Politik Wandu Pakde Karwo

0
112
Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Timur Soekarwo dalam posisi dilematis. Bersama Gus Ipul, dia sudah bekerja selama dua periode. Sementara di Pilgub Jatim 2018, Partai Demokrat menjadi pendukung Khofifah. Pakde Karwo kemudian memilih bersikap netral. Pilihan ini dinilai tidak tegas karena tak ubahnya politik wandu.

Nusantara.news, Jawa Timur – Saifullah Yusuf (Gus Ipul) sudah pamitan ke Soekarwo (Pakde Karwo) untuk maju sebagai calon Gubernur Jawa Timur. Sudah dua periode Gus Ipul mendampingi Pakde Karwo. Waktu yang tidak sebentar. Tentu ‘persahabatan’ yang mereka jalin cukup kuat. Mungkin atas pertimbangan itu pula Pakde Karwo menolak menjadi juru kampanye (Jurkam) pasangan Khofifah Indar Parawansa-Emil Elistianto Dardak selama Pilkada Jawa Timur 2018.

Bukan mustahil jika Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Timur itu dalam posisi dilematis. Di satu sisi, Gus Ipul adalah rekan kerja selama dua periode. Di sisi lain, Partai Demokrat menjadi partai utama pendukung Khofifah.

Pakde Karwo beralasan, dia memilih netral karena posisinya sebagai Gubernur Jawa Timur. “Saya juga harus jaga kondisi Jawa Timur dengan Pangdam dan Kapolda Jatim,” katanya, beberapa waktu lalu.

Pakde Karwo mengaku ingin menjaga agar wilayahnya tetap kondusif selama tahapan Pilkada.

“Saya gubernur kebetulan harus berikan ruang pada pemilihan. Kondusifitas jauh lebih penting. Jadi menjaga kondisi Jatim itu juga penting,” ujarnya.

Apalagi dia masih menjabat sebagai Gubernur Jatim sampai Februari 2019. Pakde Karwo mengklaim sejak Partai Demokrat mencalonkan Khofifah, tak ada kegiatan yang berhubungan dengan mantan Menteri Sosial itu. Dia bakal memisahkan tata kelola pemerintahan dengan pemenangan calon.

“Sejak saya calonkan problem netralitas itu selesai. Enggak ada saya ajak pidato di Pemda ngajak, sekarang saya larang betul dan kontrol betul,” katanya.

Bahkan, dia pernah meminta izin pada Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk tidak menjadi Jurkam. Tentu saja Soekarwo membeberkan alasannya mengapa ia menolak ikut menjadi juru kampanye. Soekarwo berdalih kepada SBY, suasana Jatim yang kondusif menjadi lebih penting dari apapun. Dari sinilah kemudian Partai Demokrat menunjuk Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai juru kampanye Khofifah-Emil.

Namun keputusan Pakde Karwo memilih netral juga dipertanyakan sejumlah kalangan. Sebab, politik Pakde Karwo terkesan wandu alias banci. Ibarat manusia, dia tidak laki-laki dan tidak perempuan, meski statusnya jelas. Jelasnya wandu ialah kemayu. Politik wandu Pakde Karwo ini menjadi debatable.

Tidak seperti Walikota Surabaya Tri Rismaharini (Risma) yang jelas-jelas bersedia menjadi Jurkam Gus Ipul-Puti. Bahkan dalam beberapa kesempatan, Risma sering mendampingi Puti untuk blusukan. Kepada masyarakat Surabaya, Risma tidak setengah-setengah memperkenalkan Puti. Jenis kelaminya jelas.

Tapi Pakde Karwo sangat lain perilaku politiknya. Bahasa halus untuk sikap politik wandu adalah non blok. Menurut dia non blok merupakan sebuah sikap politik, meskipun dalam kondisi harus memilih A atau B. Sikap non blok ini dikemas sedemikian rupa. Pakde Karwo seolah lepas tangan, atau jangan-jangan dia berdiri di dua kaki. Pasalnya, melihat hubungan dia dengan Gus Ipul dan sebaliknya dengan Khofifah terjalin baik. Bahasa kasarnya, Pakde Karwo kalah menang nyirik. Padahal kader-kader Partai Demokrat sudah all out mendukung Khofifah. Cuma, mengapa pucuk pimpinannya terkesan malu-malu.

