Poros Baru Tergantung Siapa Pendamping Khofifah

1
155
Nama Bupati Trenggalek Emil Dardak menjadi idaman tiga parpol yang akan mengusung poros tengah.

Nusantara.news, Jawa Timur – Poros baru kemungkinan besar bakal terbentuk, namun semua tergantung dari siapa pendamping Khofifah Indar Parawansa di Pemilihan Kepala Daerah Jawa Timur (Pilkada Jatim) tahun 2018. Pasalnya, hingga detik ini tim yang beranggotakan 17 kiai pengusung Khofifah masih merekomendasikan dua nama sebagai calon wakilnya.

Dua nama itu dipilih dari sekitar 12 nama yang disodorkan oleh para kiai yang tergabung dalam Tim 17. Rekomendasi dua nama muncul setelah melalui rapat seluruh anggota tim yang berlangsung di kediaman KH Asep Saifuddin Chalim, Jalan Siwalankerto Utara, Surabaya, Minggu (5/11/2017).

Baca juga: Pasangan Khofifah Dideklarasikan Pertengahan November

Poros tengah saat ini memang tengah digodok serius oleh tiga partai, yakni Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Keadilan Sosial (PKS), dan Partai Gerindra.

Memang Pilgub Jatim akan semakin menarik bila nantinya muncul poros tengah sebagai kekuatan penyeimbang. Sehingga tidak melulu pada dua sosok yang ada yakni Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Khofifah Indar Parawansa.

Untuk PAN, partai berlambang matahari terbit telah menyiapkan dua opsi dukungan di Pilkada Jawa Timur 2018 mendatang. Opsi pertama bergabung dengan Parpol pengusung kandidat yang sudah ada, sedang opsi kedua membentuk poros tengah.

PAN saat ini masih optimis di Jawa Timur masih banyak tokoh-tokoh lain yang layak untuk diusung menjadi calon gubernur. Hal inilah yang diyakini Sekretaris Jenderal PAN Eddy Soeparno dalam sebuah kesempatan kepada wartawan, Senin (6/11/2017).

“Pilkada Jatim tidak mutlak terpolarisasi pada Gus Ipul dan Khofifah. Kami yakin ada tokoh Jawa Timur lain yang juga layak diusung sebagai cagub,” ujar Eddy.

Sejauh ini PAN sudah berkomunikasi dengan partai politik lain yang belum menyatakan mendukung calon gubernur Jawa Timur, seperti Partai Gerindra dan PKS. “Kita tengah berkomunikasi dengan Parpol-parpol yang belum mengusung Cagub. Intinya, kita mencari alternatif cagub yang sekaliber Gus Ipul dan Bu Khofifah,” ujarnya.

Dalam pandangan ketiga Parpol tersebut, setidaknya ada sejumlah sosok yang dinilai sepadan dengan dua calon lain tersebut. Hanya saja Eddy belum belum mau mengungkap nama-nama tokoh tersebut. Yang pasti calon gubernur tersebut nantinya akan dipasangkan dengan kader internal dari PAN.

“PAN memiliki kader yang mumpuni yang memiliki kapasitas yang teruji, kompetensi dan popularitas yang tinggi seperti Suyoto, Masfuk, dan Anang Hermansyah,” ujarnya.

Suyoto merupakan Waketum PAN sekaligus Bupati Bojonegoro dan Masfuk merupakan mantan Bupati Lamongan dua periode. Sementara Anang Hermansyah adalah anggota DPR asal Jember sekaligus musisi papan atas.

Senada, Ketua Fraksi PAN DPRD Jatim Agus Maimun menyebut jika memang muncul poros tengah, maka partainya akan mengangkat figur yang sudah berpengalaman di pemerintahan dan politik. “Namanya kami simpan dulu, yang pasti kami akan beri kejutan nanti,” kata Agus Maimun saat dikonfirmasi, Selasa (7/11/2017).

Dalam hal ide, menurut Agus, koalisi tersebut juga akan menawarkan gagasan pembangunan yang konstruktif untuk membawa Jatim lebih maju dan masyarakat yang lebih makmur.

Kata Maimun, Partai Gerindra dan PKS sudah memberi sudut pandang berbeda dari patron politik golongan yang saat ini mewarnai kondisi politik Jatim. “Ketua umum kami di Jakarta juga intens berkomunikasi soal koalisi ini,” terang Maimun.

