Poros Tengah Usung M Nuh, Tiga Tokoh NU Bentrok

0
190
M Nuh saat ziarah ke makam Hasyim Muzadi. Dalam Pilgub Jatim 2018, poros tengah menilai tokoh NU ini dapat menandingi Gus Ipul dan Khofifah.

Nusantara.news, Jawa Timur – Melawan NU harus dengan NU. Begitu kira-kira yang disikapi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dalam menghadapi Pilgub Jatim 2018. Adanya dua kandidat dari tokoh Nadhlatul Ulama (NU) seperti Khofifah Indar Parawangsa dan Saifullah Yusuf, membuat parpol yang belum mempunyai kandidat berkeinginan mengusung calon lain dari tokoh NU.

PKS tampaknya ingin menggagas kekuatan poros tengah bersama Gerindra dan PAN. Dan pilihannya jatuh sosok Muhammad Nuh, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Bagi PKS, sosok M Nuh bisa memecah suara warga Nahdliyin yang selama ini hanya fokus pada Khofifah dan Gus Ipul.  Apalagi M Nuh bukan sosok baru di perpolitikan nasional. Dia termasuk tokoh NU tulen di era Hasyim Muzadi.

Memang tidak bisa dipungkiri, tahun ini Jawa Timur menjadi lumbung kader-kader terbaik NU. Meskipun ada perbedaan dalam menyalurkan aspirasi politik, keinginan sejumlah parpol menggagas poros tengah, menilai hal tersebut sebagai sebuah kewajaran dalam politik Indonesia.

Presiden PKS M Sohibul Iman sebelumnya menyampaikan telah bertemu Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan untuk membahas seputar konstelasi politik menjelang Pilgub Jatim.

“Ya memang dalam pertemuan itu sempat dibahas sosok Pak Nuh. Dalam memutuskan dukungan, PKS menggunakan sistem bottom up, karena kami harus mempertimbangkan sosok yang akan didukung. Termasuk dengan siapa akan berkoalisi. Makanya kami juga meminta pendapat kepada Pak Dahlan,” kata Iman seusai acara silaturahmi dengan tokoh pers Dahlan Iskan di kediamannya di Surabaya, Selasa (17/10/2017).

Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PKS Jatim juga angkat bicara soal peluang mengusung figur M Nuh. Disebutkan, M Nuh merupakan sosok potensial. Selain pernah menduduki jabatan menteri dan rektor Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS), dia juga menjadi tolok ukur yang pantas diperhitungkan sebagai bakal calon gubernur Jatim.

Meskipun demikian, untuk bisa mengusung M Nuh yang juga menjabat pembina Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) tidaklah mudah. Di antaranya, belum adanya keinginan M Nuh untuk mencalonkan diri ditengarai akan menjadi kesulitan bagi pihaknya.

“Ya masalahnya, beliau apa benar ingin maju? Ini kan masih perlu pembicaraan lebih lanjut. Sedangkan pendaftaran di KPU (Komisi Pemilihan Umum) sudah dekat,” sebut Sekretaris DPW PKS Jatim, Irwan Setiawan.

Tak hanya dari luar partai, PKS juga tengah meyiapkan kader internalnya untuk diusulkan sebagai kandidat kepala daerah. Pertama, adalah Rofi Munawar, Ketua DPW PKS Jatim periode 1998-2006 yang juga anggota Komisi VII DPR RI dari dapil Jatim VII ini menjabat Anggota Majelis Syuro PKS. Kemudian, ada nama Sigit Sosiantomo, Anggota DPR RI dengan berada di Komisi V. Nama berikutnya adalah Ja’far Tri Kuswahyono, Mantan Ketua DPW PKS Jatim, saat ini menjadi anggota DPRD Jatim. Sedangkan nama terakhir adalah Hammy Wahyunianto, juga merupakan mantan Ketua DPW PKS Jatim yan juga menduduki anggota DPRD Jatim. Irwan menuturkan, nama-nama tersebut berpotensi untuk dijagokan hanya sebagai calon wakil gubernur.

Presiden PKS Mohammad Sohibul Iman (tiga kanan) mengunjungi rumah Dahlan Iskan untuk meminta saran terkait sosok M Nuh yang akan diusung sebagai Cagub Jatim 2018.

Senada, Partai Gerindra Jatim sudah mengajukan nama kepada Dewan Pimpinan Pusat (DPP) untuk diusung sebagai Cagub di Pilgub Jatim 2018. Selain La Nyalla Mattalitti, nama M Nuh juga diusulkan.

