Pria Lamongan Ikrar Pancasila Saat Ibadah Sa’i, Salahkah?

0
207
Said Humaidy Aba Nick, pembimbing umroh asal Lamongan, Jawa Timur, yang videonya menjadi viral saat membaca Pancasila di tengah-tengah ibadah Sa'i.

Nusantara.news, Surabaya – Seorang pria asal Lamongan, Jawa Timur, menjadi viral setelah videonya diunggah di laman Facebook pada Sabtu, 10 Februari 2018. Video tersebut dilengkapi keterangan foto bertuliskan, “Putaran ketiga, Sa’i pada waktu umrah kedua. 10 Februari 2018. Semoga menjadi umrah yang mabrur. Amiiin..99x. InsyaAllah. Dan Mohon maaf bila dulur-dulur tidak berkenan atas video niki. Kulo punya makna tersendiri pada Pancasila”.

Pria yang diketahui bernama Said Humaidy Aba Nick ini adalah pembimbing umrah. Di laman Facebooknya, dia membagikan video saat menuntun jemaah membacakan Pancasila di tengah-tengah ibadah Sa’i. Sa’i adalah salah satu rukun umrah yakni berlari kecil dari Bukit Safa ke Bukit Marwah sebanyak 7 kali sejauh 3,5 km. Adapun dzikir dan do’a yang diungkapkan adalah sunnah.

Dalam tayangan video, Said Humaidy terlihat sedang menuntun jemaah menjalankan Sa’i sambil membacakan doa. Namun di sela-sela doa, tepatnya di putaran ketiga, ia menyelipkan bacaan atau ikrar Pancasila yang diikuti oleh para jemaahnya.

Karuan, video tersebut langsung viral di media sosial. Bahkan hingga kini sudah diputar sebanyak 11 ribu kali oleh warganet. Tak hanya itu, unggahan tersebut juga mendapat beragam  komentar dari warganet. Klik videonya di sini

Prof Suteki melalui akun Facebooknya menilai seorang WNI memang seharusnya menghayati dan mengamalkan Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Slogan selama ini ‘Saya Cinta Pancasila’ sudah bagus. Tapi dia mengatakan bahwa hal itu tidak usah terlalu dipaksakan. Sebab, semua ada koridornya.

“Apakah harus peribadatan (ibadah umroh) itu dipaksa-paksa untuk disesuaikan ala Indonesia dengan melakukan sai sambil membaca sila-sila Pancasila lengkap? Ini amalan berdasar madzab apa? Apakah hendak menjadikan Pancasila sebagai agama baru di Indonesia? Indonesia? Atau demi NKRI kita hendak mengagamakan Pancasila? Atau kita hendak mempancasilakan agama Islam? Bisakah Pancasila sebagai dasar agama Islam?” Kritik Prof Suteki.

Setelah itu dia menulis kata-kata: Mana yang benar, Agama di Atas Pancasila ataukah Pancasila di Atas Agama? Mana yang benar, Kitab Suci di Atas Konstitusi ataukah Konstitusi di Atas Kitab Suci?

Sementara warganet lain Hendra Purnomo dengan akunnya @Plekedix, menganggap apa yang disampaikan Said Humaidy dengan membaca Pancasila merupakan ungkapan doa kepada Allah SWT agar nilai-nilai Pancasila benar-benar terwujud di Indonesia. Karena apa yang tertuang dalam sila-sila Pancasila itu adalah harapan para founding father. Sehingga tidak usah selalu dikaitkan dengan penistaan agama.

Selain warganet, mantan ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD juga turut menanggapi video tersebut, melalui akun Twitter resminya. Menurut Mahfud MD, ikrar Pancasila yang dibaca Said Humaidy merupakan sindiran. Bisa saja sindiran ditujukan pada pemimpin negeri ini.

“Hahaha. Pagi-pagi setelah salat subuh di Singkawang melihat ini jadi tertawa ngakak. Saya yakin itu hoax, hanya dubbing. Tapi lumayanlah untuk menyindir kita,” tulis @mohmahfudmd, Minggu (11/2/2018).

Terpisah, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Yunahar Ilyas, menyesalkan perbuatan Said Humaidy yang menjadi pembimbing umrah sembari membacakan ikrar Pancasila. Menurutnya, hal itu sangat kontraproduktif.

“Nanti jadi korbannya Pancasila. Padahal yang keliru adalah orang bersangkutan. Memang sangat disesalkan, kenapa pembimbing itu mendiktekan Pancasila saat Sa’i,” kata Yunahar, Selasa (13/2/2018).

Dikatakan Yunahar, dalam ibadah Sa’i memang tidak melarang orang berbicara. Namun pembicaraan atau perkataan hanya yang diperlukan saja. Misalnya, saat suami berbicara kepada istrinya atau ada arahan dari pembimbingnya.

Ditegaskan, di sela-sela Sa’i para jemaah sebaiknya mengisinya dengan tetap beribadah, bersyukur pada Allah, membaca Alquran atau berdoa, dan membacakan kalimat tayyibah. Bukan malah membacakan kalimat yang tidak ada hubungannya dengan ibadah.

“Membacakan ikrar Pancasila saat Sai atau berdo’a sangat tidak pantas. Hal itu bisa jadi multitafsir. Bisa saja orang menganggap itu melecehkan atau menodai. Segala sesuatu ada tempatnya. Pembacaan Pancasila juga ada tempatnya,” lanjutnya.

