membangun indek pendidikan dimulai dari anak-anak. Lalu program pembangunan indeks kesehatan. Semua program ini dikemas dalam program utama adalah pembangunan manusia.

Sementara Adi Suwono boleh dibilang bukan orang baru dalam dunia politik. Dia juga kader PDIP. Bagi Adi, ini adalah kali kedua bagi pria lulusan teknik untuk terjun di dunia politik pencalonan. Pilwali Kediri 2014 lalu, Adi Suwono sempat mendekati Partai Golkar Kota Kediri sebagai kendaraan politik maju sebagai calon, tetapi akhirnya mundur di tengah jalan.

Namun kali ini, Adi Suwono yang berlatar belakang pengusaha mengaku siap mendampingi mantan Walikota Kediri Samsul Ashar untuk bertarung melawan petahana di Pilkada Kota Kediri tahun 2018. Keyakinannya semakin matang setelah partai berlogo banteng moncong putih ini memberikan restu jika dirinya pantas menjadi Wakil Wali kota Kediri dengan mendampingi Samsul Ashar.

“Saat itu kami ingin menjajaki dan melihat. Namun akhirnya kami memutuskan untuk menunda. Dan saat ini kami rasa adalah waktu paling tepat. Kami sudah siap bai secara moral maupun material. Dan kami memang ditunjuk oleh PDIP menjadi bakal calon wakil walikota Kediri,” ucapnya.

Meskipun hanya menjadi wakil walikota, ia optimis tetap bisa memberikan kesejahteraan masyarakat Kota Kediri. Tak hanya itu, keinginannya menjadi pemimpin tak lain untuk menjadikan Kota Kediri menjadi kota bebas korupsi.

“Saya ingin berkarya dengan keahlian saya. Salah satunya cara dengan memajukan Kota Kediri tanpa korupsi serta mensejahterakan masyarakat. Saya pribadi ingin membuat Kota Kediri menjadi kota yang dikenal dengan wisata budayanya,” ujarnya.

Konsep Adi Suwono mengusung slogan “Anti Korupsi” diakuinya bukan sekedar slogan.
Menurutnya, slogan Anti Korupsi baru dapat terwujud bilamana kepala daerahnya sebagai contoh perilaku tanpa korupsi. “Apabila walikota dan wakilnya tegas menyatakan tidak akan korupsi, saya yakin pejabat di bawahnya juga tidak berani korupsi. Karena itu saya siap mundur apabila melakukan korupsi, dan saya siap membongkar sendiri apabila calon walikota pasangan saya yang korupsi,” janjinya.

Terkait budaya, Adi menilai Kota Kediri sebagai kota yang memiliki peradaban yang tinggi karena sebagai peninggalan Kerajaan Kediri pada 1.100 masehi. Banyak peninggalan sejarah baik benda maupun non benda yang dapat dikembangkan dan dieksplor secara total.

“Apabila kita pergi ke Bali ataupun ke Yogyakarta, saat baru masuk ke perbatasan saja sudah tahu. Berbeda dengan kita masuk ke daerah lain, seperti kita perjalanan dari Kediri ke Surabaya melewati beberapa daerah, kadang kita tidak sadar sudah masuk Kabupaten Jombang. Untuk itu, apabila terpilih nanti, kami akan membuat masyarakat yang datang ke Kota Kediri merasakan kasnya kota ini. Seperti sewaktu kita masuk ke Bali atau Jogja,” bebernya.

Ditambahkannya, di Kota Kediri banyak tempat wisata yang bisa dikembangkan untuk ‘dijual’ kepada wisatawan. Kota Kediri, terusnya, juga memiliki banyak kesenian yang bisa dikembangkan untuk menunjang pariwisata yang sudah ada. “Semuanya akan kita kemas dengan sedemikian apik agar bisa tereksplor dan mendatangkan kunjungan wisata ke Kota Kediri,” imbuhnya.

Sementara itu Achmad Qodiron, juru bicara pasangan Samsul Ashar dan Adi Suwono menyatakan, keduanya saat ini telah mendapat dukungan koalisi partai raksasa, yakni PDI Perjuangan, Gerindra, PKS dan Nasdem.

Ketika dikonfirmasi atas dukungan partai, sosok mantan wartawan menjelaskan bahwa pihaknya terus intensif melakukan komunikasi politik dengan partai lain. “Yang pasti dengan komposisi partai besar, PDIP kemudian didukung Gerindra, PKS dan Nasdem, merupakan koalisi raksasa untuk melawan incumbent nanti,” jelasnya.

PKB Pilih Sujono, Demokrat Siap Menangkan Petahana

Sebenarnya suasana politik di Kota Kediri terasa semakin menghangat, setelah Sujono Teguh Wijaya menyatakan siap maju dalam pentas Pilwali. Dia mendapat dukungan dari Partai Golkar, PKB, dan sejumlah ulama di Kota Kediri.

Dikatakan KH Abdul Halim Iskandar, Ketua DPW PKB Jatim, pihaknya memberikan rekomendasi kepada Syaifullah Yusuf untuk maju sebagai Calon Gubernur (Cagub) Jawa Timur (diusung PDIP-PKB) dan Sujono Teguh Wijaya sebagai Calon Walikota (Cawali) Kediri.

Terkait peta politik Jatim, PKB memang telah memastikan menggandeng PDI Perjuangan, namun untuk PKB Kota Kediri sepenuhnya merupakan kewenangan daerah. Bila PDIP dan PKB pecah kongsi, itu bagian dari demokrasi.

