Trump Effect (3)

Popularitas Terburuk Presiden AS Setelah Dilantik

0
184

Nusantara.news – Sebulan setelah dilantik popularitas Trump di bawah 40%, sejarah terburuk popularitas seorang Presiden Amerika Serikat (AS), bahkan kelompok ekstrem mengancam akan memakzulkannya. Khususnya senator dari Partai Demokrat, sangat keras mengecam kebijakan Trump. Begitu juga dengan 700 ribu orang menandatangani petisi secara online bertema ‘Impeach Trump now’. Salah satu alasannya, Trump belum melepas bisnis propertinya setelah dilantik menjadi Presiden AS bulan lalu.

Nancy Pelosi dari Partai Demokrat mencatat bahwa Trump bertindak gegabah, jika dia melanggar hukum sangat mungkin dimakzulkan, walaupun hal ini belum pernah terjadi dalam sejarah kepresidenan AS. Bahkan Nixon yang terlibat skandal Water Gate pun mengundurkan diri, bukan diberhentikan. Trump sudah dianggap menerima keuntungan finansial dari pemerintah dan swasta asing yang menjadi penghuni hotelnya saat pelantikan dirinya pada 20 Januari 2017, seperti dari penerbangan Qatar, ICBC (Bank Cina), Kuwait, Bahrain, dan beberapa negara lain yang terlibat dalam bisnis Trump setelah dia menjadi Presiden AS.

Mundurnya Michael T. Flynn dari jabatan Penasihat Keamanan pada 13 Februari 2017, dengan alasan terlibat skandal kontak dengan pejabat Rusia sebelum Trump menjadi Presiden, dianggap sebagai suatu diplomasi ilegal. Kemudian Trump merangkul Letnan Jenderal (Purn) Herbert Raymond McMaster sebagai Penasihat Keamanan Nasional. McMaster adalah seorang militer taktis, sangat dihormati, dan pemikir strategi perang. Dia sangat kritis, dan karena itu juga penyebab kenapa karir militernya terhenti. Apakah Trump seseorang yang senang dikritik? Semua orang meragukan hal tersebut.

Salah satu isu karena McMaster menganggap Rusia adalah musuh, sementara keberadaan Michael Flynn menganggap Rusia adalah mitra geostrategi? Apakah Trump mengubah haluan politiknya secara emosional begitu? Hal ini menjadi kerugian terhadap Trump, karena ada yang berkeinginan untuk memakzulkannya.

Sebagai penasihat Presiden AS untuk bidang keamanan McMaster tak perlu persetujuan kongres, sehingga jabatannya definitif.

Popularitas Trump semakin menurun karena tidak konsisten dalam kebijakannya, seperti McMaster adalah antitesa Michael Flynn dalam hal Rusia. Apakah Trump sekarang berpikir bahwa Rusia bukan partner strategis, tentu membenarkan tuduhan publik bahwa dia temperamental dan tidak bijak. Pengunduran diri Letjen Michael Flynn adalah citra buruk karena belum sebulan menjabat sebagai Penasihat Keamanan Nasional Presiden.

Kecaman keras McMaster terhadap Rusia beberapa waktu lalu bahwa “Moskow ingin meruntuhkan tatanan ekonomi dan politik Eropa, dan akan menggantinya dengan tatanan yang sesuai kepentingan Rusia”, sangat membekas bagi Putin dan petinggi Rusia. Lalu sekarang orang ini menjadi Penasihat Trump?

Sanksi Iran sikap baru politik Trump

Iran harus menerima sanksi baru yang ditetapkan AS atas desakan Israel yang disetujui Inggris sebagai konspirasi Yahudi dunia. Tentu Iran menjadi momok bagi Israel karena kemampuan rudal balistik Iran mampu menjangkau Israel dengan mudah. Kementerian Keuangan AS memberi sanksi kepada 13 nama (individu) dan 12 Badan (instansi) yang terlibat dalam program rudal balistik Iran. Beberapa di antaranya berbasis di Uni Emirat Arab, Lebanon, dan Cina. Orang-orang tersebut dianggap berkontribusi dalam proliferasi senjata pemusnah massal, dan tuduhan terorisme lainnya.

Trump menganggap Iran telah bermain api dengan AS, dan pemerintah Trump tidak akan mentolerir hal tersebut. Pihak Iran menolak klaim AS tersebut, menganggap program rudal Iran sesuai koridor hukum internasional. Bagi sebagian pengamat Timur Tengah di AS, sikap Trump lebih banyak mudaratnya bagi AS, karena tidak signifikan disikapi sejauh itu, dan hanya akan menambah ketegangan di kawasan strategis migas tersebut. Walaupun stok sudah milik AS, tapi kawasan tersebut masih menjadi lalu lintas kapal tanker pembawa migas perdagangan dunia.

