Proteksionisme Trump Vs Globalisasi Uni Eropa dan China

1
134
Presiden AS Donald Trump saat berbicara kepada media sebelum berpidato di hadapan para pemimpin dunia di Davos, Kamis (25/1) lalu

Nusantara.news, Jakarta – Semula tidak sedikit pengusaha Amerika Serikat (AS) yang mengecam Donald Trump atas kebijakan anti globalisasinya. Namun faktanya, dalam Forum Ekonomi Dunia (WEF/World Economic Forum) di Davos, Swis, akhir pekan lalu, Trump justru mendapatkan dukungan yang positif dari pengusaha-pengusaha kakap di dalam negerinya.

Padahal saat Trump mengancam akan keluar dari kesepakatan North America Free Trade Agreement (AFTA) dan mencabut keikut-sertaan AS dalam Trans Pacific Partnership (TPP) serta mencabut penanda-tanganan Perjanjian Iklim Paris, Donald Trump justru menjadi common enemy sejumlah pengusaha yang semula terlalu yakin dengan doktrin globalisasi.

Baca : Pidato Trump di Davos : American First bukan Hanya untuk Amerika

Dukungan First America

Namun setelah RUU Reformasi Pajak yang digagas Trump menang di Kongres pada akhir Desember lalu, para pengusaha yang semula berada di barisan depan pengeritik mulai undur ke belakang. Bahkan kini menjadi pendukung utamanya untuk melawan globalisasi. UU Reformasi Pajak yang memotong pajak perusahaan dari 35% menjadi 21% dianggap sebagai kado Natal terindah buat pengusaha Amerika.

Baca : Arti Kemenangan Pemotongan Pajak bagi Republik dan Trump

Tiga hari sebelum hadir di Davos, Trump juga meninggalkan kebijakan perdagangan internasional di dalam negerinya berupa tarif bea masuk untuk produk mesin cuci dan panel surya. Kebijakan ini memang menuai kecaman dari China dan Korea Selatan. Namun beroleh simpati dari pengusaha-pengusaha produsen mesin cuci dan panel surya dalam negeri yang semula kalah bersaing di dalam negeri.

Kebijakan itu sekaligus pesan First America yang semula mendapatkan sambutan pesimis di dalam negerinya. Namun sambutan itu kini berubah optimis, bahwa Trump dengan caranya yang tidak lazim dipercaya akan membawa kebangkitan Amerika.

Kini Trump tampil lebih utuh dalam membawa kepentingan Amerika di Davos, bukan hanya dianggap mewakili kepentingan politik pribadi dan partai politiknya, melainkan juga didukung oleh para pengusaha AS sendiri yang sebagian dikenal sebagai donator tetap Partai Demokrat. Jargon Great American Again yang oleh kalangan Demokrat sering diplesetkan menjadi Great White Again mulai disambut secara antusias oleh pengusaha di dalam negerinya.

Tidak mengherankan apabila pimpinan DPR dari Partai Republik, Kevin McCarthy sebagimana dikutip dari Washington Post mengungkap kegembiraan atas reaksi kalangan bisnis di dalam negerinya yang sangat positif menyambut Pidato Trump di Davos. Bahkan sambutan positif itu di luar perkiraannya.

“Kesan terhadap Amerika sekarang adalah kita kembali melakukan hal-hal besar. Kalian boleh saja tidak suka dengan cara dan gaya Trump yang tidak lazim, tetapi caranya terbukti efektif (untuk kebesaran bangsa Amerika),” ulas McCarthy.

Pernyataan McCarthy bukan sekedar memuji presidennya yang sesama Republikan. Chief Executive Officer (CEO) JPMorgan Chase Jamie Dimon yang sebelum dikenal sebagai pengritik keras Trump kini mulai luluh. Dimon menggambarkan Trump bukan pemimpin konvensional tapi berkemampuan menyelesaikan dan melakukan banyak hal, khususnya di bidang bisnis. Kebijakan itu, lanjut Dimon, akan meningkatkan skala perekonomian Amerika.

Sedangkan CEO Goldman Sachs Lloyd Blankfein yang sering melawan Trump lewat Twitter juga memuji penampilan presidennya di Davos. “Saya betul-betul menyukai apa yang telah Trump lakukan terhadap perekonomian. Ia telah mendukung sistem ekonomi dengan kuat. Saya tidak mau bersikap antagosnis terhadap hal-hal itu,” ujar Blankfein.

Ada pun CEO Cargill David McLennan selaku pengelola tertinggi perusahaan pertanian yang berasal dari Minnesota dan kini usahanya mendunia, semula memang kecewa dengan Trump yang mundur dari TPP dan mengancam keluar dari NAFTA. Sebab bisnis Cargill banyak bertebaran di negara-negara pasifik, Meksiko dan Canada.

