Prestasi Olahraga Indonesia: Dulu Digdaya, Sekarang tak Berdaya

0
187

Nusantara.news, Jakarta – Dunia olahraga Indonesia jalan di tempat, prestasinya menurun, atau kualitas atlet bangsa lain yang meningkat tajam? Itu pertanyaan paling sederhana yang patut diajukan saat ini.

Sebab, di zaman Soekarno, supremasi olahraga Tanah Air begitu perkasa di laga dunia. Terlebih lagi di era Soeharto, prestasi olahraga Indonesia memasuki masa keemasan. Pada masa itu, olahraga juga menjadi energi pembangunan dan sumber kehormatan. Soekarno meletakkan olahraga sebagai bagian dari ‘Nation and Character Building‘, sedangkan Soeharto memandu rakyat menuju era pencapaian dengan slogan yang terkenal ‘Memasyarakatkan Olahraga, Mengolahragakan Masyarakat’. Keduanya menjadi bukti, sejarah kedigdayaan olahraga kita tak lepas dari hadirnya upaya sungguh-sungguh seorang pemimpin (negara).

Tingginya dukungan negara terhadap olahraga membawa dampak yang menggembirakan bagi torehan prestasi olahraga nasional. sepanjang era orde lama dan orde baru, kita merajai olahraga di Asia Tenggara, berbicara di tingkat Asia, dan langganan prestasi dunia untuk cabang bulu tangkis.Pada 1956, sepak bola Indonesia berhasil menahan imbang Uni Soviet. Selanjutnya, dalam Asian Games 1958, Indonesia berhasil meraih posisi tiga besar. hingga menjadi peringkat dua pada Asian Games Jakarta 1962.

Prestasi Olahraga di Masa Bung Karno

Di masa Soekarno, di usia Republik yang masih belia pasca-lepas dari  kolonialisme, ia punya ambisi membawa nama bangsa ke pentas dunia. Tak hanya berdimensi ekonomi, politik, militer, ataupun budaya, dia juga mencipta olahraga sebagai alat mengangkat marwah Indonesia. Salah satu ikhtiar itu, misalnya ketika Bung Karno “bertempur” dengan negara-negara lain untuk menjadikan Indonesia tuan rumah pada pesta olahraga Asian Games. Perjuangannya tak sia-sia, Jakarta akhirnya menang menjadi tuan rumah Asian Games IV pada 1962.

Bung Karno di depan maket Gelora Bung Karno

Bung Karno meyakini, dengan menjadi tuan rumah turnamen olahraga tingkat Asia itu, otomatis akan meningkatkan bargaining position Indonesia dalam percaturan politik dunia. Ia pada akhirnya mengabaikan kondisi ekonomi yang saat itu sedang terpuruk. Untuk itu, pembangunan infrastruktur seperti Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno) pun dikebut. Ia juga membangun jembatan Semanggi dan Tugu Selamat Datang, membuat jalan baru dari dan menuju Kompleks Senayan, ring road pertama yang merupakan Jalan Jakarta by-pass dan Jalan Slipi-Gatot Subroto, Jembatan Semanggi, Hotel Indonesia, Wisma Warta, Pusat Perbelanjaan Sarinah, dan Monumen Nasional.

Proyek-proyek tersebut dianggap Soekarno sebagai proyek ‘Nation and Character Building’ dalam menemukan kembali ‘kepribadian nasional’ bangsa Indonesia di tengah-tengah pergaulan dengan bangsa lain.

“… jikalau saya hubungkan, Asian Games dengan negara, dengan bangsa, dengan Tanah Air, dengan gengsi Indonesia, saya melihat hubungan yang amat erat sekali. Dan, kita semuanya harus mengangkat gengsi Indonesia, mengangkat nama Indonesia, mengangkat prestise Indonesia. Jikalau Asian Games berjalan dengan sebaik-baiknya, gengsi dan nama Indonesia naik setingkat lagi. Jikalau Asian Games gagal, tidak baik, tidak sempurna, nama Indonesia hancur lebur dipandang dunia seluruhnya,” kata Soekarno ketika itu.

