Prabowo Maju, Jokowi Anggap Angin Lalu

0
223

Nusantara.news, Jakarta – Jika orang-orang Gerindra atau pihak oposan senang Prabowo Subianto nyapres, itu hal lumrah. Bagi mereka yang tak ingin Joko Widodo (Jokowi) dua periode, juga wajar kalau berharap Prabowo bisa berkontestasi di Pilpres 2019. Yang jadi pertanyaan, mengapa para pendukung Jokowi juga ikut gembira. Ada yang memprediksi, mungkin karena Prabowo dianggap bukan pesaing yang kuat, sehingga para pendukung Jokowi yakin jagoannya itu akan kembali mengalahkan Prabowo.

Sebab itu, PDIP menyambut gembira pencapresan Prabowo di Pilpres 2019 mendatang. PDIP senang karena capres mereka, Jokowi, bertemu lawan lama. “Kalaupun Prabowo jadi capres, kami sambut gembira dan kita sudah tahu (Prabowo). Seperti dalam olahraga, kalau bertemu dengan pemain yang kita pernah ketemu, kita hafal pola,” ujar Ketua DPP PDIP Hendrawan Supratikno, Rabu (11/4/2018)

Apakah kegembiraan itu karena Prabowo lawan yang mudah bagi Jokowi? Politisi PDIP lainnya, Arteria Dahlan, tak ingin berspekulasi. Tapi, menurut dia, dari berbagai survei menyebut elektabilitas Jokowi selalu lebih tinggi dari Prabowo.

Ketum Hanura Oesman Sapta Odang (OSO) salah satu pimpinan parpol pendukung pemerintah juga senang Prabowo nyapres. “Bagus kalau begitu, bagus banget karena memang Pak Prabowo sudah sekian lama koar-koar. Kalau tidak mencalonkan diri, apa gunanya selama ini dia berkoar-koar,” kata Ketua DPD ini di gedung DPR.

Ketua DPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) pun tak kalah senangnya mendengar pencapresan Prabowo. Dengan majunya  Prabowo sebagai capres, kata Bamsoet, menguntungkan pendukung Jokowi. “Sekarang sudah jelas kan calonnya siapa, dan bagaimana yang diperkirakan, hanya ada dua kandidat, dua kubu yang akan bertarung di 2019. Pendukung Jokowi jadi lebih mudah mengatur strategi,” tutur politikus Golkar tersebut.

Kepala Staf Presiden Jenderal (Purn) Moeldoko bahkan mengapresiasi Prabowo nyapres, karena dengan begitu Jokowi akan punya sparring partner (mitra bertanding, rekan latihan). Bagi penggemar tinju, tentu tahu bahwa sebelum bertanding para petinju akan berlatih tanding dengan sparring partnernya. Apakah menyebut Prabowo sebagai sparring partner berarti mantan Danjen Kopassus itu bukan lawan tanding sesungguhnya, atau dengan kata lain merendahkan Prabowo? Entahlah.

Yang jelas, mantan Panglima TNI ini menyebut dengan majunya Prabowo berarti Jokowi yang dijagokannya akan punya lawan untuk berkompetisi. “Kalau ada sparring partner-nya, kan enak,” cetus Moeldoko.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Andre Rosiade yakin bahwa kubu Jokowi sebenarnya khawatir dengan majunya kembali Prabowo dalam pemilihan presiden. Sebab, hanya Prabowo yang paling siap menjadi penantang Jokowi.

“Yang jelas itu kan bahasa di depan. Kita tahu mereka khawatir hadapi Pak Prabowo. Makanya dari tahun lalu dari kubu Jokowi melobi Pak Prabowo agar menjadi cawapres, itu kan menunjukkan kubu Pak Jokowi khawatir,” ujar Andre, Kamis, (12/4/2018).

Resmi Nyatakan Diri Siap Maju di Pilpres 2019, Prabowo: Saya Masih Bisa Berjuang! Pernyataan itu disampaikan Prabowo di acara Rakornas Gerinda di Bukit Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Rabu (11/4)

Sebelumnya, kesiapan nyapres Prabowo disampaikan di acara Rakornas Gerinda yang digelar di kompleks kediamannya, Bukit Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Rabu (11/4). Prabowo menerima mandat dari Gerindra untuk maju sebagai capres. “Saya menerima keputusan ini sebagai suatu penugasan, suatu amanat, suatu perintah, dan saya menyatakan siap melaksanakannya,” tegas Prabowo.