Apakah pembacaan ikrar Pancasila bisa membatalkan Sa’i? Yunahar menjawab tidak. Sebab di tengah ibadah itu para jamaah boleh berbicara. Hanya saja tidak sesuai etika saja. Namun, pembacaan Pancasila saat Sa’i atau ibadah bisa dikatakan Bid’ah, jika seseorang meniatkannya sebagai ibadah. “Jika dia melakukan sesuatu perbuatan yang dianggapnya ibadah namun tidak ada tuntutannya adalah bid’ah, tapi tidak sampai membatalkan,” ujarnya.

Pancasila dan Agama Sinkron

Mengetahui apa yang dilakukannya menuai berbagai tanggapan terutama tanggapan miring, Said Humaidy Aba Nick pun meminta maaf. Ia pun menghapus video yang sudah terlanjur viral tersebut. Permintaan maafnya ditulis dan disampaikan kepada nitizen terutama masyarakat yang beragama Islam.

“Itu murni kekhilafan saya, tidak ada maksud menghina Pancasila apalagi agama, tidak ada rasa riya’,  cari sensasi apalagi sombong. Ini murni pengalaman spritual pribadi saya yang secara ikut tampil di majelis publik”, kata Said.

Lebih lanjut dia mengatakan, permintaan maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan dengan beredarnya video tersebut. Dia juga mengharapkan untuk tidak menyebarkan lagi video tersebut. “Yang masih menyimpan gak usah disebarkan, kalau kurang berkenan silakan dihapus saja”, pintanya.

Sementara itu salah satu jama’ah yang pernah ikut dalam bimbingan Said Humaidi ketika ibadah haji tahun 2015,  Hj. Ainiyatur Rofi’ah saat ditemui Nusantara.News, Selasa (13/2/2018) mengatakan hal seperti ini tidak hanya kali ini saja dilakukan. Pada waktu umroh di musim haji tahun 2015 pernah juga mengucapkan Pancasila.

“Kelihatannya tidak mengganggu wajib atau sunahnya. Sebab ibadah wajib sudah kita kerjakan dan begitu pula sunahnya. Disela-sela itulah kadang-kadang kita sudah sedikit mulai menurun semangatnya maka ketika aba (Said Humaidi biasa dipanggil) mengucapkan Pancasila kita jadi semangat lagi,” tuturnya.

Bagus Legowo, penggagas Rumah Pancasila, menilai video ikrar Pancasila yang viral di Tanah Suci, sebenarnya bisa diterjemahkan sebagai harapan yang bersangkutan. “Pancasila itu bisa berarti doa (harapan). Hanya karena saat ibadah Sa’i diucapkan dengan bahasa Indonesia, sehingga kesannya tidak etis,” ucap Bagus saat dihubungi Nusantara.News, Rabu (14/2/2018).

Yang perlu dilihat dari sini, kata Bagus, adalah esensinya. Jangan kemudian hanya dilihat dan didengar secara letter leg. “Orang membaca Pancasila saat ibadah hal yang wajar. Bisa saja itu berangkat dari keresahan dia sebagai orang Indonesia, sebab selama ini Pancasila hanya dipakai pajangan saja. Padahal selama ini pendiri bangsa memiliki harapan besar pada Pancasila. Namun pada kenyataannya semakin surut jiwa Pancasila kita,” ungkapnya.

Dikatakan Bagus, seharusnya masyarakat tidak perlu lagi mempersoalkan posisi antara agama dan negara. Pasalnya Pancasila dan agama itu sinkron. Memang tidak bisa disebut mana yang di atas dan mana yang di bawah. Ketika founding fathers kita menetapkan Pancasila sebagai dasar negara, itu hasil dari pemikiran dan kajian. Bedanya, agama itu komprehensif. Sehingga ketika Pancasila masuk dalam konstitusi, di dalamnya terdapat unsur-unsur agama yang apabila diterjemahkan dalam bahasa Arab, banyak kajian-kajian agama di dalamnya.

“Pancasila dan agama sinkron. Satu dengan yang lain tidak bisa dipisahkan. Kalau kita hanya memandang dari sisi agama saja, maka yang terjadi pertentangan. Nah, saat ini antara Pancasila dan agama sering ‘dihadap-hadapkan’. Banyak yang mempersepsikan Pancasila secara keliru,” terang Bagus.

Sejatinya napas atau ruh Pancasila itu adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Dalam agama setiap orang diajak untuk mengenal Tuhannya. Dalam Islam ada asmaul husna untuk mengenal nama-nama Tuhan. Agama lain juga begitu. Nah, di sini kemudian diatur dalam satu sila dengan harapan tercipta peradaban yang berbangsa dan bernegara dengan agama sama halnya memisahkan ikan dengan air atau memisahkan manusia (mahluk hidup) dengan oksigen.

“Pancasila ini merupakan falsafah bangsa dari hasil pemikiran yang mendalam. Secara antropologis ini merupakan local genius bangsa Indonesia. Begitu pentingnya memantapkan kedudukan Pancasila, maka Pancasila pun mengisyaratkan bahwa kesadaran akan adanya Tuhan milik semua orang dan berbagai agama. Tuhan menurut terminologi Pancasila adalah Tuhan Yang Maha Esa yang tak terbagi, yang maknanya sejalan dengan agama,” pungkasnya.

Dengan demikian Pancasila dan agama tidak sekadar berdampingan. Lebih dari itu dalam konteks kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, Pancasila akan kehilangan makna jika tidak dijiwai atau mengejawantahkan nilai-nilai kebenaran universal agama (Ketuhanan) itu sendiri.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here