Bursa Cawapres Prabowo (1)

Plus Minus Salim Segaf Al-Jufri Cawapres Prabowo

1
169
Prabowo dan Salim Segaf Al-Jufri

Nusantara.news, Jakarta – Forum Ijtima Ulama yang dimotori Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) mengusung nama Prabowo Subianto sebagai calon presiden di Pilpres 2019. Ijtima Ulama yang dihadiri 600an peserta dan sejumlah petinggi partai, termasuk Prabowo, juga merekomendasikan dua nama yakni Salim Segaf Al Jufri dan Abdul Somad untuk jadi cawapresnya.

“Dua pasangan yang direkomendasikan GNPF Ulama ini saling melengkapi dari tokoh nasionalis-religius,” kata Ketua Umum GNPF Yusuf Martak di Hotel Menara Penisula, Jakarta pada Ahad, 29 Juli 2018. Yusuf mengatakan rekomendasi tersebut dihasilkan dari diskusi yang cukup panjang.

Munculnya nama UAS tak terduga. Ini bisa jadi efek kejut yang tak terbaca oleh lawan politik. Dan Prabowo nampaknya kesemsem didampingi UAS: ustaz muda, populer, makin diminati, terutama ketika banyak menerima aksi persekusi. Sosoknya bisa dijadikan ikon perlawanan terhadap Jokowi.

Namun kabarnya, UAS menolak. Pernyataan itu disampaikan UAS lewat video singkat maupun facebooknya. UAS akan fokus di dunia dakwah sampai mati. Jika benar UAS menolak, tersisa Salim Segaf Al-Jufri. Satu-satunya cawapres rekomendasi Ijtima Ulama.

Dari hasil ijtima Ulama itu, posisi tawar PKS di hadapan Prabowo, termasuk juga Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) semakin kuat. Apalagi PAN lewat Amien Rais sudah memberi kode setuju untuk duet Prabowo-Salim ataupun Prabowo-UAS. Sedangkan SBY menyerahkan sepenuhnya cawapres kepada Prabowo. Itu artinya, bola kini ada di Prabowo.

Sekjen PKS Mustofa Kamal mengakui partainya akan memperjuangkan Salim sebagai cawapres Prabowo. Sebab, menurut Mustafa, nama Salim selain muncul dari hasil ijtima ulama GNPF juga masuk dalam sembilan nama capres-cawapres yang dijaring internal PKS.

Sementara itu, Prabowo Subianto, menyatakan bahwa ijtima ulama yang merekomendasikan Abdul Somad dan Ketua Majelis Syuro PKS Salim Seggaf sebagai cawapres untuknya tidak mutlak untuk ditaati.

“Kami hargai jajak pendapat dan masukan. Tapi keputusan akhir ada di parpol. Jadi ijtima pun rekomendasi. Tapi keputusan tetap melalui parpol. Jadi ini harus kami perhatikan,” kata Prabowo usai melakukan pertemuan dengan jajaran pengurus DPP dan Majelis Syuro PKS di kantor DPP PKS, Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, Senin (30/7/2018).

Prabowo mengatakan memilih cawapres merupakan perkara krusial yang tidak bisa diputuskan hanya dengan mendengarkan satu sumber rekomendasi. Menurut Prabowo ia juga harus mendengarkan masukan dari berbagai pihak, termasuk Demokrat dan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai ormas Islam yang penting di Indonesia.

Adakah kemungkinan Prabowo menolak rekomendasi Ijtima Ulama? Dalam politik, tak ada yang tak mungkin. Ini terjadi hanya ketika Prabowo tak yakin bisa menang dipasangkan dengan Salim Segaf. Konsukuensinya, bisa jadi Prabowo akan kehilangan mesin dukungan dari ulama, bahkan juga ditinggalkan PKS: ini sangat berisiko.

Karena itu, komunikasi intensif memberi pengertian pada para ulama dan PKS perlu dilakukan Prabowo jika tak ingin memilih Salim Segaf. Sebaliknya, jika setuju bersanding dengan Salim Segaf, ia pun perlu meyakinkan PAN dan Demokrat agar tetap berada di gerbongnya.

Atau, jika Prabowo sulit menerima rekomendasi ijtima ulama, tak setuju cawapres dari PKS, serta tak mampu mengikat Demokrat dan PAN, maka pilihan mundur dari kontestasi dan memberikan jalan pada capres lain dari lingkaran koalisi adalah hal baik. Itu artinya ia membuktikan sikap kenegarawanannya: “Siap mundur jika ada calon yang lebih baik”.

Para petinggi partai, termasuk Prabowo, hadir dalam Ijtima Ulama

Kembali ke hasil ijtima ulama, kini praktis nama yang diusulkan tinggal Salim Segaf karena UAS menyatakan penolakan. Lantas sejauh mana prospeknya?

Prospek Salim Segaf Al-Jufri

“Beliau orang baik, sholeh, tawadhu, zuriyaturrasul, pernah kedubes, pernah menteri sosial,” kata Kiai Muhammad Maksum dari Bondowoso, Jatim, tentang sosok Salim Segaf.

Sementara UAS berkomentar:“Prabowo-Habib Salim pasangan tawazun (seimbang) antara ketegasan tentara dan kelembutan Ulama, Jawa non-Jawa, nasionalis-religius, plus barokah darah Nabi dalam diri Habib Salim.”

