Polisi Kita Hebat (Kecuali di Kasus Novel)

1
62

BETUL, polisi kita memang hebat. Kemampuan investigasi mereka luar biasa. Meski sudah lama mengeluhkan berbagai hambatan fasilitas, toh kecanggihan mereka memburu penjahat sangat pantas diacungi jempol.

Lihat saja dalam sepuluh hari terakhir. Ada tiga kasus pembunuhan yang menggemparkan terjadi di sekitar Jakarta. Semuanya berhasil dibongkar Polri dalam tempo yang sangat singkat.

Kasus pembunuhan satu keluarga di Jatiwarna Bekasi yang menewaskan suami-istri Diperum Nainggolan dan Maya Ambarita serta dua anak mereka, Sarah dan Arya, diketahui Selasa pagi, 13 November 2018. Besoknya, 14 November, polisi sudah berhasil membekuk tersangka pelakunya, Haris Simamora, di sebuah tempat terpencil di kaki Gunung Guntur, Garut.

Lalu pembunuhan terhadap Abdullah Fithri Setiawan alias Dufi, karyawan TV Muhammadiyah. Jasadnya ditemukan hari Minggu pagi, 18 November 2018, dalam sebuah drum plastik berwarna biru di Kawasan Industri Kembangkuning, Klapanunggal, Bogor. Hanya perlu waktu dua hari bagi polisi untuk menangkap M. Nurhadi dan Sari Murniasih, suami istri yang menjadi terduga pelaku.

Di saat yang hampir bersamaaan terjadi pula pembunuhan di sebuah tempat indekos di Mampang, Jakarta Selatan terhadap Ciktuti Iin Puspita, seorang wanita muda yang bekerja sebagai pemandu lagu.  Mayatnya ditemukan dalam lemari Senin malam, 19 November 2018. Keesokan hari, polisi sudah bisa menangkap dua orang pelakunya, Yustian dan Nissa Regina, di Merangin Jambi.

Hebat, memang kata yang tepat untuk menggambarkan kemampuan reserse kriminal Polri yang sangat cepat membongkar kasus pembunuhan tersebut.

Mengapa? Secara teoritis, ketiga kasus ini memang terbilang gampang untuk ukuran kemampuan reserse kita. Dalam kasus pembunuhan Keluarga Diperum Nainggolan, misalnya, jejak sepatu pelaku bertebaran di TKP. Polisi juga langsung dapat menarik asumsi awal investigasi bahwa sang pembunuh adalah orang yang sering berkunjung ke rumah korban. Buktinya anjing peliharaan korban tidak menyalak, dan pintu rumah tidak pula rusak. Begitu pula dalam kasus di Mampang, tak ada kerusakan di kamar kos korban.

Dalam kasus pembunuhan Dufy, jejak M. Nurhadi terendus antara lain lewat telepon genggam milik korban yang diambilnya. Jangankan polisi, masyarakat umum pun dapat menelusuri posisi ponsel berdasarkan IMEI (International Mobile Equipment Identity) melalui GPS.  Sedangkan Haris Simamora membawa lari mobil Diperum, dan menitipkannya di sebuah rumah kos. Haris juga berkomunikasi dengan pemilik rumah kos tersebut melalui ponselnya.

Artinya para pelaku bukanlah penjahat yang terbiasa membunuh orang. Besar kemungkinan karena kepanikan setelah berbuat jahat, mereka meninggalkan jejak yang amat mudah terlacak.

Kalau ini kasus mudah, banyak kasus lain yang lebih sulit tapi toh mudah diungkap polisi. Sebutlah soal terorisme. Jaringan pelaku yang sangat rahasia itu bisa dibongkar polisi tanpa kesulitan berarti.

Bandingkan misalnya dengan kasus Novel Baswedan. Penyidik senior KPK itu disiram air keras oleh orang tak dikenal pada 11 April tahun lalu, sehingga matanya mengalami cacat seumur hidup. Kasus ini sudah berumur 1 tahun 7 bulan. Tapi belum ada juga titik terang. Dari segi “umur” perkara, kasus ini sudah terlalu lama dibandingkan dengan tiga kasus pembunuhan di atas. Sampai detik ini, polisi memang masih terus melakukan investigasi kasus ini –sebab belum ada pernyataan menghentikan penyelidikan.