Sempat berhembus kabar, Pakde Karwo sebenarnya masih menginginkan Gus Ipul untuk meneruskan tongkat estafet gubernur. Buktinya, dia mendorong Gus Ipul terus memajukan Jatim. Tidak hanya itu, Pakde Karwo juga berpesan kepada Gus Ipul untuk terus mensyiarkan Islam dan meminta Gus Ipul tetap berkomitmen membangun Jatim berbasis spiritual. Pasalnya, dengan pembangunan berbasis spiritual terbukti mampu membuat provinsi ini menjadi aman, nyaman, dan kondusif. Ya, ini bisa dibaca sebagai sinyal dukungan politik.

Politik wandu ala Pakde Karwo ini sudah terlihat jelas sejak awal. Dia memberi Gus Ipul angin segar. Belum lama desakan para kiai sepuh yang menginginkan Pakde Karwo mendukung Gus Ipul. Sebaliknya, bagi Pakde, Khofifah sampai sekarang tetap dianggap pesaing. Kendati dalam beberapa kesempatan dia bilang Khofifah adalah ‘sahabat’.

Hal itu terlihat saat Pakde Karwo berterus terang memuji Khofifah saat kasus gempa di Timika sehari sudah ada di lokasi memberikan bantuan penanganan. Padahal sebelumnya beliau mendampingi Pak Jokowi di Bangkalan.

Saat itu, Pakde mengungkap banyak rahasia. “Istri saya tanya, bisa tidak disampaikan ke Ibu Khofifah benar nggak jadi ke Jatim (maju Pilgub). Nah, baru hari ini saya bisa sampaikan langsung pesan istri saya. Terus terang, saya harus akui, Bu Khofifah itu lebih hebat dari saya, sehingga sangat tepat untuk menggantikan saya,” demikian Pakde Karwo membuka rahasia mengapa ia mendukung Khofifah.

Secara khusus, Pakde Karwo juga memberi masukan Nawa Bhakti Satya supaya menambah program untuk Madura khususnya belanja Madrasah Diniyah (Madin) ditambah program vocasional untuk tingkat Ula dan Wustho supaya lulusan Madin memiliki kelebihan spiritual dan keterampilan. “Kami juga memiliki program memberikan tunjangan 150 ribu perbulan kepada 2500 hafidz dan hafidzah supaya bisa mendoakan Jatim lebih baik,” ungkapnya.

Tapi, apakah ini bentuk ‘persahabatan’ sejati yang disampaikan Pakde Karwo kepada Khofifah. Atau, itu hanya basa-basi saja. Justru ‘persahabatan’ sejati yang tak terlupakan antara dia dan Gus Ipul.

Sebenarnya sikap politik wandu atau non blok, dapat dinilai sebagai potret yang kurang bertanggungjawab, karena tidak berperan dalam sebuah perhelatan Pilkada. Pilihan non blok adalah cermin penolakan terhadap kebersamaan dalam keberagaman. Sebab, itu sama saja Pakde Karwo mengajarkan pada masyarakat Jawa Timur untuk bersikap Golput dalam pemilihan Gubernur Jawa Timur mendatang.

Siapa Saja yang Netral?

Dalam Pemilihan Gubernur Provinsi Jawa Timur 2018 ini, tidak hanya Pakde Karwo yang memilih netral. Sebelumnya Direktur The Wahid Institute (TWI) Yenny Wahid dan keluarga besar Gus Dur menegaskan netral dan tak berpihak terhadap semua kandidat yang bersaing.

Langkah Yenny ini memang bertolak belakang dengan Sholahuddin Wahid (Gus Solah), adik Gus Dur yang sudah jauh hari menyatakan dukungannya terhadap Khofifah. Bedanya, Yenny memandang dua kandidat yang bersaing pada Pilkada Jawa Timur tahun ini adalah tokoh-tokoh Nahdhatul Ulama (NU). Sikap netral ini diambil agar tak terjadi konflik kepentingan yang nantinya dapat berdampak buruk bagi soliditas di internal NU. “Jadi takutnya ada konflik kepentingan yang bisa berdampak ke NU,” kata Yenny.

Oleh sebab itu, Yenny mengatakan dibutuhkan pihak yang bisa menjadi penengah. Dan The Wahid Institute memilih mengambil peran tersebut.

