G20 Jerman

Proteksionisme AS Tak Terbendung: Presiden Trump Permalukan Kanselir Merkel Dua Kali

0
111

Nusantara.news – Kanselir Jerman Angela Merkel seperti dipermalukan dua kali oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pertama, saat ajakan bersalaman ditampik oleh Trump di hadapan media, padahal dia tamu negara di Gedung Putih pada Jumat 17 Maret lalu. Kedua, pertemuan para menteri keuangan G-20 yang berakhir di Baden-Baden Jerman Sabtu 18 Maret, gagal menentang proteksionisme dan mendukung perdagangan bebas, dua poin itu dihapus dari komunike karena tidak ada keberatan dari AS. Padahal Merkel saat ini Presiden G20.

Insiden Presiden Trump menolak bersalaman dengan Kanselir Merkel terjadi saat Trump dan Merkel menggelar jumpa pers di Gedung Putih, usai pembicaraan keduanya Jumat lalu. Mereka berdua duduk berhadapan dengan para wartawan, Trump dan Merkel ditanya tentang bagaimana jalannya pembicaraan, manun tak banyak yang dijelaskan Trump dan Merkel.

Sejurus kemudian, para juru foto meminta keduanya berjabat tangan. Namun Trump  bergeming. Merkel bahkan sempat bertanya kepada Trump dengan suara pelan, “Apakah Anda ingin berjabat tangan?”

Trump tak menjawab bahkan tidak menoleh sedikit pun ke arah Merkel yang berbicara setengah berbisik itu. Trump terus menatap ke depan, sambil duduk dengan meletakkan kedua sikunya di ujung lutut.

Merkel sempat terlihat serba salah dan mengenyitkan matanya sesaat ketika tidak mendapat respon dari pemimpin AS itu. Media-media Jerman menggambarkan peristiwa “aneh” itu sebagai simbol dinginnya pertemuan kedua sosok yang sangat bertolak belakang tersebut.

Namun pihak Gedung Putih buru-buru meluruskan soal insiden itu, “Presiden Trump tidak mendengar permintaan Kanselir Merkel,” kilah Sean Spicer, juru bicara Gedung Putih sebagaimana dilansir harian Jerman Der Spiegel, Minggu (19/3).

Di luar insiden yang cukup memalukan itu, jauh di seberang benua Amerika, tepatnya di negeri sang Kanselir, Jerman. Amerika Serikat lagi-lagi membuat malu sang Kanselir. AS berhasil mengubah tradisi yang sejak lama dibangun para menteri keuangan dan para kepala perbankan negara-negara G20 itu. Pertemuan yang dilangsungkan dua hari (17-18 Maret 2017) di Baden-Baden, Jerman gagal mencapai kata sepakat.

Para menteri keuangan mengabaikan komitmen untuk menjaga perdagangan bebas antar-negara tetap terbuka, dan membiarkan sikap proteksionisme AS semakin menguasai. Ini juga satu hal lagi yang mempermalukan Kanselir Merkel (apapun Jerman adalah Presiden G20), biang keladinya AS, artinya AS telah mempermalukan Merkel untuk kedua kalinya.

“Ini adalah G20 pertama saya, jadi kesepakatan apa pun yang sebelumnya terjadi, tidak relevan lagi dengan sudut pandang saya,” ujar Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin, dalam salah satu sesi penting di pertemuan itu.

Ini bukan pertama kalinya, sejak Trump memimpin, AS juga telah menarik diri dari sejumlah kesepakatan perdagangan antar-negara, seperti dalam kemitraan Trans-Pasifik (TPP). Trump juga akan menegosiasi ulang Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA) dengan Kanada dan Meksiko, tentu dengan perjanjian yang lebih menguntungkan AS.

“Sektor perdagangan kami amat baik, dan seharusnya juga baik bagi negara lain. Menilik kenyataan itu, kami merasa perlu untuk mengkaji ulang sejumlah kesepakatan,” ujar Mnuchin sebagaimana dilansir Reuters.

Menteri Keuangan Jerman, Wolfgang Schaeuble sangat menyayangkan pertemuan dimana pihaknya menjadi tuan rumah.

“(Pertemuan) itu sama sekali tidak mempersoalkan bahwa kami (Jerman) menolak proteksionisme,” tegasnya.

Schaeuble mengaku tidak bisa berbuat banyak sebab keputusan penuh atas perdagangan antar-negara bukan berada di tangan menterinya.

Dalam pertemuan itu, AS tak hanya menunjukkan sikap proteksionisme atas kerja sama perdagangan antar-negara, tapi  juga menekankan penolakan atas pengucuran dana untuk proyek-proyek perubahan iklim yang telah disepakati dalam KTT perubahan iklim PBB, di Paris tahun 2015.

“Itu refleksi jelas dari pergeseran angin politik di Amerika Serikat dan indikasi ekonomi AS yang mundur dari multilateralisme,” kata mantan Ketua Morgan Stanley Asia Stephen Roach Senin (20/3). Roach kecewa dengan hasil pertemuan G20 yang diikuti oleh para menteri keuangan negara-negara G20 itu.

Menteri keuangan dan gubernur bank sentral dari 20 negara ekonomi terbesar di dunia tidak dapat menindaklanjuti komitmen untuk mendukung perdagangan bebas dalam komunike G20.

Sejak awal Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden AS Donald Trump adalah dua sosok yang saling bertentangan. Trump mengambil pandangan-pandangan populis yang kurang mendukung perdagangan bebas dan cenderung proteksionis. Trump juga mendukung Brexit, dimana Inggris keluar dari Uni Eropa. Sementara, Angela Merkel berada pada sikap sebaliknya.

Kunjungan Merkel ke AS diperkirakan salah satunya membahas soal perdagangan bebas. Indikasinya Merkel datang ke AS dengan membawa rombongan manajer industri top Jerman. Sejumlah kalangan menduga prioritas kunjungan ini adalah untuk meyakinkan presiden AS tentang nilai-nilai perdagangan bebas, terutama dengan perusahaan-perusahaan Jerman.

Dalam konferensi pers, Presiden Trump mengatakan, “Saya tidak percaya pada kebijakan isolasionis. Tapi saya juga percaya kebijakan perdagangan harus menjadi kebijakan yang adil dan Amerika Serikat telah diperlakukan sangat, sangat tidak adil oleh banyak negara selama bertahun-tahun, dan itu akan berhenti. Tapi saya bukan isolasionis. Saya seorang pedagang bebas, tapi saya juga seorang pedagang yang adil.”

Apakah sikap Trump dengan mengabaikan jabat tangan Merkel menunjukkan sinyal bahwa misi yang dibawa Jerman dalam bernegosiasi perdagangan dengan AS kurang berhasil? Lebih-lebih, komitmen perdagangan bebas di kelompok G20 yang pertemuannya justru diselenggarakan di Jerman juga dimentahkan oleh AS. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here