Mengapa reserse Polri tidak terlihat “canggih” dalam membongkar kasus Novel? Mungkin bisa dipahami dengan logika terbalik dari tiga kasus pembunuhan di atas. Jika ketiga kasus tersebut dilakukan oleh orang biasa yang tak terbiasa membunuh, sehingga jejak mereka berceceran, pelaku dalam kasus Novel ini bisa jadi orang yang sudah terbiasa dalam tindak kejahatan, sehingga jejak mereka gelap hingga detik ini.

Jika pelaku pembunuhan di atas mempunyai keterkaitan pribadi dengan korban, dan itu menjadi sumber motifnya melakukan kejahatan, maka dalam pelaku dalam kasus Novel bisa jadi tidak ada kaitannya dengan korban. Satu-satunya alasan adalah Novel mempunyai banyak musuh. Sebagai penyidik andalan KPK, dia pasti dimusuhi oleh semua koruptor yang sedemikian banyak bergentayangan di negeri ini. Koruptor – yang  sudah pasti kaya raya dan berkuasa—berkepentingan melenyapkan Novel, atau setidaknya membuatnya jeri.

Apakah itu juga yang membuat Polri jeri? Entahlah. Atau, mungkinkah pemerintah juga jeri? Tak bisa kita menjawabnya. Yang jelas, awal tahun kemarin, Presiden Joko Widodo pernah menjanjikan akan ada step lain dalam masalah Novel. “Kalau Polri sudah begini (Presiden mengangkat kedua tangannya tanda menyerah) baru kami akan (lakukan) step lain,” katanya di Istana Negara, 20 Februari 2018.

Pernyataan Presiden tentang “step lain” itu terkait desakan sejumlah kalangan agar pemerintah membentuk tim pencari fakta, karena Polri tak kunjung selesai mengusut kasus ini. Presiden menjanjikan akan terus mengejar Polri. “Saya akan terus kejar Kapolri agar kasus ini menjadi jelas dan tuntas siapapun pelakunya,” ucapnya.

Sampai kini, kita tak tahu, sudah sejauh mana Presiden mengejar Polri. Semestinya, bahasa yang tepat kiranya bukan “mengejar”, tapi “mengultimatum”. Itu lebih mencerminkan urgensi. Sebab, dalam kasus Novel ini, kewibawaan penegakan hukum dipertaruhkan.[]

