Potret Pahit Produksi Gula Tebu Nasional

0
187
Sejumlah buruh mengangkut tebu saat panen di pesawahan Desa Bendo, Magetan, Jawa Timur, Selasa (11/7). ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/pras/17

Nusantara.news, Jakarta – Produksi gula tebu nasional dalam 20 tahun terakhir ini terus anjlok. Mengutip data Badan Pusat Statistik tentang Produksi Perkebunan Besar Menurut Jenis Tanaman, satu di antaranya tebu, terlihat sekali fluktuasi yang nyaris tidak beraturan. Tahun 1995 produksi gula tebu nasional mencapai 2,104 juta ton, namun 5 tahun berikutnya tinggal 1.780 juta ton, meningkat lagi 2,241 juta ton pada tahun 2005, dan naik lagi 2,375 juta ton pada 2010, namun pada 2015 kembali terjerambab 1,050 juta ton.

Memang, data produksi gula tebu nasional terkesan dibiarkan simpang siur. Data antara instansi yang satu dengan instansi yang lain berbeda-beda. Sepertinya tergantung apa kepentingannya. Kalau kepentingannya supaya ada impor maka data dibuat minimalis. Kalau kepentingannya untuk supaya pemerintah terlihat bekerja maka data dibuat tinggi. Data antara Asosiasi Gula Indonesia (AGI), Badan Perencana Pembangunan Nasional (Bappenas) dan BPS terlihat tidak satu angka.

Namun yang jelas, mengutip data BPS tentang Produksi Perkebunan Besar Menurit Jenis Tanaman yang diterbitkan BPS setiap 5 tahun sekali sejak 1995, terlihat produksi gula tebu nasional dalam 5 tahun terakhir antara 2011 – 2015 cenderung menurun. Padahal tingkat kebutuhan dalam negeri, baik untuk konsumsi maupun industri sudah pasti terus meningkat seiring naiknya jumlah penduduk dan pertumbuhan sektor industri makanan dan minuman.

Seberapa besarkah kebutuhan konsumsi gula tebu secara nasional? Dengan jumlah penduduk 261.1 juta (BPS 2016) dan kebutuhan gula per kapita 11 Kg per tahun, kebutuhan konsumsi nasional 2,87 juta ton per tahun. Memang, berpegang data dari lembaga apa saja yang terkait produksi gula tebu nasional tidak ada yang mengatakan cukup untuk kebutuhan dalam negeri. Belum lagi ditambah kebutuhan industri i yang diperkirakan mencapai 3 juta ton per tahun.

Terlebih berdasarkan data yang dipublikasikan Asosiasi Gula Indonesia (AGI) tercatat produksi gula nasional pada 2015 tercatat hanya mencapai 2,49 ton. Capaian ini lebih rendah jika dibandingkan target produksi gula nasional yang ditetapkan Kementerian Pertanian (Kementan) sebesar 2,7 juta ton. Produksi gula ini, beber Senior Advisor AGI Yudi Yusriadi, diperoleh dari areal pengusahaan seluas 446.060 hektar (ha) yang menghasilkan tebu panen sebanyak 30,1 juta ton, dengan produksi hablur mencapai 5,60 ton per ha, bobot tebu 67,6 ton per ha dan tingkat rendemen 8,28 persen.

Pada musim giling dai tahun 2015 itu, produksi gula dari semua perusahaan gula di Jawa mencapai 1,5 juta ton dengan luas areal 276 ribu ha dan menghasilkan tebu tergiling sebesar 18,9 juta ton, serta produktivitas hablur 5,55 ton per ha. “Sedangkan di luar Jawa, tercatat menghasilkan produksi gula sebesar 961 ribu ton dengan dukungan areal 169 ribu ton yang menghasilkan terbu tergiling 11,2 juta ton dengan produksi hablur 5,68 ton per ha,” terang Yudi.

Memang tren penurunan produksi gula nasinal dalam 5 tahun terakhir sulit dipungkiri. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) juga mencatat sejak enam tahun terakhir, produksi gula nasional hanya berkisar 2,3 juta hingga 2,5 juta ton. Sebaliknya tingkat kebutuhan nasional semakin membengkak. Tahun 2017 ini di[erkirakan mencapai 5,8 juta ton, maka masih ada kekurangan pasokan sekitar 3,5 hingga 4 juta ton yang mau tidak mau harus dipenuhi dari negara luar.

Akal Bulus Importir

Data produksi gula tebu nasional yang karut marut itu akan menjadi sumber kekacauan. Bukan tidak mungkin sebenarnya yang dibutuhkan 3,5 juta ton namun realisasi impor lebih dari itu. Membludaknya gula impor baik yang didatangkan secara legal maupun illegal sudah asti akan menekan harga gula di tingkat petani tebu yang kabarnya sudah pas-pasan dengan biaya produksi.

“Kebiasaan impor tanpa dasar data yang valid akan mematikan petani tebu kita, sementara yang makmur justru importir. Kebijakan ini hanya membuat petani enggan bercocok tanam. Dampaknya, volume impor pangan kita makin besar di masa mendatang. Perlu ada gebrakan mendasar dari pemerintah untuk membangkitkan produksi dalam negeri,” ungkap Ketua Umum APTRI Soemitro Samadikun, di Jakarta, pada (26/4) lalu,

Keputiusan impor tebu pada awal April 2017 yang lalu, karena Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita berpandangan produksi gula nasional hanya 1,2 juta ton, padahal kebutuhan konsumsi gula nasional menca[ai 3 juta ton. “Produksi tidak cukup. Harus impor,” tandas Enggartiasto.

