Poros Tengah Usung Calon di Pilgub Jatim 2018

0
253
Poros Tengah Digadang Muncul di Pilgub Jatim 2018

Nusantara.news, Surabaya – Disebut Poros Tengah, merupakan hasil utak-atik untuk memunculkan pasangan baru bakal calon di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur, 2018. Pasangan nama yang digadang dan ditawarkan kepada pemilih itu adalah Emil Elestianto Dardak, Bupati Trenggalek dan Anwar Sadad, Sekretris DPD Partai Gerindra Jatim.

Adalah Partai Gerindra, Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang akan meluncurkan sebagai kontestan. Partai koalisi itu mulai serius melakukan lobi-lobi. Bahkan, kabarnya mereka akan memviralkan ke media sosial. Pasangan itu, segera digeber dengan label dan jargon “Jatim Emas”.

Soal itu, Bendahara DPW PAN Jatim, Agus Maimun membenarkan jika ketiga partai yang diharapkan akan bisa berkoalisi serius dalam satu barisan, mengawal poros tengah.

“Semua partai telah mengajukan calon baik dari kader maupun non kader untuk diusung menjadi cagub atau cawagub. Tapi untuk kepastian siapa pasangan calon yang akan diusung, memang belum diputuskan,” ujar Agus yang juga Ketua Fraksi PAN di DPRD Jatim itu.

Sementara, Sekretaris DPD Partai Gerindra Jatim Anwar Sadad, dihubungi Nusantara.news membenarkan hal itu. Dia mengaku itu merupakan langkah spekulasi dan merupakan suara arus bawah, sebagai pilihan. Pertemuan Partai Gerindra Jatim dengan Emil Dardak, memang benar.

“Itu spekulasi, suara arus bawah,” kata Anwar Sadad, Kamis (2/11/2017).

Dia mengatakan, partai poros tengah memang sepakat dalam satu barisan untuk melangkah di Pilgub Jatim 2018. Namun, siapa nama-nama yang nantinya akan diusung, belum ada nama yang muncul.

“Belum tahu, wallahu a’lam,” tambahnya.

Baca Juga: Sinyal Kuat, Soekarwo Pilih AHY Dampingi Khofifah

Terpisah, saat dihubungi, pengamat politik yang juga Direktur Eksekutif Surabaya Survey Center (SSC) Mochtar W Oetomo, menilai munculnya nama pasangan tersebut bisa saja, dan menurutnya sangat berpeluang menjadi pasangan yang mengejutkan.

“Bisa saja jika benar terealisasi, karena memiliki potensi daya ledak jika desain pemenangnya mampu membaca konteks dan momentum politik yang tengah berkembang di Jatim saat ini,” kata Mochtar.

Menurutnya, kedua nama tersebut bisa menjadi perpaduan yang komplementer. Itu karena mereka mengaku dan merepresentasikan sebagai generasi X dan Y, sebuah perpaduan Nasionalis-Nahdlatul Ulama (NU), Mataraman – Tapal Kuda, intelektual – kultural, sebagai kepala daerah atau eksekutif dan dari anggota dewan atau legislatif. Juga merupakan representasi lulusan sekolah luar negeri yang digabungkan dengan pondok pesantren,

“Itu perpaduan yang klop, alumnus luar negeri dan pondok pesantren,” urai lelaki berkacamata yang juga dosen FISIP Universitas Trunojoyo, Bangkalan, Madura.

Tantangan yang harus dihadapi oleh pasangan alternatif dari partai poros tengah tersebut adalah, santernya wacana Gubernur Jatim lima tahun ke depan harus dari NU. Termasuk diharapkan mampu memberi warna baru sebagai pilihan pada warga Nahdliyin yang didominasi wacana pilihan untuk Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, serta Khofifah Indar Parawansa.

“Pasangan itu masih muda sehingga harus memiliki kemampuan belajar dengan cepat atau harus mampu merangkul kekuatan politik utama terutama pada tokoh-tokoh yang lebih kenyang dan teruji pengalaman politiknya serta harus mampu menyelesaikan konsolidasi dengan PAN dan PKS. Sebab kedua partai itu juga memiliki calon sendiri,” urainya.

Baca Juga: Emil-Azrul Berharap Ikuti Jejak Sukses Anis-Sandi di DKI

Lainnya, pengamat Ilmu Komunikasi Politik dari Unair Surabaya, Sukowidodo justru mengingatkan partai tersebut berhati-hati dengan konsep milenial yang menjadi area publik baru dalam kontestasi Pilgub Jatim 2018.

Menurut Sukowidodo, generasi milenial itu anomalinya sangat tinggi. Milenial itu memang memiliki pengaruh signifikan di Pilgub Jatim. Tetapi mereka tidak memiliki identitas jelas karena ikatannya hanya rasional sehingga mengelolanya juga tidak mudah.

“Itu harus diperhatikan oleh partai politik tersebut, mereka tidak memiliki identitas jelas karena ikatannya hanya rasional sehingga mengelolanya juga tidak mudah,” terang Sukowidodo.