Sekretaris DPD Partai Gerindra Jawa Timur Anwar Sadad mengungkapkan, partainya sudah mengajukan empat nama kepada Dewan Pimpinan Pusat (DPP) untuk diusung sebagai Cagub di Pilgub Jatim 2018. Keempat nama itu adalah Syaifullah Yusuf, Khofifah Indar Parawansa, M Nuh (mantan Mendiknas), serta La Nyalla Mattalitti.

“Kita sekarang dalam posisi menunggu keputusan dari DPP dalam hal ini dari Ketua Dewan Pembina (Prabowo Subianto),” kata Sekretaris DPD Partai Gerindra Jawa Timur Anwar Sadad, belum lama ini.

Seperti dikatakan sumber Nusantara.News sebelumnya, Gerindra memastikan tidak akan berkoalisi dengan partai yang sudah ada. Gerindra tidak mengusung pasangan Gus Ipul-Anas, dan juga Khofifah.

Dijelaskan sumber, jika Gerindra ikut mendukung Gus Ipul-Anas, maka partainya hanya berstatus ikut-ikutan saja. Jika Partai Gerindra hanya ikut-ikutan, maka proses konsolidasi partai tidak berjalan. Alasan lain, selama ini Khofifah capnya loyalis Jokowi, tentu itu akan berpengaruh di kampanye Pilpres 2019 untuk Prabowo. Karena itu Gerindra menginginkan ada calon sendiri. Dalam arti, Gerindra ingin membuka peluang adanya tiga pasang calon dalam Pilgub Jatim. Dan sosok La Nyalla Mattalitti adalah pilihannya.

Baca juga: Siapa pun Calonnya, Sosok Ini Penentu Kemenangan Pilgub Jatim

Teranyar, di internal Gerindra saat ini mulai muncul sinisme terhadap La Nyalla. Hal ini didasarkan munculnya sosok baru yakni M Nuh yang dianggap lebih baik ketimbang Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Jawa Timur tersebut. Beberapa pengurus di pusat pecah. Mereka menyayangkan jika Gerindra sampai mengusung La Nyalla. Karena di beberapa kantong suara di Jawa Timur, elektabilitas dan popularitasnya kurang menyakinkan.

Sebaliknya jika Gerindra mengusung M Nuh, dinamikan politik Jatim akan semakin menarik. Pasalnya, dari tiga kandidat semua sama-sama berasal dari NU. Selain itu, hanya M Nuh yang mampu menandingi Khofifah dan Gus Ipul.

Untuk diketahui, poros tengah terdiri dari Gerindra, PAN, dan PKS, yang memang masih memungkinkan untuk mengusung calon gubernur sendiri. Sebab, gabungan tiga parpol tersebut memiliki jumlah 24 kursi. Rinciannya, Gerindra 13 kursi, PAN 6 kursi, dan PKS 5 kursi.

Sementara pasangan Gus Ipul-Abdullah Anas yang resmi diusung PDIP dan PKB memilik 39 kursi (PKB: 20 kursi, PDIP: 19 kursi). Sedangkan Khofifah yang belum mengumumkan calon wakil disebut-sebut diusung Partai Demokrat 13 kursi, Golkar 11 kursi, Hanura 2 kursi, NasDem 4 kursi, dan PPP 5 kursi (Total 35 kursi).

Ingin Fokus Sosial Keagamaan

Adanya tawaran meramaikan bursa calon di Pilkada Jatim 2018, tampaknya tidak membuat M Nuh tertarik. Ia justru memilih fokus di bidang sosial keagamaan.

“Tawaran (menjadi cagub Jatim) memang banyak. Tetapi setelah pensiun, saya lebih komitmen untuk berkiprah di bidang sosial keagamaan,” katanya, Kamis (19/10/2017).

Menurutnya, saat ini yang mengurusi bidang politik sudah banyak, apalagi tokoh dan kader NU sudah banyak meramaikan politik Tanah Air. Tapi untuk urtusan sosial keagamaan justru tidak banyak. “Di sana (politik praktis) kan sudah banyak orangnya, saya memilih yang tidak banyak diurus orang, seperti pendidikan, rumah sakit, dan panti sosial tidak banyak menjadi pemikiran,” ujarnya.

