Politisi Tua, Istirahatlah!

1
305

Nusantara.news, Jakarta – Rasanya tidak berlebihan jika kita katakan bahwa dunia politik Indonesia saat ini masih dikuasai oleh politisi tua, atau dalam bahasa Minang politisi gaek. Selain SBY dan Prabowo Subianto, masih ada Megawati, Wiranto, Surya Paloh, Amien Rais, dan Jusuf Kalla yang memimpin arus politik. Mereka semua adalah politikus sejak zaman Orde Baru, dan belum kunjung menepi dari kancah politik. Mereka semua pernah mencoba menjajal diri sebagai calon presiden, kecuali Surya Paloh. Semua gagal, kecuali SBY yang menjabat 2 kali.

Adapun Megawati, terpilih sebagai presiden sebelum era pemilihan langsung karena menggantikan Presiden Gus Dur yang diberhentikan parlemen. Dengan kata lain, mereka semua seharusnya sudah selesai dengan ambisi politik. Sedangkan Wiranto, Jusuf Kalla, dan Prabowo bahkan lebih dari sekali bertarung, baik sebagai calon presiden maupun wakilnya.

Singkat kata, mereka sudah mencoba memoles diri dengan berbagai cara, hasilnya: rakyat belum berkenan. Sudahlah. Prabowo seharusnya mencontoh Hillary Clinton yang kini menyibukkan diri dengan kegiatan sosial dan menulis buku setelah kalah dari rivalnya, Donald Trump, di Pilpres AS lalu. SBY dan Megawati seharusnya meniru Obama yang asyik menikmati masa pensiun mereka dengan berlibur dan berperan di panggung yang lebih besar seperti menjadi ‘duta’ bagi negaranya di kancah internasional, ataupun penggiat kemanusiaan. Amin Rais, Wiranto, Jusuf Kalla, dan Surya Paloh inilah saatnya menyerahkan tampuk kuasa pada generasi baru.

Namun apa boleh buat, meski tak ada larangan berpolitik bagi usia senja sekalipun, mereka sepertinya belum akan menyerah. Belum kunjung legowo untuk menikmati hari tua mereka dengan momong cucu dan meresapi ketenangan. Realitanya, Prabowo yang kini berusia 67 tahun tampaknya masih ingin maju bertarung dalam pemilihan presiden. Sementara SBY di usianya yang ke-69 tahun, meski tidak ingin maju bertarung, sepertinya ingin ikut ambil bagian dalam bentuk lain. Format yang paling mudah diterka adalah menjadi arsitek poros politik dan mencalonkan anak sulungnya.

Megawati yang saat ini berumur 73 tahun pun demikian, meski sudah ‘melaunching’ Jokowi sebagai presiden dari partai yang dibesutnya, namun sejatinya ia masih ingin menjadi pemegang remote control Jokowi yang disebutnya petugas partai. Serupa, Jusuf Kalla memang pernah menyatakan ingin “istirahat” dari jagat politik, tapi politikus gaek yang kini berusia 75 tahun ini masih bermanuver dalam berbagai peristiwa politik penting seperti dalam kekisruhan Golkar yang terberai balam berbagai kubu, Pilkada DKI Jakarta 2017, melakukan serangkaian pertemuan dengan para petinggi partai jelang Pilpres 2019, hingga seolah membiarkan wacana dukungan terhadap dirinya untuk maju sebagai capres bersanding dengan anak SBY.

Amien Rais tak kalah sepuh, usianya 74 tahun, namun secara mengejutkan menyatakan siap menjadi capres di tahun 2019 setelah pada Pilpres 2004 kalah. Ia bahkan masih getol membangun kekuatan oposisi terhadap pemerintah dan menghebohkan publik dengan kritik-kritiknya. Wiranto (71 tahun) dan Surya Paloh (67) tak ada bedanya, keduanya telah malang melintang di politik melewati enam masa kepresidenan. Dan kecenderungannya, sebagai petinggi partai pengusung pemerintah, mereka masih berhasrat dipilih untuk mendampingi Jokowi sebagai calon RI-2.

Tentu saja, kita tak meragukan jasa dan track record nama-nama politisi “senior” tersebut terhadap republik ini. Bahkan, mereka punya hak untuk aktif berpolitik hingga pikun sekalipun. Hanya saja, usia lanjut (meski tak semuanya) umumnya identik dengan penurunan kemampuan tubuh (utamanya pendengaran, penglihatan, tenaga, kecepatan, serta rentan dengan penyakit), juga penurunan kemampuan berpikir. Mengutip Guru Besar Psikologi UI, Saparinah Sadli (1983), pada usia 55 – 65 tahun merupakan kelompok umur yang mencapai tahap pensiun. Pada tahap ini akan mengalami berbagai penurunan daya tahan tubuh atau kesehatan dan berbagai tekanan psikologis.

Sedangkan menurut badan kesehatan dunia (WHO), orang lanjut usia itu berkisar antara 60 – 74 tahun. Di atasnya, digolongkan sangat tua (very old). Sebab itu, secara psikis, kebutuhan orang di usia lanjut sebenarnya adalah istirahat (pensiun) dari pekerjaan besar, terlebih mengurus politik dan negara yang kerap hingar-bingar, penuh intrik, dan persoalan mahaberat. Mereka, sejatinya sudah naik kelas: sebagai guru bangsa, negarawan, atau mungkin mentor bagi para pendatang baru tanpa harus berjibaku langsung menjadi aktor utama di arena “pertempuran”.

