Presiden Macron Bertekad Perangi Terorisme dan Reformasi Uni Eropa

0
81
Presiden Prancis Francois Hollande yang berakhir masa jabatannya menyambut Presiden terpilih Emmanuel Macron yang tiba untuk upacara serah terima di Istana Elysee di Paris, Prancis, Minggu (14/5). ANTARA FOTO/REUTERS/Benoit Tessier/djo/17

Nusantara.news, Paris – Minggu (14/5) kemarin secara resmi Mahkamah Agung Perancis melantik Emmanuel Macron menjadi Presiden ke-8 Republik ke-5 Perancis, atau Presiden ke-25 sejak Revolusi Perancis. Saat dilantik usia Macron 39 tahun atau Presiden termuda sepanjang sejarah Perancis.

Penting dicatat di sini, Republik ke-5 Perancis berdiri pada 1958. Masa jabatan Presiden Perancis semula 7 tahun namun sejak Presiden Nicolas Sarkozy (2007-2012) hanya 5 tahun. Sepanjang sejarahnya Presiden Perancis berasal dari Partai Republik (Konservatif) atau Partai Sosialis (Kiri). Namun Macron yang pada April 2016 mendirikan gerakan En Marche! (Maju Terus!) yang kemudian berubah menjadi partai politik, maju lewat jalur independen. En Marche! ternyata mampu mengantarnya menjadi Presiden Perancis.

Setelah Macron secara resmi dilantik sebagai presiden, 21 tembakan meriam bergema dari monumen Invalides dimana Napoleon dimakamkan di seberang Sungai Seine. Setelah ditinggalkan Inggris, kini Perancis menjadi negara satu-satunya di Uni Eropa sebagai anggota tetap Dewan Kemanan PBB yang memiliki hak veto dan memiliki senjata nuklir di negaranya.

Sebelum dilantik Macron sempat berbincang satu jam dengan pendahulu sekaligus mantan bosnya saat menjabat Menteri Ekonomi, Francois Hollande. Dalam pertemuan itu dibahas isu-isu sensitif Perancis, termasuk kode nuklir negara itu.

Pada momen yang paling menyentuh bagi keduanya, Macron menemani Hollande ke mobilnya, berjabatan tangan dan memberinya tepukan tangan bersama karyawan kepresidenan Perancis yang berkumpul di halaman Istana.

Keduanya saling mengenal dengan baik. Macron adalah mantan penasehat Hollande ketika ia menjadi menteri ekonominya dari tahun 2014-2016 sewaktu ia berhenti dari pemerintah Sosialis itu untuk melancarkan upaya sendiri sebagai calon presiden independen.

Dalam pidato pelantikannya hari Minggu, Macron mengatakan akan melakukan apa saja yang diperlukan untuk memerangi terorisme dan kediktatoran dan menyelesaikan krisis migran dunia.

Ia juga menyebut “kapitalisme yang berlebihan di dunia” dan perubahan iklim termasuk diantara tantangannya di masa depan. “Kita akan melakukan tanggung jawab kita untuk memberi, setiap saat dibutuhkan, tanggapan yang sesuai terhadap krisis kontemporer yang besar” katanya.

Macron mengumumkan tekadnya mendorong reformasi yang membebaskan perekonomian negerinya. Dia juga bertekad “mewarnai” kebijakan Uni Eropa yang lebih efisien dan demokratis. Saat masih ada Inggris, diantara 28 negara Uni Eropa, skala ekonomi Perancis menempati posisi ketiga setelah Jerman dan Inggris.

Pelantikan Macron di Balairung Elysee dihadiri oleh 300 tamu undangan, termsuk Brigitte Macron, istrinya yang mengenakan gaun berwarna biru lavender karya perancang busana Perancis, Nicolas Ghesquiere dari Lois Vuitton.

Pejabat dalam negeri pertama yang akan ditemui Macron adalah Walikota Paris Anne Hidalgo. Setelah itu dia melakukan lawatan luar negeri pertamanya ke Jerman, bertemu Kanselir Angela Merkel yang bahagia atas kemenangan Macron.

Sebagaimana perintah konstitusi Perancis, begitu dilantik menjadi presiden, Macron harus menunjuk Perdana Menteri yang akan memimpin pemerintahan untuk beberapa hari mendatang.

Saat diumumkan sebagai pemenang Macron berjanji akan menyegarkan kabinetnya dengan menunjuk wajah-wajah baru di pemerintahannya. Sedang di Pemilu Legislatif, Partai En Marche yang baru didirikannya telah mengumumkan 428 calon yang akan memperebutkan 577 kursi Majelis Rendah pada Pemilu Legislatif Juni mendatang.

Macron ingin Partai En Marche! menguasai mayoritas di Parlemen agar program-programnya bisa dijalankan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here