Hanya berselang setahun, Soekarno kembali membuat buah bibir dunia lantaran menggelar Games of New Emerging Forces (Ganefo). Ajang multicabang itu memang dimaksudkan untuk menjadi ‘olimpiade tandingan’. Betapa tidak? Ganefo diikuti oleh 2.200 atlet dari 48 negara. Ganefo adalah alat propaganda Soekarno dalam menyebarkan konsepsinya mengenai dualisme kekuatan dunia saat itu: Oldefo (Old Established Forces) dan Nefo (New Emerging Forces). Pemicu lain adalah keputusan Komite Olimpiade Internasional (IOC) untuk mengeluarkan Indonesia dari keanggotaannya setelah kita menentang kepesertaan Israel dan Taiwan dalam Asian Games.

Selanjutnya, pada 18 Desember 1963, Bung Karno mengeluarkan Keputusan Presiden No. 263/1963 untuk memicu prestasi olahraga Indonesia dalam waktu yang sesingkat-singkatnya di taraf internasional yang setinggi-tingginya. Keputusan itu sebagai bentuk komando kepada seluruh rakyat Indonesia supaya menjadi sportminded dan ikut-serta dalam kegiatan olahraga yang merupakan bagian penting dari revolusi Indonesia. Perintah itu kemudian dituangkan dalam rencana yang dinamai ‘Rencana 10 Tahun Olahraga’.

Rencana 10 Tahun Olahraga melengkapi diri dengan 5 Program Dasar, yakni mempertinggi potensi fisik nasional (Gerakan Massal Olahraga), memperluas dan mengintensifkan gerakan olahraga di lingkungan pemuda/pelajar, membina Olahragawan-olahragawan yang potensial dan berbakat untuk mencapai prestasi tinggi, menyediakan kelengkapan-kelengkapan material dan spiritual untuk penyelenggaraan olahraga, konsolidasi Ganefo I dan Penggeloraan Gerakan Ganefo.

Dari semua upaya itu, Indonesia dapat mengikuti lima Asian Games sejak 1951 di India sampai 1966 di Thailand. Prestasi tertinggi Indonesia diperoleh pada Asian Games 1962 di Jakarta dengan perolehan 9 emas 12 perak 48 perunggu. Indonesia menempati peringkat ketiga, yang merupakan peringkat tertinggi sepanjang sejarah partisipasi di Asian Games.

Masa Keemasan Olahraga di Era Pak Harto

Berakhirnya kekuasaan Soekarno dan naiknya Soeharto tidak berarti perhatian terhadap olahraga menurun. Pertama-tama, Presiden Soeharto mencanangkan Gerakan Nasional tentang ‘Panji Olahraga’ pada tahun 1983. Salah satu motto yang paling populer dan fenomenal dari Panji Olahraga yakni “mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatkan olahraga”.

Pak Harto juga menetapkan Hari Olahraga Nasional pada 9 September guna peningkatan, pembinaan, dan perkembangan olahraga secara berkelanjutan. Penetapan itu dilakukan pada 1985, yang tanggal peringatannya diambil dari pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) pertama di Indonesia. Lewat PON inilah benih atlet-atlet di masa orde baru ditempa dan dikirim ke arena tanding mancanegara.

Presiden Soeharto di tengah massa yang memadati lapangan Gelora Bung Karno dalam suatu pertandingan olahraga

Hasilnya, dibuktikan lewat dominasi atlet nasional di kancah Asia Tenggara. Di era Soeharto, Indonesia berpartisipasi pertama kali dalam pesta olahraga dua tahunan SEA Games pada 1977. Sebelum SEA Games, acara itu bernama SEAP (Southeast Asian Peninsular) Games, yang bemula tahun 1959. Ketika pertama kali berpartisipasi, Indonesia langsung berada pada posisi terdepan dalam urusan pengumpulan medali dengan menggeser dominasi Thailand.

