PKB Calonkan Saifullah, Kans Khofifah tak Goyah

0
273
Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa.

Nusantara.news, Surabaya – Rekomendasi Partai kebangkitan Bangsa (PKB) kepada Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Halim Iskandar untuk maju sebagai calon gubernur (cagub) di Pemilihan Kepala Daerah 2018 Jawa Timur, ditanggapi legowo oleh Khofifah Indar Parawansa. Bahkan Ketua PP Muslimat NU tersebut menegaskan, proses demokrasi dalam penetapan cagub itu harus dihormati siapa pun.

Karenanya, kendati dukungan kepada perempuan yang dipercaya jadi Menteri Sosial dalam Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo masih cukup kuat, Khofifah memutuskan untuk menunggu perkembangan. Dia merasa pilihan intervensi ke internal partai politik pendukung kandidat lain bukan sikap yang bijak dalam berpolitik.

“Saya akan menghormati siapa pun yang mencalonkan diri, siapa mendukung siapa pun. Kita menjunjung tinggi proses demokrasi ini. Setiap orang punya hak untuk mencalonkan dan dicalonkan serta hak untuk mendukung. Saya rasa kita semua harus memberikan penghormatan,” katanya, Jumat (26/5/2017).

Ini menjadi gambaran kenapa sikap Khofifah tetap tenang kendati PKB sebagai peraih suara mayoritas dalam Pemilihan Legislatif (Pileg) 2014 hingga memiliki keterwakilan 20 kursi di DPRD Jawa Timur. Namun bisa saja ketenangan itu lantaran sudah ada garansi dukungan dari parpol lain yang sudah dikantongi penyuka hiking di masa mudanya tersebut.

Dalam beberapa kesempatan kepada media, Khofifah kerap menegaskan masih melakukan chek sound ketika disinggung niat maju untuk ketiga kalinya di Pilgub Jawa Timur. Sinyal maju bahkan disebutnya masih terbuka karena tahapan pemilu sesuai ketetapan KPU Jawa Timur, belum dimulai. “Chek sound batasannya ya itu, kalau tahapan KPU sudah berjalan. Kalau sudah selesai, kita juga perlu samakan frekuensi (dengan parpol, red). Ibarat masuk sirkuit, medannya kan harus siap dulu,” ucap Khofifah ketika disinggung apakah ada target menentukan sikap di pilgub.

Dukungan 1.000 kiai dan ulama seperti yang disebut Ketua DPP PKB Muhaimin Iskandar untuk mengusung Gus Ipul dan menutup kans calon lain, termasuk kakak kandungnya sendiri Halim Iskandar, memang tidak serta merta jadi kartu mati Khofifah. Beberapa partai sebelumnya bahkan sudah isyaratkan mendukung Khofifah kendati keterwakilan kursi di DPRD Jatim memaksa harus berkoalisi.

Figur Populis Masih Jadi Pilihan Utama 

Perlu diingat, posisi parpol sebagai pemegang rekom belum mutlak menentukan siapa pemenang pilgub nanti sepeninggal Soekarwo yang sudah 2 periode. Termasuk berebut suara nahdliyin di Jawa Timur. PKB bukan satu-satunya representasi politik warga NU sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia. Masih ada partai-partai lain yang berbasis Islam dan punya massa pendukung solid.

Itu belum termasuk partai nasionalis yang beberapa tokoh elitenya sudah intens berkomunikasi dengan Khofifah. Seperti ketika Khofifah menghadiri Harlah ke-21 Pondok Pesantren Syekh Abdul Qodir Al Jailani di Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Rabu (24/5/2017) malam. Khofifah terlihat hadir dalam satu panggung dengan konglomerat yang juga Ketua Umum Partai Perindo, Hary Tanoesoedibjo (HT) serta mantan Bupati Probolinggo dua periode yang kini anggota Komisi VIII DPR RI, Hasan Aminuddin.

Dalam Peraturan KPU Nomor 9/2016 tentang Pencalonan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, dan atau Walikota dan Wakil Walikota, syarat pertama bagi partai yang mau mengusung calon gubernur sendiri adalah mereka harus memiliki jumlah perolehan kursi di DPRD di daerah Pilkada sebanyak 20 persen. Atau, parpol punya 25 persen dari akumulasi suara sah dalam pemilihan legislatif terakhir.

Data KPU Jawa Timur, total kursi di DPRD Jatim sebanyak 100 kursi. 100 kursi itu dibagi untuk 10 parpol. PKB menjadi pemilik kursi terbanyak di DPRD Jatim dengan 20 kursi. PKB pun berhak mengusung calonnya sendiri pada gelaran Pilgub Jatim mendatang karena telah memenuhi syarat minimal 20 persen jumlah kursi DPRD.

PDIP menjadi partai pemilik kursi terbanyak kedua di DPRD Jatim dengan 19 kursi, diikuti Gerindra dan Demokrat yang masing-masing punya 13 kursi. Partai lain seperti Golkar, memperoleh 11 kursi. PAN punya 7 kursi, PKS 6 kursi. Sisa kursi diduduki oleh PPP dengan 5 kursi, NasDem 4 kursi, dan Hanura 2 kursi.

Sementara dari hasil penghitungan suara Pilgub 2013 dengan jumlah pemilih terdaftar sebanyak 30.034.249, Soekarwo-Gus Ipul yang kala itu didukung 10 partai (Demokrat, golkar, PAN, PKS, PPP, Hanura, Gerindra, PKNU, PDS, PBR) dan 22 partai non parlemen, meraih 8.195.816 atau sekitar 47,25 persen suara sah yang masuk. Sedangkan Khofifah yang bergandengan dengan Herman Suryadi Sumawirareja (PKB, PKPB, PKPI, Partai Kedaulatan, PMB, PPNUI), mendapat dukungan 6.525.015 suara atau sekitar 37,62 persen dari total 17.343.832 suara.

Kendati tidak bisa dijadikan acuan dalam dinamika politik saat ini, namun perolehan itu menjadi bukti bahwa Khofifah masih jadi figur yang sangat diperhitungkan untuk menggantikan Soekarwo. Selain itu, tingginya suara yang tidak menyalurkan hak pilih, menjadi celah bagi mesin partai untuk digarap serius.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here