Peta Politik Pilgub Jabar 2018 (1)

Prospek Politik Empat Pasang Calon di Pilgub Jabar

0
80
Empat pasangan calon gubernur-wagub Jawa Barat dan nomor urutnya: 1. Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul (Rindu), 2. Tubagus Hasanudin-Anton Charliyan (Hasanah). 3. Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik), 4. Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi (Duo DM).

Nusantara.news, Jabar – Pada 27 Juni mendatang, Jawa Barat (Jabar) akan menghelat pilkada serentak untuk memilih pasangan kepala daerah yang diikuti empat pasang kandidat. Empat pasangan calon tersebut antara lain, Sudrajat-Ahmad Syaikhu atau “Asyik” (Gerindra, PKS, PAN), Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi atau “Duo DM” (Golkar, Demokrat), Ridwan Kamil-Uu Ruhzanul atau “Rindu” (NasDem, PPP, PKB, Hanura), dan Tubagus Hasanudin-Anton Charliyan atau “Hasanah” (PDIP). Keempatnya tentu memiliki potensi menang, tinggal siapa yang paling mampu merebut hati rakyat Jabar.

Ridwan Kamil dinilai punya potensi menang karena elektabilitasnya tertinggi. Pun, Deddy Mizwar punya peluang yang sama karena diuntungkan sebagai incumbent. Sedangkan Sudrajat-Syaikhu, juga punya potensi karena mesin politik terkuat di Jabar adalah PKS, ditambah ketokohan Aher sebagai gubernur yang berhasil. Tapi, TB Hasanudin-Anton Charliyan jangan dianggap remeh, PDIP sebagai pengusung masih menjadi partai terbesar di Jabar.

Secara umum, pemilih di Jawa Barat bisa dikategorikan menjadi dua kelompok, yakni kelompok tradisional dan kelompok religius. Pemilih tradisional cenderung memilih figur populer (misalnya dari segi keartisan dan tampilan luar). Sementara untuk kelompok religius, Jabar salah satu wilayah yang pemilih muslimnya paling besar dan konservatif. Hanya saja, kelompok religius di Jabar termasuk plural sehingga dukungan bisa terdistribusi ke berbagai calon. Namun, pemilih religius akan menetapkan pilihan berdasarkan jejak keislaman yang lebih kuat pada diri calon.

Tak heran, Pasangan Ahmad Heryawan (Aher)-Dede Yusuf yang disingkat “Hade” pada Pilgub Jabar 2008, secara mengejutkan meraih kemenangan. Padahal ketika itu, pasangan ini tak diunggulkan, dan berbagai lembaga survei memprediksi kemenangan pada pasangan Agum Gumelar-Nu’man Abdul Hakim (“Aman”) yang diusung PDIP. Kemudian pada periode keduanya tahun 2013, Aher yang berpasangan dengan Deddy Mizwar lewat slogan “kancing bereum”-nya, juga unggul.

Keberhasilan tersebut tak lepas dari kecerdasan koalisi PKS-PAN dalam memadukan faktor keartisan wakilnya (Dede dan Demiz), tagline yang ringan, serta ke-religius-an Aher. Dan, kemenangan Aher-Dede Yusuf ataupun Aher-Demiz itu merupakan kombinasi dari representasi dua kelompok pemilih Jabar itu: tradisional dan religius.

Kembali pada pilgub Jabar 2018, dari sisi popularitas memang Ridwan Kamil dan Demiz masih paling unggul. Namun kedua wakilnya memiliki kelemahan: Uu meski berasal dari basis tradisional di wilayah lumbung suara Priangan dan juga kader PPP, namun sosoknya tak dikenal luas di kalangan masyarakat Jabar. Wakil Ridwan Kamil itu dipandang sebatas seorang birokrat-politisi (Bupati Tasikmalaya), belum dianggap mewakili kelompok religius.

Sementara cawagubnya Demiz, Dedi Mulyadi (Demul), sebagai Bupati Purwakarta ketokohannya cenderung hanya mengakar di daerah yang dipimpinnya. Selain itu, dia kerap diterpa isu miring yang bertentangan dengan nilai-nilai keislaman, misalnya kontroversi patung dan menikahi Nyi Roro Kidul. Konflik Demul dengan ormas keagamaan Front Pembela Islam (FPI) juga bisa memperberat nilai jualnya jika sentimen gerakan 212 yang notabene 60 persen massanya disuplai dari Jabar, turut mempengaruhi preferensi pilihan masyarakat Pasundan tersebut.

