Polisi Dilarang Senyum

0
210

Masih ingat julukan The Smiling General yang diberikan seorang  penulis asal Jerman, Rudolf O.G. Roeder kepada Pak Harto dulu? Itu julukan yang bersimpati. Soeharto dianggap sangat ramah karena selalu tersenyum. Jangankan ketika suka, sedang murka pun Soeharto tak pernah cemberut.

Tetapi, senyum tidak selalu mengundang simpati. Adakalanya justru membuat marah orang yang melihatnya. Mantan Kapolri Jenderal Pol Da’i Bachtiar mungkin orang pertama yang senyumnya mengguncang dunia.

Waktu itu masih di tengah keributan akibat bom meledak di Legian, Bali. Dunia berduka, khususnya negara-negara yang warganya menjadi korban. Polisi bingung hendak mengungkap kasus ini. Maklum belum pernah ada malapetaka sebesar ini yang terjadi di Indonesia, apalagi di Bali, Pulau Sang Dewata.

Tetapi, dalam tempo sebulan pelakunya tertangkap. Pelaku pertama yang dicokok adalah Amrozi, di Lamongan. Dunia gempar, Polri kok bisa secepat itu. Teror di WTC New York saja belum pernah terungkap pelakunya hingga kini.

Kapolri, mungkin karena saking gembiranya, langsung mendatangi Amrozi di sel tahanan Ditserse Polda Bali pada 13 November 2002. Sebagai reserse berpengalaman, mungkin Da’i ingin mengorek informasi langsung. Disalaminya Amrozi. Duduklah mereka berhadap-hadapan di satu meja. Puluhan kamera televisi stand by dari balik dinding kaca, dan begitu action gambar mereka langsung langsung tersebar masuk ke kamar-kamar rumah di seluruh muka bumi ini.

Tapi, inilah perkaranya, Da’i tak putus mengumbar senyum. Amrozi pun tampil dengan sumringah. Senyum sang jenderal terpancar ke seluruh jagat. Kontan dunia gemuruh. Masak iya kepala polisi Indonesia duduk senyum-senyum dengan tersangka teroris yang membunuh ratusan orang? Pamali!. I can’t believe it, teriak dunia.

Sebaliknya sang empunya bibir tenang-tenang saja. Orang Barat paling marah melihat para terdakwa Bom Bali tampil cengengesan di persidangan.

Da’i Bachtiar menginterogasi Amrozi di Polda Bali. (Foto: SCTV)

Mungkin karena itulah,  sejak kejadian tersebut, semua polisi memasang raut muka serius dalam setiap pengungkapan kasus kriminal. Kalau mereka bicara tentang kasus yang menelan korban nyawa, polisi tampil dengan paras tegang. Takut kalau dunia heboh lagi. Tidak diketahui, apakah Kapolri telah memberi briefing kepada anak buahnya agak jangan sekali-kali senyum, apalagi tertawa.

Padahal, ini sebenarnya perbedaan budaya saja. Di budaya orang kita, senyum itu kadang-kadang tak ada artinya. Jangankan dalam keadaan gembira, di tengah kurungan derita pun orang Indonesia sanggup tersenyum. Bahkan seringkali senyum itu meluncur sendiri dari tanpa diketahui artinya oleh si pemilik bibir. Senyum itu seolah-olah hanya urusan otot muka yang menarik bibir hingga terangkat dan memperlihatkan gigi.

Ini berbeda dengan budaya Barat. Mereka menyusun dengan rapi kapan, di mana dan bagaimana jenis senyuman yang sesuai. Di meja makan boleh tersenyum tapi rongga mulut tak boleh terlihat. Di pemakaman haram hukumnya tersenyum. Sementara orang kita bisa senyum di penguburan bapaknya.

Sekilas ini mungkin hanya sekadar urusan gerakan bibir belaka. Tetapi, di balik itu, ada sesuatu yang berlangsung dahsyat, yakni bagaimana budaya Barat telah menjadi satu-satu acuan bagi peradaban dunia. Segala sesuatu yang tak sesuai dengan budaya Barat dianggap tidak beradab.

Perkembangan teknologi komunikasi dengan kemampuan audio visual telah menembus seluruh ruang paling tersembunyi pun dalam kehidupan masyatakat dunia. Karena Barat menguasai jaringan komunikasi dunia, maka nilai-nilai yang mereka anut menyusup atau disusupkan ke masyarakat global. Termasuk soal kapan boleh dan tidak boleh mengumbar senyum. Sungguh luar biasa. Barat begitu digjaya sehingga gerak bibir orang pun sanggup diaturnya.

Kini ada lagi Kapolri yang tersenyum bersama tersangka, yakni Jenderal Pol Tito Karnavian. Tersangkanya adalah Gubernur Papua Lukas Enembe. Lukas adalah tersangka kasus tindak pidana korupsi yang tengah disidik oleh Bareskrim Polri.

Tapi ada perbedaan di antara dua jenderal polisi ini. Da’i dan Amrozi duduk berhadap-hadapan. Sementara Tito tersenyum lebar sambil merangkul bahu Enembe.

Kedatangan Da’i bisa jadi untuk mendapatkan informasi langsung dari tangan pertama pelaku teror, agar sebagai kapolri dengan pengalaman reserse yang panjang, dia bisa mengarahkan investigasi lebih lanjut. Jadi untuk kepentingan pengungkapan kasus secepat mungkin, bertemu langsung dengan tersangka Amrozi di tahanan untuk keperluan interogasi, bisa jadi memang diperlukan. Atau bisa juga kehadiran Da’i di situ sebagai apresiasi kepada anak buahnya atas penangkapan besar tersebut. Tidak hanya Amrozi, Da’i juga menemui langsung Imam Samudra di Polres Serang, setelah tertangkap di Pelabuhan Merak, Banten.

Sedangkan Tito bertemu Enembe (katanya) dalam rangka koordinasi pengamanan pilkada serentak di Papua tahun depan. Kalau itu masalahnya, tidak ada kepentingan yang mendesak. Karena Kapolri bisa menunjuk Kapolda Papua untuk melakukan itu dalam wadah Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) setempat.

Untungnya, ini kasus domestik. Seandainya ini kasus terorisme dengan korban sebagian besar orang asing, pasti akan menjadi viral tingkat global. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here