Menelaah Konglomerat Indonesia (3)

Profil 10 Konglomerat Indonesia

2
4447

Nusantara.news – Kekayaan satu keluarga pegusaha Djarum dari konglomerat Indonesia mencapai Rp 208 triliun (versi Forbes). Pundi-pundi keuangannya diperoleh dari bisnis rokok (Djarum). R. Budi Hartono dan Michael Hartono tercatat pada urutan ke 141 dan 146 orang terkaya di dunia tahun 2016. Grup ini melejit, setelah berhasil memenangkan lelang saham pemerintah di BCA karena menalangi BLBI yang diperoleh BCA senilai Rp 53 triliun millik Salim Group sebelum krisis moneter tahun 1998.

Hal yang mengejutkan, dalam tender mereka mengalahkan Salim Group (pendiri dan pemilik lama), berekses keluarnya Salim Group dari Bank Mega milik Chairul Tanjung (CT), karena Anthony Salim awalnya sangat yakin bahwa CT dapat mengatur pemenangan tender tersebut karena dekat dengan Presiden RI kala itu, Susilo Bambang Yudhoyono.

Setelah itu, Djarum juga dapat konsesi mengelola Kompleks Hotel Indonesia, yang dikelola dengan nama Hotel Indonesia Kempinski, dan lahan dioptimalkan dengan membangun mal paling mewah saat ini, yakni Grand Indonesia. Di lahan yang sama juga dibangun Gedung BCA, tentu dengan nilai yang fantastis untuk mengoptimalkan aset menjadi orang terkaya di Indonesia saat ini.

Cukai rokok yang diterima pemerintah senilai Rp 140 triliun (tahun 2015), 26% berasal dari Grup Djarum. Sementara aset BCA (tahun 2017) mencapai Rp 662 triliun), di posisi ketiga setelah BRI dan Bank Mandiri.

18 Konglomerat super kaya tinggal di Jakarta

Dari 24 konglomerat superkaya, 18 orang tinggal di Jakarta, sisanya tersebar di kota-kota besar di Indonesia, sebagian di Singapura (buron BLBI). Rata-rata kekayaan 24 besar ini di atas Rp 13 triliun. 24 konglomerat ini bagian dari 866 kalangan ultra kaya, 650 orang di antaranya masuk kategori ultrahigh net worth individuals (UHNWI) dengan aset di atas USD 30 juta atau di atas Rp 400 milar. 192 lainnya masuk golongan centa millionaires dengan kekayaan lebih dari USD 100 juta atau lebih dari Rp 1,4 triliun.

Jumlah kekayaannya akan terus meningkat seperti deret hitung, maka jangan heran 4 orang terkaya (Budi Hartono dan Michael Hartono (Grup Djarum), Chairul Tanjung (CT Corp), dan Sri Prakash Lohia (Indorama) setara dengan nilai kekayaan 100 juta orang miskin, sekitar Rp 325 triliun. Fantastis.

Diproyeksikan pada tahun 2024, dari 866 orang terkaya akan meningkat menjadi 2.000 orang. Indonesia sebagai salah satu pemasok orang terkaya dunia selain Amerika Serikat (AS), Inggris, Jerman, Cina, Taiwan, Meksiko, India, dan Turki.

Menurut laporan Knight Frank, ada sekitar 27.100 orang yang mempunyai kekayaan di atas USD 1 juta atau Rp 13,3 miliar, padahal tahun lalu masih 26.600 orang, ada kenaikan 1,23%.

Adapun sektor bisnis yang mereka kuasai adalah sektor keuangan, kelapa sawit, batu bara, consumer goods, tekstil dan garment, ritel, media TV, dan properti.

Konglomerat dinilai ikut menciptakan distorsi ekonomi karena menciptakan monopoli dan oligopoli, atau yang lebih buruk adalah kartel. Selain itu, menyumbang timbulnya kesenjangan sosial yang merupakan api dalam sekam, juga dinilai menjadi bagian dari oligarki politis karena budaya transaksional dari sistem one man one vote bersama pemerintah dan legislatif (DPR). Mereka dinilai terlalu manja dengan pemerintah, sehingga ketika currency war (perang mata uang) pada tahun 1998, dimana Soros menyerang nilai tukar mata uang di kawasan Asia, yang pertama jatuh adalah konglomerat Indonesia.

Profil 10 besar Konglomerat di luar Djarum dengan aset USD 1,8 miliar – 7,1 miliar (Rp 25 triliun – Rp 95 triliun)

1. Susilo Wonowidjojo, dengan aset Rp 95 triliun, pemilik usaha rokok Gudang Garam (GG) dengan diversifikasi pada sektor properti, perkebunan, pariwisata, dan lain-lain. Sebelumnya, pada tahun 2007 Gudang Garam masih menempati ranking 1 orang terkaya di Indonesia di atas Grup Djarum. Namun setelah mengambil alih BCA dan Hotel Indonesia Kempinski, kekayaan Grup Djarum melejit 2 kali dari kekayaan Grup GG.