Dirinya mengapresiasi upaya partai poros tengah mencoba memunculkan pasangan tersebut (Emil-Sadad) yang mengedepankan pola Merah (Nasionalis)- Hijau (Relegius), itu diharapkan dapat mengimbangi kandidat yang lebih dulu muncul. Bahkan, diharapkan bisa menandingi popularitas dan elektabilitasnya.

Syarat mutlak bisa ikut Pilkada, masih kata Sukowidodo, harus memiliki ketokohan yang kuat dan memiliki relasi sosial. Soal Emil, yang disebut sebagai orang baru di peta politik Jatim, menurutnya dengan popularitas yang disandang cukup mumpuni untuk mengejar Gus Ipul. Apalagi jika dipasangkan dengan orang yang kaya pengalaman, misalnya Masfuk, Kang Yoto, Rendra, Hasan, Kanang, Nurwiyatno atau Harsono.

Anwar Sadad Sosok dan Kiprahnya

Anwar Sadad, “Itu spekulasi, suara arus bawah”

Anwar Sadad, namanya kini menjadi perbincangan. Dia juga digadang masuk bursa sebagai figur yang pas mendampingi Khofifah Indar Parawansa.

Anwar Sadad, lahir dari pasangan Kiai Usman dari Bangkalan dan Nyai Hulliyah Bahar (alm) dari Sidogiri, Pasuruan. Banyak yang menyebut, dia tergolong politisi ulung. Menjabat anggota DPRD Jatim tiga periode yang ditempuh dari bendera partai berbeda.

Di Pileg 2004, mantan pengurus Korcab PMII Jatim ini, maju lewat PKB dari Dapil Pasuruan-Probolinggo. Dengan sistem nomor urut, Sadad terpilih sebagai anggota dewan dari PKB.

Terjun ke politik, berawal dari kepercayaan Choirul Anam atau Cak Anam, seniornya sekaligus guru politik. Saat itu Cak Anam meminta dirinya menyelesaikan sejumlah administrasi persiapan untuk Muktamar DPW PKB Jatim di Tuban 2001.

“Benar, termasuk saya juga disuruh membuat pidato politik Cak Anam, ketika itu,” katanya dalam sebuah kesempatan wawancara.

Sukses Muktamar PKB dan Cak Anam kembali terpilih sebagai Ketua DPW PKB Jatim, Sadad bergabung di gerbong DPW sebagai Wakil Sekretaris Jenderal. Kemudian saat konflik terjadi di internal PKB, Cak Anam mendirikan PKNU. Sadad kemudian juga ikut bergabung ke gerbong Cak Anam dan mencalonkan diri sebagai anggota DPRD dari PKNU, dan dia terpilih kembali di Pileg 2009.

Kemudian di Pileg 2014, PKNU tidak bisa ikut pemilu. Sadad disarankan Cak Anam merapat ke Partai Gerindra dan kembali terpilih untuk ketiga kalinya. Sementara di Gerindra juga menjabat Sekjend DPD Gerindra Jatim.

Meski DPP partai yang dikomandani Prabowo Subianto belum mengeluarkan rekomendasi, namun mayoritas DPC partai berlambang Burung Garuda se Jatim sepakat siap mengantar Anwar Sadad sebagai bakal calon dari Gerindra.

Emil, Politik dan Generasi Milenial

Emil Elestianto Dardak juga disebut-sebut ideal jika berpasangan dengan Khofifah Indar Parawansa

Emil Elestianto Dardak, lahir di Jakarta, 20 Mei 1984, eksekutif muda penyanyi dan politikus. Kemudian, 2016 terpilih menjadi Bupati Trenggalek berpasangan dengan Mochamad Nur Arifin. Memenangi pemilihan kepala daerah serentak dengan mengantongi 292.248 suara atau 76,28 persen. Tercatat sebagai pasangan kepala daerah termuda.

Anak pasangan Hermanto Dardak, Wakil Menteri Pekerjaan Umum periode tahun 2010-2014 dan ibunya Sri Widayati itu, juga tercatat sebagai peraih gelar Doktor Ekonomi Pembangunan termuda, di Jepang, dari Ritsumeikan Asia Pacific University, di usia 22 tahun.

Darah cerdasnya juga mengalir dari sang kakek, H. Mochamad Dardak, salah satu kiai Nahdlatul Ulama (NU). Sementara, dari sang ibu mengalir darah Letjen Anumerta Wiloejo Poespojudo, Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) pertama di era pemerintahan Soekarno.

Tahun 2001, di usia 17 tahun, Emil meraih gelar diploma dari Melbourne Institute of Business and Technology. Dan, S1 didapat dari Universitas New South Wales, Australia. Gelar S2 dan S3 didapatkan dari Ritsumeikan Asia Pacific University, Jepang.

Tahun 2001-2003, Emil menjadi World Bank Officer di Jakarta, dan Media Analysis Consultant di Ogilvy. Puncak kariernya Chief Business Development and Communication-Executive Vice President di PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero).

Karier politik diukir mulai 2015, saat itu Emil bersama Moch Nur Arifin mendaftarkan diri menjadi pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Trenggalek ke KPUD Kabupaten Trenggalek.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here