Prajurit Estri Mangkunegaran: Cantik dan Mematikan

0
498
Prajurit Estri dalam pementasan tari pada tanggal 22-25 Juni 2012 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pementasan yang melibatkan puluhan penari ini disutradarai oleh Atilah Soeryadjaya bersama penata artistik Jay Subyakto.

Nusantara.news, Jakarta – “Perempuan ialah pria yang tak lengkap,” begitulah kata Aristoteles, filsuf Yunani Kuno, suatu ketika.

Kalimat lawas tersebut kerap membuat kaum hawa sewot dan kuping memerah. Karena selama ini, secara fisik dan psikologis, perempuan dianggap lemah, emosional, pasif, dan tidak mandiri. Mereka dikategorikan sebagai makhluk yang hanya pantas diserahi tugas —kalau sudah kawin— mengurus rumah tangga: dapur, kasur, sumur.

Pandangan yang seakan menjadi “kebenaran tunggal” di muka bumi ini segera luruh dan tak laku bagi Praja Mangkunegaran tempo dulu. Sebab, apabila dibentangkan sejarah panjang Mangkunegaran, ternyata perempuan Jawa pada abad ke-18 ini punya kisah-kisah heroik serta peran dominan dalam keluarga dan ranah sosial.

Tidak sedikit di antara mereka bahkan hadir di garis depan pertempuran, salah satunya  “pasukan estri” yang dibentuk oleh Mangkunegara I atau Pangeran Sambernyawa yang bertahta pada 1757-1795. Mereka beranggotakan sejumlah perempuan muda dan cantik yang mahir berperang.

Keberadaan pasukan ini muncul berkat buku harian yang ditulis seorang anggota prajurit estri antara tahun 1781-1791, namun tidak diketahui namanya. Di halaman pertama buku hariannya yang terdiri atas 303 lembar kertas kulit kayu itu, tertulis kalimat: “Perhatian! Penulis merupakan seorang pengarang dan laskar perempuan yang menyelesaikan cerita dari Babad Tutur pada bulan Siyam, hari ke-22, dalam tahun Jimawal 1717 di Kota Surakarta”.

Perihal pasukan estri ini, Sejarawan Barat Peter Carey mencatat: “Empat puluhan perempuan duduk berbaris di bahwa takhta Mangkunegara dan benar-benar bersenjata lengkap: berikat pinggang dengan sebilah keris diselipkan di sana, masing-masing memegang sebilah pedang atau sepucuk bedil […] harus diakui mereka pasukan kawal yang mengagumkan.”

Mereka pandai menunggang kuda, mampu menembakkan bedil dengan teratur dan tepat sasaran. Keterampilan mereka masih lebih tinggi dari prajurit lelaki terlatih pada masa itu. Pasukan ini serupa pasukan khusus yang bisa melakukan berbagai tugas-tugas rahasia.

Catatan harian pasukan estri tersebut kemudian diteliti oleh Ann Kumar, sejarawan Australian National University, dengan judul Javanese Court Society and Politics in the Late Eighteenth Century: The Record of A Lady Soldier. Lalu diterbitkan oleh Komunitas Bambu pada 2008 dengan judul Prajurit Perempuan Jawa: Kesaksian Ihwal Istana dan Politik Jawa Akhir Abad ke-18.

Sementara itu, Rikjlof van Goens, duta besar luar biasa Belanda yang dikirim ke Mataram pada pertengahan abad ke-17, memberikan informasi yang menarik mengenai keberadaan korps prajurit estri waktu itu. Ia menggambarkan mereka begitu trengginas. Tangan mereka memegang busur panah untuk melawan pedang musuh.

Namun, pada saat yang lain, para prajurit itu tetap menampakkan sifat asli putri Solo yang terkenal lemah lembut. Mereka memang tidak hanya dilatih memainkan senjata dan perang-perangan, tetapi juga menari, menyanyi, dan memainkan alat musik.