Mahathir effect?

Barangkali, kemenangan Mahathir Mohamad yang telah berusia 93 tahun dalam pemilu Negeri Jiran dan memilih kembali menjadi Perdana Menteri (PM) Malaysia beberapa waktu lalu, menjadi momentum bagi para politisi gaek agar dapat mendulang keberuntungan yang sama. Awalnya, momen ini dijadikan partai oposisi, Gerindra, sebagai pendorong semangat dan kepercayaan diri ketua umumnya, Prabowo Subianto.

Namun ternyata momentum ini juga dipergunakan oleh beberapa elite politik dari partai lainnya untuk menjaring kesempatan yang sama, sebut saja Amien Rais. Pendiri PAN ini bahkan terang-terangan mengaku terinspirasi dengan kemenangan Mahathir, sehingga dengan lantang ia pun menyatakan akan maju sebagai capres di Pilpres tahun depan.

Upaya mendulang keberuntungan, dengan mengusung politikus senior pun dilakukan oleh Partai Demokrat. Setelah kesempatan mengusung kembali Jusuf Kalla sebagai wakil presiden untuk ketiga kalinya dibungkam Mahkamah Konstitusi, Partai Biru ini pun mengambil kesempatan tersebut dengan mengusung Jusuf Kalla sebagai capres.

Sebelumnya, nama Megawati Soekarnoputri dan SBY juga sempat disebut-sebut memiliki kesempatan untuk menjajal kembali peruntungannya di Pilpres mendatang. Lepas dari hambatan aturan pencapresan, sepertinya keduanya tidak termakan isu tersebut. Pun Wiranto dan Surya Paloh, meski tak digadang-gadang sebagai capres, namun efek Mahathir dimaknai dengan mewacanakan keduanya sebagai cawapres Jokowi oleh para pendukungnya. Retorikanya sama: kembali ‘turun gunung’ di masa tua demi ‘menyelamatkan’ negara.

Politisi Gaek. Atas: Prabowo Subianto (67 tahun), SBY (69 tahun), Megawati (73 tahun). Bawah: Jusuf Kalla (75 tahun), Wiranto (71 tahun), Surya Paloh (69 tahun), Amien Rais (74 tahun).

Meskipun dalam demokrasi para elite politik sepuh tersebut memiliki hak untuk ikut bertarung di Pilpres mendatang, namun benarkah yang mereka lakukan sama dengan yang Mahathir Mohamad perjuangkan di negaranya? Ataukah para elite politik ini sekadar ikut-ikutan semata dengan tujuan yang berbeda?

Kemenangan kembali Mahathir sebagai PM Malaysia memang cukup mengagetkan, mengingat usianya yang telah begitu sepuh. Setelah mengundurkan diri di tahun 2003, Mahathir yang telah menjabat sebagai PM Malaysia selama 22 tahun, ternyata masih mendapatkan kepercayaan mayoritas rakyatnya sehingga mampu menggulingkan pemerintahan korup Najib Rajak. Namun kembalinya Mahathir ke panggung politik, sebenarnya diakibatkan adanya urgensi demokrasi di negara Jiran tersebut.

Sayangnya, di tanah air, kesan tersebut dibiaskan hanya dari segi usia dan kesempatan kembali berkuasa. Padahal kembalinya Mahathir ke dunia politik, berdasarkan Path-Goal Theory dari Robert House, merupakan cara masyarakat dan partai oposisi untuk mengembalikan demokrasi di negara tersebut. Sehingga, kemenangan Mahathir tak hanya karena faktor kharisma dan pengalaman, tapi juga kebutuhan transformasi negaranya.

Fakta ini memperlihatkan kalau hasrat Amien maupun Jusuf Kalla atau politisi tua lainnya sebagai capres, sebenarnya hanya sebatas memanfaatkan momentum saja, sebab dari tujuannya sendiri sangat berbeda. Apalagi, Mahathir sendiri telah menyatakan kalau pemerintahannya hanya sebatas transisi, karena nantinya tampuk kekuasaan akan ia berikan pada Anwar Ibrahim. Di titik inilah bedanya: di negeri ini, generasi tua masih terus bercokol dan memerintah (gerontokrasi), membangun tembok tinggi menghambat akses dan mobilitas vertikal generasi muda, bahkan terkesan ingin melanggengkan oligarki politik.

Memang, sekali lagi, para politisi tua dalam demokrasi sangat memungkinkan dan mampu memberikan alternatif pilihan di Pilpres mendatang, tapi seperti apa yang dikatakan oleh politisi Romawi Kuno, Cicero, tidakkah lebih mulia bagi bangsa dan negara, bila memberi kesempatan bagi generasi selanjutnya? Bukankah dalam sejarah bangsa kita, keberhasilan pemerintahan terjadi di era presiden muda? Bung Karno menjabat presiden di usia 44 tahun, sementara Soeharto di usia 46 tahun.

Meski untuk konteks Indonesia saat ini, jejak politisi muda pun umumnya masih tak sesuai harapan. Namun paling tidak, mereka harus mulai diberikan jalan.[]

1 KOMENTAR

  1. Waktu muda saja sdh gak laku, apalagi sdh tua….Jangan samakan dengan Mahathir, waktu muda beliau laku keras

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here