Prof Zahro: Ayat Larang Pilih Pemimpin Nonmuslim Jelas, Jangan Ditafsir

0
143
Ahok-Djarot di kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Kramat, Jakarta Pusat, Senin (10/4/2017)

Nusantara.news, Surabaya – Perbedaan pendapat di dalam Ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama adalah hal biasa. Namun apa jadinya jika Hasil Muktamar NU ke XXX di Pondok Pesantren Lirboyo terkait haram hukumnya memilih pemimpin non muslim diabaikan oleh sejumlah kader NU.

Internal Nahdlatul Ulama (NU) saat ini sepertinya bergejolak di tingkat daerah. Semua itu lantaran sikap dari kelembagaan ormas Islam itu terkesan “bermain” di Pilkada DKI Jakarta. Bahkan permainan itu dilakoni sejak awal proses pesta demokrasi tersebut. Mereka menuding Ketua Umum (Ketum) PBNU Said Aqil Siradj melakukan tindakan yang tidak pantas dengan memberi dukungan kepada Ahok-Djarot di Pilkada DKI Jakarta.

Yang menjadi pertanyaan saat ini adalah mengapa Ansor di bawah kendali Nusron Wahid menjadi pembangkang terhadap sikap Rais Aam K.H. Ma’ruf Amin dan ulama sepuh lain yang menilai Basuki Tjahaja Purnama telah menodai agama Islam, justru mendukungnya untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta dalam Pilkada DKI putaran kedua 19 April nanti.

Bagaimana tanggapan para ulama dan warga nadhliyin terkait sikap Nusron? Ada apa di balik itu semua? siapa yang membuat NU menjadi terkotak-kotak? Maklum Pilkada DKI dianggap sebagai biang kerok krisis nasional saat ini terutama terhadap sikap para aparat negara yang selama ini belum melakukan tindakan tegas kepada Ahok yang dianggap sudah melakukan penistaan agama Islam.

Guru Besar IAIN Sunan Ampel Surabaya Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, M.A. menyatakan bahwa ayat-ayat tentang larangan memilih pemimpin nonmuslim itu sudah jelas dan pasti jadi tidak butuh penafsiran macam-macam lagi.

“Kalau kita bisa berbaik sangka, mungkin itu taktik moderasi. Kalau kita buruk sangka, maka yang melawan bahtsul masail dan masyayikh NU itu karena mencari atau dapat angpao. Kalau kita netral, maka itulah kebebasan berpolitik bagi orang NU. Tapi sesungguhnya tradisi NU sejak dulu adalah patuh pada ulama sepuh. Sekarang tradisi ini dibuyarkan oleh ulang petualang politik yang umumnya anak muda itu. Bagi saya ayat-ayat tentang larangan memilih pemimpin non muslim itu sudah jelas dan pasti tidak butuh penafsiran macam-macam lagi,” jelasnya kepada nusantara.news, Senin (17/4/2017).

Senada, Ketua PC GP Ansor Bondowoso Muzammil mengatakan,secara personal hak soal dukung mendukung dalam memilih pemimpin adalah hak setiap orang, hak berpolitik dan ikhtiar politik pribadi. NU juga tidak ada ruginya untuk selalu mengedepankan politik “keberagaman” seperti yang disalahartikan selama ini. Namun sebagai santri harus patuh pada ulama sepuh. “Tapi saya dukung keputusan PBNU yang melalui bahtsul masail di Lirboyo,” tegasnya.

Dampaknya pun sudah terlihat. Ulah Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj yang menyatakan dukungan pasangan calon Gubenrur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja dan Djarot membuat seluruh elemen dari PBNU atau Pengurus Cabang NU di Aceh Barat Daya (Abdya) membubarkan diri.

Pernyataan mundur massal itu disampaikan dalam konferensi pers yang digelar di Cafe Lauser, Minggu (16/4/2017). Ketua Harian Syuriyah PCNU Abdya Tgk Armisli menyatakan, mundurnya seluruh pengurus sebagai protes terkait sikap Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj yang mendukung Ahok-Djarot.

“Ini bukti kami membela Islam dan pemimpin Islam. Setidaknya di akhirat Allah SWT tahu PBNU Abdya menolak kafir jadi pemimpin,” tegasnya seperti dilansir dari Rakyat Aceh (Jawa Pos Group), Senin (17/4/2017).

Tgk Armisli menyebutkan, selaku umat Islam saat berhadapan dengan orang kafir, pihaknya tidak mungkin melakukan membela orang tersebut. “Yang harus dibela itu harus orang Islam. Bukan seperti yang dipertontonkan oleh PBNU yang mendukung kafir,” sesalnya.

Senada dengan Dewan Mustasyar Tgk Abdurahman Badar yang dengan tegas menyatakan dia menarik diri dari kepengurusan PCNU Abdya karena kecewa dengan sikap PBNU Pusat yang sudah menyentuh aqidah. Akibat ucapan dan sikap politiknyas yang mendukung Ahok yang bukan beragama Islam. “Kita mundur dan keluar dari NU karena pengurus NU Pusat sudah mendukung kafir,” tegasnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here