Posisi Jokowi dalam Konstelasi Pilgub Jatim

0
71
"Karena integritas Gus Ipul terbukti dua periode selama mendampingi Pak Karwo, dan itu perlu dilanjutkan untuk jabatan gubernur. Kedua, juga karena pengalaman Gus Ipul karena memberikan bantuan termasuk ide-ide dan gagasan kepada Pakde Karwo untuk kemajuan dan kemakmuran Provinsi Jatim”

Nusantara.news, Surabaya – Menelang pelaksanaan pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur, tidak salah jika ada yang menyebut keberadaan organisasi atau elemen apa pun bisa menjadi dua alias ‘bisa dipecah’. Itu untuk kepentingan dukung mendukung, diarahkan ke kandidat calon yang maju di Pilgub Jatim.

Bisa jadi, kalimat singkat itu tidak berlebihan untuk disuarakan, agar masyarakat juga paham tentang pentingnya penjabaran dari Pasal 28 UUD 1945 “Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang.”

Masyarakat juga perlu, jika ada contoh yang bisa dipecah misalnya munculnya ‘Deklarasi dan Dukungan’ yang dilakukan anak-anak muda yang menyebut dari kelompok Jaringan Alumni PMII (Jampi) Jatim, mereka memberikan dukungan untuk pasangan Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno, digelar di Hotel Suites Surabaya, Sabtu (24/3/2018).

Di akhir acara, saat wawancara dengan tegas Koordinator Jampi Jatim, Abdul Hamid menyebut mendukung pasangan Gus Ipul-Puti, karena dua alasan. Pertama, karena (oleh Jampi Jatim) integritas Gus Ipul dinilai mampu dan memberikan kontribusi positif untuk Gubernur Jatim Soekarwo, hingga dua periode jabatan. Kedua, selama dua periode, Gus Ipul mampu dan memiliki pengalaman membantu Pakde Karwo memajukan Provinsi Jatim. Selanjutnya, Jampi Jatim juga bertekad mengawal menuju sukses pasangan itu.

“Pertama karena integritas Gus Ipul, terbukti dua periode selama mendampingi Pakde Karwo, itu perlu dilanjutkan untuk jabatan gubernur. Kedua, karena pengalaman Gus Ipul memberikan bantuan termasuk ide-ide dan gagasan kepada Pakde Karwo untuk kemajuan dan kemakmuran Provinsi Jatim,” katanya.

Dalam gerakannya nanti Jampi Jatim, akan memberikan atau menyiapkan 19 ribu kader untuk disebar di semua TPS di seluruh Jatim. Tugasnya melakukan pengawasan dan mengawal untuk menuju kemenangan pasangan nomor urut dua. Dan, mereka yakin dengan hadirnya Jampi Jatim akan menambah amunisi baru kekuatan untuk pasangan yang diusung PKB, PDIP, Gerindra dan PKS itu. Ditambahkan, mereka yang tergabung di Jampi Jatim adalah murni anggota yang tidak duduk dan terikat di struktural kepengurusan PMII.

Bagian dari Kebebasan Berserikat

“Dukungan itu (Jampi Jatim) merupakan bagian dari kebebasan berserikat. “Faktanya, mereka memang alumni PMII” (Foto: Tudji)

Sementara, Anwar Sadad anggota DPRD Jatim yang partainya (Gerindra) juga sebagai partai politik pengusung pasangan Gus Ipul-Puti dan saat itu juga datang, menyebut itu (dukungan Jampi Jatim) merupakan bagian dari kebebasan berserikat. “Faktanya, mereka memang alumni PMII,” terang Sadad.

Masih soal Deklarasi dan Dukungan Jampi Jatim untuk salah satu pasangan di Pilgub Jatim. Muncul pernyataan sikap dari Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Jatim, yang menyebut elemen itu tidak ada.

“Tidak ada itu Jaringan Alumni Muda PMII, yang ada hanya Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia,” urai Ketua I PKC PMII Jatim, Abdul Goni, seperti ditulis di sebuah media online, Minggu (25/3/2018).