Sebenarnya, praktik kerajaan yang mempunyai pasukan perempuan bukanlah praktik sosial baru dan tidak hanya terdapat di Mangkunegara, tapi merupakan tradisi yang sudah lama ada di bumi nusantara. Di Aceh misalnya, pasukan perempuannya dikenal dengan nama ‘Inong Bale’ yang dipimpin oleh Keumalahayati. Dia memimpin pasukan perempuan yang terdiri dari para janda yang suaminya meninggal dalam perang melawan Portugis. Keumalahayati sendiri kemudian diangkat menjadi laksamana perempuan. Dan dia, tercatat sebagai laksamana perempuan pertama di dunia.

Beberapa lainnya, perempuan era lampau juga mempunyai ambisi politik, menyimpan hasrat kuasa, dan mengendalikan kuasa. Ternyata, para perempuan priyayi ketika itu pun bisa menikmati kebebasan dan kesempatan untuk bertindak serta berinisiatif pribadi yang lebih jauh. Hal itu bisa dilihat pada kisah Nyi Ageng Serang, perempuan ahli siasat dan strategi yang membantu Pangeran Diponegoro pada perang Jawa.

Jejak lebih purba lagi bisa dilacak pada pembentukan imperium Majapahit. Sebut saja misalnya Gayatri Rajapatni, permaisuri Raden Wijaya (pendiri Kerajaan Majapahit), yang menjadi sosok di balik kejayaan Majapahit. Dia adalah “sosok di istana yang mengenal dan membimbing nyaris seluruh sejawat laki-laki pada zamannya, termasuk Mahapatih Gadjah Mada yang gesit dan berkehendak kuat. Anak perempuan Gayatri sendiri yaitu Tribuana Tunggadewi bahkan menjadi ratu Majapahit yang kemudian melahirkan raja termasyhur: Hayam Wuruk.

Di bidang politik, prestasi raja ketiga dengan julukan Tribuanatunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani ini sangatlah menarik. Dia otak di balik padamnya pemberontakan Keta dan Sadeng. Bahkan dalam kasus Sadeng, raja perempuan pertama Majapahit ini bertindak sebagai panglima perang. Tidak hanya di situ, Tribuana juga terlibat sebagai pengarah disusunnya rencana besar yang di galang Gajah Mada melalui apa yang di sebut sebagai Sumpah Palapa.

Di bawah pemerintahan Tribuana, Majapahit sukses menakhlukkan Pejeng, Dalem Bedahulu (kerajaan yang terletak di Pulau Bali) dan seluruh wilayah Bali. Tidak cukup sampai di situ, Tribuana juga sukses menaklukkan Kerajaan Melayu, Sumatera.

Beberapa fakta di atas tentu saja semakin menegaskan tentang citra perempuan tidak seperti yang selama ini beredar: mereka dijinakkan dan terkungkung dalam tembok keraton. Sebab, jejak-jejak sejarah menunjukkan bahwa mereka sebelum Kartini sekalipun, nyatanya bukan sosok perempuan yang terbelenggu. Hal ini juga mematahkan anggapan Barat bahwa sejarah perempuan nusantara adalah kisah kelam perempuan yang hak dan perannya dipreteli. Padahal jika merujuk pada sejarah perempuan di Barat, mereka baru mempunyai hak pilih politik justru belakangan, yaitu pada abad ke-20.

Kembali ke prajurit estri, di balik kehebatan pasukan ini tentu saja ada orang besar yang membentuknya. Selain mereka yang kebanyakan para perempuan desa itu dilatih keprajuritan oleh Pangeran Sambernyawa, juga dipimpin oleh panglima perempuan pemberani bernama Matah Ati.

Siapakah Matah Ati itu? Dia adalah Rubiyah. Perempuan yang setia mendampingi perjuangan gerilya Pangeran Sambernyawa melawan  VOC-Belanda. Rubiyah dikenang sebagai panglima korps prajurit estri yang perkasa. Di kemudian hari, ia disebut sebagai Raden Ayu Matah Ati dan menjadi istri Pangeran Sambernyawa.

Matah Ati, Panglima Perempuan di Balik Kejayaan Mangkunegaran

Matah Ati terlahir dengan nama Rubiyah. Nama Matah Ati sendiri selain berarti perempuan dari Desa Matah, juga bermakna sebagai “sang penjaga hati pangeran”. Dia adalah anak perempuan Kyai Kasan Nuriman atau Kyai Matah, seorang ahli agama di Dusun Puh Kuning. Kyai Kasan Nuriman merupakan keluarga besar priyayi di Keraton Kasultanan Pajang, dan masih memiliki garis keturunan dengan Raja Kasultanan Pajang IV.

