Prediksi Putaran II Pilgub DKI, Ahok – Djarot Menang?

2
1467

Nusantara.news, Surabaya – Setiap kemungkinan dalam percaturan politik Indonesia bisa saja terjadi, karena selalu ada variabel-variabel yang mempengaruhi terbukanya semua kemungkinan. Setiap kemungkinan politik yang terjadi tidak selalu berada dalam ruang hampa, karena itu hubungan silaturahmi antar tokoh atau partai menjadi sangat penting faedahnya secara politis.

Dalam politik, ikhtiar untuk saling menjajaki segala kemungkinan itu dianggap sah-sah saja, tidak ada batasan atau larangan siapa bertemu siapa, siapa lawan siapa dan semua itu wajar.

Hasil perhitungan suara di 13.023 TPS dari 5.563.425 daftar pemilih tetap berdasarkan rilis laman KPU https://pilkada2017.kpu.go.id/hasil/t1/dki_jakarta. Pasangan Agus – Sylvi meraih suara 17,05% atau dipilih oleh 936.609 pemilih. Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat, memperoleh 42,91% suara atau dipilih 2.357.587 pemilih. Adapun pasangan cagub-cawagub nomor pemilihan tiga,  Anies -Sandiaga Uno, meraih 40,05% atau 2.200.636 suara. Pertanyaannya sekarang ke mana 17,05% suara Agus – Sylvi dalam putaran ke 2?

Sejumlah politisi di Jawa Timur memprediksikan bahwa suara Agus – Sylvi kemungkinan besar akan diberikan ke Anis – Sandi, seperti yang ramai dibicarakan bahwa siapapun Gubernur DKI Jakarta ‘asal bukan Ahok. Kedekatan dari faktor pemilih menjadi keuntungan besar bagi Anis – Sandi untuk bisa menjajaki kemungkinan menarik suara Agus – Sylvi. Bahkan Anis dan Agus dikabarkan sudah bertemu usai hasil quick qount. Ini benarkan oleh tim sukses Anis -SandaiagaYupen Hadi beberapa waktu lalu.

Namun kenyataannya 42 persen lebih warga di DKI Jakarta masih menginginkan Ahok – Djarot memimpin lagi, sementara sisanya (akumlasi pasangan 1 dan 3 yang jumlahnya lebih besar) menginginkan ada gubernur baru. Apakah ini berarti pasangan penantang akan melenggang mulus mengalahkan incumbent? Tunggu dulu, apakah 17 persen ini sepenuhnya akan menuju Anis – Sandi, mengingat putaran kedua nanti hanya dua pasangan saja?

Kemana 17,5% Suara Agus – Sylvi?

Jika kita ambil hipotesa sederhana—dengan asumsi bahwa tingkat partisipasi pemilih sama dengan dengan putaran pertama—bahwa 17 persen merupakan warga yang tidak mendukung Ahok – Djarot. Di sisi lain, ada kebijakan partai utuk mengarahkan pendukungnya memilih pasangan calon tertentu.

Parpol pendukung Agus – Sylvi (P. Demokrat, PKB, PAN, dan PPP) sama-sama mempunyai otoritas dan kebijakan masing-masing, maka ada kemungkinan PAN akan bergabung dengan Anis – Sandi yang didukung Partai Gerindra dan PKS rekan koalisinya pada Pilpres 2014 yang mengusung pasangan Prabowo Subianto – Hatta Rajasa.

Demikian pula dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang akan kembali ke koalisi kebangsaan. Sementara Partai Persatuan Pembangunan (PPP) kemungkinan besar tetap akan terbelah dua, terlepas dari kenyataan bahwa Djan Faridz sudah terlebih dulu menyatakan dukungan kepada pasangan Ahok – Djarot. Artinya, bisa diasumsikan  bahwa separuh suara PPP memang sudah berada di pihak Ahok – Djarot. Lalu, bagaimana dengan Partai Demokrat?

Seperti kita ketahui, partai berlambang Mercy ini lebih memilih untuk berada di tengah-tengah di Pilpres 2014. Partai ini cenderung untuk tidak ikut-ikutan alias netral. Hal ini bisa diartikan bahwa suara Agus – Sylvi diprediksi akan terbagi rata pada putaran kedua.

Sementara ini Partai Demokrat memang memilih tidak ikut cawe-cawe alias netral sebagimana dalam Pilpres 2014. Dengan demikian, secara sederhana bisa diterjemahkan bahwa suara AHY-Silvy akan terbagi rata, setidaknya di atas kertas.

Nah, jika prediksi ini benar makan 17% ini akan terbagi dua, dan pasangan Ahok – Djarot dipastikan menang dengan 52% berbanding 48%. Namun, semudah itukah Ahok – Djarot menang?

Pilgub DKI 2017 putaran II yang akan digelar 19 April ini sangat menentukan sikap dan langkah Partai Demokrat selanjutnya. Jika salah hitung, partai berlambang Mercy ini akan menemui jalan terjal di Pilpres 2019. Perhitungan yang cermat akan mentukan kelangsungan hidup generasi penerus partai. Seperti diketahui, Demokrat menjadi “kartu truf” di putaran kedua nanti untuk mengarahkan suaranya bagi dua paslon yang memperebutkan kursi DKI 1.

Demokrat: Simalakama

Partai Demokrat sepertinya dihadapkan pada situasi yang sulit. Jika suaranya diarahkan kepada Anis – Sandi itu sama saja dengan membesarkan ‘Lawan’, namun apabila diarahkan kepada pasangan Ahok – Djarot sama halnya menyehatkan ‘Lawan’.

