Relasi AS – RRC: Pasang Surut Kebijakan ‘Satu Cina’ (1)

0
275

Nusantara.news, Jakarta – Hubungan AS (Amerika Serikat) – RRC (Republik Rakyat Cina) selama lebih empat puluh tahun belakangan ini dapat dikatakan cukup stabil dan bersahabat, sekalipun ada kalanya terbentur kerikil tajam untuk beberapa isu tertentu. Namun, kemenangan Donald Trump dalam Pilpres 2016 di AS kemungkinan akan membuat hubungan kedua negara tidak semulus seperti sebelumnya.

Trump yang selama ini cenderung memperlihatkan sikap kritis terhadap RRC boleh jadi akan mewarnai babak baru dalam hubungan antara AS dan RRC. Trump adalah presiden AS pertama sejak Richard Nixon yang mengambil sikap “radikal” terhadap RRC. Bahkan, dalam beberapa kesempatan Trump kerap menyatakan bahwa AS tidak akan ragu untuk menanggalkan politik Satu Cina (baca: RRC) sebagaimana yang dianut AS sejak era Presiden Nixon.

Mungkin saja tampilnya Trump sebagai presiden AS merupakan semacam representasi dari apa yang akhir-akhir ini dirasakan oleh sebagian publik AS sebagai hubungan yang “penuh dengan kerikil tajam”. Dari sisi ini muncul berbagai pertanyaan. Apakah hanya karena kerikil tajam itu AS di bawah Trump akan mengambil langkah drastis terhadap RRC? Mengapa AS lebih menempuh kebijakan “radikal” terhadap RRC ketimbang melakukan penyelesaian politis? Apakah kebijakan semacam ini sungguh-sungguh didasarkan atas pertimbangan yang matang, ataukah sekadar sentimen belaka?

Jawaban atas sejumlah pertanyaan itu memerlukan upaya penelusuran historis menyangkut hubungan antara AS dan RRC, terutama pasca Perang Dunia. Melalui penelusuran ini akan diperoleh gambaran yang lebih komprehensif tentang pasang-surut hubungan Washington – Beijing sejak 70 tahun yang lalu.

PKC Menggusur Kuomintang

Pada masa sebelum kaum komunis mengambil alih kekuasaan di daratan Cina di tahun 1949, negeri ini berstatus sebagai Republik Cina (Republic of China/ROC) di bawah kepemimpinan Presiden Jenderal Chiang Kai Sek yang juga menjabat sebagai Ketua Kuomintang (Partai Nasionalis). Di masa Perang Dunia II di AS ROC adalah sekutu utama AS di Asia melawan imperialisme Jepang. Saat itu, Republik Cina berada di bawah penguasaan bala tantara Jepang yang menginvasi daratan Cina sejak 1933.

Di sisi lain, hubungan antara Kuomintang yang berkuasa dengan kaum komunis selalu diwarnai dengan peseteruan sengit. Bahkan, sejak 1927 Cina telah dilanda perang saudara antara Partai Nasionalis/Kuomintang (KMT) yang berkuasa di bawah kepemimpinan Chiang Khai-sek melawan Partai Komunis Cina (PKC) yang dipimpin Mao Tse Tung. Di mata PKC, KMT di bawah kepemimpinan Chiang Khai-sek telah jauh menyimpang dari ide dasar dan ideologi partai yang dibangun oleh Bapak Pendiri Republik Cina, dr. Sun Yat Sen.

Dengan demikian, kondisi Republik Cina sejak pendudukan Jepang sangat runyam. Selain PKC dan Kuomintang saling berhadapan di medan tempur, bersamaan dengan itu masing-masing juga angkat senjata melawan tantara pendudukan Jepang. Kondisi ini dapat dilukiskan sebagai “semua berperang terhadap semua”.

Namun demikian, dalam tahun-tahun terakhir situasi dan kondisi akhirnya “memaksa” Kuomintang dan PKC bersatu-padu memerangi Jepang. Dukungan militer AS kepada Kuomintang dan PKC untuk mengusir Jepang dari Tanah Air mereka ikut mempercepat terdesaknya Jepang di daratan Cina. Kerjasama kedua pihak ditambah dengan dukungan AS semakin memojokkan militer Jepang, hingga akhirnya negeri matahari terbit itu menyerah tanpa syarat di seluruh di Asia Pasifik menyusul bom nuklir yang dijatuhkan AS di Hiroshima dan Nagasaki.

Berakhirnya pendudukan Jepang di daratan Cina situasi politik kembali memanas antara pemerintah yang dipimpin oleh Chiang Khai-sek dengan PKC yang dipimpin Mao. Perang antara kedua belah pihak pun tak terelakkan.