Abdul Goni yang juga mantan Ketua PMII Banyuwangi itu juga mengaku kecewa jika semua organisasi yang mengatasnamakan PMII terlibat aktif dalam politik praktis, apalagi untuk dukung mendukung pasangan calon di Pilgub Jatim.

“Kami sangat menyesalkan dan kecewa terhadap siapa pun oknum yang mengatasnamakan PMII. Ini mencelakai Simposium Perdamaian PMII yang pernah dilakukan di kampus UINSA Surabaya,” terangnya.

Pihaknya meminta IKA PMII Jatim segera menindaklanjuti, siapa saja yang mencatut nama organisasi alumni tersebut. IKA PMII juga diminta segera mengkonfirmasi oknum yang mengatasnamakan alumni.

Kemudian, Jainuddin dari PMII Jatim yang dihubungi lewat nomor WA nya, enggan menanggapi pertanyaan Nusantara.news yang menanyakan soal itu (Jampi Jatim).

“Mohon maaf enggeh Mas, Sy blm bisa berstatment Mas. Insya allah di momen lainnya mas,” tulis Jainuddin.

Sekedar tahu, dari sebuah Grup WA sejumlah obrolan dan komentar kiranya menarik untuk ikut dipaparkan dalam tulisan ini. Misalnya, komentar yang dilontarkan oleh seorang wartawan media cetak terbitan Surabaya. Dia menyebut, dukung mendukung adalah hal biasa dan bukan ilegal. Semua warga negara bisa membuat organisasi sesuai Pasal 28.

“Jampi itu perkumpulan (relawan) anak muda yang kebetulan alumni PMII. Mrk tak terkait struktur IKA PMII atau PMII,” tulis pemilik nomor WA dengan nama Punden tersebut. Dan, (rupanya) diharapkan komentar yang dilontarkan merupakan pencerahan.

Dia melanjutkan, biarlah anak-anak muda alumni PMII belajar berpolitik praktis memanfaatkan momen Pilgub Jatim. Toh kader PMII skrg sudah tersebar di berbagai Parpol. Siapa tahu mrk nanti dilirik jd kader parpol krn sudah teruji kerja politiknya.

Masih menurut pemilik akun WA itu, kiai sj ada yang jumhur dukung si A dan sebaliknya kiai yang lain dkng si B, mereka tak mufaroqoh dr NU (Nahdlatul Ulama).

Komunitas Pedagang Jatim Dukung Emil

Masih soal suasana jelang Pilgub Jatim, Emil Elistianto Dardak wakil dari Khofifah Indar Parawansa, saat menerima puluhan orang komunitas pedagang kecil para pelaku UMKM, dengan tegas akan terus mendampingi keberadaan mereka, hingga terpilih mendampingi Khofifah. Emil menegaskan terus membela sekaligus memproteksi pedagang kecil. Suami Arumi Bachin itu menegaskan, tidak perlu dengan semboyan berapi-api atau sebatas bilang pro ‘wong cilik’. Tetapi, yang dilakukan adalah menggandeng mereka dengan inovasi bersama, dan diwujudkan dalam wadah kreatif berpihak pada masyarakat.

“Kita harus jalan bareng, tidak hanya sekedar dengan semboyan berapi-api atau sebatas bilang pro ‘wong cilik’,” terang Emil saat menerima Pedagang Kaki Lima (PKL), pedagang tradisional, grosir serta pelaku UKM se-Jatim di Rumah Aspirasi, Khofifah-Emil di Surabaya, Senin (26/3/2018).

“Kita harus jalan bareng, tidak hanya sekedar dengan semboyan berapi-api atau sebatas bilang pro ‘wong cilik’,” terang Emil saat menerima Pedagang Kaki Lima (PKL), pedagang tradisional, grosir serta pelaku UKM se-Jatim di Rumah Aspirasi, Khofifah-Emil di Surabaya

Pemikiran berkemajuan yang disampaikan Emil itu kemudian diselingi dengan tanya jawab. Dari mereka, terlontar juga berbagai persoalan yang dihadapi termasuk terkait berbagai persoalan ekonomi, yang disampaikan Komunitas Pedagang yang menamakan diri Relawan Perjuangan Anak Bangsa itu. Selain itu, mereka juga memberikan pernyataan deklarasi mendukung pasangan Khofifah-Emil, untuk memenangi Pilgub Jatim.