PAN, PKS, dan Gerindra memang memiliki modal politik yang cukup untuk berkoalisi. Berdasarkan perolehan suara kursi di Parlemen Jawa Timur, Gerindra mempunyai 13 kursi, PAN 7 kursi, dan PKS 6 kursi. Jumlah kursi yang ada sudah cukup untuk mengusung satu paket nama bacagub dan bacawagub.

Terkait dengan opsi pertama, PAN tidak menutup kemungkinan mendukung salah satu calon gubernur antara Khofifah atau Gus Ipul. Hanya saja kemungkinan itu kecil, sebab PAN memberi syarat cukup berat, yakni kedua cagub harus mengambil calon wakil gubernur dari kader PAN. “Yang jelas kita meminta kader PAN digandeng sebagai cawagub, dari tiga itu,” kata Eddy.

Indikasi ketiga partai menggalang koalisi sebenarnya sudah terlihat sejak akhir September lalu. PAN, Gerindra, dan PKS membuat acara nonton bareng Film Pemberontakan G30 S/PKI di Surabaya.

Tunggu pesan dari kiai

Wakil Ketua Majelis Syura PKS Hidayat Nur Wahid mengatakan, PKS besar kemungkinan akan mengusung poros tengah sebagai upaya menghadirkan calon alternatif ketiga. Namun diakui Hidayat, dukungan PKS di Jawa Timur masih menunggu amanat kiai di Jatim yang masih menggodok pendamping Khofifah.

“Sekarang masih dalam proses, belum definitif kemudian siapa yang akan dimajukan. Yang jelas PKS akan sangat mendengarkan apa yang dinasihatkan para ulama dan kiai di Jawa Timur karena kita tahu Jawa Timur adalah basisnya para kiai dan ulama. Kita bisa bikin poros baru atau poros tengah, itu belum selesai. Dalam kompetisi terbuka seperti sekarang, tidak bisa pendekatannya primordial. Harus luas,” kata Hidayat.

‎Ditambahkan Hidayat, PKS tidak hanya fokus pada Pilkada Jatim saja, tetapi juga pada Pilkada Jabar dan Jateng. Intinya, PKS akan melanjutkan koalisi nasionalis-religius. Saat ini komunikasi dengan parpol-parpol terus dilakukan untuk ketiga wilayah tersebut.

“Kami sudah mulai di DKI Jakarta dan Banten. Maka kami ingin lanjutkan pengabungan nasionalis-religius di Jabar, Jateng dan Jatim,” kata politisi senior ini.

Hanya saja Hidayat tidak menyebut siapa nama calon yang akan diusung di tiga wilayah tersebut. Pasalnya, komunikasi belum final dengan parpol-parpol lain. PKS juga, lanjut Hidayat, tidak membatasi parpol untuk bergabung dalam koalisi. Namun prinsipnya bisa mengabungkan paham nasionalis-religius.

“Di DKI, kita dengan Gerindra. Di Banten, ada PAN, Gerindra dan yang lain. Jadi kita terbuka saja,” jelas Hidayat yang juga Wakil Ketua MPR ini.

Wasekjen DPP PKS Mardani Ali Sera juga memberi sinyal partainya akan mengusung poros baru setelah konstelasi politik berubah.

“Setelah PDIP menetapkan calon, kata Mardani, Gerindra kemudian mengajak untuk membentuk bikin poros baru. Mardani mengaku ada sejumlah nama yang akan dijadikan kuda hitam dalam Pilkada Jatim. Namun, Ketua Tim Pemenangan Anies-Sandi dalam Pilkada DKI Jakarta itu masih menutup mulut siapa nama kader yang akan dimajukan dalam Pilkada Jatim. Namun, opsi tersebut masih dalam tahap perencanaan. “Peluangnya ada tetapi kalkulasinya belum selesai,” tutur Mardani.

Mardani meminta publik bersabar. Namun, ia memastikan akan mengumumkan bila perhitungan sudah selesai. “Tar aja tungguin,” kata Mardani singkat.

Sementara Partai Gerindra sudah jauh menyiapkan poros baru. Cuma kedua Parpol (PAN dan PKS) masih menunggu hasil dari tim 17 kiai pengusung Khofifah. Gerindra tidak sungkan menyebut nama mantan Ketua Umum PSSI La Nyalla Mattalitti yang disebut mendapat ‘lampu hijau’ dari Dewan Pembina Gerindra Prabowon Subianto. Dua nama Cawagub disiapkan dalam skenario itu adalah Bupati Trenggalek Emil Dardak dan Bupati Bojonegoro Suyoto. Atau kemungkinan lain, Gerindra akan mengusung Emil Dardak sebagai Cagub.

