Presiden Trump Baru Sadar Korea Utara Bukan Perkara Mudah

0
543
Warga berlatih untuk parade di lapangan utama Kim Il Sung, pusat kota Pyongyang, Korea Utara, Rabu (12/4). ANTARA FOTO/REUTERS

Nusantara.news, Washington – Setelah melakukan pembicaraan telepon dengan Presiden Cina Xi Jinping pada Rabu (12/4), Presiden Amerika Serikat Donald Trump baru menyadari bahwa bukan perkara mudah bagi Cina untuk menangani Korea Utara.

Presiden Trump menceritakan detil tentang pembicaraan teleponnya dengan Presiden Cina Xi Jinping pada Rabu (12/4) kepada Wall Street Journal yang terbit Rabu Sore.

Namun yang cukup mencengangkan, Trump mengaku setelah mendengarkan cerita Xi Jinping, barulah dia menyadari bahwa ternyata menyelesaikan masalah Korea Utara tidak sesederhana yang dibayangkan.

Dalam pertemuan pertamanya dengan Presiden Cina di resor Mar-a-lago pada awal April lalu, Trump begitu yakin bahwa hanya Cina-lah yang bisa menghilangkan ancaman nuklir yang ditimbulkan Korea Utara.

Dalam pembicaraan telepon tersebut, Presiden Xi Jinping dengan sabar memberikan penjelasan kepada Trump tentang bagaimana sebenarnya hubungan Cina – Korea, yang kemudian membuat Presiden AS itu mengubah persepsi soal kemampuan Cina mengendalikan Korea Utara.

“Setelah mendengarkan selama 10 menit, saya menyadari hal itu tidak mudah,” kata Trump.

“Saya mengira bahwa mereka memiliki kekuatan luar biasa atas Korea Utara, tapi ternyata itu tidak seperti yang Anda pikirkan,” katanya.

Pernyataan Presiden Trump ini menunjukkan bahwa selama ini Trump masih meyakini Cina bisa mengendalikan Korea Utara, sampai Presiden Cina memberi tahu kepadanya lewat sambungan telepon bahwa masalah Korea Utara sebenarnya rumit.

Menjadi pertanyaan, kenapa Trump memerlukan pemimpin Cina untuk menjelaskan fakta-fakta dasar tentang Korea Utara, padahal dia bisa saja bertanya kepada ahli Korea Utara yang dimiliki pemerintahannya.

Selain itu, ini juga artinya Presiden Trump justru mendapatkan informasi tentang masalah Asia Timur dari pemimpin negara yang merupakan rival terbesar AS di wilayah itu.

Menjadi aneh, ketika Trump ternyata baru menyadari tentang sebuah potensi konflik paling berbahaya di dunia, setelah dia melakukan hanya 10 menit percakapan dengan pemimpin Cina.

Pengakuan Presiden Trump tentang kompleksitas masalah di Korea Utara terjadi di tengah situasi yang semakin memanas di semenanjung Korea. Ketegangan antara AS dan Korea Utara makin meningkat hari-hari ini. Gugusan kapal induk USS Carl Vinson telah dikirim ke Semenanjung Korea akhir pekan lalu.

Dan Donald Trump baru menyadari situasinya tidak semudah yang dibayangkan?

Korea Utara mengecam pergerakan gugusan kapal induk AS ke semenanjung Korea, bahkan sudah mengancam akan melakukan serangan nuklir jika AS memprovokasi.

“Tentara kami yang kuat dan revolusioner sudah mengawasi setiap pergerakan pihak musuh, dengan mata nuklir kami terfokus, tidak saja pada basis pasukan di Korea Selatan dan Kawasan Pasifik tetapi juga di daratan AS,” kata surat kabar negara Rodong Sinmun yang dikelola Korea Utara.

Pada Kamis (13/4), wartawan asing di Korea Utara melaporkan telah diberi tahu untuk mempersiapkan sebuah “acara besar dan penting”. Sebagaimana dilansir Reuters, laporan awal menunjukkan Pyongyang tengah melakukan rencana untuk menguji perangkat nuklir  yang keenam kalinya dalam sejarah negara itu. Tapi, disebutkan semua tergantung dari respon pemerintahan Donald Trump.

Korea Utara juga tengah mempersiapkan peringatan kelahiran ke-105 pendiri negara itu, Kim Il Sung, yang tak lain kakek dari Kim Jong-Un pada Sabtu (15/4) mendatang.

Mantan presiden AS Barack Obama, sebelum melepas jabatannya di Gedung Putih, telah mengingatkan Donald Trump bahwa Korea Utara adalah masalah yang paling mendesak yang kemungkinan akan dihadapi pada masa kepresidenannya.

Menurut data Global Firepower, saat ini AS memang masih berada di peringkat nomor satu dalam kemampuan perang baik di darat, laut maupun udara.

“AS memiliki militer yang paling kuat di dunia, tanpa diragukan lagi,” kata Profesor John Blaxland, Kepala Strategic and Defence Studies Centre di Australian National University, sebagaimana dikutip news.com.au (11/4).

Anggaran pertahanan tahunan AS mencapai USD 581 miliar, jauh di atas anggaran militer Cina yang tidak separuhnya, hanya berjumlah sekitar USD 155 miliar, apalagi Korea Utara yang hanya USD 7,5 miliar.

Meski demikian, jika dilihat dari jumlah personel tentaranya, AS memang bukanlah yang terbanyak. AS memiliki personel militer aktif 1,4 juta dan tentara cadangan 1,1 juta.

Di perbatasan Korea Utara, AS hanya memiliki sekitar 20 ribu tentara secara permanen yang ditempatkan di Korea Selatan, serta sekitar 8 ribu personel Angkatan Udara dan pasukan khusus lainnya. Ada juga sekitar 50 ribu personil militer yang berbasis di Jepang.

Bandingkan dengan Korea Utara yang memiliki 700 ribu tentara aktif dan 4,5 juta tentara cadangan. Korea Utara juga memiliki sekitar 20 ribu roket dan rudal di perbatasan dengan Korea Selatan, yang secara jumlah itu cukup besar, apalagi jika hulu ledak nuklir itu benar adanya.

Menurut Blaxland, hal ini cukup menakutkan, sebab pasukan AS yang ditempatkan di Korea Selatan bisa saja menembak jatuh rudal-rudal yang dikirim Korea Utara, tapi masih ada kemungkinan mereka terlewat menghalau beberapa rudal.

“Tidak peduli seberapa baik teknologi Anda, jika rudal-rudal itu sudah menyentuh tanah, pasti akan ada korban massal,” kata Baxland.

Apakah Trump akan benar-benar menyerang Korea Utara? Kita tunggu saja. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here