Proteksi Garam Rakyat, PT Garam Jual Garam Impor Lebih Mahal

0
72
Buruh mengangkut karung berisi garam di Desa Bunder, Pamekasan, Jawa Timur, Rabu (23/8). Pasca masuknya garam impor dua pekan lalu, harga garam Madura turun dari 3,5 juta rupiah menjadi 1,7 juta rupiah per ton. ANTARA FOTO/Saiful Bahri/foc/17.

Nusantara.news, Sumenep – Sebagai satu-satunya perusahaan negara yang menaungi tata niaga termasuk produksi garam nasional, PT Garam diharapkan memang jadi payung peneduh dalam menyerap garam produksi petani. Namun harapan ini terkadang tidak sesuai kenyataan seperti yang terjadi di Sumenep.

Dalam rapat dengar pendapat di DPRD setempat, Kamis (14/9), perwakilan PT Garam diminta membangun pabrik garam industri. “Sumenep memiliki ribuan hektare lahan garam rakyat. PT Garam pun memiliki ribuan hektare lahan garam di Sumenep. Oleh karena itu, kami menilai PT Garam semestinya dan wajib membangun pabrik garam industri di Sumenep,” terang Nurus Salam dihubungi via telepon, Sabtu (16/9) siang.

Ketua Komisi II tersebut beralasan, ada potensi besar garam rakyat di Sumenep dan sekitarnya. Hal ini teramat sayang jika diabaikan. “Ribuan hektare lahan garam yang dimiliki dan dikelola oleh petani garam rakyat maupun PT Garam merupakan modal bagus bagi PT Garam untuk membangun pabrik garam industri. Ini juga untuk memaksimalkan penyerapan garam rakyat oleh PT Garam,” kata Oyok, sapaan Nurus Salam, menerangkan.

Ia juga mengemukakan, keinginan agar PT Garam membangun pabrik garam industri tersebut merupakan salah satu aspirasi yang mengemuka dalam rapat dan akan ditindaklanjutinya dengan berkoordinasi kepada pihak terkait di Kementerian BUMN.

Sayangnya, dalam agenda itu tidak ada kepastian apakah permintaan adanya pabrik disetujui atau tidak. Direktur Produksi PT Garam, Budi Sasongko yang hadir dalam rapat kala itu menyatakan akan menyampaikan aspirasi tersebut ke jajaran direksi. “Keinginan dari anggota DPRD Sumenep dan petani garam rakyat agar PT Garam membangun pabrik garam industri merupakan hal yang wajar dan bisa dimaklumi oleh kami,” ujarnya.

Menurut dia, PT Garam  tidak bisa mengambil keputusan sendiri atas aspirasi itu. “Kami akan menyampaikan aspirasi tersebut untuk dibahas bersama dengan jajaran direksi. Tolong, kami diberi waktu,” ucapnya.

Dalam pertemuan itu, PT Garam juga paparkan jika sudah mulai melempar garam impor dari Australia kepada mitra usahanya. Harga yang dipatok pada kisaran Rp2.250 hingga Rp2.500 per kilogram. Harga ini sudah sesuai kesepakatan dengan Asosiasi Masyarakat Garam (AMG) untuk menghindari anjloknya serapan garam rakyat. “Sebagaimana yang kami suarakan sebelumnya, kami berharap PT Garam menjual garam impor dengan harga di atas Rp2.000 per kilogram supaya harga garam rakyat tidak anjlok,” kata Ketua AMG Sumenep Ubaidillah.

PT Garam sendiri, terang Budi Sasongko, telah menjual 15 ribu ton dari 75 ribu ton garam impor Australia. Patokan harga juga sebagai bentuk proteksi pada petani garam rakyat. “Kami memang dan harus tahu diri. Saat ini adalah masa panen garam. Kami wajib melindungi petani garam dan salah satu caranya dengan menjual garam impor tersebut di atas Rp2.000 per kilogram,” ujarnya, menegaskan.

Beberapa waktu lalu, Pemerintah memutuskan adanya impor garam setelah terjadi anomali cuaca pada awal kemarau tahun ini yang mengakibatkan keterbatasan stok komoditas tersebut dan menunjuk PT Garam sebagai pengimpor.

Namun gencarnya impor garam sebenarnya sebuah ancaman bagi industri garam dalam negeri. Itu sebabnya ke depan, Indonesia harus memiliki industri garam yang kuat dan mampu mengekspor ke berbagai negara. Sebab secara demografis, Indonesia berpotensi menjadi produsen garam kelas dunia.

Hanya saja political will untuk itu masih sangat rendah. Ke depan Kementerian Perindustrian perlu membuat rencana penguatan industri garam  nasional.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here