Politik ‘Alay’ PSI Lewat ‘Kebohongan Award’

0
165

Nusantara.news, Jakarta – Perselisihan pendapat di antara partai koalisi pendukung Joko Widodo-Ma’ruf Amin kembali mencuat ke publik. Partai Solidaritas Indonesia (PSI) lagi-lagi jadi partai yang memicu perbedaan pendapat tersebut. Setelah beda pendapat dengan PPP dan PKB soal peraturan daerah berbasis agama, politikus PSI kini beradu argumen dengan politikus Golkar terkait “Kebohongan Award” yang diberikan PSI untuk Andi Arief dan kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno.

Sikap PSI ini dikritik Roem Kono, politikus Partai Golkar yang juga Ketua Umum DPP Ormas MKGR. Roem Kono tak sependapat dengan penghargaan tersebut. Ia menyarankan PSI seharusnya cukup mengingatkan saja. “Jangan menambah gaduh, jangan mengada-ada, sesuatu yang tidak perlu dilakukan itu menambah keruh,” kata Roem.

Pernyataan Roem ditanggapi Dara Adinda Nasution, juru bicara PSI. Dara meminta Roem menghargai upaya PSI membersihkan hoaks dan bukan memberi komentar yang merugikan PSI. Menurutnya, kebohongan award adalah upaya menyelamatkan demokrasi Indonesia.

PSI sebelumnya memang mengeluarkan penghargaan dalam tajuk Kebohongan Award sebagai bentuk sindiran dan tentu saja serangan politik bagi kubu Prabowo-Sandi. PSI memberikan award kebohongan kepada Prabowo, Sandiaga, dan Andi Arief.

Penghargaan itu ditandatangani Ketua Umum PSI Grace Natalie dan Sekretaris Jenderal PSI Raja Juli Antoni. Award disematkan kepada ketiga orang itu lantaran pernyataan terkait selang cuci darah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, membangun tol Cipali tanpa utang, dan tujuh kontainer surat suara yang sudah tercoblos di Tanjung Priok.

Peneliti politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Prof. Dr. Siti Zuhro menyebut tindakan PSI yang memberikan penghargaan kebohongan itu tidak etis. Siti mengatakan PSI semestinya berfokus pada tugas dan fungsinya sebagai partai politik. Tindakan PSI itu, tambah Siti, berbahaya dan bisa berbalik menyerang diri mereka sendiri. Sebab, yang dikritik PSI adalah calon presiden-wakil presiden yang memiliki banyak massa, serta elite partai politik yang sudah mapan.

“Mereka (PSI) melampaui batas, ini berbahaya sekali. Tidak apa-apa dukung Pak Jokowi, tapi caranya yang elok,” ujar Siti.

Namun, Dahnil Anzar Simanjuntak selaku jubir Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi menyebut pihaknya enggan menanggapi aksi PSI tersebut lebih jauh. Dalam cuitannya di akun Twitter resminya, Dahnil menyebut PSI sebagai “anak alay politik”, sehingga aksi-aksinya tidak perlu ditanggapi dan cukup ditertawai saja.

‘Alay’ aadalah stilah yang merujuk pada sebuah fenomena perilaku remaja di Indonesia. Alay merupakan singkatan dari “anak layangan”. Istilah ini merupakan stereotipe yang menggambarkan gaya hidup norak atau kampungan. Dalam konteks politik, ‘alay politik’ atau ‘politik lebay’ dapat disimpulkan sebagai cara berpolitik yang sangat berlebihan-lebihan dan tak pantas.

Politik ‘Alay’ PSI Bisa Ancam Partai Koalisi Jokowi

Jika melihat berbagai pernyataan dan aksi yang dilakukan oleh PSI dalam 6 bulan terakhir, jelas partai yang didirikan pada 16 November 2014 lalu itu tidak sekadar mencari sensasi semata – hal yang oleh Dahnil disebut sebagai “anak alay politik” tersebut. Pernyataan seperti penolakan terhadap Peraturan Daerah (Perda) berbasis agama, penolakan terhadap praktik poligami, serta kampanye pro terhadap industri sawit, tidak semata-mata dikeluarkan PSI sebagai sebuah sikap politik.

Yang jelas, sebagai partai baru yang diprediksi oleh banyak pollster atau lembaga survei tidak akan lolos ke parlemen pada Pemilu nanti, maka strategi marketing PSI lewat pernyataan-pernyataan yang cenderung “kontroversial” dan bikin gaduh ini sengaja dibuat untuk menaikan pamor keterkenalan. Meski hal itu sebagaimana dikatakan Direktur Eksekutif Indonesia Political Watch Ujang Komaruddin, belum tentu menaikan kesukaan publik pada PSI.

Sekjen PSI Raja Juli Antoni (paling kiri) bersama para sekjen partai pengusung Jokowi-Ma’ruf Amin di Pilpres 2019

Di luar itu, strategi politik PSI ini memang akan menempatkan mereka head to head dengan Prabowo. Namun, sebetulnya bukan suara pendukung Prabowo-Sandi yang mereka incar, melainkan merebut basis massa pendukung Jokowi sendiri dari partai-partai lain dalam koalisi sang petahana. Ada banyak irisan ceruk suara PSI dengan beberapa partai di koalisi Jokowi-Ma’ruf Amin ini.

Partai-partai nasionalis di kubu Jokowi, seperti Hanura, Nasdem, PKPI dan Perindo – termasuk PDIP dan Golkar – jelas harus melihat strategi politik PSI ini secara lebih hati-hati. Bagaimanapun juga, saat ini semua partai di koalisi petahana sedang berlomba-lomba memenangkan efek ekor jas sosok Jokowi. Jika partai-partai tersebut hanya mengandalkan strategi kampanye konvensional, bukan tidak mungkin para pemilihnya akan berpindah ke PSI.

Selain itu, sikap politik PSI ini juga sangat mungkin akan menarik para pemilih mengambang yang belum menentukan pilihan politiknya, juga bagi para pemilih progresif pendukung Jokowi yang menganggap belum ada saluran politik lain di koalisi petahana yang sesuai dengan idealisme mereka. Artinya, ada keuntungan elektoral yang sangat r yang bisa diraih PSI lewat aksi-aksi macam ‘Kebohongan Award’ ini

Pun begitu, bisa jadi ke-alay-an politik PSI dengan manuver-manuver sensasional itu justru semakin ‘menenggelamkan’ nasib partai yang mengklaim berisi anak-anak muda ini dari jagat politik nasional. Pada kadar tertentu bukan tidak mungkin publik tidak menyukai narasi politik PSI yang oleh sebagian pihak dianggap berlebihan dan tidak etis.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here