Hal ini seperti yang disampaikan Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerindra Jatim, Anwar Sadad, beberapa waktu lalu. Dia mengaku selama ini kerapkali mengobrol dengan suami artis Arumi Bachsin tersebut. Menurutnya sosok Emil adalah profil generasi milenial yang mempunyai kemampuan di bidang kepemimpinan.

Menurutnya, kepemimpinan di Jawa Timur tidak bisa dimaknai secara tradisional saja, melainkan harus dimaknai secara general. “Saya kira kepemimpinan tidak harus dimaknai secara klasik, harus digagas kepemimpinan yang baik di era milenial, salah satunya pemimpin muda yang berkompeten,” tandas anggota Fraksi Gerindra DPRD Jatim ini.

Oleh karena itu, Gerindra merasa bahwa ada saatnya generasi muda yang mempunyai kemampuan persuasi yang bagus, punya retorika yang bagus, punya background kepemimpinan politik yang bagus untuk ikut serta dalam menjadi bakal calon gubernur.

Baca juga: Emil-Azrul Berharap Ikuti Jejak Sukses Anis-Sandi di DKI

Soal poros baru ini juga sudah dibahas oleh Ketum Gerindra Prabowo Subianto dan Ketum PAN Zulkifli Hasan. Hanya saja, PAN juga masih mempertimbangkan untuk mengusung bacagub yang namanya sudah ramai dibicarakan. Zulkifli pun berencana untuk bertemu dengan Khofifah walau tidak menutup kemungkinan partainya siap berkoalisi dengan Gerindra dan PKS melalui poros baru.

“Khofifah tinggal kita akan jumpa nih, saya akan coba waktu dekat akan jumpa Khofifah. Kita akan diskusikan ya untuk minggu-minggu ini. Kita mau tanya kalau maju gubernur partainya mana saja, kan masih belum ngomong kan? Siapa, bagaimana caranya biar bisa menang, kan begitu,” kata Zulkifli di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, belum lama ini.

Zulkifli juga tidak menampik jika sosok Emil Dardak juga sangat populer di Jawa Timur. Meski bukan berasal dari PAN, namun pihaknya siap untuk mengusung Emil Dardak sebagai poros baru. “Ya bisa juga poros baru kan. Gerindra dan PKS siap. Emil Dardak populer juga tuh?” sambungnya.

Jika memang poros tengah benar-benar muncul, banyak kalangan menilai ledakannya akan sangat dahsyat dibanding dengan kandidat yang sudah ada. Hanya saja poros tengah bukan berarti tidak punya tantangan. Sebab setiap pasangan alternatif dari partai poros tengah selalu dihadapkan pada wacana bahwa Gubernur Jatim harus NU. Artinya, poros tengah kalau mau eksis harus mampu menyeimbangkan pemikiran-pemikiran tersebut.

Terkait dengan pilihan poros tengah yang akan mengusung konsep milenial, hal ini juga harus dipahami secara mendetail. Jangan karena berdasar pandangan yang terburu-buru, sehingga konsep milenial ini kesannya menjadi ajang ‘coba-coba’. Sebab yang dihadapi ini adalah area publik dalam kontestasi Pilgub Jatim 2018. Memang generasi milenial itu anomalinya sangat tinggi. Namun apakah berpengaruh pada ajang Pilgub Jatim?

Pengamat ilmu komunikasi politik dari Unair Surabaya, Sukowidodo menyebut, “Generasi milenial itu memang memiliki pengaruh signifikan di Pilgub Jatim mendatang tapi mereka tak memiliki identitas jelas karena ikatannya hanya rasional sehingga mengelolanya juga tidak mudah,” beber Sukowidodo.

Menurut Sukowidodo, syarat mutlak bisa ikut running Pilkada, haruslah memiliki ketokohan yang kuat sehingga otomatis dia harus terkenal dan memiliki relasi sosial. “Emil memang orang baru yang hadir dalam 2 tahun terakhir dalam peta politik di Jatim. Dan popularitasnya cukup mumpuni untuk mengejar Gus Ipul dan Khofifah. Tinggal dia dipasangkan dengan orang yang lebih berpengalaman saja,” pungkasnya.[]

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here