Poros Tengah Bubar Sajalah!

0
433

Nusantara.news, Jawa Timur – Poros tengah terancam bubar. Sampai detik ini komunikasi antar tiga Parpol koalisi PKS, PAN dan Gerindra masih deadlock. Belum munculnya calon alternatif untuk melawan kandidat Khofifah Indar Parawansa dan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dikarenakan memang belum menemukan sosok yang sepadan.

Malahan ada usulan poros tengah merapat ke Gus Ipul tapi dengan syarat mengajukan Cawagubnya sebagai pengganti Azwar Anas. Alasan poros tengah, Cawagub Jatim haruslah yang mampu mendongkrak elektabilitas Gus Ipul.

“Ya percuma dukung kalau calonnya tidak mampu mendongkrak elektabilitas Gus Ipul, kalau hanya bikin kalah. Itu kenapa kita dari poros tengah mengajukan calon Wagub,” kata Ketua DPW PKS Jatim Arif Hari Setiawan, Minggu (7/1/2018).

Arif mengakui bahwa nama Gus Ipul sudah diajukan ke DPP sebagai Cagub Jatim, namun semua terserah pusat. “Selama ini yang intens komunikasi dengan PKS Jatim ya Gus Ipul dan kita sudah kirimkan dinamika ini ke DPP,” kata mantan anggota DPRD Jatim periode lalu ini.

Bahkan poros tengah siap mendukung Gus Ipul sepenuhnya jika PDIP keluar dari koalisi pendukung Gus Ipul (PDIP-PKB). “Sebelum partai partai lain berkomunikasi dengan Gus Ipul, PKS sudah melakukannya lebih dulu. Jadi wajar kalau kita ingin Gus Ipul menang. Maksudnya jangan sampai Gus Ipul mendapat Cawagub yang hanya membuat Gus Ipul kalah,” ungkapnya.

Sementara itu Ketua DPD Gerindra Jawa Timur Soepriyatno mengatakan, tiga partai yang tergabung dalam poros tengah yakni Gerindra, PAN dan PKS saat ini masih intens melakukan komunikasi politik Gus Ipul.

“Tiga partai Gerindra PKS dan PAN akan memberikan dukungan kepada gubernur yang sedang deklarasi. Tapi kita harus tahu bagaimana strateginya dan bagaimana wakilnya karena Mas Anas mundur,” katanya di kantor DPD Gerindra Jawa Timur pada Minggu (7/1/2018).

Dia menjelaskan, ketiga pimpinan Parpol akan menemui Gus Ipul untuk menanyakan strategi pemenangan. Langkah itu dirasa penting, agar kandidat yang didukung poros tengah nantinya bisa menang dalam Pilgub yang akan berlangsung pada tahun depan. “Jangan sampai kita mendukung Gus Ipul ternyata dibusukin. Nah ini yang kita nggak mau,” tambahnya.

Soepriyatno menyebut jika pertemuan dengan Gus Ipul tidak mencapai kesepakatan, maka ketiga partai itu akan mengajukan calon sendiri di Pilgub Jatim. “Ada enam yang kita siapkan dua dari Gerindra,  dua dari PKS dan dua dari PAN. Kalau ini tidak sepakat, maka kita akan mencalonkan sendiri,” pungkasnya.

Berbeda dengan Gerindra, Ketua DPW PAN Jatim H Masfuk menegaskan partainya belum memutuskan apapun terkait Pilgub Jatim. Kalau soal komunikasi dengan Gus Ipul, mantan Bupati Lamongan ini menegaskan pihaknya bisa berkomunikasi dengan siapa saja baik Gus Ipul maupun Khofifah.

“PAN bisa komunikasi dengan siapa saja, bisa dengan Gus Ipul bisa dengan Khofifah. Jadi kalau ditanya soal kemungkinan, ya semua serba mungkin tergantung keputusan DPP,” tegas Masfuk.

Masfuk menambahkan, saat ini DPP masih melakukan pertemuan untuk membicarakan Pilgub Jatim. “Ini jam jam mendebarkan. jadi ditunggu saja,” jelasnya.

Kunci Soliditas Koalisi

Sejumlah tokoh elemen pergerakan dan aktivis Indonesia berharap trio koalisi Gerindra, PAN, dan PKS tetap kompak di Pilkada Jatim 2018. Para aktivis tersebut antara lain Faisal Assegaf (Progres 98), Habib Mahdi (Ketua GEMIRA), Heru Johansyah (Ketum Ksatria), Aminuddin (Sekjend Presidium Alumni 212), Karina De Vega (Ketua Umum AKSIRA) dan Rizal Kobar.