Pandangan Menteri Perdagangan dibantah oleh Ketua Dewan Pembina APTRI Arum Sabil. Proyeksi Kemendag, ungkap Sabil, sama sekali bertolak-belakang dengan kondisi lapangan. “Berdasarkan hitungan petani tebu, produksi gula tahun ini sekitar 2,3 hingga 2,5 juta ton, lebih sekitar sejuta ton dari prakiraan Kemendag. Kalkulasi itu dibuat setelah mendata kondisi di lapangan termasuk cuaca, luasan areal, pabrik, serta pasokan dari petani,” papar Sabil.

Semakin kecil asumsi data produksi maka impor akan makin besar. Oleh karena itu, jika mengacu data yang tidak akurat, dalam hal ini terlalu rendah, dikhawatirkan gula impor akan membanjiri pasar mendesak hasil produksi petani nasional.

Mengutip berbagai data yang dihimpun APTRI, total izin impor gula nasional pada 2016 mencapai 4,89 juta ton, dengan realisasi impor 3,39 juta ton, sedangkan ketersediaan gula kristal putih (GKP) pada 2016 sebanyak 3,316 juta ton, terdiri atas stok fisik awal tahun 816 ribu ton dan prakiraan produksi GKP ex tebu 2,5 juta ton.

Janji Pemerintah

Dengan program revitalisasi pabrik gula dan penambahan jumlah [abrik gula yang baru Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menetakan target produksi 5 juta ton pada 2019. Dengan upaya ini Menteri BUMN Rini Soemarno berharap akan mengurangi ketergantungan gula impor, sebab sekarang ini saja kebutuhan gu;a nasional mencapai 6 juta ton per tahun.

Dua wisatawan mancanegara mengamati lokomotif uap di Pabrik Gula (PG) Semboro, Jember, Jawa Timur, Sabtu (12/8). ANTARA FOTO/Seno/Spt/17.

“Sementara produksi gula eksisting nasional masih mencapai 2,5 juta-2,8 juta ton/tahun. Jadi masih sangat jauh,” katanya di sela-sela penyerahan bantuan “Paket Ramadan” pada kegiatan “BUMN hadir untuk Negeri” di kebun teh Wonosari, Kec. Lawang, Kab. Malang, Jawa Timur, Selasa (6/6/2017) yang lalu.

Pabrik-pabrik gula milik BUMN nanti semuanya akan direvitalisasi, Sekarang yang sudah berjalan, terang Rini, sudah ada 3 pabrik gula (PG) milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII, dalam proses revitalisasi meliputi PG di Asembagus dari 3.000 ton cane day (TCD) menjadi 6.000 TCD, Jatiroto 7.000-10.000 TCD, dan Magetan 3.000-4.000 TCD.

PG Krebet Baru kapasitas gilingnya juga ditingkatkan lagi dari 12.000 TCD menjadi 15.000 TCD karena bahan bakunya sangat bagus di Kabupaten Malang. Petani masih dapat memasok tebu ke PG yang kapasitasnya telah ditingkatkan. “Jumlah tebu yang dihasilkan lebih banyak daripada kapasitas giling tebu di PG-PG yang ada di daerah sini,” katanya.

Program revitalisasi PG ini dibiayai ada yang campuran antara Penyertaan Modal Negara (PMN) dan pinjaman komersial, ada juga yang semua berasal dari pinjaman komersial. “Kalau RNI langsung komersial karena kinerjanya sudah cukup baik, kalau PTPN XI PMN dan komersial. Proporsinya, PMN 35% dan 65% komersial supaya kapasitasnya menjadi lebih besar,” jelas Rini

Total kapasitas giling  PG di bawah PTPN XI saat ini, sebanyak 41.000 TCD. Dengan direvitalisasi tiga PG baru, maka akan ditingkatkan menjadi 45.000 TCD. Investasi yang diperlukan keseluruhannya mencapai Rp3,1triliun dan yang sudah berjalan baru Rp1,6 triliun.

Selain program revitalisasi pemerintah juga mendorong pendirian dua PG baru di Jatim dan Jateng. PG baru di Jatim rencananya berada Asembagus, Situbodo, sedangkan di Jateng di Comal dengan kapasitas giling masing-masing 10.000 TCD, namun pada tahap awal operasi diperkirakan hanya 6.000 TCD. Investasi untuk pendirian PG dengan kapasitas giling 6.000 TCD mencapai Rp2 triliun.

Alasan pendirian PG baru di kedua lokasi itu karena potensi tebunya masih banyak sehingga tidak khawatir oleh tersendatnya pasokan. Dua PG itu akan ditangani PTPN holding dengan menggandeng mitra swasta, baik dalam negeri maupun asing. Mitra asing yang menyatakan berminat untuk investasi dari India, Taiwan, dan Thailand.

Dengan program revitalisasi dan pendirian dua PG yang baru Rni berharap pada tahun 2018 PTPN holding yang menangani PG-PG dapat memasok kebutuhan nasional antara 1,8 juta – 2 juta ton, dan pada tahun 2019 mampu memproduksi gula nasional sebesar 3 juta ton sehingga tahin 2019 nanti secara keseluruhan produksi gula tebu nasional mencapai 5 juta ton per tahun.

Terlepas dari itu semua, kesimpang-siuran pendataan yang berbeda-beda antar instansi perlu segera dibenahi. Tanpa itu ketidak-jelasan itu akan dimanfaatkan mafia impor untuk terus menggempur pasokan di dalam negeri. Maka, potret pahit akan menggelayut pilu menghampiri nasib petani di ladang-ladang tebu.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here