Presiden Trump Tidak Akan Perangi Suriah

0
143
Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Hakim Mahkamah Agung Anthony Kennedy (tengah) dan Hakim Neil Gorsuch (ka) tiba di upacara pengambilan sumpah untuk Hakim Gorsuch sebagai Hakim Mahkamah Agung di Kebun Mawar Gedung Putih di Washington, Amerika Serikat, Senin (10/4). ANTARA FOTO/REUTERS

Nusantara.news, Washington – Berbeda dengan pernyataan-pernyataan pejabat tinggi Amerika Serikat sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pihaknya tidak punya rencana untuk terlibat lebih jauh dalam perang Suriah. Ini juga berarti, AS tidak akan melanjutkan serangan terbuka pertamanya ke Suriah pekan lalu ke tahap berikutnya, yaitu menggulingkan rezim Bashar Al-Assad.

“Kami tidak akan (berperang) ke Suriah. Tapi ketika saya melihat orang-orang menggunakan senjata kimia yang mengerikan, dimana mereka setuju untuk tidak menggunakannya di bawah pemerintahan Obama, tapi mereka melanggar itu …” kata Presiden Donald Trump dalam sebuah wawancara televisi jaringan Fox yang ditayangkan Rabu (12/4) pagi, sebagaimana dilansir Time.

Presiden Trump memerintahkan serangan rudal ke pangkalan udara Shayrat pada Kamis 6 April, atau Jumat (7/4) dini hari waktu Suriah, sebagai pembalasan atas serangan senjata kimia yang menewaskan lebih dari 80 orang di kota Khan Sheikhoun, Provinsi Idlib Suriah. Diduga, tentara rezim Assad berada di balik serangan tersebut.

“Hal ini untuk keamanan nasional Amerika Serikat, untuk mencegah dan menghalangi penyebaran serta penggunaan senjata kimia mematikan,” kata Presiden Trump dalam konferensi pers setelah melakukan serangan ke Suriah.

Tentu, pernyataan Trump terbaru ini berbeda dengan pernyataan-pernyataan para pejabat tinggi AS sebelumnya. Penasihat Keamanan Nasional Jenderal McMaster misalnya, sosok yang anti-Rusia itu, sebelumnya menyebutkan bahwa serangan Presiden Trump secara simultan bertujuan untuk menumpas ISIS di Suriah sekaligus juga “menumbangkan” rezim penguasa Suriah Bassar Al-Assad.

Menjadi pertanyaan, kenapa sikap Trump terhadap Suriah tampaknya berubah, padahal beberapa hari sebelumnya dia menggebu-gebu ingin menindak rezim penguasa Suriah yang disebutnya seperti “binatang” karena tega menggunakan senjata kimia untuk membunuh warganya sendiri. Trump bahkan sebelumnya menyerukan kejatuhan rezim penguasa Suriah itu. Trump juga menuding Presiden Rusia Vladimir Putin berada di belakang “orang jahat”.

Dugaan bahwa ada konspirasi antara AS dan Rusia di balik serangan ke Suriah pun menjadi masuk akal. Baca (Ini Teori Konspirasi di Balik Serangan AS ke Suriah) Trump diduga menggunakan momentum penyerangan terhadap Suriah, dimana rezim Assad didukung penuh oleh Rusia, sebagai upaya “pencitraan” bahwa seolah-olah Presiden AS ini bermusuhan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Trump diketahui tengah menghadapi konflik politik di dalam negeri dimana badan investigasi federal AS (FBI) saat ini sedang menyelidiki keterlibatan tim kampanye Trump saat Pemilu AS tahun 2016 yang diduga kuat melakukan kerja sama ilegal dengan pihak Rusia dalam upaya memenangkan Trump sebagai Presiden AS.

Sementara itu, menteri luar negeri AS Rex Tillerson, mantan petinggi ExonMobil yang tak lain sahabat dekat Presiden Vladimir Putin berangkat ke Rusia pada Selasa (11/4), setelah melakukan pertemuan dengan kelompok negara G7 yang memberi mandat kepadanya agar Rusia menarik dukungan atas rezim pemimpin Suriah Bassar As-Assad. Tillerson dalam pernyataannya sebelum terbang ke Rusia mengatakan, “Rusia harus memilih Suriah atau kami (AS)”.

Kunjungan Tillerson ke Rusia digambarkan oleh sejumlah media sebagai kunjungan yang “berat” bagi menteri luar negeri AS itu, karena harus “merayu” Rusia untuk meninggalkan sekutu lamanya, Suriah.

Seorang diplomat di Kremlin Rusia mengatakan, sulit untuk memahami “maksud sebenarnya” dari Presiden AS Donald Trump, yang memuji Rusia selama kampanye Pemilu AS tetapi berperilaku dingin terhadap Moskow dalam beberapa pekan terakhir.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan bahwa Rusia melihat tidakan AS sebagai pelanggaran.

“Kami telah melihat tindakan yang sangat mengkhawatirkan baru-baru ini dengan serangan yang melanggar hukum terhadap Suriah,” kata Lavrov.

“Kami menganggap, hal yang sangat penting adalah untuk mencegah terulangnya tindakan serupa di masa mendatang,” kata Lavrov.

Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson bertemu dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov di Moskow, Rabu (12/4). (Foto: AP)

Setelah pertemuan dengan Menlu Rusia, Rabu (12/4), Menlu Tillerson mengatakan bahwa keduanya memiliki pandangan yang “sangat terbuka, jujur dan terus terang” untuk mengklarifikasi secara umum soal serangan AS ke Suriah, namun mengakui tetap adanya perbedaan pandangan.

Presiden Rusia Vladimir Putin juga mengomentari kunjungan Tillerson ke negaranya. Dia mengatakan bahwa, hubungan antara Moskow dan Washington telah memburuk selama beberapa waktu pemerintahan Trump, dan bertentangan dengan harapan Rusia sebelumnya.

“Dapat dikatakan bahwa tingkat kepercayaan dalam kerja sama, terutama di tingkat militer, belum menjadi lebih baik bahkan kemungkinan besar telah terdegradasi,” kata Putin.

Rusia sebelumnya telah mendukung klaim Presiden Assad bahwa serangan gas kimia adalah berasal dari para pemberontak yang menimbun gas penyerang saraf, sarin. Gas itu dilepaskan ketika pasukan pemerintah Suriah menyerang salah satu gudang milik pemberontak.

Putin menambahkan, Assad telah menepati janjinya untuk membuang semua senjata kimia yang dimilikinya, “sejauh yang kami tahu,” kata Putin, sebagaimana dilansir Reuters, Rabu (12/4).

Vladimir Putin juga menyatakan kemungkinan akan bertemu dengan Menlu AS Rex Tillerson sebelum sahabat dekatnya, yang kini menjadi menteri di kabinet Donald Trump itu, sebelum dia meninggalkan Moskow. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here