Pilwali Madiun 2018, Siapa Pemegang Kunci Warisan Raden Ronggo?

0
365
Semua Paslon wali kota dan wakil wali kota Madiun berkomitmen untuk memberantas korupsi.

Nusantara.news, Kota Madiun – Madiun menjadi daerah berbeda dengan daerah lain. Diakui atau tidak, sejak jaman Raden Ronggo Prawirodirdjo, Madiun terpilih menjadi kunci menumbalkan diri untuk pembaharuan dan revolusi di Tanah Jawa.

Saat Raden Ronggo mengobarkan perang terhadap Daendels di saat sultan-sultan Jawa bimbang dan ragu mengambil sikap, pilihannya adalah ‘mengorbankan’ Raden Ronggo melawan wibawa Tanah Jawa.

Raden Ronggo sadar, bahwa dia tidak bisa berpangku pada saudara sebangsanya yang mengalami krisis moral. Dia akhirnya bersedia mengorbankan dirinya sebagai tumbal perlawanan bangsa Jawa terhadap bangsa Eropa. Sementara saat pasukan Maospati dan Madiun berperang di medan perang, para bangsawan Jawa hanya melihat dari kejauhan.

Dan, gunung Lawu menjadi kunci tanah Jawa di mana para bangsawan Majapahit diselamatkan dari kejaran tentara Demak. Kunci itu berupa ilmu tentang manusia Jawa seutuhnya. Artinya orang Jawa menganggap dirinya sebagai bangsa yang bisa mengerti dinamika lingkungannya, dan segera beradaptasi dengan dinamika tersebut dengan cara yang paling pas. Inilah kunci yang dibawa bangsawan Majapahit terakhir ke gunung Lawu, dan kemudian diturunkannya ke masyarakat di sekitarnya, terutama di sisi timur lerengnya.

Ilmu ini begitu mewarnai keseharian orang Jawa di wilayah Madiun dan sekitarnya. Benar-benar berbeda dengan orang Jawa di wilayah lain. Orang Madiun tahu benar bahwa memiliki keluasan hati untuk memahami suatu hal bukan berarti harus pasrah dan pasif ketika ditindas. Sebaliknya, orang Jawa mampu memahami kapan waktunya untuk berkata tidak dan melawan penindasan jika situasi memaksa. Inilah yang membedakan ilmu Jawa orang Madiun dengan ilmu Jawa lainnya. Sabar namun tegas, lembut namun tajam.

Sebagai pemegang kunci, tentu saja orang Madiun sadar peran penting mereka sebagai pembuka gerbang. Itulah yang diyakini Raden Ronggo dan pengikutnya. Di keraton sederhananya Maospati, Raden Ronggo menyusun langkah-langkah pembaharuan bangsa Jawa. Dia mewariskan kepada manusia Jawa yang bersedia memasuki gerbang yang akan dibukanya. Warisannya berupa semangat nasionalisme Jawa yang dipayungi oleh etika Islam yang luhur. Dia tahu hidupnya tidak akan lama, sehingga cukup itulah warisan yang dia titipkan. Kelak banyak orang menyambut warisannya tersebut.

Di kala itu Jawa berada pada titik nadir kehancuran moral dan ekonomi dan tiada satupun orang Jawa yang punya jalan keluarnya, tidak juga raja-raja Jawa. Di sinilah Raden Ronggo memberi solusi pada kegundahan rakyat Jawa.

Di jaman sekarang, masalah korupsi diibarat sebagai bentuk penindasan. Satu-satunya solusi yang diberikan Raden Ronggo adalah melawan bersama. Sejak Wali Kota Madiun dua periode dipegang Bambang Irianto, Kota Madiun dipandang sebelah mata. Bagaimana tidak, Bambang Irianto dijatuhi hukuman kurungan penjara selama enam tahun dan denda Rp1 miliar oleh Majelis hakim Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (PN Tipikor) Surabaya.

Hakim menilai terdakwa terbukti bersalah melanggar pasal 12 huruf i dan pasal 12 huruf B tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. Selain itu, terdakwa juga terjerat pasal 3 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.

Bambang Irianto terjerat kasus korupsi pembangunan Pasar Besar Madiun (PBM) tahun 2009-2012. Selain korupsi, Bambang juga diduga menerima gratifikasi terkait perkara sama senilai Rp50 miliar.

Uang itu diterima Bambang dari sejumlah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di Madiun dan pengusaha. Tak hanya berkaitan dengan proyek Pasar Besar Madiun, uang yang diterima Bambang ini juga berkaitan dengan honor pegawai dan perizinan.

Kini, Kota Madiun dalam bayang-bayang. Di Pilkada serentak 2018 ini, masyarakat Kota Madiun berharap akan muncul pemegang kunci warisan Raden Ronggo. Kunci itu yang nantinya digunakan untuk membuka gerbang, sehingga bisa tercipta pembangunan merata bagi masyarakat Kota Madiun.

Kasus yang menimpa Bambang Irianto memang menjadi pukulan telak bagi masyarakat Kota Madiun. Namun dengan terpilihnya pemimpin yang baru nanti, harapan masyarakat pemegang kunci Raden Ronggo adalah pemimpin yang jujur, bersih, dan mengayomi.