Pertemuan Matah Ati dengan Pangeran Sambernyawa terjadi secara tidak sengaja. Ketika itu Pangeran Sambernyawa tengah menonton pertunjukan wayang kulit di Dusun Bantengan sebelah utara Puh Kuning. Secara tak sengaja, dia melihat seorang gadis cantik dengan wajah begitu anggun duduk di dekat kelir wayang. Namun ada bagian yang sobek pada tepi kain yang dipakai gadis itu.

Karena penasaran, usai pentas wayang, Pangeran Sambernyawa kemudian memerintahkan anak buahnya untuk mencari perempuan dengan penanda tersebut dengan maksud hendak dijadikan istri. Perempuan itu akhirnya ditemukan. Dia adalah Rubiyah. Dan Pangeran Sambernyawa kaget sebab tidak menyangka gadis yang ditaksirnya itu adalah putri Kasan Nuriman alias sang guru spiritualnya. Akhirnya tanpa menunggu lama, ia segera melamar Rubiyah.

Sosok Matah Ati dalam sebuah Pementasan Sendratari Matah Ati

Setelah menikah, Rubiyah alias Matah Ati ikut berperang mendampingi suaminya. Salah satu peristiwa pertempuran besar yang dipimpin Matah Ati terjadi di kemiringan bukit di desa Selogiri, Wonogiri, Jawa Tengah. Peristiwa tersebut bergolak pada era awal 1700-an ketika Pangeran Sambernyawa bergerilya melawan kekuatan kolonial.

Laskar Perempuan dengan caping lebar, di bawah komando Matah Ati, bergerak mengendap-endap di balik pepohonan. Di bawah satu komando, para perempuan itu melempar caping maut mereka ke arah kepala tentara. Seketika pasukan Belanda itu terkapar.

Kali lain, pasukan estri yang berisi Prajurit Caping, Prajurit Pistol, dan Prajurit Gendewa, membaur dengan pasukan Pangeran Sambernyawa. Dengan formasi setengah lingkaran, mereka mengepung tentara Belanda. Prajurit gabungan itu terus merangsek maju. Belanda yang terdesak tak henti juga memberi perlawanan. Walau banyak jatuh korban, namun pada akhirnya Perang Besar itu dimenangkan oleh pasukan Matah Ati.

Keberhasilannya memimpin perjuangan bersama 40 prajurit inti perempuan, mempunyai andil kemenangan Pangeran Sambernyawa sehingga ia bertahta menjadi Mangkunegara I dan dirinya bergelar BRAy Kusuma Matah Ati. Dari Matah Ati inilah, lahir dua putera yang kemudian menjadi generasi penerus dinasti Mangkunegaran: Kangjeng Pangeran Arya Prabu Amijaya dan Raden Ayu Sombra.

Matah Ati bisa dijadikan contoh dan inspirasi untuk generasi muda Indonesia dalam melihat nilai-nilai tradisi dan kebudayaan. Matah Ati digambarkan sebagai wanita yang memiliki dua sisi yang mengagumkan. Dia bisa menjadi istri yang lembut, mulia, dan indah dalam gerakan tarinya. Ditambah dengan parasnya yang cantik menjadikan Matah Ati sosok sempurna sebagai wanita.

Namun, dia juga dapat menjelma jadi beringas dan tangkas ketika memimpin peperangan pada pasukan prajurit wanita. Tak pelak, Matah Ati  menjadi simbol semangat, ketangguhan, dan kesetaraan seorang perempuan Jawa.

Pada tahun 1878, Matah Hati meninggal dunia karena sakit. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman keluarga Mangkunegaran di Gunung Wijil Kecamatan Selogiri. Berjarak sekira 1 km ke arah barat dari Kecamatan Selogiri. Selain Matah Hati, juga ada sebanyak 26 makam prajurit wanita yang setia sehidup semati mendampingi Matah Hati. Menurut cerita, para prajuritnya itu pun meminta dimakamkan di dekat panglimanya, Matah Hati.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here