Produksi Merosot, Ikon Kota Apel Dipertanyakan

0
125

Nusantara.news,  Kota Batu – Julukan setiap daerah diidentikan pada kharismatik berdasar pada historis, budaya maupun potensi disuatu daerah tersebut. Kota Batu yang merupakan salah satu kota di Provinsi Jawa Timur yang memilki karakteristik produksi Apel membuat Kota tersebut dijuluki sebagai Kota Apel.

Julukan Kota Apel pada saat masa kejayaannya sebagai sentra utama penghasil buah apel pada tahun 1980-1990an. Julukan ini disematkan karena apel adalah komoditas nomor satu yang dihasilkan warga petani Kota Batu sejak tahun 1960.

Jenis apel yang dikembangkan di Kota Batu kala itu kebanyakan adalah apel jenis Rome Beauty, Apel Ana dan Apel Manalagi, dan lainnya. Apel-apel tersebut pun didistribusikan dibergai macam tempat. Selain itu, Kota Batu yang juga memiliki potensi wisata yang banyak, disandingkan dengan Apel sebagai oleh-oleh khas.

Oleh-oleh khas yang juga disandingkan kawasan wisata dari penjuru daerah membuat komoditas Apel Kota Batu naik, dan dikenal di berbagai penjuru daerah di Indonesia.

Namun, julukan tersebut kini sedikit bergerser seiring redupnya produksi apel di Kota Batu. terhitung sejak 1997-2005, angka produksi tanaman jenis hortikulturaatau yang adadi kebun dan dibudidayakan di Kota Batu secara perlahan merosot dari tahun ke tahun.

Berdasarkan informasi yang dapat dihimpun, Data dari Dinas Pertanian Kota Batu tahun 2008 menunjukan, tingkat kemerosotan produksi mulai terjadi pada periode tahun 2000an. Jumlah pohon apel di Kota Batu pada tahun 1984-1988 mencapai ± 9.047.276 pohon.

Namun, seiring waktu berjalan mendekati tahun 2000, jumlah pohon apel di Kota Batu yang tercatat telah menurun menjadi hanya ± 3.107.195 pohon. Catatan terakhir, pada tahun 2004 jumlah tersebut kian merosot parah dengan hanya menyisakan sekitar ± 2 Juta pohon dengan angka produksi hanya 46 ribu ton per tahun.

Fenomena tersebut tidak hanya  terjadi di Kota Batu, kemerosotan produksi tanaman apel juga dialami di wilayah sentra produksi apel lain seperti Poncokusumo (Kabupaten Malang) dan Nongkojajar (Pasuruan).

Salah satu petani Kota Batu, Ngateman mengaukui bahwa produksi produksi Apel kian hari kian menurun, dilihat pada masa panen pada Bulan Oktober diakuinya ada penurunan hingga 70 persen.

“Banyak yang alih profesi, dari asalnya sebagai petani atau pemilik lahan produksi Apel ada yang dijual banyak dibuat hotel, perumahan kalau tidak begitu ya Villa,” jelasnya kepada Nusantara.news ketika ditemui di lahannya, Jum’at (17/11/2017).

Baca: Kota Batu Bukan Lagi Daerah Pertanian dan Perkebunan

Kondisi tersebut, seakan menjawab melihat realita pembangunan di Kota Batu yang gencar mendongkrak pariwisata, dan kurang memperhatikan lingkungan dan potensi asalinya yakni perebunan dan pertanian.

Sementara itu, Kasi Perbenihan dan Perlindungan Hortikultura Dispertan Kota Batu, Sri Nurcahyani Rahayu pun juga mengakui bahwa terjadi penurunan yang signifikan dari beberapa tahun ke tahun terkait produktifitas apel di Kota Batu.

Pihaknya menjelaskan, hal tersebut karena dampak dari perubahan mikro klimatologi seperti iklim dan suhu bumi yang kian meningkat sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan bunga dan buah dan juga arah prientasi pembangunan yang bergeser.

“Bisa jadi karena wilayah dan cuaca perubahan iklim, dan mindset orientasi pembangunan masyarakat banyak lahan beralih tanam, bahkan ada yang dijual dan dialih fungsikan,”jelas dia.

Lahan produktif apel di Kota Batu ada di enam wilayah, meliputi Desa Sumbergondo, Desa Tulungrejo, Desa Punten, Desa Bumiaji, Desa Bulukerto dan Desa Pandanrejo. “Tapi di Pandanrejo kini banyak petani yang beralih tanam jeruk. Hanya tersisa satu kelompok tani yang tetap tanam apel, tapi ya produksinya juga tidak terlalu signifikan,” jelas wanita paruh baya tersebut.

Selain itu, penurunan produksi juga diakui pihaknya oleh sebab faktor kesuburan tanah yang kian berkurang. Penurunan kualitas unsur hara tanah akibat penggunaan pestisida dan intensifikasi produksi yang dilakukan secara terus menerus.

“Kedepannya akan kita lakukan revitalisasi tanah dengan harapan bisa mengembalikan kualitas tanah lahan kita kayak jaman dulu lagi,” urainya dengan detail.

Pergeseran Kebun ke Wisata

Wajah Kota Batu yang dulunya terkenal sebagai Kota Apel dengan produksi perkebunan apel yang dikenal di berbagai penjuru kini semakin perlahan per tahun begeser menjadi Kota Wisata. Hal ersebut terlihat di beberapa tahun belakangan ini pembangunan Kota Batu semakin bergeser.

Pertumbuhan kondominium, hotel, café, pasar modern dan lainnya mulai marak di kota ini. Fenomena ini secara perlahan mengubah wajah, jati diri dan karakterstik Kota Batu yang awalnya dikenal sebagai kawasan geografis yang sangat cocok untuk areal pertanian, perkebunan dan pengembangan holtikultura, sekaligus sebagai wilayah resapan air.

Pergeseran tersebut terlihat dari PDRB Kota Batu 2016, dimana Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan jumlah nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan dari seluruh kegiatan perekonomian di suatu daerah yang biasanya dihitung dalam kurun waktu satu tahun.

PDRB mencerminkan salah satu ciri wajah dan karakteristik daerah terkait dengan arah, prioritas dan konsentrasi dalam perkembangan ekonomi daerah. PDRB Kota Batu 2016 terlihat Nilai pertubuhan dan produktifitasn bidang Pertanian, Perikanan dan Kehutanan lebih kecil dibandingkan dengan pembangunan konstruksi.

Sumber: Anaisa Situasi Pembangunan Manusia Kota Batu 2015

Kondisi demikian yang menjadi sebuah renungan bagi masyarakat Kota Batu, dan sekaligus menjadi ertanyaa julukan potensi daerah Kota Batu sebagai Kota Apel dipertanyakan. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here