Sementara, organisasi masyarakat terbesar di Indonesia NU juga berkomitmen untuk menjaga netralitas dalam Pilgub Jawa Timur kali ini. Hal itu disampaikan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur yang merencanakan berbagai agenda. Di antaranya dengan memfasilitasi kedua pasangan calon untuk menyampaikan visi dan misi di PWNU, terutama mengundang tim sukses dari masing-masing Paslon.

“Yang jelas sudah saya sampaikan kepada mereka (masing-masing tim sukses, red). Yakni, jika keduanya diterima harus diterima semua, jika ditolak ya ditolak semua,” tegas Ketua PWNU Jatim, KH Moh Hasan Mutawakkil Alallah, Selasa (13/2/2018) yang didampingi Rais Syuriah PWNU Jatim, KH Anwar Mansyur, KH Anwar Iskandar, KH Sholeh Qosim, dan Katib Syuriah PWNU Jatim H Syafruddin Syarif, di gedung PWNU Jatim, Jl. Masjid Al Akbar No. 9 Surabaya.

Langkah ini sebagai sikap tegas NU untuk menjaga netralitas dalam persoalan politik praktis. Sayangnya, langkah PWNU Jatim untuk mengakomodir permohonan kedua pasangan calon, baik dari pasangan Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno dan Hj Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak, batal terlaksana. Sebab, kedua tim sukses tersebut tidak hadir dalam undangan yang telah dilayangkan oleh PWNU Jatim.

Kiai Mutawakkil menegaskan, jika PWNU Jatim tidak pernah menolak pasangan calon untuk bersilaturrahmi ke PWNU. Namun, untuk bersilaturrahmi perlu dijadwalkan. Dia juga menambahkan, bahwa untuk mengumpulkan kiai sepuh tidak mudah. Sehingga, berita mengenai seolah-olah PWNU hanya menerima kedatangan salah satu calon saja, dibantah tidak benar.

Pihaknya juga menjelaskan alasan mengundang tim sukses ini sesuai dengan saran para kiai sepuh. “Sesuai saran para kiai sepuh, kalau calonnya Gus Ipul dan Khofifah tidak perlu hadir.

Lebih dari itu, PWNU berharap kepada semua tim sukses di dalam mencari suara dan simpati masyarakat hendaknya mengedepankan pemaparan program. Bukan melalui isu SARA serta money politic,” tegas Pengasuh Ponpes Zainul Hasan Genggong, Probolinggo ini.

Selain itu, Kiai Mutawakkil juga berharap kepada masyarakat menggunakan hak pilihnya secara efektif dan bertanggung jawab.

Hal yang sama disampaikan Pengurus Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Timur yang memberi pernyataan tidak terlibat dalam persoalan dukung mendukung pasangan kandidat dari NU di Pilgub Jawa Timur 2018.

Sekretaris PW GP Ansor Jatim, Abid Umar Faruq mengatakan, keputusan netral tersebut telah sesuai dengan hasil Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pengurus Pusat (PP) GP Ansor yang digelar pada 15 Januari 2018 lalu. “Keputusan Rakornas PP, Ansor tidak diperkenankan dukung mendukung pasangan calon. Ini sesuai dengan kittah NU, tidak ada mendukung Pilpres, Pilkada, Pilgub dan sebagainya,” kata pria yang akrab disapa Gus Abid tersebut.

Kendati demikian, lanjut Gus Abid, PW GP Ansor Jatim tetap memberi kebebasan kepada seluruh pengurus dan kader untuk menyalurkan aspirasi politiknya secara individu asal tidak mencatut organisasi untuk kepentingan politik pribadi.

“Kita tidak antipati pada politik, karena kehidupan sehari tidak bisa lepas dari politik. Bagi pengurus dan seluruh kader kami persilahkan untuk memilih sesuai dengan hati nuraninya,” jelas mantan Kasatkowil Banser Jatim itu.

Bahkan, Gus Abid menegaskan, kalau PW GP Ansor Jatim siap menerima silahturami dari seluruh pasangan calon. Terlebih, dua calon yang maju di Pilgub Jatim, yakni Khofifah Indar Parawansa dan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) sama-sama kader terbaik NU.

“Kita terima semua, tidak hanya Gus Ipul atau Khofifah, tapi siapapun yang ingin silaturrahmi ke kami, pasti kami terima, kita bebas,” pungkasnya.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here