Ketua Umum Yayasan Rumah Sakit Islam (Yarsis) yang menaungi RSI Wonokromo/Jemursari itu menjelaskan tokoh-tokoh NU yang terlibat dalam Pilkada Jatim sudah ada dua orang. Dan dua orang itu sudah membuat suara NU pecah. “Kader NU sudah dua, Gus Ipul dan Khofifah. Nah, dua orang saja sudah membuat suara NU pecah, apalagi kalau lebih dari dua,” imbuhnya.

Karena itu, salah seorang pengurus Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) itu mengaku dirinya lebih memilih urusan sosial keagamaan yang tidak banyak diurusi tokoh-tokoh.

Terpisah, Gus Ipul menanggapi dingin kemunculan nama M Nuh yang diwacanakan turut meramaikan bursa Cagub Jatim 2018. “Nggak apa-apa, baik saja (kemunculan poros tengah mengusung M Nuh). Politik itu dinamis. Yang katanya mendukung malah tidak mendukung, yang tidak dukung malah jadi mendukung ,itu biasa-biasa saja. Jadi tidak perlu dikhawatirkan,” sebut Gus Ipul saat bertandang ke kantor DPD PDIP Jatim, Rabu (18/10/2017).

Wakil Gubernur Jatim ini menambahkan, pasca PDIP deklarasi mengusungnya sebagai Cagub dan Abdullah Azwar Anas sebagai Cawagub Jatim, pihaknya akan rutin menggelar pertemuan dan sosialisasi ke masyarakat, khususnya dengan kiai dan tokoh masyarakat di Jatim.

Tak hanya dengan kiai, dia bersama dengan pasangannya, Azwar Anas juga akan rajin konsolidasi dengan partai pengusung, yakni PKB dan PDIP.

“Komunikasi dengan partai lain tetap kami lakukan dan kemungkinan besar akan bertambah (partai pengusung),” ujarnya sembari enggan menyebut partai yang dimaksud.

Soal tim pemenangan, Gus Ipul mengaku siap menerima siapa pun yang menjadi tim pemenangan. Ia menyatakan, bersama dengan pasangannya, Azwar Anas, akan bekerja maksimal. Karena itu pihaknya akan membagi tugas. “Kami akan bagi tugas. Kalau bersama, kami akan selalu bersama. Tapi tetap dalam koridor yang ada. Sesuai pesan Bu Mega, semua wilayah di Jatim harus tergarap dan dikerjakan bersama-sama. Mulai dari wilayah Mataraman, Arekan, dan Pendalungan (Tapal Kuda) dan pulau Madura,” tuturnya.

Sementara La Nyalla Mattalitti saat dikonfirmasi menyatakan dirinya akan tetap maju di Pilgub Jatim 2018 meski saat ini belum memiliki kendaraan. Dia juga bersaing dengan Gus Ipul dan Khofifah. Mantan Ketum PSSI ini optimis akan diusung PAN, Gerindra dan PKS.

Saat ditanya peluang akan diusung ketiga partai tersebut, La Nyalla mengaku tetap optimis. “InsyaAllah saya berharap dari Gerindra, PKS dan PAN,” kata La Nyalla usai mengisi Seminar Pekan Entrepreneur 2017 di Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang, Kamis (19/10/2017).

Jika diusung PAN, Gerindra dan PKS, La Nyalla bersedia digandengkan dengan siapa pun. Dia menyerahkan pasangannya kepada DPP masing-masing partai. “Terserah dari partai pusat lah, saya hanya mengikuti saja. Ada nama Pak Masfuk (Mantan Wabup Lamongan), ada nama Pak Yoto (Bupati Bojonegoro), ada nama Pak Emil Dardak (Bupati Trenggalek), ada nama Pak Hasan Aminudin (Mantan Bupati Probolinggo). Saya bisa kerjasama dengan siapa saja,” terang La Nyalla yang baru pulang umrah.

Menurut La Nyalla, kandidat calon Gubernur yang sudah muncul saat ini bukan pesaing yang ringan. Dia menilai, sosok Gus Ipul maupun Khofifah sama-sama bagus. “Tapi ya kita lihat nanti. Semuanya bergantung pada rakyat Jawa Timur, yang jelas siapa yang dipilih, yang diberi amanah rakyat Jawa Timur itu ga ada yang tahu. Semua ada garis tangannya masing-masing. Kalau saya ditanya ya insyaAllah saya yakin saya akan menjadi Gubernur Jawa Timur,” tegasnya.

Selain melalui partai, La Nyalla mengaku menyiapkan skenario kedua untuk maju melalui jalur perseorangan. Ini pilihan akternatif jika tidak ada parpol yang mengusungnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here