PM Israel Netanyahu Tersandung Kasus Korupsi

0
159
PM Israel Benjamin Netanyahu

Nusantara.news, Tel Aviv – Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu yang memimpin koalisi sayap kanan yang rapuh, Selasa (12/2) kemarin menghadapi tuduhan polisi yang menyebutnya harus didakwa atas dugaan kasus suap.

Bahkan Polisi Israel menyebutkan sudah cukup alat bukti atas keterlibatan Netanyahu dalam kasus penyuapan, kecurangan dan pelanggaran kepercayaan pada dua kasus yang terpisah.

Namun di hadapan kamera televisi, Netanyahu menepis semua tuduhan yang disebutnya tidak berdasar itu. Dirinya akan terus melanjutkan sisa jabatannya sebagai Perdana Menteri. Tidak akan ada pemilihan umum dalam waktu dekat. Tuduhan itu, tegas Netanyahu, tidak akan berakhir dengan apa-apa.

Suap Media dan Visa Amerika

Netanyahu yang dikenal dekat dengan menantu Trump, Jarred Kushner itu kini menghadapi dua tuduhan. Tuduhan pertama, Netanyahu dikabarkan melakukan intervensi terhadap surat kabar Israel “Yediot Aharonot” untuk memberitakan hal-hal positif tentang pemerintahannya.

Sebagai imbalan, Netanyahu menjanjikan “Yediot Aharonot” akan dibantu untuk menghadapi publikasi surat-surat kabar pesaingnya. Untuk itu, selain menyerukan Netanyahu sebagai terdakwa Polisi Israel juga merekomendasikan Chief Editor “Yediot Aharonot” Arnon Mozes juga harus menghadapi dakwaan.

Tuduhan kedua berpusat kepada klaim bahwa Netanyahu yang menjabat Perdana Menteri Israel sejak 2009 – menerima suap dari produser Hollywood Arnon Milchan dan kawan-kawannya senilai 283 ribu dolar AS. Jerusalem Post menyebut, hadiah yang diberikan Milchan termasuk sampanye dan cerutu, dengan imbalan Milchan mendapatkan visa Amerika Serikat.

Arnon Milchan (tengah) diapit oleh Leonardo DiCaprio (kiri) dan Steven Spielberg (kanan)

Untuk itu Milchan, produser film-film Hollywood seperti “Fight Club”, “Gona Girl” dan “The Revenant”, tuding polisi, juga harus menghadapi tuduhan suap.

Polisi Israel juga mengungkapkan, setelah menerima suap, Perdana Menteri Netanyahu mendorong disahkannya Undang-Undang yang diusulkan Milchan, untuk memastikan setiap orang-orang Israel yang kembali tinggal di tanah airnya setelah merantau ke luar negeri dibebaskan membayar pajak selama 10 tahun. Namun usulan itu akhirnya diblokir oleh kementerian keuangan Israel.

Selain itu, Polisi juga menyebutkan Netanyahu diduga melakukan kecurangan dan pelanggaran kepercayaan terhadap kasus yang melibatkan miliarder asal Australia, James Packer. Chanel 10 Israel melaporkan pada Desember 2017 lalu, Packer memberikan keterangan kepada penyidik dirinya pernah memberikan hadiah kepada Netanyahu dan istrinya, Sara.

Media Israel juga memberitakan, sebelumnya Netanyahu pernah diinterogasi oleh penyidik setidaknya tujuh kali.

Prosesnya Tidak Mudah

Meskipun menghadapi tuduhan serius dari institusi kepolisian di negaranya, namun Netanyahu tampaknya aman-aman saja. Sebab dalam menghadapi dakwaan yang prosesnya mesti melewati Jaksa Agung bisa memakan waktu berbulan-bulan. Dalam tenggat waktu yang diperlukan itu Netanyahu memiliki waktu untuk mementahkan semua tuduhan itu.

Terlebih Menteri Kehakiman Ayelet Shaked yang nota bene anak buah Netanyahu di kabinet koalisinya telah menegaskan, setiap perdana menteri yang sedang menghadapi tuntutan hukum tidak diwajibkan untuk mengundurkan diri. Netanyahu akan tetap menghabiskan sisa jabatannya hingga pemilihan legislatif pada November 2019 nanti.

Berbicara di televisi Israel, Netanyahu akan terus menjabat Perdana Menteri hingga sisa masa jabatannya di periode kedua berakhir.  Meskipun memimpin cabinet koalisi yang rapuh, tampaknya Netanyahu tidak khawatir terhadap munculnya “mosi tidak percaya” dari partai pendukung koalisinya.

