Bursa Cawapres Prabowo (2)

Prabowo-Aher, Pasangan ‘Solidarity Maker’ dan ‘Administrator Maker’

0
95

Nusantara.news, Jakarta – Hasil ijtima ulama beberapa waktu lalu memang mengusulkan dua kandidat pendamping Prabowo Subianto di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 mendatang, yaitu Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Aljufri dan Ustaz Abdul Somad. Pun begitu, bursa cawapres Prabowo lain, seperti Ahmad Heryawan (Aher), tak bisa dianggap remeh. Jika dipasangkan dengan Prabowo, Aher dinilai punya potensi kuat mengalahkan sang petahana, Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Ketika disinggung soal cawapres hasil ijtima ulama, Aher menyambut baik rekomendasi tersebut. Tetapi, menurutnya peta politik jelang pendaftaran pasangan calon Pilpres 2019 masih bisa berubah dan dinamis. Ia berpendapat bahwa calon pendamping untuk Prabowo di pilpres masih sangat terbuka lebar bagi masing-masing partai. Ia pun masih menunggu keputusan akhir yang akan ditetapkan oleh para petinggi partai.

“Kita tunggu ujungnya seperti apa, mudah mudahan ujungnya bagus dan menghadirkan calon yang bisa jadi pemenang di 2019, saya dalam posisi menunggu,” ujar Aher di Kampus Unpad Bandung, Selasa (31/7).

Seperti diketahui, Aher merupakan satu dari sembilan kader yang dipilih oleh PKS sebagai kandidat mendampingi Prabowo di Pemilu 2019. Sejauh ini, ia menyebut bahwa hasil survei internal, dia menempati urutan pertama. Dengan kata lain, ia merupakan salah satu calon terkuat.

Aher bahkan mulai bersosialisasi memperkenalkan diri ke berbagai daerah di Indonesia. Langkah ini dilakukan terkait pencalonan dirinya dalam bursa calon presiden-calon wakil presiden pada Pilpres 2019.  ”Saya masuk satu di antara sembilan capres dan cawapres dari PKS,” ungkap Aher beberapa waktu lalu.

Dia menuturkan dalam rangkaian pilpres itulah dirinya mulai berkenalan dengan masyarakat dan sosialisasi ke berbagai tempat seperti ke wilayah Provinsi Jawa Tengah (Jateng), Jawa Timur (Jatim), dan Sumatera. ”Kalau di Jawa Barat, relatif masyarakat lebih mengenal. Sekarang mulai keliling Jateng, Jatim, dan Sumatera,” ujar pria kelahiran Sukabumi, 19 Juni 1966 itu.

Menakar Kekuatan Prabowo-Aher

Aher merupakan gubernur yang cukup memiliki reputasi mentereng di daerah yang ia pimpin. Bahkan, mantan gubernur Jawa Barat ini menerima penghargaan tertinggi dari Presiden Jokowi yakni Parasanya Purnakarya Nugraha pada 25 April 2018 di Jakarta. Penghargaan itu diberikan karena kinerja gubernur dua periode ini dinilai berhasil, sekaligus melengkapi koleksi prestasinya yang ke-266 selama memimpin Jawa Barat.

Meski dengan penghargaan terbanyak dibanding kepala daerah lain, kader PKS ini tergolong ‘rendah hati’ dan jauh dari aksi-aksi gimmick politik yang menghebohkan publik ataupun narsis di media

Aher juga dinilai cocok untuk maju sebagai cawapres Prabowo Subianto. Aher dianggap memenuhi kriteria cawapres Prabowo sesuai yang diajukan Gerinda: memiliki faktor integritas, pengalaman, kapasitas, basis sosial, dan kecocokan.

Jika Aher dipasangkan dengan Prabowo, jejak kepemimpinannya yang gemilang di Jabar akan menjadi modal kuat yang melengkapi Prabowo. Sebab selama ini, Prabowo belum teruji duduk di birokrasi pemerintahan. Aher juga dinilai mampu memberi sumbangsih besar untuk memenangi Pilpres 2014 di Jabar. Dengan menyandingkan Aher-Prabowo, basis suara di Jabar diprediksi akan kembali dikuassi poros Prabowo.

