Politisasi Dukungan 4 Bobotoh Persib kepada Jokowi-Ma’ruf Amin

0
105

Nusantara.news, Jakarta – Beberapa orang pendukung Persib Bandung mendatangi kediaman cawapres nomor urut 01, Ma’ruf Amin, Rabu (2/1/2019). Pendukung Persib itu berasal dari Viking Persib Club (VPC). Kedatangan mereka adalah untuk mendeklarasikan dukungan kelompok suporter tersebut kepada Jokowi-Ma’ruf.

Meskipun hanya diwakilkan oleh sekitar 4 orang, namun kunjungan sekaligus deklarasi dukungan ini disebut oleh Derek, salah seorang perwakilan Bobotoh yang hadir dalam pertemuan tersebut, merupakan perintah langsung dari Ketua VPC, Heru Joko. Pun begitu, Heru Joko, yang kini berstatus caleg DPRD dari salah satu partai kubu petahana (Nasdem), enggan menegaskan kalau VPC memang mendukung Jokowi-Ma’ruf dan mendatangi Ma’ruf adalah perintahnya seperti klaim Derek.

Dalam pertemuan tersebut, diungkapkan beberapa alasan mengapa Viking akhirnya mendukung Jokowi-Ma’ruf. Di antaranya adalah track record Jokowi yang sering menonton langsung pertandingan sepak bola ke stadion. Selain itu, isu mafia bola yang mendorong munculnya Satgas Mafia Bola juga tak luput menjadi inspirasi para bobotoh ini untuk menyatakan dukungan ke Jokowi-Ma’ruf.

Tentu saja, klaim dukungan sejumlah perwakilan yang mengatasnamakan supporter Persib itu berbuntut panjang. Pentolan yang juga dirigen VPC Yana Umar menegaskan, viking tidak pernah mendeklarasikan dukungan kepada capres dan cawapres di Pemilu 2019.

“Sehubungan dengan maraknya pemberitaan media yang menyebut keberpihakan Viking Persib Club (VPC) mendukung salah satu pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden dalam Pemilihan Umum (Pemilu) Presiden Republik Indonesia 2019, bersama ini kami informasikan kepada distrik-distrik, para anggota VPC dan Bobotoh pada umumnya, bahwa VIKING PERSIB CLUB selama ini tidak pernah mendeklarasikan dukungan kepada capres maupun cawapres pada Pemilu 2019 mendatang,” ujar Yana.

Senada, Ketua Viking Frontline Tobias Ginanjar Sayidina menegaskan bahwa dukungan VPC, setidaknya seperti klaim Derek, tak mewakili suara seluruh pendukung Persib. Pendukung Persib disebut bobotoh. Sementara VPC adalah satu dari sekian banyak organisasi bobotoh. Viking Frontline sendiri adalah salah satu organisasi bobotoh. Ada bobotoh yang tergabung dalam Ultras, Bomber (Bobotoh Maung Bandung Bersatu), atau malah tak tergabung organisasi sama sekali.

Amankan Jabar Lewat Viking?

Di beberapa belahan dunia, hubungan antara sepakbola dan politik adalah hal yang saling berkaitan. Sepak bola dan politik memiliki lebih banyak kesamaan. Keduanya memiliki jutaan pengikut dan mampu menciptakan fanatisme yang ekstrem.

Dalam konteks pemilu, politisasi penggemar sepak bola sebetulnya juga bukanlah hal yang baru. Misalnya, dalam upaya untuk memobilisasi dukungan terhadap Partai Buruh di Skotlandia, pemimpin partai tersebut, Jim Murphy melakukan pendekatan terhadap banyak suporter bola. Murphy juga mengakui penggemar sepak bola sebagai sumber suara yang belum dimanfaatkan, namun memiliki potensi besar.

Dalam konteks persepakbolaan Indonesia, Persib adalah salah satu klub terbesar dan ternama di Indonesia serta memiliki pendukung yang tidak sedikit dan tersebar hampir di seluruh pelosok Indonesia. Menurut penelitian Irham Pradipta Fadli dari Universitas Indonesia, jika merujuk pada jumlah pendukung Persib yang tersebar di wilayah Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta saja, terdapat sekitar 5,3 juta yang mendaku diri sebagai Bobotoh. Tentu bukan jumlah yang sedikit sebagai potensi ceruk masa pendukung politik.

Sebab itu, menurut investigasi Irham Pradipta Fadli, tercatat terdapat 5 mantan walikota Bandung yang menggunakan Persib sebagai salah satu kendaraan politik. Yang terakhir adalah di era Dada Rosada pada pemilihan wali kota Bandung pada tahun 2008 lalu. Kala itu, ia berhasil memaksimalkan dukungan dari para Bobotoh yang tergabung dalam organisasi Viking mengingat bahwa dirinya merupakan ketua umum Persib pada saat itu. Bahkan, Ahmad Heryawan (Aher) dan Dede Yusuf saling berebut suara bobotoh pada Pilgub Jabar 2013 lalu.

Ribuan Bobotoh Persib

Sebenarnya, politisasi bobotoh jamak terjadi dalam momen-momen politik seperti Pilpres 2019 ini. Secara simbolis, klaim dukungan Viking kepada paslon nomor urut 01 ini bisa jadi akan menimbulkan efek ikut-ikutan bagi para para Bobotoh di seluruh wilayah Indonesia. Sehingga, upaya politisasi suporter Persib tersebut menjadi sebuah hal yang wajar.

Bagi Jokowi, dukungan yang mengatasnamakan pendukung Persib itu sangat penting. Maklum, dia terseok-seok di Jawa Barat. Pada pemilu terakhir, Jokowi—yang ketika itu didampingi Jusuf Kalla—hanya dapat suara 40,22 persen. Dia hanya berhasil unggul di Kabupaten Subang, Indramayu, Cirebon, dan Kota Cirebon. TB Hasanuddin-Anton Charliyan yang diusung PDIP pun kalah di Pilgub Jabar 2018 lalu.

Nampaknya, untuk merangkul seluruh suara bobotoh Jawa Barat tak akan mudah bagi Jokowi. Alasan utamanya karena organisasi suporter ini tergolong jarang bulat memberikan dukungan pada satu kandidat. Sebut saja kala itu Viking Sumedang dan Subang, yang sempat diklaim menyatakan dukungan untuk pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat Tubagus Hasanudin dan Anton Charliyan.

Sementara itu, Heru Joko sebagai pimpinan justru mendukung pasangan Ridwan Kamil dan Uu Ruzhanul Ulum. Lain lagi dengan Viking Purwakarta yang memberikan dukunganya kepada Dedy Mulyadi yang juga merupakan mantan bupati Purwakarta.

Sejauh ini, Viking sebagai organisasi telah merilis bahwa mereka secara organisasi memilih tidak berpihak pada capres manapun. Oleh karena itu, dukungan pihak-pihak yang bertemu dengan Ma’ruf Amin dapat dianggap sebagai klaim sepihak dari segelintir orang.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here