Prioritas Proyek Infrastruktur di Jatim: Pariwisata atau Optimalisasi SDA

0
107
PRIORITAS: Proyek Tol Trans Jawa terus dikebut pemerintah dan ditarget tuntas 2019.

Nusantara.news, Surabaya – Periode 2014-2019 menjadi anak emas proyek infrastruktur pemerintahan Presiden Joko Widodo. Bahkan, pagu Anggaran Pendapatan belanja Negara (APBN) tahun ini saja, untuk infrastruktur ditetapkan sebesar Rp387,3 triliun. Jumlah ini meningkat Rp40,8 triliun dari pagu RAPBN 2017 yang menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani tidak boleh diganggu gugat.

Persoalannya, anggaran yang diproyeksikan terbagi untuk infrastruktur ekonomi (Rp377,8 triliun), infrastruktur sosial (Rp5,5 triliun) dan dukungan infrastruktur (Rp1,4 triliun), menghadapi dilema di tengah prediksi defisitnya penerimaan keuangan negara. Terutama untuk proyek infrastruktur di Jawa Timur.

Setidaknya ada 2 proyek besar yang kini dalam proses penuntasan. Yakni ruas tol Probolinggo-Banyuwangi sepanjang 172,91 kilometer dan proyek Jalur Lintas Selatan (JLS). Namun progres kedua proyek itu saling bertolak belakang. Sebelumnya, Presiden pernah menegaskan jalan tol penghubung Merak dan Banyuwangi (Tol Trans Jawa) ditarget harus sudah rampung pada 2019.

Khusus untuk tol Probolinggo-Banyuwangi, seperti yang dikatakan Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Herry Trisaputra Zuna di Jakarta beberapa waktu lalu, bahkan diperkirakan Oktober 2017 sudah tersambung. Ini berbeda dengan pengerjaan JLS yang di beberapa daerah masih tersendat. Semisal di wilayah kabupaten Blitar. Dari total JLS sepanjang 62 kilometer, tahun ini hanya bisa dikerjakan maksimal 10 kilometer.

Sehingga muncul kesan jika JLS yang di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono jadi prioritas, kini pengerjaannya dilakukan setengah hati. Hal ini tak lepas dari kucuran anggaran dari pusat yang diturunkan tidak sesuai kebutuhan. Kepala Dinas Pekerjaaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Blitar Harpiyanto Nugroho secara tersirat mengungkap hal ini.

“Anggaran yang sudah turun sebesar Rp 450 miliar dari pusat. Proses lelang akan kita lakukan karena dari total JLS, (anggaran) itu hanya bisa dikerjakan untuk proyek sepanjang 10 kilometer. Akhir 2017 sudah rampung dan siap digunakan,” terangnya kepada media, Jumat (21/7/2017).

Mengacu pada potensi ekonomi, proyek JLS diharapkan bisa memangkas disparitas dengan kawasan pantai utara (pantura). Tersedianya akses memadai melalui JLS itu yang diharapkan bisa membuka isolasi perekonomian. Di Jawa Timur sendiri, data Kementerian PUPR, proyek yang dikerjakan sepanjang 676,82 kilometer dari total proyek JLS Pulau Jawa (1.602,99 kilometer).

Padahal, tertundanya JLS berpotensi mengungkit lagi luka hati 8 daerah yang sebelumnya berharap banyak bisa berdiri sejajar dengan daerah lain di koridor tengah maupun pantura Jawa Timur. Terutama dari sisi ekonomi. Kendati punya potensi sumber daya alam (SDA) melimpah, namun akibat sulitnya akses di daerahnya, potensi itu belum terserap optimal.

Bandingkan dengan pengerjaan tol Surabaya-Banyuwangi. Sama-sama digunakan untuk mendorong kelancaran arus barang dan manusia, namun ada embel-embel lain yang dinilai Presiden Jokowi lebih layak untuk diprioritaskan. Yakni untuk mendukung Banyuwangi sebagai satu dari 10 destinasi wisata prioritas pemerintah.

Dengan berfungsinya akses bebas hambatan ini, waktu tempuh yang biasanya sekitar 6 jam bisa dipangkas setengahnya. Pengurangan waktu ini yang diharapkan bisa menambah minat wisatawan untuk ke Banyuwangi dari Surabaya. “Selain itu, adanya tujuh seksi berbentuk interchange (IC) yang melewati Probolinggo, Situbondo dan Banyuwangi, bisa juga mendongkrak perekonomian kawasan itu,” terang Herry Trisaputra menyinggung skala prioritas proyek ini.

Perlakuan berbeda pemerintah pada proyek infrastruktur di Jawa Timur ini memang wajar. Namun kembali pada tujuan awal untuk menambal defisit pendapatan, tentunya potensi SDA baik itu berupa pertanian, perikanan maupun tambang di kawasan selatan jauh lebih menjanjikan jika digarap serius. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here