Memilih netral dalam batas tertentu agak kurang pas bagi Demokrat untuk saat ini. Jika memilih berkoalisi, Demokrat akan menjadi partai ‘gurem’ di Pilres 2019 mengingat peta persaingan relatif tidak akan berubah seperti halnya komposisi koalisi parpol di Pilpres 2014.

Siapapun yang terpilih jadi gubernur Jakarta 2017 – 2022 sangat penting dan bisa sangat mempengaruhi langkah politik AHY berikutnya demikian juga bagi partai pendukung AHY – Silvy. Namun keputusan tetap harus diambil.

Pilihan pertama, jika Anies – Sandi menang tentu Gerindra akan bertambah besar di Pemilu 2019 karena mendapat limpahan suara dari Demokrat dan partai pendukungnya. Di sisi lain,   pengorbanan Sandi terbayar lunas setelah menggelontorkan uang Rp60 miliar. Maklum karena Sandi kemungkinan akan naik menjadi gubernur mengantikan Anies yang—jika ia berprestasi memimpin DKI Jakarta—berpeluang untuk maju dalam Pilpres 2019. Pengorbanan tidak sia-sia. Tapi mungkinkah ini terjadi?

Pilihan kedua, adalah dengan memberikan suara ke Ahok – Djarot. Keuntungan politiknya adalah tidak ada calon incumbent di Pilgub DKI 2022, mengingat pilihan ini juga tidak menjadikan suara PDIP menjadi besar—karena partai berlambang banteng moncong putih ini relatif sudah besar. Target Demokrat dalam opsi kedua ini adalah mengambil hati partai-partai lain di luar PDIP.

Pilihan ketiga, adalah—melalui kepiawaian SBY untuk mengambil posisi netral—yaitu dengan  mengarahkan dukungan pada pasangan Ahok – Djarot tanpa perlu dilakukan secara terbuka. Jika asumsi ini lebih bisa diterima, maka dua pasangan calon yang bertarung di putaran kedua akan menerima masing-masing minimal setengah dari limpahan suara AHY – Silvy. Itu artinya hasil akhir tetap sama, perolehan suara putaran kedua adalah 52% berbanding 48% untuk kemenangan pasangan Ahok – Djarot, sekurang-kurangnya di atas kertas.

Politisi senior asal Golkar yang juga anggota Komisi X DPR RI Ridwan Hisjam menuturkan bahwa komuniaksi antar tokoh dan partai dalam dinamika politik Indonesia itu sah-sah saja. Apalagi jelang putaran kedua Pilgub DKI yang digelar 19 April nanti, segala kemungkinan bisa saja terjadi, tergantung lobi antar tokoh partai.

Merancang Skenario dan Membaca Peluang

“Saya kira semua peluang bisa saja terjadi, tergantung deal-deal politik antar partai atau tokoh partai. Partai Demokrat akan dukung Anis – Sandiaga kemungkinan besar akan terjadi, sebaliknya, tidak menutup peluang juga bahwa suara Agus – Sylvi juga akan lari ke Ahok – Djarot, semua bisa saja terjadi, dan itu sah,” jelasnya kepada nusantara.news, Senin (20/2/2017).

Sementara Wakil Ketu DPD Demokrat Jawa Timur Nur Muhyidin saat dikonfirmasi mengenai arah suara 17,5% pasangan Agus – Sylvi di putaran kedua Pilgub nanti mengatakan, hingga saat ini partainya belum menetukan arah suaranya. Namun, segala kemungkinan masih bisa terjadi.

“Demokrat selama ini selalu berusaha membangun komunikasi atau silaturhami dengan semua partai, termasuk dengan teman-teman di PDIP. Mungkin sekarang PDIP begitu menyadari pentingnya membangun silaturahmi antar partai terutama dengan Demokrat. Mau kemana suara Agus – Sylvi? Semua tergantung arahan Ketua Umum, tunggu tanggal mainnya saja,” tegas Muhyidin. Namun, mengingat masyarakat Jakarta berkarakter dinamis, pegeseran suara hingga pencoblosan di bulan April mendatang masih mungkin terjadi.[]

2 KOMENTAR

  1. Kemampuan SBY mempengaruhi pemilih Jkt saya kira sdh tdk sebesar 5 atau 10 tahun lalu..pemilih dki dalam pilgub sekarang lebih diwarnai primordialisme dan azas manfaat.. jika panwaslu dan kpud tidak mampu menanggulangi dan membiarkan money politics ahok yg semakin massive..bisa saja ahok menang.. sebaliknya dukungan kpd anies sandi yg semakin besar dng model kampanye door to door..peer to peer yg digerakkan relawan bisa saja menghasilkan pilihan yg positif bagi gubernur baru di jkt.

  2. kajian pilkada 1 DKI Jaya animo msyrkt trhdp AHOK-DJAROT kepuasan diatas 65% shgg suara diatas 40% diikuti 3 kandidat…blmn hny 2 kandidat putaran 2 dianalisis Babel Bersyair Dalam Bersyiar srt adnya demo 212-313 mk msyrakat DKI Jaya memilih AHOK-DJAROT diatas 55% dkrnkan msyrkat sdh menentukan mn pemimpin masyrakat dan mana pemimpin konglomerat disebabkan PNS 95% memilik AHOK-DJAROT oleh kepuasan ekonomi,sosial dan karir…..smg Pilkada 2 DKI Jaya berjalan Aman.Tertib.Sukses dan Demokrasi Rakyat……

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here