Pasangan TB Hasanudin dan Anton Charliyan tampaknya akan lebih berat. Sebab, pasangan ini kurang merepresentasikan kalangan religius dan rendahnya popularitas. TB Hasanudin yang berlatar belakang tentara, dinilai kurang popular. Apalagi dalam riwayat Pigub Jabar 2008 dan 2013, calon-calon yang berasal dari militer tak pernah menang: misalnya cawagub petahana kala itu, Iwan Sulanjana, dan tokoh besar sekelas cagub Agum Gumelar, tersingkir.

Wakilnya, Anton Charliyan, juga minus popularitas dan jejak religius. Dia pernah berseteru dengan FPI. Saat itu, Anton menjadi Kapolda Jabar yang tengah mengusut kasus dan bersitegang dengan pimpinan FPI Habib Rizieq Syihab yang terafiliasi dengan gerakan massa 212 Jabar. Sehingga, langkah pasangan yang diusung PDIP untuk maju di Jabar dipastikan akan membangkitkan lagi sentimen dan romantisme Ahok-Djarot (Pilgub Jakarta lalu).

Sebagai daerah yang berbatasan langsung dengan ibukota, kita bisa mahfum jika Pilkada Jawa Barat nanti masih merupakan duel lanjutan dari DKI. Dari segi penduduk, ada sekitar empat juta warga Jawa Barat yang sejak pagi hingga petang bekerja di DKI. Sebagai konsekuensinya, keempat juta warga Jabar ini sejatinya mengalami dan merasakan langsung sentimen politik Jakarta. Sentimen yang umumnya mereka bawa hingga ke Jabar. Salah satu problemnya, PDIP dan kandidat yang diusungnya dianggap berjarak dengan Islam serta pendukung penista agama.

Tak hanya itu, PDIP punya sejarah yang tidak mulus di Jabar. Dalam pemilihan 2008 PDIP kalah, Pilgub Jabar 2013 juga kalah. Begitupun saat Pilpres 2014, PDIP tumbang. Namun tak menutup kemungkinan, partai ini sebaliknya akan meraup kemenangan karena kekalahan pada pilgub sebelumnya dijadikan pembelajaran untuk menyempurnakan strategi yang tepat.

Bagaimana dengan Sudrajat-Syaikhu? Kekuatan pasangan ini terletak pada kehebatan mesin partai, keberhasilan petahana Aher, serta citra religius yang lebih kental (utamanya pada PKS dan PAN sebagai partai basis massa Islam). Jejak kemenangan Prabowo (Prabowo effect) pada Pilpres 2014 lalu, juga menjadi nilai plus bagi pasangan ini.

Pun begitu, pada pilgub kali ini, kombinasi calon popularitas (artis) dan religus sesuai dengan karakter pemilih Jabar, tak ditampilkan lagi oleh PKS dan koalisinya. PKS kehilangan satu sayap, yaitu sayap popularitas. Cagub Sudrajat, bukan tokoh popular. Namanya tiba-tiba muncul setelah dipilih Gerindra sebagai cagub Jabar. Sudrajat adalah seorang purnawirawan TNI dengan pangkat Mayjen. Lahir di Sumedang, 4 Februari 1949, Sudrajat pernah menjabat Kapuspen TNI pada 1999. Kelemahannya, serupa dengan Hasanudin, selain kurang populer, sejarah kekalahan kandidat “berdarah” tentara di pilgub Jabar juga bisa mengancam Sudrajat.

Beruntung, Sudrajat di-backup oleh cawagubnya, Ahmad Syaikhu. Dia punya jangkar pengaruh yang kuat di basis suara Bekasi, Depok, dan sebagian Bogor (subkultur politik Pamalayon), serta dianggap mewakili suara daerah kelahirannya yaitu Cirebon (subkultur politik Pantura). Jejak rekam keislaman Syaikhu dan mesin politik PKS, juga menjadi titik cerah kemenangan bagi pasangan ini. Namun demikian, Syaikhu kurang mengakar di daerah subkultur Priangan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here