Perang saudara ini berlangsung selama empat tahun. Kekuatan PKC yang semakin terkonsolidasi, terutama di wilayah perdesaan, pada akhirnya memenangka peperangan. Tepat pada tanggal 1 Oktober 1949 Republik Rakyat Cina (RRC) diproklamasikan oleh pemimpin PKC Mao Tse Tung. Bersamaan dengan itu kekuatan Kuomintang melarikan diri ke Taiwan dan mendirikan pemerintahan baru, namun dengan tetap menggunakan status Republic of China (ROC).

Perang Dingin: Teori Domino dan Strategi Pembendungan

Beberapa pergeseran politik di berbagai belahan dunia pasca Perang Dunai Kedua (PD II) telah menandai era baru dalam konstelasi politik global. Jika pada masa PD II AS dan negara-negara Barat bersekutu melawan kaum komunis memerangi Jerman, Italia dan Jepang, pada era pasca PD II kaum komunis adalah musuh nomor satu bagi AS dan negara-negara Barat.

Cara Kerja Teori Domino

Di era pasca PD II berbagai pergeseran politik dunia berlangsung dengan cepat. Selain Uni Soviet muncul sebagai super power baru, berbagai negara di belahan selatan dunia semakin membulatkan tekad untuk memerdekakan diri dari kolonialisme Barat. Satu demi satu negara-negara di belahan selatan memasuki era kemerdekaan nasional dengan caranya masing-masing.

Bersamaan dengan itu tidak sedikit gerakan komunisme yang ikut serta dalam kemerdekaan nasional di negeri-negeri selatan. Situasi ini cukup memang merepotkan AS. Nilai-nilai dasar AS yang berdiri di atas semangat liberty yang seharusnya menjadi pedoman AS untuk memberikan pengakuan atas hak penentuan nasib sendiri dari negara-negara eks koloni Barat, namun elemen-elemen komunis yang berjuang di bawah panji-panji kemerdekaan nasional sedemikian rupa telah menempatkan AS dalam posisi dilematis. Terlebih, negara-negara kolonialis Barat umumnya adalah sahabat-sahabat dekat AS.

Namun, kekhawatiran tentang kemungkinan kaum komunis ternyata lebih dominan dalam pertimbangan kebijakan luar negeri AS. Posisi ini “memaksa” AS berada dalam satu kubu dengan eks negara-negara kolonial dalam menyikapi aspirasi kemerdekaan nasional negara-negara eks koloni. Lebih dari itu, kemenangan kaum komunis di Eropa Timur dan Asia Timur pada gilirannya semakin membuat AS merasa yakin bahwa komunisme adalah ancaman global bagi kelangsungan “dunia bebas” dan Moskow adalah dalang dari semua persoalan ini.

Saat itu para petinggi AS membayangkan negeri demi negeri akan jatuh kepelukan Uni Soviet. Moskow dianggap sebagai pusat kendali atas menyebarnya ideologi komunisme di dunia. Jika satu negara jatuh dalam penguasaan komunis, maka besar kemungkinan negara terdekatnya juga akan mengalami hal yang sama, begitu seterusnya. Inilah cara berpikir khas Teori Domino tentang cara komunis menguasai dunia. Teori ini muncul di AS terutama di lingkungan birokrasi papan atas.

Atas dasar itu, Presiden Truman dengan cepat mengambil tindakan. Setelah Partai Republik menguasai Kongres dalam pemilu 1946, Presiden Truman (P. Demokrat) menyampaikan pidato yang berisi tentang kondisi politik global pasca PD II di mana Uni Soviet akan menjadi ancaman besar bagi dunia serta langkah-langkah yang harus ditempuh AS.

Inti pidato Truman adalah keharusan AS melakukan tindakan berskala global untuk membendung gerakan komunisme. Tindakan yang dimaksud Truman adalah mobilisai anggaran untuk membantu negara-negara di berbagai belahan dunia dari ancaman komunisme, termasuk pengerahan personel dan fasilitas militer AS. Dalam pidato bersejarah itu Truman berjanji dihadapan Kongres bahwa AS akan mendukung “masyarakat bebas” dari ancaman “rezim totaliter” yang dikendalikan Moskow.

Pidato Truman di tahun 1946 di kemudian hari kerap dijadikan patokan untuk menandai dimulainya era Perang Dingin. Rancangan program Truman ini juga dikenal luas sebagai strategi pembendungan (Contaiment Policy) atau sering pula dinyatakan sebagai Doktrin Truman.

Pada bulan Maret 1947, ia meminta agar Kongres menyetujui alokasi U$ 400 juta untuk membendung pengaruh subversi komunis di Eropa Barat. Empat bulan kemudian, tepatnya di bulan Juli, Truman mengajukan National Security Act (NSA) yang langsung memperoleh persetujuan Kongres. UU ini antara lain memerintahkan negara untuk membentuk dinas intelijen terpadu guna mengamankan kepentingan AS di seluruh dunia, terutama untuk mengantispasi ekspansi komunisme berskala global. Inilah UU yang menjadi landasan dibentuknya Central Intelligence Agency (CIA) di tahun yang sama. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here