Saat ini seluruh pasangan calon wali kota dan wakil wali kota Madiun sudah sepakat dan berkomitmen untuk memberantas korupsi di Kota Madiun. Komitmen ini penting dilaksanakan karena agar tidak terjadi korupsi seperti yang menimpa wali kota sebelumnya.

Pasangan calon yang menyatakan komitmen pemberantasan korupsi yaitu Paslon jalur perseorangan Harryadin Mahardika dan Arief Rahman, Paslon yang diusung PKS, Gerindra, dan Golkar yaitu Yusuf Rohana dan Bambang Wahyudi, serta Paslon yang diusung PDIP, PKB, PAN, PPP, dan Demokrat yaitu Maidi dan Inda Raya.

Butuh Penyegaran Merek, Bebas dari Politik Uang

Pasangan calon wali kota Haryadin Mahardika dan wakil wali kota Arief Rahman ingin menjadi pembuka kunci Raden Ronggo. Keduanya ingin mengembalikan martabat Kota Madiun yang telah tercoreng oleh kasus korupsi Bambang Irianto.

Mahardika dan Arief, keduanya sama-sama muda. Mereka mewakili rakyat kecil kaum urban dalam semangat membangun Madiun bersama. Sebuah harapan baru bagi Kota Madiun. Kedua pasangan ingin merengkuh semua lapisan masyarakat agar tidak terkotak-kotak dan selalu bergotong royong dalam segala hal.

“Filosofinya yang kita jaga. Kita akan selalu bekerjasama. Masyarakat jangan sampai bercerai berai hanya karena sebuah kontestasi politik. Masyarakat Madiun jangan jadi korban tapi jadi pemenang,” ujar Mahardika pria kelahiran Madiun, 14 Agustus 1980, yang kini berusia 37 tahun ini, saat diwawancarai awak media.

Pasangan calon wali kota dan wakil wali kota Madiun Haryadin Mahardika dan Arief Rahman.

Karena itu peraih gelar Ph.D bidang Management dari Monash University-Australia ini menegaskan masyarakat tidak boleh melupakan kasus korupsi yang dilakukan wali kota sebelumnya. Dalam Pilwali Madiun 2018, pihaknya berkomitmen untuk memutus rantai korupsi yang selama ini terjadi di Pemkot Madiun.

“Jangan sampai melupakan kasus korupsi yang pernah dilakukan oleh wali kota Madiun sebelumnya. Kalau melupakan berarti kita tidak berusaha menjadi yang benar-benar. Dua kali kepemimpinan selalu tersangkut kasus korupsi,” jelas Mahardika.

Menurut dia jangan sampai Kota Madiun dianggap sarangnya koruptor. Atas hal itu, dirinya berkomitmen untuk memberantas korupsi.

Majunya Mahardika sebagai calon wali kota Madiun membuka peluang bagi dirinya untuk melakukan rejuvenasi atau kalau dalam istilah merek branding. Menurutnya, Madiun butuh penyegaran merek.

Rejuvenasi bisa dilakukan dengan dua hal. Yang pertama perbaikan dari internal yakni dengan cara mengubah atau mengganti mereknya, misalnya mengganti logo merek dan mengganti nama merek. Yang kedua, penyegaran merek dari eksternal yakni menggandeng pihak eksternal untuk meningkatkan merek. “Saya coba menawarkan kedua opsi untuk memajukan Kota Madiun,” terangnya.

Dia berharap citra kota Madiun akan menjadi baru, seperti sosoknya yang muda, inovatif, kreatif, bersih dan sebagainya.

Sementara Arief menyebut calon dari jalur independen tidak sesulit yang dibayangkan banyak orang. Justru pihaknya mengatakan melalui jalur independen akan memudahkan dalam komunikasi politik. Sama halnya dengan Raden Ronggo kalah ‘dikorbankan’ oleh bangsawan Jawa. “Raden Ronggo tidak ciut nyali meski tidak mendapat dukungan dari raja-raja Jawa. Dengan semangatnya, dia mampu mendobrak sekat-sekat yang ada. Boleh dibilang meski dia sendirian (independen), namun banyak dukungan dari rakyat. Selain itu, kami bebas dari politik uang,” tutur Arief.

Arief menambahkan, putusannya memilih jalur perseorangan tanpa beban, tidak ada intervensi dari Parpol. Bahkan yang namanya politik uang bisa dicegah sedini mungkin. “Kami akan tetap dengan semangat kami, memberantas korupsi,” pungkasnya.

Usung Paket Andalan, Bersih dari Segala Hal

Koalisi tiga partai yaitu Partai Gerindra, Partai Golkar, dan PKS mengusung Yusuf Rohana dan Bambang Wahyudi. Yusuf Rohana merupakan kader PKS dan saat ini menjadi anggota DPRD Provinsi Jawa Timur. Sedangkan calon wakil wali kota yang diusung yaitu Bambang Wahyudi merupakan ketua DPC Partai Gerindra Kota Madiun.

