Politisi Cabul dan Otak Penembakan Aktivis Akhirnya Dieksekusi

0
239
Ketua Komisi A DPRD Bangkalan Aldi Alfarisi alias Kasmu sekaligus terpidana 7,5 tahun kasus pencabulan anak di bawah umur dieksekusi Tim Eksekutor dan Tim Intelejen Kejaksaan Negeri Surabaya. Kasmu juga diduga menjadi otak penembakan aktivis Antikorupsi.

Nusantara.news, Surabaya – Ketua Komisi A DPRD Bangkalan, Aldi Alfarisi alias Kasmu yang menjadi terpidana 7,5 tahun kasus pencabulan anak di bawah umur akhirnya dieksekusi oleh Tim Eksekutor dan Tim Intelejen Kejaksaan Negeri Surabaya dengan dibantu oleh Kasi Intelejen Kejari Bangkalan. Kasmu dijebloskan ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas I Surabaya, di wilayah Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (22/1/2018).

Seminggu sebelumnya Nusantara.News mendengar rumor pihak Kejari Surabaya akan melakukan eksekusi. Namun pihak Kejari meminta agar hal ini tidak diberitakan terlebih dahulu agar pelaku tidak menaruh curiga. Pasalnya, tim eksekutor sudah jauh hari mengintai aktivitas pelaku.

Kasus ini sebenarnya sudah berjalan dua tahun lalu. Banyak pihak menyayangkan keputusan Kejari yang belum juga menahan terdakwa karena statusnya sebagai pejabat publik.

Kasmu sendiri ditangkap Tim Cobra dan Sub Detasemen Gegana Anti Teror Polda Jatim di Hotel Oval Jalan Diponegoro Surabaya pada tanggal 2 Pebruari 2015. Saat indehoy bersama gadis di bawah umur. Melihat terdakwa bersama dengan gadis di bawah umur, kasusnya kemudian ditangani penyidik dari Subdit Remaja, Wanita, dan Anak-anak Ditreskrimum Polda Jatim. Pelaku dituntut Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 sebagai perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Namun dalam persidangan, Kasmu berhasil memutarbalikkan fakta. Selain itu, korban sudah mencabut laporannya. Bahkan dalam persidangan, korban membantah persetubuhan dengan Kasmu. Jadi tidak ada alasan bagi jaksa menuntut bersalah. Tuntutan itu dianggap tidak berdasar fakta persidangan, tetapi hanya asumsi yang mengacu pada yurisprudensi.

Pada 13 April 2016 atau tiga bulan setelah penangkapan, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Surabaya akhirnya membebaskan terdakwa Kasmu yang dituntut 7,5 tahun penjara oleh Jaksa Penuntut. Dia dinyatakan tidak bersalah dan dibebaskan dari segala tuntutan. Diduga Kasmu, melalui orang dalam, berhasil melobi hakim. Bahkan sejumlah media yang ikut memberitakan juga sempat dikondisikan agar tidak meneruskan kasus tersebut.

Saat itu Ketua Majelis Hakim Musa Aini mengatakan alasan membebaskan tersangka karena tidak ada tuntutan dari keluarga korban. yang diperkuat dengan surat pencabutan berkas perkara oleh keluarga korban.

Bebasnya Kasmu dari segala tuduhan tidak membuat jaksa berhenti. Jaksa Penuntut dari Kejaksaan Negeri Surabaya melawan dengan mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung. Pada 29 Mei 2017, MA mengabulkan kasasi tersebut.

Dalam amar putusan, Hakim Mahkamah Agung RI mengabulkan permohonan kasasi yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Hari Basuki. Kasmu, sesuai Putusan MA Nomor:2645 K/P.SUS/2016 yang menyatakan bahwa terdakwa Kasmu terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana membujuk anak untuk melakukan perbuatan cabul dan menjatuhkan pidana terhadap terdakwa selama 7 (tujuh) tahun dan 6 (enam) bulan serta pidana denda sebesar Rp 100 juta subsidiair 6 (enam) bulan kurungan.

Vonis Hakim Mahkamah Agung tersebut sama dengan tuntutan jaksa (conform) pada persidangan tingkat pertama di Pengadilan Negeri Surabaya yang saat itu menuntut terdakwa dengan tuntutan selama 7,5 tahun penjara.

MA juga memerintah terdakwa ditahan. Barang bukti (BB) yang disebutkan dalam surat tersebut di antaranya, sebuah seprai putih dan handuk putih. Selain itu, BB yang dirampas untuk dimusnahkan. Antara lain, satu lembar bill Hotel Elmi kamar 515, 516, dan 517 atas nama Kasmu. Bukti lainnya, satu lembar bill Hotel Oval nomor 816, scan KTP, dan satu bendel registration card atas nama Ardi Alfarisi. Terdakwa dibebani pembayaran biaya perkara pada tingkat kasasi Rp 2.500.

Meski sudah ada putusan itu, namun hingga tutup tahun 2017, Kejaksaan Tinggi Jawa Timur tak kunjung mengeksekusi putusan. Eksekusi baru dilaksanakan pada 22 Januari 2018 atau 8 bulan setelah putusan kasasi keluar.

