Prabowo dan Politik ‘Creative Destruction’

0
90
Calon Presiden Prabowo Subianto menyiapkan solusi penyelesaian permasalahan tata kelola BPJS Kesehatan yang terus-terusan mengalami defisit.

Nusantara.news, Jakarta – Sejauh ini, Prabowo memang dikenal melalui gaya kampanyenya yang tergolong hiperbolik. Kubu petahana menuding mantan Danjen Kopassus ini sebagai sosok yang menebar ketakutan dan menanamkan pesimisme dalam gaya kampanyenya. Merespons tudingan tersebut, Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga Dahnil Anzar Simanjuntak menyebut  narasi kubu Jokowi-Ma’ruf Amin seolah itu-itu saja: hoaks, pesimisme, bohong.

Dahnil menilai, kubu petahana kerap menggunakan narasi hoaks, pesimisme, dan sebagainya untuk menjawab kritik Prabowo. Dia memberi contoh ketika Prabowo menyampaikan pidato tentang negara bisa punah, langsung dibalas dengan pesimisme oleh kubu lawan.

“Contoh, Pak Prabowo ngomong, negara bisa punah saat tidak diurus dengan baik. Ini restoran saja bisa bangkrut kalau tidak dikelola dengan baik. Tapi, kalau orang yang anti-Prabowo pasti bilang, ini pesimisme,” ujar Dahnil, beberapa waktu lalu.

Mantan Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah itu menjelaskan bahwa yang dilakukan kubunya bukannya tanpa maksud. Ada teori creative destruction di balik berbagai langkah kampanye kandidat nomor urut 02 ini. Lantas apa itu creative destruction?

Istilah creative destruction, dicetuskan oleh ekonom sekaligus ilmuwan politik-ekonomi keturunan Austria-Amerika bernama Joseph Schumpeter pada dekade 1940-an. Pada awalnya memang konsep ini terdengar nyeleneh, karena bagaimana mungkin sebuah kerusakan bisa melahirkan pembangunan. Akan tetapi, lambat laun semuanya mulai diterima, sebab secara alamiah sistem dan metode ekonomi akan selalu berubah pada saat mengalami kejumudan.

Creative desctruction memiliki dua implikasi. Low-end disruption dan new-market disruptionLow-end disruption terjadi manakala inovasi menggerus kehidupan pemain atau entitas bisnis lama. Dalam konteks saat ini, contohnya kelahiran aplikasi-aplikasi seperti Uber, Go-Jek, Airbnb, dan star-up berbasis aplikasi sharing economy lainnya memiliki potensi merusak yang tidak disangka. Kata kunci dari creative desctruction adalah adanya inovasi dan kreativitas.

Jokow Usang, Prabowo Baru?

Dalam kadar tertentu, teori creative desctruction ala Schumpeter ini mirip dengan pendapat Charles Darwin tentang survival of the fittest. Dalam konteks ini, jika sesuatu yang lebih baik, lebih cepat, atau lebih murah muncul, maka sesuatu yang telah lebih dulu ada atau inkumben harus siap tergantikan. Memang, teori ini sebenarnya lebih dekat dengan dunia bisnis dan ekonomi. Akan tetapi, dunia politik juga bisa dikaitkan dengan teori ini.

Sebagaimana produk ekonomi dan bisnis, kejumudan atau rasa bosan juga bisa saja muncul dalam politik. Sebagaimana sistem ekonomi yang dapat berganti, rezim politik juga bisa saja berubah. Narasi seperti ini bisa saja tengah dibawa oleh Prabowo melalui gagasan creative destruction ini.

Barisan pemenangan Prabowo bisa saja sudah menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh lawannya selama ini sudah terlampau usang, sehingga diperlukan pemain baru. Dalam konteks ini, pemain baru ini diarahkan pada diri Prabowo.

Presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto saat berbincang di Teras Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (17112016) silam

Secara khusus, jika dikaitkan dengan pidato Indonesia punah dan beragam hiperbolanya, kubu Prabowo bisa saja tengah menyebutkan bahwa saat ini Indonesia tengah dalam ancaman destruksi atau kehancuran. Nuansa destruksi atau kepunahan ala Darwin tengah dikemukakan melalui narasi seperti itu.

Untuk mencegah hal itu, jika merujuk pada Schumpeter, maka dibutuhkan sesuatu yang baru untuk menggantikan inkumben. Pada titik ini, Prabowo seperti tengah memunculkan diri sebagai sosok yang akan membawa kebaruan dalam proses creative destruction tersebut. Selain itu, pada konteks creative destruction tersebut, Prabowo juga mengirim kritik kepada kubu petahana. Pemerintahan Jokowi seperti disebut sebagai rezim yang tengah mengalami destruksi dan bisa saja membawa kehancuran yang lebih besar.

Hanya saja, Prabowo-Sandi dan timnya perlu lebih banyak menyuguhkan konten-konten inovatif dalam kampanyenya sebagai syarat utama sebuah politik creative destruction. Sementara dari segi objek dilakukannya creative destruction sebenarnya sudah cukup beralasan: rezim (tatanan) lama sulit diharapkan karena kondisi kepemimpinan yang kurang kuat, ekonomi nasional bermasalah, utang menumpuk, harga-harga dan segala tarif melambung, serta beban hidup rakyat yang makin berat. Narasi perubahan memang mutlak disuarakan tim Prabowo.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here