Prabowo-Jokowi Rebutan “Emak-Emak”

0
108

Nusantara.news, Jakarta – Tak mau kalah dengan Joko Widodo (Jokowi) yang diuntungkan sebagai petahana, pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno pun sepertinya enggan diam saja. Salah satu terobosan yang belakangan mulai gencar didengungkan Sandiaga adalah menjaring suara pemilih perempuan melalui “partai emak-emak”. Strategi ini oleh sebagian pengamat dinilai efektif, mengingat pesona fisik Sandiaga yang mampu menarik dua kelompok pemilih: anak muda milenial dan kaum perempuan (emak).

Pertama sekali Sandiaga Uno bicara soal partai emak-emak setelah mendaftar sebagai capres-cawapres di gedung KPU di Jl Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (10/8) lalu. Sandiaga kembali bicara soal ’emak-emak’ empat hari berikutnya.

“Kita nggak banyak, data emak-emak yang kita pakai, data milenial yang kita pakai bahwa memang lapangan kerja susah didapat, dan harga tinggi itu jadi catatan kita dan data lainnya merujuk. Kita nggak mau melakukan manipulasi dari data tersebut,” ucap Sandi.

Tidak butuh waktu lama, kata-kata ‘partai emak-emak’ pun menarik perhatian pengguna media sosial. Dalam beberapa menit usai sambutan, kicauan tentangnya sudah meramaikan lini masa twitter. Topik tentang ‘partai emak-emak’ terus dikicaukan oleh warganet. Sebagian memuji langkah Sandiaga yang ikut peduli dengan kepentingan ‘emak-emak’. Bahkan dalam beberapa acara seperti di Jakarta dan Makassar, Sandiaga jadi sasaran cubit, peluk, foto, dan “korban” kegemasan ibu-ibu.

Tak hanya itu, bak cendawan di musim hujan, deklarasi relawan emak-emak pendukung Prabowo-Sandiaga pun bermunculan. Di antaranya, Partai Emak-Emak Pendukung Prabowo-Sandi (Pepes), Permak Bodi (Persatuan Emak-Emak untuk Prabowo-Sandi), Utadzah Peduli Negeri, Gempur (Gerakan Emak-Emak Peduli Rakyat), Melati Putih Indonesia, dan lainnya. Belum lagi komunitas emak-emak di gerakan #2019GantiPresiden dan Barisan Emak Militan Se-Indonesia yang berseberangan dengan Jokowi.

Keseriusan kubu Prabowo untuk menggeat suara kaum perempuan juga tampak dari rencana dibentuknya satuan tugas (satgas) emak-emak. Hal itu diungkapkan anggota Dewan Pembina Gerindra yang juga mantan Panglima TNI Djoko Santoso yang disebut-sebut menjadi ketua tim pemenangan Prabowo-Sandiaga. Sebelumnya, Ketua Bidang Advokasi Partai Gerindra Habiburokhman berkelakar, jubir Prabowo-Sandi berisikan emak-emak dari seluruh Indonesia.

Seakan tak mau ketinggalan dalam perebutan suara emak-emak, kubu Jokowi-Maruf Amin juga menginisiasi lahirnya gerakan perempuan yang dinamakan Suara Perempuan untuk Jokowi-Maruf (Super Jokowi). Sang deklarator yakni Ketua DPP PKB Ida Fauziah, menjelaskan, perempuan yang tergabung di Super Jokowi tidak hanya terdiri dari emak-emak namun juga ibu-ibu muda dan perempuan milenial. Selain itu, ada relawan Emak-Emak Militan Jokowi (Emji).

Relawan Emak-Emak Militan Jokowi (Emji)

Pengamat politik CSIS Arya Fernandes menilai diksi emak-emak memang mencuri perhatian karena lebih memorable alias mudah diingat orang. Arya juga menilai keberhasilan “menggoda” emak-emak pun tampak mulai berimbas pada tingkat popularitas Prabowo-Sandi. Hal itulah yang untuk saat ini sulit diimbangi oleh pesaingnya, Jokowi-Ma’ruf Amin.

“Saya lihat posisi Prabowo-Sandi lebih mampu merebut atensi orang dalam minggu ini, mereka juga lebih terlihat fokus di isu ekonomi dengan emak-emak itu. Sementara Jokowi masih sibuk dalam proses, atau mereka beda strategi ya. Kalau Sandi sudah mulai fokus dengan narasi kampanye, sedangkan Jokowi siapkan dulu infrastrukturnya baru mereka masuk ke isu,” kata Arya.