Fenomena Trump Effect dalam hal Iran dan imigrasi 7 negara Islam sudah terlanjur dianggap rasis oleh publik internasional. Sikap anti-imigrasi yang semula sebagai bahan kampanye populis berubah menjadi Kebijakan AS dan mendapat tantangan dari dunia dan dalam negeri AS sendiri.

Kebijakan Trump yang rasis justru dikhawatirkan membuka ruang bagi meningkatnya teror dan kekerasan di AS. Bahaya teror dikhawatirkan bukan dari oknum teroris negara luar, tapi oknum dalam negeri yang terobsesi ketidakadilan dunia dalam hal Palestina, dan penindasan suatu bangsa.

Gagasan ‘American Dream’ akan sirna dan menjadi sebaliknya dari Trump Effect. Arah Trump pada fasisme telah diingatkan oleh Griffin (1991) dalam bukunya yang berjudul, “The Nature of Facism”.

Tiga karakter dasarnya:

  1. Kejayaan Nasional (American make great again),
  2. Populisme klaim dari Trump, dan
  3. Nasionalisme sampai yang berlebihan dan salah arah

Apakah Trump bagian dari karakteristik tersebut? Publik dunia sudah mengetahuinya.

Israel dan Saudi memprovokasi

Israel tidak akan berhenti memprovokasi AS mengenai nuklir Iran. Dengan dukungan Inggris, Australia, dan Arab Saudi, agar diberi sanksi dan dibuka pembicaraan kembali mengenai nuklir Iran. Arab Saudi sebagai sokoguru Wahabi di Timur Tengah adalah musuh Sunni maupun Syiah, sehingga sangat berkepentingan melemahkan posisi Iran yang konon terkuat saat ini di geopolitik dan strategi di kawasan Timur Tengah.

Wahabi (Arab Saudi) yang konon awal berdirinya juga tidak lepas dari sponsor protokol zion untuk memecah-belah Islam di Timur Tengah yang kaya migas, agak diam karena sibuk dengan persoalan ekonomi di dalam negerinya. Namun Arab Saudi dan Israel bahu-membahu sebagai provokator AS agar senantiasa menekan Iran. Pemerintah Iran menyikapinya dengan bijak, menunggu AS agar menurunkan ketegangan, mendorong diplomasi Washington dan Teheran ketimbang menantang secara terbuka. Iran merasa sudah final mengenai nuklir dengan AS pada masa pemerintahan Obama.

Secara politik semakin jelas, Trump pendukung Yahudi Ortodoks, dan akan mengoptimalkan semua instrumen politik dan ekonomi, serta lembaga-lembaga pendukungnya, termasuk PBB, the Fed, sistem perbankan, sistem keuangan dunia dan seluruh instrumennya untuk menekan negara-negara yang menjadi lawan politiknya. Belum lagi AS sebagai pasar produk-produk dunia tentu keperkasaannya tanpa batas, bisa mendikte dunia.

Trump melemah atau menguat?

Bagi populisme dunia, Inggris, Perancis, Belanda, Australia, Italia dan beberapa negara Eropa yang sedang dikuasai oleh gerakan ultra-kanan sangat mendukung kebijakan Trump. Namun kelompok humanisme global melihat kebijakan Trump melanggar HAM dan cenderung fasis.

Namun ujung kebijakan Trump adalah ekonomi. Kelemahan bangsa AS adalah rasionalitas azas manfaat (benefit) menjadi indikator utama hasil kebijakan Trump nanti.

Jika Trump berhasil memperbaiki posisi ekonomi AS tentu masyarakat AS yang rasional akan berbalik mendukungnya. Apalagi didukung kelompok pengusaha Yahudi, tentu ekses kebijakan Trump hanya dilihat dari aspek leadership yang agak otoriter sesuai karakternya sebagai pengusaha yang korporatif.

Trump adalah fenomena kepemimpinan pada era kapitalisme global diwarnai hadirnya “State Capitalism” (Cina) sebagai saingan utama Corporate Capitalism, dimana perusahaan raksasa dunia (multinational corporations) menjadi tumpuan sistem kapitalisme.

Trump adalah seorang pengusaha, tentu naluri utamanya adalah skema ekonomi dan bisnis. Oleh karena itu dia tidak tertarik dengan AS sebagai polisi dunia, atau penjaga demokrasi dunia. Nyatanya Cina sudah mempunyai pulau di Asia Selatan, sebagai pangkalan militer. Trump tidak bereaksi. Rusia sudah tanam kekuatan militer yang mengancam AS. Trump tidak peduli, termasuk terakhir mengenai Ukraina. Sensitivitasnya adalah pada “business value”. Rakyat AS sangat rasional, jika ekonomi berhasil, di dunia mereka tidak peduli apa yang terjadi. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here