“Selama bertahun-tahun saya telah menjadi setidaknya 15 penyelidikan,” ucapnya yang ditayangkan televisi Israel. Beberapa di antaranya – termasuk kasus-kasus yang menggemparkan seperti sekarang – ungkap Netanyahu telah berakhir. “Semua usaha itu tidak menghasilkan apa-apa, dan sekarang pun mereka tidak akan menghasilkan apa-apa,” tantang Netanyahu.

Memang, Netanyahu yang pernah menjadi petenis profesional yang kini berusia 68 tahun itu sudah dua periode menjabat Perdana Menteri. Selama menjabat berbagai tudingan miring tentang korupsi sudah sering dihadapinya. Sejauh ini tidak satu pun bukti yang membawanya ke penjara. Netanyahu merasa kebal dengan gunjingan miring itu.

Setelah masa jabatan pertamanya sebagai Perdana Menteri Israel dua dekade yang lalu, polisi pernah merekomendasikan agar dia dan istrinya, Sara, menghadapi tuntutan pidana karena menyimpan hadiah resmi yang mestinya diserahkan ke negara. Tuduhan itu pun dijatuhkan kepadanya. Tapi Netanyahu lolos dari jerat hukum.

Sosok Kontroversial

Benjamin Netanyahu, kelahiran Tel Aviv, 21 Oktober 1949, adalah Perdana Menteri Israel pertama dan satu-satunya yang lahir di Israel. Karir politiknya di Partai Likud yang cemerlang dirintis Netanyahu sejak menjadi anggota Knesset, atau Parlemen, Duta Besar Israel di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Menteri Kesehatan, Menteri Urusan Pensiun dan Menteri Ekonomi dan sejumlah jabatan menteri lainnya.

Seperti halnya Donald Trump, Netanyahu juga dikenal sebagai sosok kontroversial. Dia dipilih menjadi Perdana Menteri setelah Likud memenangkan Pemilu Legislatif paska kejatuhan Shimon Peres dari koalisi Partai Buruh. Pada pertengahan 1990-an itu memang musim bom jihad yang banyak menewaskan warga Israel. Mereka tidak percaya dengan Shimon Peres.

Dengan kampanye yang bertema “Penjaga Perdamaian” Netanyahu memenangkan kursi Perdana Menteri pertamanya yang dia jabat antara 1996 – 1999.  Selama menjabat Perdana Menteri Netanyahu dikenal keras dengan Palestina. Perjanjian Perdamaian dengan Palestina di Oslo yang dirintis pendahulunya, Yitzhak Rabin dan Shimon Perez pun dia langar. Pemukim Yahudi yang mengokupasi wilayah sengketa Tepi Barat marak di era pemerintahannya.

Tidak seperti pemimpin sebelumnya yang menjaga hubungan dengan pemimpin Organisasi Pembebasan Palestina (PLO/Palestine Liberation Organization) Yasser Arafat, Netanyahu sama sekali tidak percaya dengan Yasser Arrafat. Dia punya semboyan “Jika mereka akan memberi – mereka akan menerima. Jika mereka takkan memberi mereka takkan menerima” atau dalam bahasa Betawi “Lu Jual Gua Beli.”

Kebijakannya yang menabrak semua tatanan Internasional memang didukung Yahudi garis keras di negaranya. Namun sekaligus dia dimusuhi oleh sejumlah elite Israel. Terlebih saat menjabat Perdana Menteri itu banyak gosip yang beredar tentangnya. Terutama tentang kelakuan istrinya yang gemar menerima suap.

Netanyahu sempat istirahat dari politik setelah dikalahkan Ehud Barak pada Pemilu Israel 1999. Namun setelah berhasil kembali merebut pimpinan Likud, dan pada Pemilu Legislatif 10 Februari 2009 Partai Likud yang dipimpinnya menduduki posisi ke-2 saat Pemilu dimenangkan oleh sayap kanan radikal, Netanyahu kembali terpilih menjadi Perdana Menteri dalam kabinet koalisi yang mayoritas anggota parlemen bukan dari partainya.

Selama kepemimpinan Barrack Obama di AS, Netanyahu kerap mendapat peringatan atas pemukiman illegal di Yerusalem Timur dan Tepi Barat. Setelah Trump memenangkan Pilpres AS, tabiat kontroversial Netanyahu mendapatkan partner yang tepat. Puncaknya, AS mengakui Al-Quds Yerusalem sebagai ibu kota Israel meskipun mendapatkan pertentangan dunia Internasional.

AS di bawah Trump bisa leluasa menerabas fatsun dunia Internasional setelah menjinakkan Arab Saudi dan sekutunya, serta berhasil mengalihkan musuh bersama mereka adalah Iran, Qatar dan Suriah yang memiliki sekutu strategis Rusia.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here