Dipilihnya Bung Jono, meski bukan kader dari kalangan PKB ataupun NU, Cak Halim menjelaskan bahwa dirinya melihat bentuk komunikasinya dengan para kiai cukup intensif. “Beliau Bung Jono memiliki komitmen bagus memikirkan nasib rakyat kecil di Kota Kediri. Semisal konsep pembangunan ekonomi kerakyatan yang kini dijalankannya,” imbuhnya.

PKB Kota Kediri memiliki 4 kursi DPRD. Sementara tiket mengusung Pilwali Kota Kediri 2018, harus mempunyai 6 kursi di legislatif.

Sedangkan sosok Sujono Teguh Wijaya, yang akan diusung PKB, merupakan anggota DPRD Kota Kediri dari Fraksi Golkar, sekaligus Sekretaris DPD Golkar Kota Kediri.

Bacalon Walikota Kediri Sujono Teguh Wijaya diusung PKB dan Partai Golkar.

Terpisah, Sujono Teguh Widjaya mengaku, dirinya dirinya tetap eksis dalam kontestasi Pilwali kota Kediri 2018 mendatang. Di samping itu, dia mengaku akan dipasangkan dengan kader NU yang dipilihkan oleh kyai sepuh.

“Saya akan tetap maju dalam Pilwali 2018 mendatang dan akan berpasangan dengan kader NU dan saat ini masih dipilihkan oleh Kyai Sepuh,” pungkas Jono.

Dari kabar sebelumnya, Sujono Teguh Wijaya sempat mengungkapkan, apabila tidak mendapatkan rekom dari PKB, dirinya bakal mundur dari pencalonan dari bursa Pilwali 2018. Bahkan, isu santer yang beredar di lapangan PDIP bakal berkoalisi dengan PKB baik di propinsi maupun daerah. Namun PDIP menjatuhkan pilihan pada Samsul Azhar. “Saya bukan mundur dari Pilwali melainkan mundur dari bursa pencalonan Bakal Calon Walikota dari PDIP,” ungkap Jono.

Sebelumnya Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Amanat Nasional (PAN) Kota Kediri menetapkan Lilik Muhibbah untuk dipasangkan dengan Abdullah Abu Bakar sebagai bakal calon wakil walikota dan walikota Kediri dalam Pilwali Kediri 2018. Artinya, pasangan petahana ini akan bergandengan kembali dalam pilkada.

Dikatakan Ketua DPD PAN Kota Kediri Abdul Bagi Bafaqoh, penetapan Ning Lik, panggilan akrab Lilik Muhibbah sebagai bakal calon wakil walikota Kediri ini merupakan hasil dari rapat pleno Tim Pilkada DPD PAN Kota Kediri. Sebelumnya PAN sempat membuka penjaringan tetapi yang daftar hanya satu orang yakni Ning lik yang notabene Ketua Muslimat NU Kota Kediri.

“Bakal calon walikotanya kader sendiri Mas Abu (panggilan akrab Abdullah Abu Bakar) dan wakilnya yang mendaftar adalah dalam penjaringan adalah Lilik Muhibah,” ungkap Abdul.

Di Kota Kediri, PAN memiliki enam kursi yang berarti bisa mengusung calon sendiri dalam Pilwali 2018. Meskipun begitu, partai berlambang matahari ini tetap berupaya untuk berkoalisi.

Adalah Partai Demokrat Kota Kediri yang tidak membuka pendaftaran calon walikota. Mungkin Partai Demokrat sadar karena hanya memiliki dua kursi di DPRD. Partai yang dikomandoi Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini memutuskan untuk mendukung calon petahana pasangan Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar dan Lilik Muhibbah.

Pasangan petahana Mas Abu dan Ning Lik diusung PAN dan Demokrat.

Pernyataan resmi itu disampaikan langsung Ketua DPC Partai Demokrat Kota Kediri Jaka Siswa Lelana saat mendaftarkan partainya di KPU Kota Kediri, beberapa waktu lalu. Jaka menegaskan, seluruh kader dan simpatisan partainya siap menghantarkan kembali petahana di kursi AG1 untuk periode kedua.

“99,9 persen Partai Demokrat Kota Kediri mendukung petahana. Keputusan ini langsung dari DPP Partai Demokrat,” tegas Jaka di antara ratusan kader dan simpatisan Partai Demokrat di Kantor KPU Kota Kediri.

Ada alasan yang mendasar keputusan mendukung petahana. Di antaranya, program-program petahana sudah sesuai harapan. Alasan kedua karena berdasarkan hasil survei, elektabilitas positif Mas Abu dan Ning Lik paling tinggi diantara bakal calon yang lain.

Ditanya apakah ada pertimbangan lain mendukung petahana karena ingin sekedar ‘nunut’ menumpang, anggota DPRD Pereode tahun 2009-2014 membantah. Menurutnya, sejak awal Mas Abu menjabat sebagai kepala daerah, Partai Demokrat sudah sejalur dengan pemerintah.

Selain menjaga komunikasi secara langsung dengan Mas Abu, Partai Demokrat juga menjalin komunikasi dengan PAN, sebagai partai pengusung petahana. Menurut Jaka, koalisi Partai Demokrat dengan PAN sudah dipastikan terjalin.

Sampai saat ini Pilwali Kota Kediri sudah memunculkan tiga nama. Petahana Wali Kota dan Wakil Wali Kota Kediri, Abdullah Abu Bakar-Lilik Muhibbah yang telah diusung PAN dan Demokrat. Mantan calon Wali Kota Kediri, Samsul Ashar dan Adi Suwono diusung partai raksasa (PDIP, Gerindra, PKS dan Nasdem). Dan, Sujono Teguh Wijaya (belum ada pendamping), diusung PKB dan Golkar.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here