Pasangan ini mendeklarasikan diri setelah mendapatkan rekomendasi dari ketiga partai pengusung. Pasangan ini menjadi pasangan pertama dari jalur partai yang mendeklarasikan diri maju ke Pilkada Kota Madiun 2018.

Bicara soal korupsi, Yusuf Rohana dan Bambang Wahyudi juga memiliki komitmen kuat di pemerintahannya nanti untuk memutus mata rantai korupsi yang sudah membudaya di Kota Madiun. Dengan pemerintahan yang bersih, maka pembangunan yang selama ini sudah berlangsung akan dapat berjalan. Kebijakan yang sebelumnya baik juga harus dipertahankan.

“Insya Allah kami sangat komitmen untuk memutuskan rantai-rantai yang tidak baik apakah itu korupsi maupun budaya-budaya lain yang selama ini ada. Seluruh hal baik, hasil pembangunan yang sudah dilaksanakan oleh pemerintah sebelumnya akan kami pertahankan dan kami tingkatkan, hal-hal yang selama ini menjadi kendala Insya Allah kami hindari, dan kami reduksi semaksimal mungkin,” kata Yusuf.

Pasangan calon wali kota dan wakil wali kota Madiun Yusuf Rohana dan Bambang Wahyudi.

Yusuf berharap kehadirannya bisa menambah alternatif pilihan bagi masyarakat Madiun untuk memilih pemimpin. “Supaya lebih bervariatif. Ya biar yang dipilih tidak itu-itu saja,” kata dia kepada wartawan.

Ditambahkannya, Kota Madiun sebenarnya memiliki potensi luar biasa dari berbagai sisi seperti perdagangan, pendidikan, budaya, kuliner, wisata, dan lainnya. Tetapi selama ini potensi tersebut belum tergarap secara optimal, dan terkesan amburadul. Apalagi dengan terbongkarnya kasus korupsi wali kota pendahulunya.

Untuk itu, dirinya bercita-cita membawa Kota Madiun menjadi lebih baik dan tujuannya untuk menyejahterakan masyarakat. Adapun Yusuf dan Bambang saat ini sudah menyiapkan paket andalan untuk penguatan ekonomi kerakyatan, selain pendidikan, kesehatan masyarakat dan lainnya.

“Kami memandang masih banyak bisa dikembangkan di Kota Madiun. Kami komitmen menjadikan Kota Madiun bersih dari segala hal. Baik itu lingkungan hingga pemerintahan,” pungkasnya.

Berantas Korupsi Melalui e-Planning dan e-Budgeting

Pasangan calon wali kota dan wakil wali kota Maidi dan Inda Raya Ayu Miko Saputri yang diusung kekuatan partai besar (PDIP, PKB, PAN, PPP, dan Demokrat) juga memiliki komitmen yang sama terkait dengan pemberantasan korupsi.

Maidi menyampaikan komitmen pemberantasan korupsi dalam pemerintahan nanti, jika terpilih, pihaknya menerapkan sistem e-planning dan e-budgeting.

Dengan sistem e-planning dan e-budgeting, Maidi menekankan agar Aparatur Sipil Negara (ASN) di Pemkot Madiun harus anti tindakan korupsi. Sehingga para ASN tidak lagi dapat berbuat macam-macam untuk melakukan korupsi dan sebagainya. Selain itu, Maidi berjanji akan menambah gaji ASN lebih besar dari sebelumnya.

“Mulai 2018 ini kebijakan remunerasi bagi ASN juga akan diterapkan sehingga gaji cukup. Sehingga terwujud pemerintahan yang bersih,” kata Maidi.

Pasangan calon wali kota dan wakil wali kota Madiun Maidi dan Inda Raya.

Maidi menegaskan keinginannya bersama Inda Raya untuk membangun Kota Madiun agar lebih baik dan maju serta masyarakatnya sejahtera. “Maksudnya, Kota Madiun yang selama ini sudah baik, agar lebih baik lagi. Dan yang terpenting pembangunan Kota Madiun lebih maju lagi, rakyatnya lebih sejahtera dan mandiri,” tegas Sekretaris Daerah Kota Madiun ini.

Keikutsertaan Maidi dalam perebutan kursi wali kota Madiun tahun ini, diprediksi bisa menaikkan tensi Pilkada Madiun. Pasalnya, sejumlah kandidat lainnya juga sudah bersiap bertarung melalui partai yang digadang-gadang menjadi kendaraannya.

Jika terpilih, Maidi dan Inda Raya akan bekerja keras untuk membuat Kota Madiun. Dia pun mengaku optimis dapat memenangkan Pilkada Kota Madiun mengingat 5 partai politik mendukungnya dengan jumlah 20 kursi, karena di Kota Madiun jumlah anggota DPRD nya hanya 30 kursi. “Kami bersama tim relawan tetap akan bekerja keras untuk memenangkan Pilkada Kota Madiun 2018,” imbuh Maidi.

Ia mengungkapkan, saat ini koalisi besar yang dibangun sudah solid untuk memenangkan dirinya. “Hal itu merupakan potensi besar untuk meraih kemenangan, komunikasi sudah dibangun antar pimpinan partai. Mereka semua bekerja sama,” tutupnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here