Jangan Remehkan Prabowo

Memang tak bisa dipungikiri, Jokowi adalah lawan tanding yang berat bagi Prabowo. Selain didukung oleh koalisi jumbo, Jokowi juga teratas dalam hal ekletabilitas dan popularitas oleh sejumlah lembaga survei. Terlebih, lawan Prabowo saat ini bukanlah Jokowi yang dahulu, Jokowi sekarang adalah capres petahana. Yang memiliki modal politik dan pencitraan yang jauh lebih cukup dibandingkan ketika bertarung dengannya pada Pilpres 2014.

Tak hanya itu, aksi-aksi gimmick politik Jokowi yang menyasar anak milenial belakangan ini kian agresif, bahkan hampir tiap pekan ada saja kehebohan Jokowi yang diperbincangkan netizen dan media mainstream. Sejumlah barang yang dikenakan Jokowi tak kalah masyhur alias viral di medsos. Salah satunya adalah sarung, sepatu, kaos, sandal, hingga motor.

Tak tanggung-tanggung, manuver Jokowi di kanal-kanal media sosial miliknya seperti di twitter, instagram, facebook, youtube, atau sekadar nge-vlog, tak kalah heboh. Ditambah akhir-akhir ini presiden makin rajin bertemu dan mengundang ulama ke istana. Semua manuver itu, sadar atau tidak seperti upaya “cicilan” Jokowi untuk mencoba menutupi titik lemahnya, sekaligus ‘kampanye gratis’ memperbesar peluang menang.

Dengan segala kuasa petahana dan modal politik seperti itu, tak heran Jokowi dan pendukungnya merasa di atas angin. Bahkan orang-orang di sekitar Jokowi secara terang membangun narasi-narasi politik yang jumawa, di antaranya wacana capres tunggal, Prabowo cawapres Jokowi, hingga ‘kampanye Jokowi 2 periode.’

Salah satu relawan Ruhut Sitompul, misalnya, sesumbar dengan nada ‘meremehkan’ lawan. Menurutnya, peluang Prabowo menjadi wapres Jokowi lebih terbuka ketimbang Prabowo maju sebagai capres dan duel dengan Jokowi. Pasalnya, jika Prabowo duel dengan Jokowi, Ruhut menyebut hal itu seperti membuang garam ke laut, karena Jokowi masih terlalu tangguh bagi Prabowo. Sehingga sudah bisa ditebak siapa pemenangnya sebelum duel tersaji.

Ngapain mau maju lagi kalau taunya kalah. Sama saja buang garam ke laut kan?” ucap juru bicara Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat di Pilkada DKI 2017 lalu.

Tapi, bagaimana kalau ternyata Jokowi yang kalah? Dalam politik semua bisa terjadi. Bukankah saat Pilpres 2004, pasangan SBY-Jusuf Kalla (JK) yang didukung partai gurem sanggup mengalahkan raksasa politik Megawati-Hasyim Muzadi yang didukung partai-partai kakap? Juga pada 2014, saat Jokowi-JK yang hanya diusung dua partai baru (Nasdem, Hanura) plus PDIP serta sosok Jokowi yang masih dianggap amatiran kala itu, tetapi mampu membalikkan keadaan dengan menaklukan pasangan Prabowo-Hatta yang dimajukan koalisi besar.

Di Pilgub DKI 2017 pun demikian. Bukankah pasangan Ahok-Djarot yang didukung koalisi gemuk dan digadang-gadang menang oleh sejumlah kalangan akhirnya harus mengakui kekalahan dari Anies-Sandi yang tak diunggulkan sebelumnya?

Apa sebab? Dalam beberapa kali pilpres dan pilkada, kecenderungan preferensi pilihan publik terhadap kandidat lebih pada ketokohannya, tanpa melihat latar belakang dan seberapa banyak partai yang mendukung. Dan tak menutup kemungkinan, pada pilpres 2019, ‘dejavu pilpres 2009 dan 2014’ akan membawa keberuntungan bagi Prabowo.

Jokowi mau nunduk, Prabowo mau hormat. Pemenang menunduk pada yang kalah, dan yang kalah menghormat kepada pemenang. Momen ini adalah fragmen paling elok sekaligus pembelajaran bagi pemimpin politik. Tradisi luhur ini perlu dijaga semua pihak.