Habib Salim Segaf Al-Jufri, lelaki kelahiran Surakarta, Jawa Tengah, 17 Juli 1954 itu memang bukan orang baru di pemerintahan. Namanya masuk dalam jajaran kabinet Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ketika Partai Keadilan Sejahtera, partainya berkoalisi dengan Partai Demokrat. Salim Segaf menjabat menteri sosial di era SBY tahun 2009 – 2014. Kedekatan di masa lalu ini barangkali bisa memudahkan penerimaan Demokrat terhadap dirinya.

Dari garis keturunan, Salim Segaf memiliki nasab yang oleh sebagian pemilih muslim dipandang mulia, yakni punya nasab dengan Nabi Muhammad SAW. Salim Segaf adalah cucu dari ulama besar yang menetap di Palu, yaitu KH Said Idrus Al Jufri. Ulama yang lebih dikenal dengan nama “Guru Tua Al Jufri”, tak lain adalah pendiri Yayasan Al Khairaat.

Salim Segaf menyelesaikan jenjang S1 hingga S3 di Jurusan Syariah, Madinah University, Arab Saudi. Usai menyelesaikan pendidikannya di Arab Saudi, Salim Segaf kembali ke Indonesia dan menjadi pengajar di Program Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah.

Di kancah internasional, Salim Segaf merupakan Direktur Perwakilan WAMY (World Assembly of Muslim Youth) di Asia Timur dan Asia Tenggara sejak tahun 2002 hingga sekarang. Kemudian, pada tahun 2005, Presiden SBY menunjuknya sebagai Dubes untuk Kerajaan Arab Saudi dan Kerajaan Oman sejak Desember 2005.

Pada 20 Juli 1998, Partai Keadilan (PK) dideklarasikan di Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta. Kemudian PK berubah menjadi PKS. Di partai dakwah ini, Salim Segaf pernah menjabat sebagai ketua dewan syariah. Selanjutnya, berdasarkan Musyawarah Majelis Syuro PKS yang berlangsung di Lembang, Jawa Barat, bulan Agustus 2015, Salim diberi amanah sebagai Ketua Majelis Syuro PKS untuk periode 2015 – 2020. Majelis Syuro adalah lembaga tertinggi di tubuh PKS.

Meski memiliki “darah biru” ulama dan berpendidikan tinggi dengan prestasi cemerlang, Salim Segaf dikenal sebagai sosok yang sederhana. Saat menjadi menteri sosial, misalnya, di sela perjalanan ke daerah-daerah, Salim sering menginap di rumah masyarakat daerah terpencil. Dia juga tercatat sebagai politisi yang bersih dari korupsi dan perkara hukum.

Salim Segaf Al-Jufri

Sebab itu, dengan menggandeng Salim Segaf, selain diuntungkan karena kualifikasi personalnya, Prabowo juga bakal memiliki mesin politik yang gigih sampai ke akar rumput. Bukankah selama ini kegigihan mesin politik PKS yang paling ditakuti Jokowi dan koalisinya? Kegigihan politik PKS dan PAN ditambah sokongan dua partai besar seperti Demokrat dan Gerindra, membuat pasangan ini makin digdaya. Terlebih, di pihak Prabowo ada begawan politik yang jago strategi seperti SBY yang terbukti telah mengalahkan Megawati dalam dua kali pilpres (tahun 2004 dan 2009).

Selain faktor internal koalisi Prabowo, memburuknya mesin politik PDIP (partai politik berkuasa) adalah fakta yang memungkinkan koalisi Prabowo mampu menumbangkan Jokowi pada Pilpres 2019 mendatang. Tentu saja kondisi perekonomian yang melemah di era Jokowi turut mempercepat kekalahan mantan walikota Solo itu.

Hanya saja, jika menjadi cawapres Prabowo,  Salim Segaf memiliki sejumlah titik lemah. Pertama, elektabilitas dan akseptablitasnya belum diketahui, sebagian pengamat menyebut angkanya kecil. Kedua, tak punya logistik memadai yang selama ini jadi kerisauan Gerindra. Ketiga, bisa memunculkan kecemburuan dan ketidakpuasan dari partai koalisi lainnya yaitu PAN dan Demokrat jika tak sepakat dengan Salim sebagai cawapres Prabowo. Hal ini bisa berdampak pada kerja setengah hati dalam menyukseskan pasangan ini.

Keempat, Salim Segaf bukan sosok yang bisa mencuri suara pemilih muda (khusunya generasi milenial) yang jumlahnya signifikan. Kelima, karakteristik dan basis pemilih pasangan ini sama sehingg sulit mendongkrak suara lewat limpahan suara dari basis pemilih lawan.

Selain itu, menurut Direktur Populi Centre Usep S Ahyar, sosok Salim tidak memberikan efek kejut di Pilpres 2019. Karena, imbuhnya, saat ini masyarakat justru menerka peluang Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Anies Baswedan menjadi sosok pendamping Prabowo lantaran keduanya. Baik AHY maupun Anies saat ini memiliki elektabiltas lebih tinggi dibanding nama-nama cawapres lain.

Di luar itu, banyak pendukung di akar rumput yang masih berharap Prabowo menggandeng mantan gubernur Jawa Barat sekaligus kader PKS yaitu Ahmad Heryawan (Aher), ataupun mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo. Keduanya selain berprestasi di ranah kariernya masing-masing, juga dianggap bisa menjadi pelengkap ideal bagi Prabowo di Pilpres 2019 mendatang.[]

1 KOMENTAR

  1. Siapapun calon wakil presiden PRABOWO akan menang …. Karena kita sudah muak dengan keadaan sekarang dari rezim ini
    #2019GantiPresiden

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here