2. Anthony Salim (Salim Group), dengan kekayaan mencapai Rp 76 triliun dengan sokoguru Indofood, Bogasari mills, Indomobil (pemegang ATPM Volvo, Suzuki, Hino, Mazda, dan lain-lain), dan aset dari perusahaannya di Cina, Hongkong, Belanda. Aset strategisnya disita BPPN akibat BLBI yang diterima BCA senilai Rp40 triliun (terbesar), sehingga Salim kehilangan kendali, saham BCA diambil alih Grup Djarum. Selain itu, dia terpaksa menjual Indocement, dan beberapa aset strategis melalui BPPN. Ayahnya, Liem Sioe Liong adalah taipan terkaya sebelum reformasi tahun 1998, dekat dengan Presiden RI kedua, Soeharto, dan juga Bob Hasan. Liem Sioe Liong sudah menjadi partner Soeharto ketika dia menjadi Pangdam Diponegoro (1959–1961). Dia juga sokoguru, dan paling disegani oleh konglomerat Indonesia bersama Eka Tjipta Widjaja (Sinarmas), dan William Soerjadjaja (Astra).

3. Eka Tjipta Widjaja, usia 94 tahun (3 Oktober 1923) pemilik Sinarmas Group dengan aset Rp75 triliun, merupakan orang terkaya no. 2 di era Orde Baru. Saat ini sudah membagi wewenang secara tegas, Bidang Keuangan oleh Sukmawati Widjaja dan Indra Widjaja (dulu pengelola BII); Properti dipercayakan pada Muktar Widjaja; Kertas dan bubur kertas pada Teguh Ganda Widjaja; lobbyist diserahkan kepada Frankie Widjaja. Dominan usahanya pada industri kelapa sawit, kertas dan bubur kertas (Tjiwi Kimia, dan Unggul Indah Corp); perbankan (Bank Simas), ritel (Smart Corp), properti (ITC, Kota Wisata, Kota Bunga, BSD, dan lain-lain). Dapat dikatakan bahwa grup ini terbesar di bidang properti bersama Grup Lippo.

4. Sri Prakash Lohia, usia 65 tahun (11 Agustus 1952), pemilik Indorama – produsen benang rayon dan polyester terbesar, dengan aset Rp 67 triliun. Pengusaha keturunan India ini pemain besar di tekstil dan garmen. Bertahan karena industri ini kalah bersaing dengan negara-negara Vietnam, Myanmar, Bangladesh, karena biaya SDM murah. Selain polyester, Indorama juga berusaha di sektor kimia. Sri Prakash Lohia merupakan orang terkaya dunia di urutan 358 versi Forbes.

5. Chairul Tanjung, usia 55 tahun (16 Juni 1962), dengan aset mencapai Rp 68 triliun, pemilik CT Corp yang membawahi Trans TV, Trans 7, CNN Indonesia, serta media online terbesar – Detik, pada industri media. Di bidang keuangan untuk bisnis multifinance bernaung pada Para Group dan Bank Mega. Mesin uangnya saat ini adalah Carrefour. CT beruntung, ketika Carrefour digugat KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) dianggap monopoli karena share di bidang ritel mencapai 70%, maka itu harus mempunyai partner lokal, dan orang yang disodorkan Pemerintah adalah CT. Ketika krisis tahun 2008 di Eropa, Carrefour menjual sahamnya di Indonesia dengan harga murah. Kembali SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) berperan besar membantu pembelian dengan memberikan kredit melalui Bank Mandiri secara kilat, dan jadilah CT sebagai pemilik tunggal Carrefour Indonesia.

Carrefour global membatasi jangka waktu penggunaan nama Carrefour, maka CT Corp giat membangun Transmart sebagai brand baru.

Karena kedakatannya dengan SBY, CT dilibatkan dalam Kabinet sebagai Menko Ekonomi, sebelumnya pernah menjadi Ketua KEN (Komite Ekonomi Nasional). Berusaha mulai dari bawah di sektor alat-alat kesehatan. Lalu di era Orde Baru karena kedekatannya dengan Rudini (Menteri Dalam Negeri) dan Ma’rie Muhammad (Menteri Keuangan), mendirikan Bank Mega.

6. Boenjamin Setiawan, pemilik Kalbe Farma – perusahaan Farmasi terbesar dengan aset mencapai Rp 44 triliun. Usaha lainnya, adalah distribusi farmasi, properti, dan trading. Dapat dikatakan bahwa dia perintis usaha farmasi secara manufaktur, seperti Kartini Muljadi (PT. Tempo), merupakan wanita terkaya di Indonesia.

