PM Inggris Menjadi yang Pertama Bertemu Trump

0
116

Nusantara.news, London – Teka-teki siapa pemimpin negara pertama yang akan menemui Presiden Amerika Serikat Donald Trump pasca-pelantikannya 20 Januari 2017 mulai terbuka. Theresa May, PM Inggris dijadwalkan bertemu Trump pada Jumat 27 Januari 2017. Kepastian ini mengakhiri spekulasi bahwa Trump akan mengawali pertemuan kenegaraannya dengan PM Israel Benjamin Netanyahu.

Theresa May menjadi pemimpin negara pertama yang akan melakukan pembicaraan dengan presiden AS yang telah mendapat konfirmasi dari pihak Gedung Putih. Jadwal pertemuan juga sudah mendapat konfirmasi dari kantor PM Inggris Raya di Downing Street 10, London.

PM May diperkirakan akan menggunakan kunjungan awal ke AS untuk mempertegas kesepakatan perdagangan bebas Inggris-AS di tengah keraguan banyak pihak mengenai apakah kerja sama tersebut akan sesuai dengan strategi “America First” presiden Trump.

May mengatakan dirinya yakin bakal terjadi kesepakatan dengan AS yang akan bisa mengurangi hambatan perdagangan antara kedua negara tersebut sebelum menandatangani perjanjian formal setelah urusan Brexit selesai.

May juga akan cenderung menekankan kepada AS akan pentingnya NATO bagi Uni Eropa demi keamanan dan pertahanan kolektif, setelah Trump sempat memicu kekhawatiran tentang komitmennya terhadap organisasi itu.

Apakah kesepakatan akan terjadi? Tentu banyak pihak yang masih meragukan, kendati para sekutu Trump meyakini AS dan Inggris akan dapat menyelesaikan kesepakatan perdagangan tidak dalam waktu yang lama.

Sebelumnya, proteksionisme Trump banyak diragukan berbagai kalangan di Inggris bahwa AS dapat menjalin kerja sama perdagangan dengan Inggris. Para analis mencatat bahwa proteksionisme “Amerika First” bertentangan dengan janji PM May untuk mengubah Inggris menjadi juara perdagangan bebas.

“Ada simpati nasional dari Trump ke negara ini karena Brexit,” kata Stephen Burman, profesor politik Amerika di Universitas Sussex. “Tapi bagi saya, ‘America First’ dan ‘global Britain’ praktis pernyataan yang bertentangan,” katanya sebagaimana dilansir CNN.

Sejumlah kalangan juga mempertanyakan soal rencana pembicaraan perdagangan antara PM May dan Presiden Trump, sementara Komisi Eropa memutuskan bahwa Inggris belum boleh memulai perjanjian perdagangan sebelum meninggalkan Uni Eropa.

Para ahli memperingatkan, kesepakatan apapun antara AS dan Inggris akan memakan waktu yang lama untuk menjadi sebuah perjanjian resmi, karena proses Brexit masih akan berlangsung beberapa tahun. PM May sendiri menargetkan waktu dua tahun proses Brexit, tapi sudah memulai pembicaraan dengan India, Australia dan Selandia Baru.

MA Putuskan Brexit Harus Persetujuan Parlemen

Selain akan berbenturan dengan proteksionisme Trump, upaya kerja sama perdagangan Inggris-AS juga mengalami hambatan dari internal, yaitu proses Brexit itu sendiri yang mungkin saja tidak akan berjalan cepat.

Apalagi pada Selasa (24/01) lalu Mahkamah Agung Inggris memutuskan parlemen harus melakukan pemungutan suara sebelum pemerintah memulai proses Inggris keluar dari Uni Eropa (Brexit).

Dengan keputusan ini, PM  May tidak bisa memulai perundingan dengan Uni Eropa sampai parlemen memberikan dukungannya. Padahal sebelumnya PM May menginginkan agar proses Brexit dimulai pada akhir Maret tahun ini.

Secara teori parlemen bisa saja mencegah proses Brexit, meski kenyataannya hal itu amat kecil kemungkinannya.

Partai Konservatif pimpinan PM May memiliki mayoritas 15 kursi di parlemen dan sejauh ini hanya seorang saja yang menyatakan menentang Brexit, yaitu matan menteri keuangan, Ken Clarke.

Sementara mayoritas anggota kubu oposisi utama, Partai Buruh, menegaskan tidak ingin menghalangi hasil referendum -yang merupakan suara rakyat langsung – dan akan mendukung penggunaan Pasal 50.

Jadi kalaupun anggota Partai Liberal Demokrat, SNP, dan beberapa anggota Partai Buruh memutuskan untuk menentang Brexit, tetap saja tak banyak pengaruhnya. Tetapi dalam politik segala kemungkinan masih bisa terjadi. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here