1 KOMENTAR

  1. […] Lihat saja dalam sepuluh hari terakhir. Ada tiga kasus pembunuhan yang menggemparkan terjadi di sekitar Jakarta. Semuanya berhasil dibongkar Polri dalam tempo yang sangat singkat.   Kasus pembunuhan satu keluarga di Jatiwarna Bekasi yang menewaskan suami-istri Diperum Nainggolan dan Maya Ambarita serta dua anak mereka, Sarah dan Arya, diketahui Selasa pagi, 13 November 2018. Besoknya, 14 November, polisi sudah berhasil membekuk tersangka pelakunya, Haris Simamora, di sebuah tempat terpencil di kaki Gunung Guntur, Garut.   Lalu pembunuhan terhadap Abdullah Fithri Setiawan alias Dufi, karyawan TV Muhammadiyah. Jasadnya ditemukan hari Minggu pagi, 18 November 2018, dalam sebuah drum plastik berwarna biru di Kawasan Industri Kembangkuning, Klapanunggal, Bogor. Hanya perlu waktu dua hari bagi polisi untuk menangkap M. Nurhadi dan Sari Murniasih, suami istri yang menjadi terduga pelaku.   Di saat yang hampir bersamaaan terjadi pula pembunuhan di sebuah tempat indekos di Mampang, Jakarta Selatan terhadap Ciktuti Iin Puspita, seorang wanita muda yang bekerja sebagai pemandu lagu. Mayatnya ditemukan dalam lemari Senin malam, 19 November 2018. Keesokan hari, polisi sudah bisa menangkap dua orang pelakunya, Yustian dan Nissa Regina, di Merangin Jambi.   Hebat, memang kata yang tepat untuk menggambarkan kemampuan reserse kriminal Polri yang sangat cepat membongkar kasus pembunuhan tersebut.   Mengapa? Secara teoritis, ketiga kasus ini memang terbilang gampang untuk ukuran kemampuan reserse kita. Dalam kasus pembunuhan Keluarga Diperum Nainggolan, misalnya, jejak sepatu pelaku bertebaran di TKP. Polisi juga langsung dapat menarik asumsi awal investigasi bahwa sang pembunuh adalah orang yang sering berkunjung ke rumah korban. Buktinya anjing peliharaan korban tidak menyalak, dan pintu rumah tidak pula rusak. Begitu pula dalam kasus di Mampang, tak ada kerusakan di kamar kos korban.   Dalam kasus pembunuhan Dufy, jejak M. Nurhadi terendus antara lain lewat telepon genggam milik korban yang diambilnya. Jangankan polisi, masyarakat umum pun dapat menelusuri posisi ponsel berdasarkan IMEI (International Mobile Equipment Identity) melalui GPS. Sedangkan Haris Simamora membawa lari mobil Diperum, dan menitipkannya di sebuah rumah kos. Haris juga berkomunikasi dengan pemilik rumah kos tersebut melalui ponselnya.   Artinya para pelaku bukanlah penjahat yang terbiasa membunuh orang. Besar kemungkinan karena kepanikan setelah berbuat jahat, mereka meninggalkan jejak yang amat mudah terlacak.   Kalau ini kasus mudah, banyak kasus lain yang lebih sulit tapi toh mudah diungkap polisi. Sebutlah soal terorisme. Jaringan pelaku yang sangat rahasia itu bisa dibongkar polisi tanpa kesulitan berarti.   Bandingkan misalnya dengan kasus Novel Baswedan. Penyidik senior KPK itu disiram air keras oleh orang tak dikenal pada 11 April tahun lalu, sehingga matanya mengalami cacat seumur hidup. Kasus ini sudah berumur 1 tahun 7 bulan. Tapi belum ada juga titik terang. Dari segi “umur” perkara, kasus ini sudah terlalu lama dibandingkan dengan tiga kasus pembunuhan di atas. Sampai detik ini, polisi memang masih terus melakukan investigasi kasus ini –sebab belum ada pernyataan menghentikan penyelidikan.   Mengapa reserse Polri tidak terlihat “canggih” dalam membongkar kasus Novel? Mungkin bisa dipahami dengan logika terbalik dari tiga kasus pembunuhan di atas. Jika ketiga kasus tersebut dilakukan oleh orang biasa yang tak terbiasa membunuh, sehingga jejak mereka berceceran, pelaku dalam kasus Novel ini bisa jadi orang yang sudah terbiasa dalam tindak kejahatan, sehingga jejak mereka gelap hingga detik ini.   Jika pelaku pembunuhan di atas mempunyai keterkaitan pribadi dengan korban, dan itu menjadi sumber motifnya melakukan kejahatan, maka dalam pelaku dalam kasus Novel bisa jadi tidak ada kaitannya dengan korban. Satu-satunya alasan adalah Novel mempunyai banyak musuh. Sebagai penyidik andalan KPK, dia pasti dimusuhi oleh semua koruptor yang sedemikian banyak bergentayangan di negeri ini. Koruptor – yang sudah pasti kaya raya dan berkuasa—berkepentingan melenyapkan Novel, atau setidaknya membuatnya jeri.   Apakah itu juga yang membuat Polri jeri? Entahlah. Atau, mungkinkah pemerintah juga jeri? Tak bisa kita menjawabnya. Yang jelas, awal tahun kemarin, Presiden Joko Widodo pernah menjanjikan akan ada step lain dalam masalah Novel. “Kalau Polri sudah begini (Presiden mengangkat kedua tangannya tanda menyerah) baru kami akan (lakukan) step lain,” katanya di Istana Negara, 20 Februari 2018.   Pernyataan Presiden tentang “step lain” itu terkait desakan sejumlah kalangan agar pemerintah membentuk tim pencari fakta, karena Polri tak kunjung selesai mengusut kasus ini. Presiden menjanjikan akan terus mengejar Polri. “Saya akan terus kejar Kapolri agar kasus ini menjadi jelas dan tuntas siapapun pelakunya,” ucapnya.   Sampai kini, kita tak tahu, sudah sejauh mana Presiden mengejar Polri. Semestinya, bahasa yang tepat kiranya bukan “mengejar”, tapi “mengultimatum”. Itu lebih mencerminkan urgensi. Sebab, dalam kasus Novel ini, kewibawaan penegakan hukum dipertaruhkan.[nn] […]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here