Saat di Davos McLennan justru mengungkapkan usahanya justru bertumbuh secara positif di era kepemimpinan Trump. “Saya optimis. Saya berpendapat bahwa pemerintahan Trump sedang memperjuangkan keadilan (fairness). Perubahan selalu terjadi. Harus ada perubahan. Kita harus berubah. Inilah dunia yang baru,” harap McLennan.

Membidik Uni Eropa

China yang produk murahnya mulai bertebaran di AS semula dianggap sebagai musuh utama perdagangan sebagaimana kerap dituduhkan Trump. Terlebih kini skala ekonomi China jauh mengungguli AS. China pun dengan kalimat yang samar kerap dituding Trump telah melakukan perdagangan tidak adil, antara lain dengan cara memberikan subsidi kepada pabrik-pabriknya.

Maka sebelum berangkat ke Davos, Trump memberikan sekak mematikan atas produk panel surya China yang Berjaya di negerinya. Produk panel surya China dengan konsumen rumah tangga yang masuk ke negerinya dikenai tarif hingga 30%. Sedangkan panel surya untuk usaha industri dengan daya yang lebih tinggi tetap gratis. China hanya bisa mengeluh atas tarif itu.

Baca : Kebijakan Proteksionis Trump Ditentang China dan Korsel

Selain panel surya, Departemen Keuangan AS yang dipimpin Steven Mnuchin juga menerapkan tarif perdagangan impor untuk produk mesin cuci. Sebelumnya pasar mesin cuci di AS sebagian besar dipasok produk dalam negeri dengan merk Whirlpool. Tapi sejak era perdagangan bebas dominasi itu mulai goyah diserbu oleh merk-merk mesin cuci murah asal China, Meksiko dan Korsel.

Di WEF Davos yang berakhir Minggu (28/1) kemarin lusa, Menteri Ekonomi AS Steven Mnuchin telah mengingatkan para pemimpin dan pengusaha ekonomi dunia dunia yang hadir di Davos akan menerapkan tarif perdagangan untuk produk-produk lainnya yang masuk ke negaranya.

Bidikan kebijakan proteksionis AS itu ternyata bukan hanya mengarah negara-negara Asia Timur yang kini menguasai sektor elektronik, garmen dan otomotif di negaranya. Melainkan juga mengarah ke negara-negara Uni Eropa dan Kanada yang bersaing ketat dengannya di sektor industri dengan teknologi yang lebih canggih.

Kebijakan perdagangan Uni Eropa terhadap Amerika sangat tidak adil, kata Presiden Donald Trump dalam wawancara yang disiarkan Minggu (28/1), seperti dilaporkan kantor berita AFP. Trump memperingatkan bahwa berbagai masalah antara Amerika dan Uni Eropa dapat berkembang menjadi sesuatu yang sangat besar.

Gelagat itu terbaca lewat ungkapan Trump saat memberikan komentar di ITV News di Davos pada Kamis (25/1) yang lalu. “Produk Amerika tidak dapat masuk. Sangat sulit. Namun mereka menjual produk ke Amerika tanpa pajak atau dengan pajak sangat rendah. Ini sangat tidak adil,” tuding Trump dalam wawancara di televisi itu.

“Saya punya banyak sekali masalah dengan Uni Eropa, dan itu mungkin dapat berubah menjadi sesuatu yang sangat besar dari sudut pandang perdagangan,” imbuhnya sebagaimana dikutip dari Voice of America (VOA).

Tahun lalu Trump memang bertekad memberlakukan denda bea masuk hampir 300 persen terhadap pesawat terbang buatan Bombardier, Kanada. Namun Panel perdagangan bipartisan, Jumat (26/1), menghalangi keputusan itu, yang membuat hubungan dengan Ottawa menjadi tegang, dan juga dengan Inggris, di mana Bombardier memiliki banyak karyawan.

Dengan kata lain kebijakan ekonomi Trump yang meskipun didukung oleh pengusaha-pengusaha dalam negerinya akan menciptakan ketegangan baru dengan Uni Eropa yang sejak berdirinya World Trade Organization (WTO) telah mewartakan “injil” pasar bebas sekaligus menghapuskan hambatan perdagangan seperti tarif impor.

Dalam hal ini, Uni Eropa akan mendapatkan dukungan China, India dan negara-negara Asia Timur. Pertarungan perekonomian dunia yang berimplikasi kepada geo-politik dan geo-strategi akan semakin seru. Belum lagi ditambah faktor Rusia yang sering menjadi penghambat utama kepentingan AS di Timur Tengah, Afrika dan Asia Timur.[]

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here