Partai Emak-Emak Pendukung Prabowo-Sandi (Pepes)

Keputusan kubu Prabowo, utamanya Sandi, untuk menyampaikan keberpihakannya kepada kaum perempuan tentulah merupakan bagian dari strategi politiknya apabila kita kaitkan dengan dengan insentif elektoral yang cukup potensial. Lebih-lebih, para ibu pula yang merasakan langsung dampak dari naiknya harga kebutuhan pokok yang terjadi belakangan ini. Sehingga wacana partai emak-emak ini pun dianggap mampu mewakili target kubu oposisi, yaitu difokuskan untuk menyerang pemerintahan Jokowi melalui isu-isu perekonomian, terutama ekonomi kerakyatan.

Sebagai penantang, kubu Prabowo dan Sandiaga memang patut diacungi jempol karena selangkah lebih maju, dibanding kubu Jokowi yang hingga kini masih belum terdengar program kampanyenya. Terutama karena pihak oposisi melakukan terobosan dengan memberikan perhatian besar pada masalah kesejahteraan dapur emak-emak.

Bagaimana Kekuatan Politik Emak-Emak?

Sejak pemilihan presiden langsung diberlakukan pada 2004, masyarakat Indonesia memiliki hak untuk menentukan siapa yang akan menempati kursi presiden dan wakil presiden. Sejak itu pula, figur seorang presiden atau wakil presiden mulai ikut menentukan arah pilihan masyarakat.

Sosok Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) misalnya, dipercaya juga terpilih dan berkuasa selama dua periode berkat faktor fisik yang disukai para ibu-ibu, selain track record lainnya. Sementara Jokowi, diyakini juga terpilih di Pilpres 2014 berkat citranya yang digambarkan sebagai pemimpin sederhana dan merakyat.

Faktor pesona dan citra seseorang, dalam politik dikenal sebagai the coattail effect atau efek ekor jas. Teori ini sendiri merujuk pada keterpilihan Presiden AS ke 29, Warren G. Harding yang terpilih berkat kharisma serta citra baik yang dibangun melalui media massa, sehingga masyarakat AS pun memberikan kesempatan padanya untuk berkuasa.

Secara politis, strategi menggaet pemilih melalui faktor fisik ini sendiri, berdasarkan teori perilaku pemilih (voting behavior), memperlihatkan kalau sebagian besar masyarakat masih termasuk dalam kategori pemilih yang mendasarkan pilihan pada faktor psikologis semata. Tipe ini, menurut para peneliti dari Michigan University juga mengandalkan sosialisasi politik berdasarkan lingkup pemilihnya.

Strategi ’the power of emak-emak’ ini sendiri, telah memperlihatkan keberhasilannya pada Pilgub Jatim di Pilkada Serentak yang berlangsung 27 Juni lalu. Fakta ini diungkap oleh Pengamat Politik Indo Barometer, Muhammad Qodari yang mengatakan kalau kemenangan Khofifah Indar Parawansa dan Emil Dardak tak lepas dari militansi Muslimat Nahdlatul Ulama (NU).

Kesempatan perempuan dalam menggunakan hak pilih memang tak boleh dipandang sebelah mata. Terlebih, potensi suara perempuan mencapai separuh dari total pemilih pada Pemilu 2019. Berdasarkan data KPU per 12 Juli 2018, dalam daftar pemilih sementara (DPS) Pemilu 2019 cukup imbang. Dari 185.639.674 pemilih di 34 provinsi seluruh Indonesia, sebanyak 92.843.299 adalah pemilih laki-laki dan 92.796.375 pemilih perempuan. Begitu pun pada Pilpres 2014, angkanya tak jauh beda: pemilih laki-laki sebanyak 93.439.610, dan pemilih perempuan 93.172.645 orang.

Dalam Pilkada serentak 2018 lalu, partisipasi suara perempuan bahkan lebih tinggi dibanding laki-laki. Ketua KPU Arief Budiman merinci hasil persentase itu pada pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, angka rata-rata partisipasi masyarakat mencapai 72,66 persen. “Terhitung partisipasi laki-laki mencapai 69,90 persen dan perempuan 75,93 persen,” terang Arief.

Sementara, dalam partisipasi pemilihan Bupati dan Wakil Bupati mencapai angka 75,56 persen dengan angka partisipasi peremuan lebih tinggi yaitu 77,68 persen dibanding partisipasi laki-laki yang hanya 73,46 persen. Sedangkan, tingkat partisipasi publik di tingkat kota memiliki 73,82 persen suara dengan persentase laki-lakinya yang juga lebih sedikit yaitu 70,76 persen dan partisipasi perempuan melebihi sekitar 6 persen, yaitu 76,90 persen.

Pendek kata, emak-emak punya ceruk suara yang amat besar, dianggap bisa mempengaruhi preferensi pilihan bagi suami, anak-anak, dan tetangga, juga jadi magnet politik. Pantas saja emak-emak diperebutkan kubu Prabowo dan Jokowi.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here