Pada periode kepemimpinan Soeharto tercatat Indonesia 11 kali ambil bagian sejak 1977 hingga 1997 dan kedudukan nomor satu hanya digeser Thailand saat negeri gajah putih itu menjadi tuan rumah pada 1985 di Bangkok dan 1995 di Chiang Mai.

Prestasi memukau lainnya, sebut saja Rudy Hartono menjadi juara termuda di All England (1968) dan pegang rekor delapan kali juara, tujuh kali secara berurutan. Piala Thomas pun menjadi langganan Indonesia dari 1970an-1990an. Selain itu, Indonesia untuk kali pertama memperoleh medali di ajang Olimpiade, trio panahan mendapatkan perak di Seoul 1988. Setelah perak, akhirnya emas Olimpiade bisa diraih di Barcelona 1992 lewat Susy Susanti dan Alan Budi Kusuma. Era emas Olimpiade terakhir di zaman Presiden Soeharto diberikan Ricky/Rexy di Atlanta 1996.

Setelah era Soeharto, muncul empat presiden pengganti, B.J. Habibie, Gus Dur, Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono. Kejadian memprihatinkan mengemuka, ketika Kementerian Olahraga dibubarkan saat Gus Dur dan Megawati menjadi presiden. SBY menghidupkan kembali Kementerian Olahraga, tetapi Indonesia belum bisa meraih kembali posisi puncak pada olahraga Asia Tenggara, apalagi tingkat Asia dan dunia.

Bagaimana Sekarang?

Entah kebetulan atau tidak, pasca reformasi politik yang terjadi di tanah air pada 1998, prestasi olahraga Indonesia cenderung menurun. Betul bahwa medali emas olimpiade bisa kita pertahankan, tapi tak bisa dipungkiri bahwa atlet bulutangkis kita semakin sulit mengimbangi persaingan atlet-atlet mancanegara.

Kini, di era reformasi, tak perlu kita membuka lembaran prestasi di tingkat Asia ataupun dunia, di tingkat ASEAN saja sudah terpuruk terpuruk. Prestasi kita itu terus menurun sejak SEA Games Brunei 1999, harus puas di posisi ketiga. Dua tahun berikutnya di Kuala Lumpur, posisi Indonesia merosot lagi ke urutan keempat dan itu berulang di Hanoi 2003. Rekor terburuk tercipta di Manila 2005 ketika tim nasional terperosok ke posisi kelima, lalu bertengger di tangga keempat di Thailand 2007.

Begitupun dengan SEA Games tahun-tahun berikutnya, Indonesia cenderung tetap di empat besar. Hanya di tahun 2011 di Jakarta, Indonesia menggondol juara umum. Dan SEA Games tahun 2017 ini di Malaysia, posisi Indonesia terpantau masih di urutan kelima. Menyedihkan.

Kenyataan ini kiranya menginspirasi bangsa Indonesia untuk melakukan pembenahan mendasar terhadap kebijakan olahraga nasional. Kemauan politik yang kuat, regulasi yang jelas, dan harmonisasi antara pemerintah, sektor swasta, dan organisasi olahraga perlu ditingkatkan. Berbagai persoalan yang merintangi pengembangan olahraga, seperti konflik kepentingan, politisasi, dan minimnya pendanaan, sudah saatnya diantisipasi. Di saat bersamaan, academic discourse dan pengetahuan olahraga harus terus dipacu guna melahirkan gagasan-gagasan, inovasi, dan agenda-agenda konkret untuk memajukan olahraga nasional.

Ingat, setiap keping medali emas yang diraih oleh atlet-atlet kita, sebanyak itu pulalah bendera Merah Putih dan lagu Indonesia Raya berkibar dan berkumandang di arena internasional. Jadi, mari kita kembalikan kejayaan olahraga Indonesia.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here