Progres Blok Masela Nihil, Jonan Ancam Putuskan Kontrak Inpex

0
105
Ignatius Jonan

Nusantara.news, Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan marah dan mengancam akan memutuskan kontrak kerja dengan Inpex Corporation. Pasalnya, Inpex Coporation dinilai ltidak profesional dalam melakukan kajian pengembangan Blok Masela.

Inpex Coporation adalah sebuah perusahaan minyak Jepang. Perusahaan ini memulai bisnis di bidang perminyakan tahun 1966, dengan nama North Sumatra Offshore Petroleum Exploration Co., Ltd. Perusahaan ini menandatangani Kontraktor Kontrak Kerja Sama dengan PERMINA (sekarang Pertamina) berkaitan dengan Blok Lepas Pantai Sumatera Utara.

Sejak itu INPEX memulai bisnisnya yang terus berkembang hingga mendunia. Saat ini INPEX beroperasi di Indonesia, Australia, Kazakhstan, Azerbaijan, Georgia, Timur Tengah, dan Brasil.

“Ini sudah enam bulan, tapi progresnya (pengembangan kilang gas alam cair/LNG) lamban. Kalau tidak sanggup, saya akan batalkan semua,” tegas Jonan di sela acara Forum Gas Nasional di Jakarta, Rabu (3/5).

Untuk diketahui, Blok Masela dikelola oleh PT Inpex Masela Limited dan Shell Upstream Overseas Services. Kontrak kerja samanya telah ditandatangani pada 16 November 1998 dan berlaku hingga 2028. Cadangan gas di blok ini sekitar 10,7 triliun kaki kubik.

Kabarnya, sejak enam bulan lalu pihak Inpex berjanji kepada Kementerian ESDM untuk menyelesaikan kajian struktur dan desain untuk estimasi fasilitas biaya (Pre-FEED) di wilayah Pulau Aru dan Jandena bagian dari Blok Masela. Namun, hingga saat ini, laporan perkembangannya nihil.

Adapun tanggung jawab Inpex adalah melakukan kajian pre-FEED kapasitas 9,5 mtpa ditambah dengan 150 MMSCFD serta 7,5 mtpa ditambah 474 MMSCFD.

Sejak Januari lalu, Kementerian ESDM sudah   menunggu surat dari Inpex menyangkut fiscal terms yang ditawarkan pemerintah untuk mengembangkan Lapangan Abadi, Blok Masela.

Untuk itu, pemerintah memutuskan penambahan masa operasi Blok Masela selama tujuh tahun atau lebih singkat dari permintaan Inpex selama 10 tahun.

Pemerintah juga memutuskan kapasitas produksi gas alam cair (LNG) tetap 7,5 metrik ton per tahun. Sementara untuk gas bumi sebesar 474 juta kaki kubik per hari. Dalam usulannya, Inpex meminta agar kapasitas kilang ditambah dari 7,5 juta metrik ton per tahun menjadi 9,5 juta metrik ton per tahun.

Meskipun begitu, pemerintah tidak mematok rasio pengembalian investasi internal rate of return (IRR) proyek. Sepanjang, masih dalam batas kewajaran. Adapun, batas kewajaran dimaksud kurang dari 15 persen. []

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here