7. Tahir, pemilik Grup Mayapada dengan kekayaan mencapai Rp 41,5 triliun juga menantu dari konglomerat Mochtar Riyadi (Lippo). Grup Mayapada bergerak di bidang properti, perbankan dan perdagangan. Selain pengusaha, dia terkenal sebagai filantropi dunia; partner Bill Gates (pemilik Microsoft) – orang terkaya dunia; dikenal dengan gerakan PSC (Personal Social Responsibility) di antaranya, pria berusia 65 tahun (26 Maret 1952) ini pernah menyumbang 10.000 rumah untuk prajurit TNI; dikenal sebagai pelobi ulung dan kuat dalam berbisnis serta ramah dengan semua orang.

8. Murdaya Poo (usia 76 tahun), pemilik Berca Group, usaha utama adalah supplier utama kabel PLN, dan pemegang lisensi seperti Nike dan Adidas. Sewaktu Megawati Soekarnoputri menjadi Presiden RI, Murdaya Poo adalah “bohir” dari PDIP, karena kedekatannya dengan Taufik Kiemas (Almarhum). Istrinya – Hartati Murdaya Poo mendukung Partai Demokrat, oleh karena itu mendapat konsesi sebagai pengelola otoritas Kemayoran. Namun sempat tersangkut pidana gratifikasi yang menjebloskannya ke penjara. Aset Murdaya Poo mencapai Rp 28 triliun.

9. Mochtar Riyadi, usia 88 tahun (12 Mei 1929), konglomerat No. 2 tertua setelah Eka Tjipta Widjaja (94 tahun). Memiliki aset Rp 25,5 triliun, bergerak di perbankan (Lippo), properti, media (Metro TV, Berita Satu), dan ritel (Matahari). Berhasil mendidik 2 putranya sebagai pengusaha tangguh, yaitu James Riyadi dan Stephen Riyadi. Bahkan James Riyadi kenal baik dengan Bill Clinton, karena salah satu tim sukses Presiden AS saat itu.

Mochtar Riyadi dapat dikatakan sebagai suhu bankir di Indonesia. Tercatat, ikut membesarkan Bank Windhu Kencana, Bank Panin, dan terakhir BCA. Tangan dinginnya menciptakan produk Tahapan BCA yang membuat bank tersebut menjadi bank swasta terbesar. Keluar sebagai profesional di BCA lalu sukses mendirikan Bank Lippo dan membangun kerajaan bisnis Lippo Group.

10. Putera Sampoerna, Generasi ketiga Grup Sampoerna, dengan aset Rp 24 triliun. Pria yang mengenyam pendidikan di Amerika Serikat ini dikenal dingin dan smart. Grup Sampoerna sebelum dia kelola sebagai perusahaan rokok terbesar No. 4, setelah Gudang Garam, Djarum, dan Bentoel. Namun kecerdasan inovasinya melahirkan produk Sampoerna mild membuat Sampoerna menjadi ranking ketiga di industri rokok. Hal ini karena dunia termasuk Indonesia, mulai peduli akan bahaya Kecerdasan berikutnya, kita dikejutkan dengan penjualan seluruh aset Sampoerna senilai Rp 16 triliun pada Phillip Morris, karena dia merasa industri rokok tidak akan berumur panjang, karena kesadaran masyarakat terhadap kesehatan.

Nasib baik ketika memegang uang tunai sangat besar terjadi krisis moneter 1998, sehingga dia ikut membeli aset properti di BPPN dengan harga murah. Lalu Sampoerna menjadi perusahaan investasi di bidang properti dan aset-aset produktif.

Sepuluh konglomerat terkaya ini memiliki aset Rp 760 triliun atau 37% dari APBN Indonesia yang mencapai Rp 2.080 triliun (tahun 2017) atau setara dengan 225 juta orang miskin, jika berpatokan pada angka dari Oxfam, dimana 4 orang terkaya asetnya setara dengan 100 juta orang miskin atau Rp 325 triliun. []

2 KOMENTAR

  1. Kekayaan jangan berpusat hanya 10 orang saja karena menimbulkan kerawanan, perlu pemerataan dg membuka peluang kerja dan businessman baru disetiap provinsi kab/kota

  2. Semoga bisa membanggakan kan Indonesia bisa memiliki orang orang terpilih… Dan bisa membimbing untuk ke generasi nya dan buat contoh tauladan bagi kita yg orang miskin… Dan orang tak punya… saya bangga bisa bekerja di rumah Mr Muchtar riyadi.. walau sebagai tukang kebunnya…semoga Bisa mencontoh nya… Terima kasih semoga sukses terus mr… Good jobs

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here