Selain di Jabar, peluang Aher menggaet suara di daerah lain cukup terbuka. Hal ini mengingat Aher dekat dengan simpul-simpul ormas dan ulama di seluruh tanah air. Apalagi, Aher dikenal jago meracik siasat pemenangan. Terbukti, Pilpres 2014 suara jabar tumpah ruah ke capres Prabowo, dan pada Pilgub Jabar 2008 Aher yang tak diunggulkan tapi secara mengejutkan mampu mengalahkan para lawan raksasanya. Ia bahkan menang mudah di periode keduanya.

Bukan tak mungkin, Aher akan menerapkan pola siasat yang sama di pilpres mendatang guna “memanen suara” di daerah-daerah yang selama ini paceklik bagi Prabowo. Tentu saja, faktor mesin politik PKS yang militan menjadi nilai tambah bagi kemenangan pasangan ini.

Ahmad Heryawan (tiga dari kiri) berfoto bersama para pendukungnya untuk Pilpres 2019

Aher juga relatif muda (51 tahun) sehingga punya magnet tersendiri bagi kalangan generasi milenial. Gayanya yang low profile, tenang, bersahaja, serta komunikasi politiknya yang santun berpeluang menarik simpati pemilih, utamanya dari ceruk massa mengambang. Pun, sekaligus melengkapi kekurangan Prabowo yang cenderung meledak-ledak, kurang familiar di generasi milienial, tergolong tua, dan mudah “ditelikung” kawan-lawan politiknya. Sebaliknya, Prabowo yang militer, nasionalis tulen, tegas, dan kuat secara finansial, bisa menjadi komplementer Aher.

Rasanya tak berlebihan jika duet Prabowo-Aher diserupakan dengan kombinasi dwitunggal Soekarno-Hatta. Soekarno yang tipe solidarity maker dan Hatta seorang administrator maker tak jauh beda dengan Prabowo (solidarity maker) dan Aher (administrator). kombinasi dua tipikal kepemimpinan ini dianggap ideal bagi Indonesia.

Tipe solidarity maker lebih mengedepankan strategi retorik guna mengumbar gelora dan penyatuan solidaritas dengan memainkan simbol-simbol identitas. Sedangkan administrator lebih mengedepankan kecakapan administratif guna kelancaran implementasi visi dalam jejaring aparatus negara.

Persoalannya, duet pasangan Aher dengan Prabowo menurut sebagian pengamat tampaknya tidak akan signifikan mendongkrak suara di Pilpres 2019. Alasannya, karakteristik pemilih kedua calon yang didukung kelompok Islam politik tersebut cenderung tidak berbeda. Problem yang sama manakala Prabowo disandingkan dengan Gubernur DKI Anies Baswedan, Mantan Panglima TNI Gatot Nurmanyto, ataupun Zulkifli Hasan dari PAN. Hambatannya karena suara mereka dari ceruk yang sama. Kolam suaranya sama.

Tak bisa dipungkiri, Prabowo saat ini seperti terkunci oleh persepsi bahwa pendukungnya hanya segmented dari kalangan kanan. Karena itu, tim Prabowo perlu mematahkan persepsi itu dengan memperluas basis pendukung dari kalangan kiri, tengah, anak muda milenial, dan memproduksi wacana-wacana kemajemukan.

Salah satu cara barangkali dengan menggaet koalisi politik yang beda warna, bahkan capres yang dipilih harus merepresentasikan corak dari lawan politik. Atau jika dari kalangan non-partai, perlu sosok yang dicintai rakyat dan punya magnet suara tinggi.

Aher sendiri telah mengisyaratkan kesiapannya jika diminta maju sebagai calon wakil presiden mendampingi capres Prabowo Subianto. Akan tetapi, kata Aher, keputusan dirinya akan menjadi pasangan siapa pada pilpres nanti adalah sepenuhnya wewenang DPP PKS.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here