Menurut mereka, kekompakan Pilkada Jatim akan menjadi momen bagi ketiga partai itu untuk menunjukkan soliditas sekaligus meraih dukungan luas dari kelompok rakyat yang selama ini tidak gembira dengan kebijakan pemerintah.

Ketua Progres 98 Faisal Assegaf sebagai juru bicara mengatakan, jika salah menetapkan pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur di Pilkada Jatim, ada sejumlah konsekuensi serius yang harus ditanggung Parpol koalisi.

“Gerakan solidaritas umat Islam dan jaringan oposisi yang sejak awal menyerukan dukungan penuh kepada koalisi Gerindra, PKS dan PAN. Pada akhirnya akan berpikir ulang karena mereka menilai ternyata aspirasi masyarakat Jatim di ketiga partai tersebut tidak diakomodasi. Walhasil, akan ada pelemahan dukungan politik kepada ketiga partai itu dari kader, simpatisan dan rakyat secara masif di seluruh wilayah Pilkada se-Indonesia,” ujar Faisal dalam jumpa pers di Jakarta, Minggu (7/1/2018).

Faisal menilai, tarik menarik proses rekomendasi pasangan Cagub-Cawagub yang akan diusung di Pilkada Jatim memberi indikasi kuat adanya upaya pembusukan terhadap kekuatan dan soliditas koalisi Gerindra, PKS dan PAN.

“Upaya pelemahan tersebut bahkan muncul dari lingkaran terdekat Ketua Umum Gerindra, Bapak Prabowo Subianto, yang secara terselubung berupaya menjegal figur potensial yang telah berkontribusi besar serta giat melakukan penggalangan dukungan di akar rumput selama hampir setahun,” paparnya.

Jika hal itu dibiarkan, tegas Faisal, maka dapat memicu keresahan dan keretakan serius. Sehingga berakibat fatal dan menimbulkan reaksi mosi tidak percaya dari kader. Ya, para simpatisan partai serta dukungan yang luas di masyarakat terhadap Gerindra lambat laun akan muncul.

Mengamati perkembangan tersebut, para tokoh pergerakan yang selama ini dikenal sebagai pihak yang getol memberi dukungan kepada koalisi PAN, PKS dan Gerindra tersebut mendesak Ketum Gerindra, PAN dan PKS agar bertindak bijak dalam menetapkan pasangan calon Cagub-Cawagub sehingga tidak menimbulkan prahara politik.

“Saya sampaikan di sini, bahwa kami akan evaluasi kembali dukungan kami kepada tiga partai tersebut melalui pertemuan lintas tokoh, ulama dan elemen Islam. Dan hal itu tidak hanya berlaku bagi Pilkada Jawa Timur, tapi juga daerah lainnya,” tegasnya.

Bahkan dirinya sudah mendengar bahwa apabila ke tiga partai tersebut salah mengambil langkah di Jatim, dan akan diikuti dengan mundurnya sejumlah tokoh di dalam partai-partai tersebut. “Yang sudah saya dengan Mbak Rahmawati dan Pak Amien Rais siap mundur,” pungkasnya.

Sebetulnya tanda-tanda poros tengah terancam bubar terlihat setelah La Nyala Mattaliti mundur dari pertarungan di Pilgub Jawa Timur 2018. Pasalnya realita politik yang bertarung di Pilgub Jatim memang hanya ada dua pasangan yaitu Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Khofifah Indar Parawansa. Kalaupun ada muncul pasangan lain, itu hanya untuk menambah kemeriahan Pilgub di Jawa Timur.

La Nyala kalaupun dapat dukungan partai kurang tangguh untuk memenangkan Pilgub Jawa Timur. Bicara soal sosok yang akan diusung Parpol koalisi di Pilgub Jatim usai La Nyalla Mattalitti tak berhasil memenuhi syarat, itu lantaran belum adanya formasi peta politik antar ketiga partai.

Jika di Pilgub DKI Parpol koalisi bisa kompak, namun jangan harap politik di Jatim akan sama. Munculnya dua kandidat yang ada saat ini, masyarakat Jatim sudah merasa terwakili. Apalagi mereka berasal dari latar belakang yang sama, di mana mayoritas masyarakat Jatim adalah NU.

Karena itu poros tengah sekarang tinggal memilih, apakah mendukung Khofifah atau Gus Ipul. Hanya ini sikap politik yang kemungkinan diusung Parpol koalisi. Apabila poros tengah ngotot memunculkan kandidat baru, boleh jadi itu hanya isapan jempol semata. Mereka hanya tinggal melihat jagoannya kalah saja. Tentu ada cara lain kalau mereka mau, yakni abstain.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here