Dengan koalisi partai pengusung Prabowo yang lebih sedikit (Gerindra dan kemungkinan ditambah PKS dan PAN), boleh jadi justru secara ruang gerak dan militansi lebih unggul. Prabowo dengan latar militer di satuan elite, bukan perkara sulit mengemas timnya selayaknya ‘pasukan elite’ di tubuh militer: sedikit tapi keahlian di atas rata-rata, dan tentu saja mematikan. Apalagi, sekutu politik Gerindra yaitu PKS, dikenal punya mesin politik yang solid dan kreatif.

Menyadari hal itu pula, barangkali tim Prabowo akan menerapkan strategi ‘pasukan komando’, yang bergerak efektif dalam jumlah yang terbatas. Seorang sniper (penembak runduk) dalam pasukan komando selalu berupaya agar tiap peluru yang ditembakkannya tepat mengenai sasaran. Ia tidak akan membuang-buang peluru karena memang amunisinya terbatas. Karena itu seorang penembak jitu akan selalu mempelajari sasarannya dengan cermat terlebih dahulu.

Berbeda dengan pasukan banpur (bantuan tempur) yang akan menembak membabi-buta ke segala penjuru. Karena tugasnya memang membuka jalan bagi pasukan satpur (satuan tempur).

Selain itu, kubu Jokowi yang merasa di atas angin dan terlalu percaya diri bisa berbuah petaka. Kepercayaan diri yang terlalu tinggi itu membuat mereka tidak meyadari jika ada kekuatan lawan yang tersembunyi. Benar, majunya Prabowo bagi tim Jokowi dinilai relatif lebih mudah dikalahkan karena mereka sudah mempelajari gaya politik dan kelemahannya. Di banding lawan baru yang belum sepenuhnya diketahui titik lemah serta kekuatannya.

Namun jangan lupa, Prabowo dan timnya tentu akan belajar dari kekalahan di Pilpres 2014. Tak menutup kemungkinan, mereka bahkan sudah menyiapkan siasat ampuh yang bisa menjatuhkan rival lamanya itu di Pilpres 2019.

Terakhir, kemenangan Prabowo atas Jokowi bisa terjadi karena adanya faktor “X”, yaitu faktor yang muncul di luar dugaan atau di luar kendali manusia. Sebagian orang menyebutnya faktor ilhiyah, adanya ‘campur tangan’ Tuhan. Sebagai contoh, cagub DKI Ahok tiba-tiba tersandung kasus Al-Maidah yang efeknya menggerogoti ‘ke-superpower-an” dirinya. Faktor “X” lain, tiba-tiba di masa injury time jelang hari pemungutan suara di putaran kedua, tesebar aksi bagi-bagi sembako oleh tim sukses yang membuat masyarakat antipati terhadap Ahok-Djarot.

Ahok juga terpancing persoalan isu agama dan fokus soal itu, maka itu menjadi basis yang tidak sepenuhnya dirawat dan mungkin jadi salah satu faktor. Prakondisi yang sama juga terjadi pada Jokowi jelang pilpres 2019 ini. Jokowi dan partai pendukungnya (termasuk media maintream partisan) kerap dibuat sibuk menanggapi isu-isu yang dilontarkan lawan politik.

Di saat bersamaan, kubu petahan selalu membangun narasi itu-itu saja yang monoton dan kadang membosankan untuk “menggebuk” pihak yang dianggap berseberangan dengan pemerintah, seperti narasi intoleransi, anti-Pancasila, ujaran kebencian, hoax, dan politik identitas (agama dan SARA).

Karena itu, kekalahan para Goliath (raksasa) oleh David (gembala, seorang kecil) seperti terjadi di Pilpres 2004, Pilpres 2014, Pilgub DKI 2017, dan Pilgub Jabar 2008, perlu menjadi pelajaran bagi Jokowi. Dan sepatutnya, tim di lingkaran Jokowi tak memandang remeh lawan. Bukan berarti takut kalah, tetapi memunculkan kewaspadaan yang tinggi. Dengan kewaspadaan yang tinggi, tim bisa memperkirakan “pada titik mana lawan akan bisa dikalahkan, dan pada sisi mana bisa melambungkan kemenangan”.

Namun,  jika Jokowi telanjur mabuk kepayang, maka tagar #2019GantiPresiden bukan sekadar isapan jempol.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here