Saat itu Kasmu dibawa paksa sejumlah orang. Politikus Gerindra itu dijemput saat hendak rapat internal di ruang kerjanya. “Mereka sama sekali nggak komunikasi dulu ke saya, jadi siapa mereka kami nggak tahu,” kata Sekretaris DPRD Kabupaten Bangkalan, Setiadjit.

Mahmudi, Sekretaris Komisi A DPRD Kabupaten Bangkalan, menyayangkan sikap petugas kejaksaan yang tidak transparan. Dia menilai ada prosedur yang tidak dijalankan, misalnya memberitahu lebih dahulu kepada pimpinan atau sekretaris dewan.

“Okelah, nggak ngasih tahu lebih dulu karena takut eksekusi bocor, tapi mestinya setelah ditangkap, mereka kan bisa memberitahu sekretaris bahwa Kasmu akan dibawa,” kata Ketua DPC Hanura Bangkalan itu.

Penangkapan Kasmu sempat bikin suasana kantor DPRD Bangkalan tegang. Menurut seorang saksi Kasmu sempat berteriak saat dimasukkan ke mobil Innova warna hitam. Sejumlah Anggota Komisi A sempat berlari ke luar ruangan melihat Kasmu dibawa.

Diduga Otak Penembakan Aktivis Antikorupsi

Dalam penangkapan Kasmu, Tim Eksekutor rupanya melengkapi diri dengan persenjataan lengkap. Mengapa demikian, sebab petugas menduga terdakwa adalah otak dari aksi penembakan terhadap salah satu aktivis Antikorupsi di Bangkalan, Mathur Khusairi.

Terkait dugaan keterlibatan Kasmu atas kasus penembakan yang dilakukan pada aktivis Mathur, masih belum diketahui kejelasannya.

Kasmu yang merupakan mantan Kepala Desa (Kades) Pekaden, Kecamatan Galis, Bangkalan, dikabarkan sangat dekat dengan Ketua DPC Gerindra Bangkalan saat itu, yakni KHR Fuad Amin Imron, yang mendekam di tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas kasus korupsi.

Polda Jatim melalui Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim AKBP Hanny Hidayat, sebelumnya sempat menyebut Kasmu adalah aktor intelektual kasus penembakan terhadap Mathur Khusairi, Direktur LSM Crisis Islamic of Demokrasi (CIDe) Bangkalan, merangkap Sekjen Madura Corruption Watch (MCW), serta menjabat sebagai Wakil Ketua DPC Partai Bulan Bintang (PBB) Kabupaten Bangkalan.

Selain itu Kasmu juga dikenal masyarakat Bangkalan sebagai tangan kanan Ra Fuad, panggilan akrab KHR Fuad Amin Imron. Motif atau modus penembakan karena pelaku ingin melampiaskan dendam kesumatnya. Sebab, korban Mathur Khusairi telah melaporkan Ra Fuad, mantan Bupati Bangkalan dua periode yang kemudian menjadi ketua DPRD Bangkalan tersebut ke KPK. Dalam aksinya, para pelaku menembak Mathur menggunakan senjata api rakitan.

Sebelumnya Mathur sudah diingatkan keluarganya agar dia mengungsi hingga situasi aman pasca penanggapan Fuad Amin pada 2 Desember 2014. Namun Mathur menolak. Kekhawatiran keluarga cukup beralasan, mengingat Mathur getol membongkar kasus dugaan korupsi yang dilakukan Fuad Amin. Pada 2010, misalnya, Mathur melaporkan kasus dugaan korupsi bekas Bupati Bangkalan dua periode itu dalam proyek pembangunan Pelabuhan Madura Industrial Seaport City di Kecamatan Socah.

Tak hanya itu, Mathur juga melaporkan kasus dugaan korupsi Fuad Amin dalam proyek pengaspalan Jalan Bujuk Sarah di Desa Martajesah. Dua kasus itu dia adukan ke Komisi Pemberantasan Korupsi.

Atas sepak terjang Mathur, dia akhirnya ditembak di depan rumahnya di jalan Teuku Umar pada Selasa dini hari, 20 Januari 2015 lalu. Pelaku mengendarai sepeda motor, dan diduga, korban telah dibuntuti pelaku sejak dalam perjalanan. Sebuah peluru bersarang di perutnya. Korban ini sempat mengejar para pelaku. Namun, karena mengalami luka tembak di pinggang tembus ke pankreas, dan paru, akhirnya korban tersungkur. Mathur kemudian harus menjalani perawatan di RSU Dr Soetomo Surabaya.

Pasca kejadian, petugas juga menangkap anggota komplotannya yang bertindak sebagai pelaksana rencana eksekusi. Mereka adalah Reza (27) warga Desa Kajian, Kecamatan Blega, Kabupaten Bangkalan yang bertindak sebagai penggambar denah situasi rumah korban, Mas’ud (40) sebagai pelaku eksekusi, dan Sadi (43) yang bertindak sebagai joki motor saat pelaksanaan eksekusi. Sayangnya, meski tiga pelaku penembakan telah ditangkap, namun Kasmu belum pernah sekalipun diperiksa oleh tim penyidik KPK.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here