Prostitusi Anak Makin Memilukan

0
142

BEBERAPA hari terakhir, ramai diberitakan tentang video porno  anak di bawah umur dengan seorang perempuan dewasa. Polisi bergerak cepat. Kini Polda Jawa Barat sudah menetapkan 7 orang sebagai tersangka kasus tersebut. Salah satu tersangka yang menjadi sutradara mengaku, video itu untuk dijual. Jadi, ini menunjukkan, bahwa para pelaku ini adalah sebuah sindikasi pelacuran yang menggunakan anak sebagai korbannya. Polisi mengatakan,ada tiga orang anak yang jadi korban dalam prostitusi itu. Mereka –masya Allah—baru berusia 9 sampai 11 tahun.

Pada April tahun lalu, Subdit Cybercrime Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya berhasil membongkar jaringan prostitusi anak bernama Loly Candy’s Group 18+. Anggotanya 7.479 orang yang berinteraksi melalui akun grup di media sosial. Grup tersebut dengan anggota berjumlah 7.479 orang

Kejadian ini jelas hanya puncak dari gunung es fenomena anak-anak yang karena berbagai faktor terpaksa atau dipaksa menjadi pelaku prostitusi. Belasan tahun lalu, Komnas Perlindungan Anak pernah mengungkapkan hasil penelitian, bahwa ada  200.000-300.000 ribu anak di bawah umur yang terjerumus ke dunia nista itu.

Pelacuran adalah keprihatinan kuno peradaban dunia. Tetapi pelacuran anak adalah keprihatian yang luar biasa. Menurut data UNICEF, pelacur anak (di bawah usia dewasa, 18 tahun) di dunia ini diperkirakan berjumlah satu juta orang. Sedangkan di kawasan Asia Pasifik saja ada sekitar 300 ribu anak. UNICEF juga menyebutkan mayoritas perdagangan anak sebagai pekerja seks memang terjadi di dalam negeri masing-masing. Dan, sedihnya, menurut Komnas Perlindungan Anak tadi, Indonesia adalah pemasok terbesar di Asia Tenggara.

Data perdagangan anak yang valid memang sulit diketahui. Namun, angka yang tak pasti itu bukanlah menunjukkan  tingkat trafficking-nya rendah. Bisa jadi malah lebih besar dari yang diperkirakan. Daerah tertinggi tingkat trafficking-nya ialah Mekong, perbatasan antara Kamboja, Laos, Myanmar, Thailand, Vietnam, dan China. Berjalin dengan sindikat obat bius, sindikat pelacuran anak ini menjebloskan  anak-anak tak berdosa itu ke lembah hitam.

Berbagai laporan dan penelitian lokal menunjukkan banyak anak Indonesia, terutama perempuan, adalah korban perdagangan anak di dalam negeri dan luar negeri. Mereka diperah untuk pekerja seks dan sebagian lagi sebagai pekerja biasa dengan upah rendah dan jam kerja tinggi.

Yang memalukan, kasus ini makin marak ketika Indonesia sudah mengesahkan UU No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak yang isinya akan menjatuhkan sanksi berat bagi para pelanggar hak anak. Pasal 81 ayat 1 UU itu menyebutkan, “Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 tahun dan paling singkat 3 tahun dan denda paling banyak Rp300 juta dan paling sedikit Rp60 juta.”

Ayat 2 berbunyi, “Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 berlaku pula bagi setiap orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.”

Namun kendala terbesar pemberantasan pelacuran anak-anak ini adalah masalah kemiskinan. Kemiskinan ini sekaligus menjadi pemicu utamanya. Pada saat kemiskinan membelit di pedesaan, mereka mudah tergiur pergi ke kota. Dan tidak ada satu ketentuan pun yang dapat melarang warga negara ini berangkat dari desa ke kota.

Karena  kemiskinan yang melilit, anak-anak itu, dan kadang-kadang atas pengetahuan orang tuanya, terpaksa menerima apa saja. Apalagi kemiskinan juga telah membuat mereka tidak pernah menerima pendidikan yang layak. Lihat saja, dalam kasus video porno bocah tadi. Ternyata ibu korban yang membolehkan anaknya diperlakukan seperti itu dengan imbalan Rp500 ribu!

Maka jalan paling mungkin, selain mengentaskan kemiskinan, adalah memperketat penegakan hukum. Ancaman hukuman dalam UU Perlindungan Anak tadi benar-benar harus diterapkan untuk membuat jera pelanggar hak-hak anak.

Ini semestinya menjadi kerja bersama bangsa. Meski kedengaran klise, anak-anak adalah masa depan bangsa. Para pengambil keputusan, politisi, penegak hukum harus konsisten memberantas eksploitasi seksual terhadap anak-anak ini.

Usaha pemberantasan pelacuran anak ini akan menjadi batu ujian bagi Indonesia, apakah bangsa ini benar-benar serius mempersiapkan generasi mendatang. Apakah pemerintah ini benar-benar bisa “melindungi segenap bangsa Indonesia”, seperti yang jadi tujuan dibentuknya pemerintahan negara ini? []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here