“Prepekan”, Tradisi Pedagang Pasar di Malang Saat Lebaran

0
142
Pedagang bahan dan bumbu dapur nampak ramai pembeli di Pasar Belimbing.

Nusantara.news, Kota Malang – Momentum Hari Raya Idul Fitri biasanya digunakan oleh masyarakat untuk pulang ke kampung halamannya masing-masing. Namun, banyak juga yang menjalankan aktivitas seperti biasa. Para pedagang di pasar-pasar di Kota Malang, misalnya.

Meski keadaan tidak seramai hari biasa, serta banyak para pedagang yang juga pulang ke kampung, namun tidak sedikit pedagang yang  tetap berjualan seperti biasanya.

Pedagang pasar akan tetap berjualan sepanjang, masa lebaran pada mereka yang tidak mudik atau pulang ke kampung halamannya. Kegiatan perdagangan pasar yang biasanya hanya aktif dan ramai pada pagi dan malam hari saja, dalam hal ini pasar akan terus buka dan ramai seharian bahkan siang pun juga masih tetap digelar kegiatan perdagangan.

Yang unik adalah para pedagang banyak yang beralih dagang sementara. Mereka menjual beberapa kebutuhan-kebutuhan yang dibutuhkan saat lebaran. Semacam pakaian baru, menyediakan kue dan panganan istimewa untuk menyambut tamu maupun keluarga yang datang. Tradisi ini disebut sebagai Prepekan Pasar. Tradisi tersebut gencar dilakukan H-3 lebaran lebaran hingga H+3 lebaran.

Ahmad Khusaeri, salah satu penjual aneka kue kering di sekitaran Pasar Belimbing Kota Malang, mengungkapkan terkait penjualannya. “Kami memanfaatkan momentum hari lebaran, kan biasanya pada pulang kampung halaman, tapi sebagian kecil juga banyak pedagang yang asal dekat-dekat sini saja sehingga tidak mudik,” ungkapnya, Kamis (29/6/2017).

Ahmad, sebelumnya di hari-hari biasa dipasar berjualan kelapa dan degan, namun ia beralih sementara untuk memanfaatkan peluang yang ada. “Biasanya sih, jualan kelapa sama degan, mumpung ini momentum lebaran pasti pada cari kue dan makanan-makanan lebaran pasti bisa laku,” imbuhnya

Ia menjelaskan bahwa kegiatan Prepekan Pasar ini memang sudah menjadi tradisi dan kebiasaan pedagang yang tidak pulang kampung. Sehingga masih terus berjualan, untuk melayani para konsumen lebaran yang pastinya butuh kebutuhan pangan di Pasar.

“Para pedagang biasanya mulai aktif selepas sholat Ied bersama, kemudian unjung-unjung kerabat dan keluarga sekitar dan sorenya pun mereka beraktivitas berdagang seperti biasanya,” pungkas Ahmad.

Lain lagi dengan Dewi Sutryaningsih penjual barang sembako dan bumbu-bumbu. “Tetap berjualan seperti biasa hanya libur dan jeda sholat Ied dan mengunjungi beberapa sanak keluarga terdekat. Masalahnya bumbu-bumbuan ini nanti pasti diperlukan untuk keluarga yang pasti masak-masak bersama keluarganya dirumah. Karena lebaran gini, banyak warung yang tutup.” tuturnya

Ahmad kembali menjelaskan bahwa tradisi ini pun sudah lama dilakukan oleh pedagang pasar yang tidak mudik. “Sama-sama saling membutuhkan, pedagang butuh pembeli dan begitu sebaliknya. Bayangkan kalau tidak ada toko ada pedagang yang buka kan juga tidak seimbang,” jelas Dia.

Raih Keuntungan Dua Kali Lipat

Memang tak banyak pedagang yang beraktivitas di musim Hari Raya Idul Fitri (Lebaran). Sebagaian besar menikmati perayaan hari besar keagamaan tersebut dengan istirahat, berkumpul keluarga, dan pulang ke kampung halamannya masing-masing.

Tradisi Prepekan Pasar, yang mana kemudian menjadi fenomena tersendiri bagi pedagang pasar di wilayah Kota Malang, dimana mereka (red: pedagang pasar) yang tidak memiliki kampung halaman memilih untuk berjualan dan beraktivitas seperti biasa.

Pasalnya permintaan pembeli pasti sangat banyak, mengingat banya pedagang dan toko-toko yang tutup masa Lebaran. Dalam tradisi ini pedagang bisa meraup keuntungan  hingga dua kali lipat dibandingkan pendapatan dihari – hari biasa.

Dewi Suryaningsih, pedagang sembako dan bumbu-bumbuan, menjelaskan pendapatannya. “Pendapatan yang didapatkan jauh lebih besar daripada hari biasa, soalnya banyak pedagang yang tutup jadi kalo cari apa-apa bahan dan bumbu dapur pastinya larinya ke sini,” jelasnya

Ia menjelaskan di Hari H hingga H+3 ini pihaknya menyetok bahan dagangannya sampai dengan dua kali lipat, dan itu bisa hampir selalu habis. “Banyak toko makanan yang tutup, sehingga masyarakat pasti memasak sendiri,” imbuhnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here