Emil kemudian mencontohkan, salah satu inovasi yang telah dikembangkan di Trenggalek yakni communal branding alias menciptakan merek milik bersama. Itu, terang Emil karena pelaku UMKM tidak mungkin membuat merek sendiri karena biayanya terlalu mahal.

Di contohkan, di Trenggalek, di antaranya telah diterapkan di perajin batik desa. Hasilnya, satu merek yang sudah diakui di satu mall ternama di Jakarta, bisa menyerap produksi para perajin batik di Trenggalek dengan satu merek.

Di antaranya, ada yang bernama Batik Terang Ing Galih yang menjadi brand batik Trenggalek dan terkenal. Lanjut Emil, jika pelaku UMKM di suruh menanggung resiko bisnis sendirian, susah.

Sebaliknya, UMKM harus memainkan standing on the shoulder of giants alias berdiri di atas pundak pengusaha raksasa. Bersinergi dengan BUMN dan perusahaan besar lainnya jika produk yang dikembangkan ingin menjadi besar dan manfaatnya bisa dirasakan bersama-sama. Dan, itu bisa dicapai karena ada communal branding.

Dukungan Tanpa Syarat untuk Khofifah-Emil

Terkait dukungan yang diarahkan ke pasangan Khofifah-Emil, Koordinator Relawan Perjuangan Anak Bangsa, Sri Mince Endramawan mengatakan, lantaran salah satu program yang ditawarkan oleh Khofifah-Emil cocok dan tangguh untuk menjalankan kepemimpinan sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim.

“Mas Emil patut didukung untuk menjadi pemimpin kelanjutan setelah kepemimpinan Pakde Karwo,” kata Sri.

Sri juga menegaskan kalau dukungan yang diberikan kepada pasangan pemilik nomor urut satu itu tidak ada syarat khusus. Ditambahkan kalau kelompoknya juga sangat mendukung dan tidak ikut melakukan money politic, itu demi lahirnya pemimpin yang bertanggung jawab, dan bisa membawa perubahan untuk Jatim, lebih baik.

“Yang kita lakukan tidak ada komitmen duit-duitan (tidak ada komitmen uang),” tegasnya.

Pilgub Jatim Wes Buyar, Benarkah?

Ada yang menyebut, sepinya jelang pelaksanaan Pilgub Jatim lantaran kurang greget sosialisasi yang harus dilakukan oleh KPU Jatim. Salah satunya lantaran soal pelarangan spanduk, baliho pasangan calon yang dilakukan oleh masyarakat atau umum di sembarang tempat. Faktor lain, yang juga disuarakan oleh sebagian masyarakat yang menebak hajatan nasional itu telah “di setting” untuk kemenangan calon Presiden yang akan maju di Pilpres 2019.

Presiden Joko Widodo di Probolinggo, Jatim

Mereka melemparkan dugaan dan menyebut siapa pun nanti yang menang di Pilgub Jatim baik pasangan Khofifah-Emil atau Gus Ipul-Puti, tetap saja kemenangan itu milik kandidat Presiden yang saat ini masih memimpin, yakni Joko Widodo.

Pengamat Politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta Adi Prayitno menyebut ada kecenderungan Pilkada Serentak, termasuk di Pilgub Jatim juga menjadi jurus “keberhasilan” Jokowi. Meski, sebagai kepala negara Jokowi akan bersikap profesional dengan tidak menyatakan dukungan kepada salah satu pasangan siapa pun.

“Mungkin hati dan pikiran Pak Jokowi terbelah. Dalam arti harus diakui dukung Gus Ipul, tetapi saat bersamaan kedekatan Jokowi dan Khofifah tidak bisa dipungkiri,” ujar Adi.

Sementara, untuk hasil survei jelang Pilgub Jatim ini mendapat penilaian tidak sepanas di Pilgub Jatim lima tahun sebelumnya. Padahal hasil survei menunjukkan hasil yang sangat berbeda dengan lembaga survei lainnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here